Festival Teater Jakarta Barat Libatkan 14 Grup Untuk Perkuat Ekosistem Teater Kota

Portal Teater – Nama Teater Asa, Sindikat Aktor Jakarta (SAJ) dan Teater Nusantara tidak lagi asing bagi publik Jakarta. Ketiga kelompok teater berbasis Jakarta Barat ini sering menjadi langganan final gelaran Festival Teater Jakarta Barat (FTJB).

Tahun lalu, Teater Nusantara dan SAJ bahkan mampu menjadi utusan FTJB untuk bertarung di event tahunan Festival Teater Jakarta (FTJ), program paling tua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Program ini telah dirintis sejak 1973.

Namun demikian, tahun ini ada yang berbeda terjadi pada perhelatan babak final FTJB yang digelar pada 6-16 Agustus 2019. Nama Lab Teater Lumbung tiba-tiba muncul ke permukaan sebagai pemenang ketiga (juara III) dalam event itu lewat lakon “Bulan Bujur Sangkar”, karya Iwan Simatupang dan sutradara Hendra Wijaya.

Kelompok teater ini berhasil menyingkirkan SAJ yang sudah dua kali meraih tiket FTJ (2017 dan 2018). Dalam pengumuman festival itu SAJ berada di urutan kelima dari tujuh peserta FTJB 2019. Sementara yang menjadi perwakilan FTJB hanya terdiri dari tiga grup.

Dengan demikian, Lab Teater Lumbung menemani Teater Asa (juara I lewat lakon “HIM”; karya dan sutradara: Simon Karsimin) dan Teater Nusantara (juara II lewat lakon “Arung Palaka”; sutradara Ayak Mh) di helatan FTJ tahun ini.

Keikutsertaan Lab Teater Lumbung yang berbasis di Karawang, Jawa Barat, ini merupakan yang pertama kalinya sejak FTJB digelar di tahun 2002.

Sebelumnya, Lab Teater Lumbung pernah menjuarai Festival Teater Pelajar, yang hanya dikhususkan untuk komunitas teater setingkat SMA/SMK di Jakarta pada tahun 2017.

Menurut Ketua Ikatan Drama Jakarta Barat (Indraja) Mameth Z. Tegong, Lab Teater Lumbung merupakan salah satu komunitas teater yang secara konsisten merawat proses regenerasi.

Dibentuk pada tahun 2005, komunitas ini perlahan-lahan merengsek dari hanya menjadi pemenang di level remaja, ke level teater umum seperti FTJB.

“Kalau Lab Teater Lumbung baru pertama kali ikut karena dia harus mempersiapkan diri mulai dari regeneras, dari anak-anak sekolah sampai masuk ke teater umum,” katanya, Selasa (3/9).

Sementara itu, kemenangan dan kekhasan Teater Asa adalah karena ia lebih ke pendekatan postmodernisme yang menyingkap ketunggalan makna. Sedang Teater Nusantara lebih menampilkan lakon-lakon tradisi, yaitu bagaimana mengemas narasi/cerita lama dengan isu kekinian.

Libatkan 14 Peserta

Menurut Mameth, yang juga adalah pendiri dan sutradara Teater Kembali Satu (K_1), gelaran FTJB telah dimulai pada akhir Juli lalu.

Sebanyak 14 kelompok teater yang terlibat dalam gelaran tahap seleksi tersebut. Semua komunitas peserta merupakan kelompok teater umum; tidak melibatkan kelompok teater pelajar karena para pelajar sudah memiliki platformnya sendiri, yakni Festival Teater Pelajar (FTP).

Dari keempat belas grup teater tersebut, terpilihlah tujuh peserta terbaik untuk memasuki babak final. Adapun ketujuh partisipan FTJB 2019, antara lain: Karat Teater Jakarta, Lab Teater Lumbung, Teater Asa, Sumber Drama Manusia, Sindikat Aktor Jakarta, Teater Janien dan Teater Nusantara.

Keterpilihan ketujuh peserta itu, menurut Mameth, tidak dilakukan melalui proses dan batas kuratorial yang ketat, melainkan hanya melalui seleksi administrasi, konsep/gagasan, dan presentasi di hadapan juri dengan durasi waktu sekitar 45 menit.

Sementara di babak final, ketujuh peserta diberi waktu yang lebih panjang untuk mementaskan karyanya dengan durasi waktu maksimal hingga 120 menit.

Tahap seleksi dan pentas karya ini sesuai dengan pendirian Indraja yang amat menekankan pendekatan realis dan lintas media, di mana teater harus mampu meretas pagar-pagar yang mengungkung inklusivitas ilmunya untuk mencapai estetika kesenian.

Artinya, di dalam pentas-pentas mereka, para peserta harus bisa mempertanggungjawabkan konsep/gagasan karya mereka dan bagaimana mereka mentransformasi realitas di luar panggung ke dalam konsep pertunjukan.

“Kami dari awal telah berniat agar teater juga harus menerobos wilayah-wilayah ilmu lain di luar dirinya. Apa yang direkam di luar panggung, harus tetap dipertanggungjawabkan,” terangnya.

Untuk Penciptaan Ekosistem Teater

Mameth menuturkan, gelaran FTJB merupakan bagian ruang penciptaan ekosistem di Jakarta Barat, dan secara luas di kota Jakarta dan Indonesia pada umumnya. Sebab teater bukan hanya sekedar ritual pekerjaan.

Jakarta Barat sejak dulu memang terkenal dengan penciptaan ekosistem teater yang konsisten dan berkelanjutan. Misalnya melalui pendidikan, pelatihan, manajemen, workshop dan pendampingan melalui pengiriman mentor-mentor ke komunitas-komunitas teater.

Indraja persis berada pada wilayah kerja tersebut. Karena bagi Indraja, proses regenerasi kesenian merupakan bagian penting dari pembangunan ekosistem teater.

“Boleh dibilang, Jakarta Barat adalah yang paling aktif dari kelima wilayah yang lain di Jakarta,” terangnya.

Salah satu kekhasan dari model pengembangan kerja teater di Jakarta Barat, kata Mameth, adalah kecenderungannya untuk mengejar kebaruan estetika, dan memahami konsep-konsep dramaturgi secara baik dari komunitas teater.

Saat ini setidaknya ada 20-an komunitas teater yang bernaung di bawah Indraja. Indra sendiri memiliki program reguler untuk pembinaan teater bagi pelajar dan masyarakat umum.

*Daniel Deha

Baca Juga

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...

Penyebaran Virus Corona di Indonesia Terus Meluas

Portal Teater - Penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia terus meluas sejak pertama kali teridentifikasi melalui dua pasien di Depok, Jawa Barat, awal Maret...

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...

Terkini

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...

Kasus Corona Masih Fluktuatif, Ratusan Bioskop di China Kembali Ditutup

Portal Teater - Menyusul kembali meningginya penemuan pasien terkonfirmasi virus Corona akhir pekan lalu, otoritas China meminta pelaku industri bioskop untuk menutup kembali lebih...

ITI Ajak Insan Teater Berbagi Karya Lewat Media Daring

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) merebak seantero dunia. Ratusan negara telah terpapar virus yang datang bagai ledakan asteroid ini. Sementara ratusan ribu umat...

Corona Meluas, Teater Katak Tunda Pementasan “Zeus and The Olympian God”

Portal Teater - Mencermati transmisi virus corona (Covid-19) yang makin luas di Indonesia, Teater Katak mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas produksi pertunjukan "Zeus and The...

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...