Festival Budaya Aceh di Bogor: Wujud Inklusivitas Budaya di Indonesia

Portal Teater – Kebudayaan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang statis dan terlokalisasi pada satu ruang tertentu. Seiring globalisasi dan arus urbanisasi masyarakat ke kota-kota, kebudayaan sejatinya dipahami sebagai perjalanan, waktu di mana orang-orang bertemu pada suatu ruang/tempat yang baru.

Karenanya, tidak lagi mengherankan bilamana di Jerman atau Amerika Serikat, warga Indonesia diaspora mengadakan event-event kebudayaan. Karena memang identitas budaya mereka tidak dibekukkan oleh ruang eksklusif.

Bulan Agustus lalu, masyarakat diaspora Manggarai dari provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Festival Budaya Manggarai di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Festival ini mendapat sambutan luar biasa dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan bakal dijadikan salah satu identitas budaya kota Jakarta.

Hal ini memperlihatkan bahwa ada gerak kemajuan tentang pemahaman masyarakat akan kebudayaan. Meski mereka berada di luar ruang dan konteks di mana kebudayaan tersebut dilahirkan, tapi identitas budaya senantiasa terpatri di dalam hidup mereka.

Di Inggris, kita mengenal adanya identitas budaya “Orang Keturunan Asia”, untuk merujuk kepada warganegara Inggris diaspora yang berasal dari Asia (kebanyakan dari China dan India).

Festival Budaya Aceh di Bogor

Di Indonesia, cukup banyak warga lokal yang bermigrasi ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Yogyakarta, Samarinda, dan masih banyak lagi.

Di sana mereka membentuk satu perkumpulan atau paguyuban untuk mengayomi dan menghimpun yang berbeda menurut kesamaan identitas budaya mereka sebagai warga tertentu.

Warga Aceh yang tinggal di Bogor, Jawa Barat, misalnya, membentuk perkumpulan masyarakat Aceh. Untuk merayakan kebudayaannya, mereka mengadakan Festival Budaya Aceh di Bogor.

Event ini terselenggara berkat kerjasama perkumpulan masyarakat Aceh dengan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kota Bogor.

Menariknya, selain keterbukaan warga Kota Bogor dan sekitarnya untuk menerima identitas budaya yang berbeda, event yang dihelat di Taman Iskandar Muda (TIM), Bogor, pada Sabtu (19/10) ini menampilkan pentas kolaborasi tarian antar dua kesenian dari daerah berbeda.

Dari Bogor, Tarian Rampak Gendang dibawakan oleh pada penari perempuan. Kemudian disusul kesenian Pegayon dari Aceh Tengah, berkolaborasi dengan tiga penabuh Rapai Saman yang khusus didatangkan dari Aceh.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto pun menaruh harapan besar agar, selain digelar di kota Bogor, event serupa digelar pula di Banda Aceh di tahun-tahun berikutnya. Bedanya, di Banda Aceh, yang ditampilkan adalah budaya Sunda.

“Urusan ini harus panjang. Dan balai kota ini terbuka buat saudara-saudara kita dari Aceh. Dan saya juga selalu punya harapan, harus ada yang berbalas dan berlanjut. Jika tahun ini kita merayakan Festival Budaya Aceh, paling tidak tahun depan ada Budaya Sunda di Balai Kota Aceh,” katanya.

Walikota Bogor Ikut Menari Saman

Perhelatan kebudayaan ini sangat meriah dan unik. Dukungan Pemkot Bogor tidak hanya sekedar memberikan ruang bagi berjalannya event ini, melainkan juga terlibat dalam pentas seni-budaya masyarakat Aceh tersebut.

Pada Sabtu (19/10) malam, Walikota Bogor Bima Arya pun ikut menari Ratoh Jaroe bersama para camat di jajaran Pemkot Bogor. Bima Arya tampak lihai menarikan Ratoh Jaroe karena sebelumnya pernah belajar tari tersebut.

Selain menari Ratoh Jaroe, Bima Arya juga meminta 18 Lurah dan Camat di Kota Bogor untuk terlibat dalam menari Saman, tarian khas Aceh yang sudah mendunia.

Para Lurah dan Camat tersebut dilatih oleh lima orang mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) dan digembleng hampir sepekan sebelumnya.

Festival Budaya Aceh kali ini dimeriahkan berbagai penampilan kebudayaan khas asal Aceh, mulai dari lomba memasak khas Aceh, yakni Mie Aceh dan Sie Itek, tarian Aceh, hingga penampilan penyanyi terkenal Aceh, Rafly Kande dan Rapai Pasee.

Ketua PKK Aceh Dyah Erti Idawati sekaligus istri Plt. Gubernur Aceh mengucapkan terima kasih kepada Wali Kota Bogor, karena dukungan ini tidak hanya menunjukkan kuatnya semangat persaudaraan di Kota Bogor, tapi menunjukkan kokohnya persatuan Indonesia.

“Kami tentunya sangat tersanjung atas dukungan dari Bapak Wali Kota Bogor yang terbuka terhadap kebudayaan daerah lain, khususnya Aceh sehingga terselenggara acara Festival Budaya Aceh di Bogor,” ujarnya.

*Daniel Deha

Baca Juga

Stimulus Fiskal untuk Resiliensi Industri Seni

Portal Teater - Sebelumnya kami menurunkan tulisan mengenai industri seni Indonesia yang begitu menderita di tengah wabah global virus Corona (Covid-19). Pendasarannya, sampai saat ini...

Virus Corona dan Problem Kultural

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) yang kini melanda dunia, bagi Yuval Noah Harari, salah satu filsuf masakini, merupakan krisis global. Mungkin krisis terbesar...

ITI Ajak Insan Teater Berbagi Karya Lewat Media Daring

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) merebak seantero dunia. Ratusan negara telah terpapar virus yang datang bagai ledakan asteroid ini. Sementara ratusan ribu umat...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...