Festival F8 Makassar: Seni dan Politik Indeks Ekonomi Kreatif

Pasar dan gagasan dua irisan dalam politik ekonomi kreatif untuk berlangsungnya proses kualitatif kehidupan publik yang lebih baik.

Festival F8 Makassar. Foto: afrizal malna

Sejumlah remaja masih mengenakan skateboard di kaki mereka, mengelilingi corner “Typhography”. Corner ini merupakan workshop kilat untuk siapa pun yang tertarik dengan font. Media untuk bermain-main dengan dunia huruf: bentuk, ukuran, warna. Membuat huruf jadi objek: bahasa seolah-olah bisa digenggam, ditatap dan dipindahkan ke wadah lain. Umumnya, t’shirt (sebagai ikon budaya urban) merupakan wadah utama dalam transformasi ini. Di sini, bahasa menjadi fashion. Corner yang dikelola anak-anak muda itu terjadi dalam F8 yang berlangsung di Makassar, 6 – 10 September 2017. Festival ini sudah berlangsung dua tahun di sepanjang pantai Losari, Makassar.

Sejumlah ABG, perempuan dan lelaki, juga berkumpul di depan corner dengan nama aneh: “30 Detik Menjadi Aktor”. Ini termasuk corner yang unik dalam F 8 Makassar. Corner ini dilengkapi sebuah kamera, proyektor dan screen. Siapa pun yang mau mencoba menjadi aktor, silakan melakukan aksi di depan kamera, dan langsung ditayangkan pada screen. “Action!” Penonton tertawa-tawa, ikut memotret mereka yang beraksi sebagai aktor -selama 30 detik. Berbahagiakah kamu memiliki media ajaib yang bermana “kamera”? Dan seolah-olah bisa merekam dirimu.

Melalui dua corner sederhana itu, kita bisa menyaksikan ide-ide performatif, menggunakan huruf dan tubuh yang dilakukan anak-anak muda Makassar. Merupakan platform alternatif untuk generasi muda di luar ekosistem kesenian yang kompleks dan tidak terurus. Ini hanya dua corner di antara sejumlah corner lainnya tersebar di sepanjang pantai Losari yang, sebagian besar merupakan jajanan.

Indeks Ekonomi Kreatif dan Negosiasi Baru

Jajanan dikategorikan sebagai indeks tertinggi dalam pencapaian ekonomi kreatif di Indonesia, setelah fashion dan kerajinan tangan. Klaim ini cukup aneh, karena ke tiga indeks ini sudah menjadi indeks pasar. Apakah pasar? Dan apakah kreatif?

Indeks statistik Bekraf 2015

F8 di Makassar bisa dikatakan sebuah program festival yang berusaha mewujudkan “ekonomi kreatif”. Yang dihadirkan adalah Food, Fashion, Fusion Music, Fine Arts, Film, Fiction Writers and Font, Folk dan Flora & Fauna. Dan dilabelkan sebagai Festival “Waterfront terbesar di dunia”. Panggung utama didesain megah, tembus antara darat dan laut. Para model cantik akan turun dari kapal Penisi putih anggun, melewati ring laga yang mengapung, berjalan menuju lintasan-lintasan catwalk putih. Sekian banyak bendera antar negara berkibar-kibar di atasnya. Inilah panggung utama ekonomi kreatif.

Aktivisme ekonomi kreatif kelak akan terbaca sebagai wacana dimana ekslusifitas seni akan berakhir. Seni tidak lagi bebas dari komersialisasi maupun kapitalisasi. Penjelasan-penjelasan indeks kesenian yang sangat internal dalam wacana  modernisme, akanberganti dengan indeks pasar yang eksternal. Kinerja seniman akan bergeser sebagai pengusaha maupun manager dengan jejaring co-branding yang terus dijajaki kemungkinannya, membuat multipel platform untuk program-program yang dibuatnya.

Seni dijelaskan sebagai “kebutuhan/permintaan”, bukan lagi sebagai “apresiasi”. Kualitas publik didefinisikan dari “daya beli” dan bukan “daya apresiasi”. Negosiasi di antara kedua hal ini adalah: terbentuknya publik yang mampu membaca pasar sebagai “medan politik budaya”.

John Howkins, yang menggunakan kata kunci “gagasan” dalam ekonomi kreatif (sebagai modal yang basis produksi hingga nilai investasi yang tidak ada batasnya), merupakan penalaran yang tampak logis dalam medan pasar: gagasan sebagai pengganti ladang minyak yang tidak pernah habis. Tetapi menjadi tidak cukup mudah ketika ditempatkan dalam medan budaya.

Budaya dan pasar berjalan dalam medan tidak imbang. Budaya berjalan lambat, dibebani oleh sejarah sebagai “drama” daripada sebagai “fakta”, beban keberagaman dengan kompleksitas identitas, beban traumatik oleh berbagai perubahan yang terjadi, dan beban oleh belum-jelasnya ekosistem bagaimana budaya bekerja dalam medan politik perubahan. Sementara pasar bergerak dengan cepat, ditopang oleh modal, teknologi dan media yang mendominasi perubahan. Ketidak-imbangan ini merupakan lahan aktif untuk fundamentalisme, rasialisme, sikap reaktif terhadap perubahan maupun dominasi.

