Festival Teater Anak Jadi Ruang Ekspresi dan Ibadah Anak

Portal Teater – Festival-festival teater di kota Jakarta dikenal sebagai salah satu festival teater tertua di Indonesia. Digagas bersamaan dengan terbentuknya Dewan Kesenian Jakarta oleh Gubernur Ali Sadikin, konsistensi dan regenerasi teater di pusat negara ini dinilai sangat baik.

Festival Teater Jakarta (FTJ), misalnya, merupakan salah satu platform kesenian yang sangat konsisten dalam upaya mengembangkan kebudayaan di Jakarta.

Bersamaan dengan itu, proses regenerasi teater tidak pernah terputus. Pemerintah dan lembaga atau asosiasi teater di kota ini sangat komit memperluas akses pelajar untuk terlibat di dalam kesenian teater.

Terbentuknya Festival Teater Pelajar (FTP) dan Festival Teater Anak (FTA) tingkat DKI Jakarta merupakan salah satu contoh perhatian dan pilihan kebijakan pemerintah yang paling tepat untuk menciptakan kesinambungan iklim berkesenian teater.

Namun sayangnya, penyelenggaraan FTA tidak seindah kedua festival lainnya. Event untuk menjaring peta perteateran generasi ibukota ini tersendat-sendat sepanjang perjalanannya.

Salah satu faktor yang cukup kuat mempengaruhi ketersendatan itu adalah perihal dukungan dana. Karena sebagai penyelenggara yang independen, Lembaga Teater Jakarta belum memiliki dana yang cukup untuk memberikan lebih dari sekedar menyukseskan acara.

Sementara pemerintah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta pun belum mengakomodasi FTA sebagai bagian penting dari program kebudayaan seperti halnya FTP dan FTJ.

Tahun ini, pemerintah baru memberikan fasilitas berupa gedung, yaitu di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta selama tiga hari secara gratis. Kemudian, setiap pemenang akan mendapatkan sertifikat yang ditandatangani oleh Kepala Dinas, tapi tanpa uang pembinaan atau piala.

“Sebetulnya kegiatan ini adalah program Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Namun dalam tiga tahun belakangan, LTJ tidak mendapatkan anggaran atau tidak ada di dalam DPA,” ungkap Asep Martin, Ketua LTJ di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Selasa (8/10).

Asep Martin. -Dok. portalteater.com.
Asep Martin. -Dok. portalteater.com.

Jadi Ruang Ekspresi

Terlepas dari keterbatasan-keterbatasan yang ada, antusiasme sekolah dan komunitas teater anak di DKI Jakarta tiap tahun terus meningkat. “Padahal mereka tahu kalau event ini tidak ada anggaran,” kata Asep Martin.

Ini memperlihatkan ada kesadaran baru dalam sistem pendidikan di sekolah-sekolah yang memandang kegiatan ekstrakurikuler seperti berkesenian teater tidak sekedar menjadi ajang mengakumulasi kemenangan atau berprestasi semata.

Menurut Asep Martin, yang paling mendasar dari FTA adalah bagaimana pemerintah dan LTJ sebagai penggagas, menyediakan ruang yang inklusif agar potensi kreatif anak-anak dapat ditampilkan secara representatif melalui gedung pertunjukan yang lebih elegan.

“Mereka kalau secara mandiri tampil di TIM tidak mungkin. Maka dengan ini mereka bisa berkarya, bisa pentas,” imbuhnya.

Anak-anak mengunjungi boot pameran di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta. -Dok. portalteater.com
Anak-anak mengunjungi boot pameran di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta. -Dok. portalteater.com

Ia melihat, sejauh ini, masih banyak grup teater anak yang melakukan pementasan di sekolah-sekolah masing-masing. Dan mereka cukup kesulitan untuk menemukan ruang yang baik untuk menempa bakat-bakat besar di dalam diri anak-anak.

Karena itulah, setiap tahun, FTA selalu ditunggu-tunggu oleh grup-grup teater anak. Bahkan ketika belum mendapatkan dana tetap dari pemerintah, beberapa sekolah dan LTJ menggalang dana patungan.

“FTA sangat penting dan krusial. Jangan sampai karena tidak ada dana, kita berhenti,” paparnya.

Karena itu, ia berharap agar penentu kebijakan, baik pemerintah dan DKJ, harus lebih memperhatikan ruang ekspresi anak-anak.

“Anak-anak bukan tidak berkualitas, karena mereka dianggap berkualitas pada usianya, seperti halnya dengan festival di tingkat yang lebih tinggi” terangnya.

Pameran buku pada FTA 2019 di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta. -Dok. portalteater.com
Pameran buku pada FTA 2019 di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta. -Dok. portalteater.com

FTA seperti Ibadah

Di atas panggung pementasan, FTA tahun ini tampak menarik dan unik. Salah satu keunikannya adalah banyaknya aktor yang tampil ketika pentas teater berlangsung.

“Ada yang 48 orang, ada juga yang 60 orang,” katanya.

Bagi Asep Martin, selain sebagai ruang ekspresi, panggung pementasan terlihat sebagai ruang ibadah bagi anak-anak. Sebagai ibadah, mereka tidak mengejar kemenangan tapi bagaimana mereka punya sirkuasi ruang untuk berkreasi.

“Yang membuat aku semangat adalah karena nilai ibadahnya,” ujarnya.

Karena itulah ia berharap agar ruang representatif tersebut terus dijaga agar pertumbuhan kualitas perteateran secara berjenjang dapat tercapai.

Banner grup teater anak peserta FTA 2019 di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta. -Dok. portalteater.com
Banner grup teater anak peserta FTA 2019 di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta. -Dok. portalteater.com

Peserta FTA Melonjak

Peserta FTA adalah anak-anak berusia 5-14 tahun, baik yang berusia SD, SMP, bahkan ada yang masih TK, dari sekolah ataupun dari grup teater umum.

Tahun ini, persentase keikutsertaannya diproyeksi secara statistik berada di angka 60-an persen dari sekolah dan 40 persen dari komunitas umum.

Sementara jumlah grup peserta melonjak tajam dari tahun sebelumnya yang hanya 12 grup menjadi 25 grup tahun ini.

Padahal LTJ dan Disparbud hanya membuka pendaftaran peserta selama dua hingga hari dan ditutup mengingat kuota yang disiapkan panitia terbatas, yakni hanya 24 grup peserta.

FTA sendiri sebelumnya diadakan dua tahun sekali. Sejak tahun 2010, baru diadakan rutin tiap tahun. Kali ini, FTA diadakan sepanjang 8-14 Oktober 2019 di Teater Kecil TIM Jakarta.

Selain pertunjukan, beragam acara pendukung dihadirkan dalam festival ini, antara lain: bazar, panggung terbuka, fashion show, pameran kreatif anak, lomba mewarnai, dan masih banyak lagi.

Di final nanti dipilih lima gru terbaik dan satu grup favorit beserta kategori lainnya. Sementara naskah-naskah yang dipentaskan ditulis sendiri oleh masing-masing grup.

“Karena kita tahu, naskah teater untuk anak-anak sangat sedikit, tidak seperti naskah dewasa,” tutupnya.

Rundown Acara

Berikut kami lampirkan rundown acara FTA DKI Jakarta 2019:

Rundown acara FTA 2019. -Dok. Asep Martin.
Rundown acara FTA 2019. -Dok. Asep Martin.

Simak video pementasan FTA tahun 2015 berikut:

*Daniel Deha

Baca Juga

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Terkini

Data dan Dana Untuk Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Indonesia membuka jalur pendataan bagi pekerja seni yang secara ekonomi terdampak virus Corona. Pendataan telah dibuka sejak akhir pekan lalu,...

Mendata Pelaku Industri Kreatif Terdampak Corona di Ibukota

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul semua lini kehidupan manusia saat ini. Wabah global ini tidak hanya menghantam sektor ekonomi, politik, atau...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...