Ekonomi kreatif tampaknya (mudah-mudahan) ingin melakukan negosiasi baru dengan menempatkan seni (baca “pasar gagasan”) di antara budaya dan pasar. Tapi mari kita lihat, apa yang terjadi?
Puisi dan Provokasi Kebisingan

Dalam F 8 Makassar, panggung film, puisi dan seni pertunjukan dijadikan dalam satu panggung. Puisi dikurasi tidak lagi semata oleh pencapaian estetika, melainkan oleh sebanyak-banyaknya penyair yang bisa dilibatkan (64 penyair, mayoritas dari Makassar). Artinya, penyair sebagai “jumlah” merupakan bagian dari variabel pasar.

Ketika film ditayangkan, atau pertunjukan berlangsung, penonton memenuhi ruang, jauh melebihi kapasitas kursi yang disediakan. Tetapi ketika puisi mulai dibacakan, lebih dari setengah penonton sebelumnya, menghilang, tenggelam dalam keramian festival. Seorang penyair yang berdiri di atas panggung besar dengan layar LCD megah, tentu bukanlah pertunjukan menarik tanpa mitos. Penonton hampir selalu lebih terprovokasi oleh yang bergerak (film dan pertunjukan), audio, cahaya maupun visualitas yang terus berganti, dibandingkan dengan puisi sebagai dunia representasi bahasa yang tidak tersentuh: bukankah bahasa tidak bisa ditonton?

Film-film ditayangkan sebagai karya utuh maupun promo dari berbagai kota, di antaranya: Suhu Beku, Cindolo Na Tape, Makassar Underground, The Last Puang Matoa, Paotere, Silariang, Kanvas, A Drew on The Tip of Grass, Kutang, Belle Et Se’Bastien, Laborro, Ketika Kau Bertanya Alasanku Mencintaimu, Ilusi, Yumana Mati Lena, A Day in The Life of India, Rel Air, Sahabat Pohon Kelapa, Mbobot, Ati Raja, The Voice of A Distant Star, Eagle Documentry, Pengejar Mimpi, Tilarang, Mari Bermain, Janji, Sriracha, Perahu Sandeq, Berbeda itu Nasib, Kopi Rakyat, Jainab, Seperti Seseorang yang Sedang Menunggu, Yangkung.

Workshop Font dan anak-anak Makassar. Foto afrizal malna

Pertunjukan Datu Musen dan Maipa Deapati (sutradara Asia Ramli Prapanca, koreografi Ridwan Aco), pertunjukan Manurung dan beberapa pertunjukan musik, dikunjungi publik melimpah.

Film tampak lebih luwes dalam mengelola tema-tema sejarah maupun kehidupan masa kini. Sementara pertunjukan, yang menggunakan sejarah sebagai tema, berhadapan dengan resiko “kembali merenovasi luka sejarah dengan koreografi dan kostum baru”. Representasi atas sejarah dalam seni pertunjukan, membutuhkan cara baca lain, tidak melulu bergantung pada heroisme sebagai titik-tolak, dan mengukuhkan konstruksi heroisme nasionalisme dan kini menjadi seksis.

Sejarah sebagai heroisme, cenderung menjadi bumerang ketika kita mulai melakukan negosiasi antara masa depan dan masa lalu. Asal-usul didefinisikan dari kodefikasi agama (asap dupa atau orang bersorban). Sejarah yang belum selesai dengan beban drama, bercampur-aduknya sejarah antara fakta dan kepercayaan. Pertunjukan sebagai performatif sejarah seperti ini, akan membuat industri masakini berhenti sebagai “hoax” tanpa literasi.

Batas yang Tidak Mengusung Predikat

Ketika pembacaan puisi berlangsung, situasi menjadi sebaliknya. Sangat mencemaskan indeks pasar. Tetapi jangan tergesa-gesa. Di antara media penciptaan, puisi merupakan proyek penciptaan yang belum terambil oleh pasar. Tetap berada di luar pagar komersialisasi. Kenyataan ini membuat puisi mendapatkan posisi lebih lapang untuk bermain dengan kebebasan dan indeks internalnya.

Ekonomi kreatif sebagai negosiasi baru, perlu melihat kenyataan ini sebagai “pasar-tak-tersentuh”. Artinya, pasar tidak melulu dibaca berdasarkan variabel seragam. Ketika variabel pasar terlanjur general, dimensi percepatan yang dikandung pasar akan lebih cepat mencapai titik-jenuh. Gagasan sebagai modal, ikut cepat mengalami titik kebal atas pasar yang selalu membutuhkan “kejutan” untuk terus bisa bergerak. Pasar kian terjangkit durasi peringkat yang kian pendek dan segera kembali haus dengan “produk baru”. Produk lama langsung dilempar ke dalam jaringan distribusi “barang bekas” maupun “eks-pabrik”. Marketing produk mulai bekerja dalam scala minimalnya: discon. Seni yang berorientasi ke panggung publik, terutama musik dan tari, juga memiliki durasi kian pendek untuk bertahan dalam peringkat pasar. Tidak banyak kelompok musik yang bisa bertahan lama seperti kelompok Slank.

Tetapi apakah daya kejut puisi telah lumpuh dalam hiruk-pikuk pasar? Melawan kebisingan, melawan hiruk-pikuk cahaya dan berbagai produk printing, juga melawan dirinya sendiri sebagai rejim kanonisasi dalam kesunyian bahasa.

Tubuh-puisi masa kini, entah kenapa dan bagaimana, kian terganjal atau terperangkap dalam dunia bahasa yang digunakan. Jalan dalam rentang antara “bahasa” dan “puisi”, adalah jalan lurus aktivisme “representasi ke representasi”. Sirkulasi maupun distribusinya menjadi berat, dari pengertian kata ke makna kata. Konkretisasi untuk mengganjal gerak “representasi ke representasi”, terhambat oleh 90 % makna yang dipantulkan penyair ke dalam puisi merupakan “makna eksternal”. {Medan puisi sebagai aktivisme “representasi ke representasi” yang paling banal, yang masih bermain dalam makna “mana-yang-benar dan mana-yang-salah”, akan meluruhkan puisi semata sebagai khotbah. Realitas dilihat sebagai “tersangka” (yang harus ditundukkan) dalam moral totalitarian yang diyakininya}.

30 Detik menjadi aktor. Foto afrizal malna

Sebuah puisi ditulis St. Muttia A. Husain dalam Festival F 8, cukup menggoda, terutama judulnya: “Tentang Yang”. Judul yang tidak menawarkan batas. Yang merupakan kata sambung, selalu berada di antara dua kata untuk menjelaskan kata pertama. Yang sebagai agen untuk mengantar predikat. Dan dalam puisi ini, kata yang justru ditempatkan sebagai subyek itu sendiri, bahwa ini tentang “yang”.

Puisi Muttia merupakan deskripsi tentang adanya yang telah berakhir, mati, habis, mata rantai kehidupan yang putus (batas yang kehilangan predikat); tentang topeng, cermin, bedak tebal. Yang sebagai ruang-antara, tidak lagi mengantar tatapan ke arah objek yang pasti, berhadapan dengan realitas terbungkus topeng.

Tentang Yang

Tentang burung yang berhenti berkicau
Dan dedaunan yang terlanjur mengering
Sedang Kau yang terlampau terbang tinggi di bawa mimpi
Dan Dia yang sibuk memasang topengnya di depan cermin
Sedang Aku yang disebutnya dayang
Dan Dia yang disebutnya teman
Tentang anjing yang berhenti menyalak
Dan kambing yang hendak jadi sapi
Sedang sang raja hutan yang sudah seperti kucing rumahan
Ini bukanlah kisah kebun binatang beserta binatang-binatang peliharaan di dalamnya tapi tentang mereka yang menggunakan topeng dan bedak yang tebal menutupi wajah

Yang, sebagai ruang tatapan yang lumpuh, memang tidak hadir sebagai puisi yang menjadi eksperimental bersama tipografi judul yang digunakannya. Puisi ini seolah-olah berjalan sendiri di tengah orang ramai pengunjung festival. Dan abai, bahwa Losari telah kehilangan pantainya sendiri, berubah menjadi kolam yang batasnya telah dibeton. Dalam puisi Idwar Anwar “Tak Ada Kunang-Kunang di Losari”, menyuarakan hilangnya ruang auratik dari laut, karena kota sudah terlalu berlebih memproduksi kebisingan. Dan mikro biologi laut? Hilangnya lanscap momen matahari tenggelam di pantai Losari? Sudahlah.

Pertunjukan Datu Musen dan Maipa Deapati. Foto afrizal malna

Festival F8 di Makassar, tampaknya memberikan pembelajaran penting melihat “ekonomi kreatif” sebagai aktivisme masa kini dalam industri budaya.
Apakah komponen seni dan non-seni harus dihadirkan lebih beragam, ditempatkan sebagai dialog atau sendiri-sendiri? Sebuah festival yang memang mem butuhkan kerja kuratorial lebih kolaboratif untuk seluruh potensi kota, tidak semata terpusat di pantai Losari yang bebannya sudah luber.***

Lukisan Ahmad Irsad dalam pameran Festival F8 Makassar. Foto afrizal malna.

Baca Juga

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

Bamsoet Ajak Milenial Nonton “Panembahan Reso” Mahakarya Rendra

Portal Teater - Masterpiece dramawan WS Rendra, "Panembahan Reso", akan dipentaskan ulang oleh kolaborasi GenPI.Co, JPNN.Com, Ken Zuraida, dan BWCF Society. Lakon yang menjadi buah...

Deal! Hilmar Farid Jawab Keresahan Pelaku Seni dan Budaya

Portal Teater - Penghapusan Direktorat Kesenian dari struktur Direktorat Kebudayaan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim awal tahun ini memunculkan polemik di kalangan...

Terkini

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...