Portal Teater – Teras Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki sore hari kemarin, Rabu (10/7), tampak riuh. Keriuhan itu bukan karena aktivitas latihan seni tari, seperti yang dilakukan oleh komunitas-komunitas tari pada akhir pekan. Tetapi karena pertarungan ide/gagasan antara sutradara kedua kelompok teater dengan beberapa pengamat dan pegiat seni.

Kedua kelompok teater yang hadir dalam diskusi ini adalah sutradara Bambang Prihadi yang mewakili Lab Teater Ciputat dan sutradara Dendi Madiya dari Artery Performa.

Sebagaimana lazim dalam khazanah kesenian, pembacaan atau kritik terhadap karya seni penting dilakukan agar publik tidak hanya melihat teks yang disajikan, tetapi juga konteks serta pengalaman di mana teks itu berdiri.

Gagasan inilah yang dipakai Komite Teater dalam apa yang disebut “biografi penciptaan”. Biografi penciptaan ini dalam beberapa tahun sedang mengalami perubahan atau pergeseran dalam praktik-praktiknya. Tentu perubahan itu tidak sedang berada di ruang kosong untuk mewujudkan sesuatu yang belum ada sebelumnya.

Walter Benjamin, misalnya, dibaca ulang untuk melihat rentang tegangan antara modus penciptaan dan medium yang digunakan. Munculnya teknologi artifisial kemudian menimbulkan relasi-relasi baru yang mendesak praktik kesenian harus terlepas dari spesialisasi.

Biografi penciptaan, dalam tataran ini menjadi ruang di mana karya-karya itu dibaca dan dikritik, bukan hanya untuk mengenal proses produksi dan seperangkat pesan yang dibawa sutradara.

Lebih dari itu, biografi penciptaan adalah proses di mana karya-karya dipertanggungjawabkan kepada publik dalam sebuah desain karya yang lebih konseptual; bukan lagi bergerak pada tatanan karya, tetapi pada produksi gagasan.

Nah, karena itulah dalam diskusi ini sutradara Bambang Prihadi dan Dendi Madiya mempertanggungjawabkan konsep karya mereka sembari membuka diri untuk dibaca secara komprehensif oleh publik.

Aksesibilitas publik dalam penciptaan karya inilah yang kemudian memberi warna baru dalam proses-proses produksi di kemudian hari. Inilah visi dasar diselenggarakannya Djakarta Teater Platform (DTP) sebagai laboratorium penciptaan bersama.

Pengamat seni Ugeng T. Moetidjo pertama-tama melihat bahwa kedua pertunjukan, yaitu “Sinopsis TIM 2019+” dan “Underscore: Copy Paste Sae” memperlihatkan model arsip analog yang telah dikonversi atau diproduksi ulang secara digital. Yaitu tentang bagaimana kedua sutradara menggali arsip-arsip lama untuk ditampilkan menggunakan media baru.

Dalam pertunjukan “Underscore: Copy Paste Sae”, Ugeng mempertanyakan, apakah perpindahan model video analog ke video digital itu tidak mengurangi representasi konteks di mana pertunjukan itu dilakukan. Sebab, dengan perpindahan itu, representasi visual sudah mengalami distorsi karena perbedaan waktu.

Meski hanya merupakan sebuah upaya copy paste, Ugeng melihat bahwa yang direproduksi di sini adalah waktu karena ada bagian-bagian video yang tidak dapat dipresentasikan secara menyeluruh, melainkan hanya beberapa potongan dari video itu yang diambil.

Dengan potongan video tersebut, maka pertunjukan ini tidak mewakili bagian dari gambar yang terdistorsi yang sebetulnya menjelaskan kerentanan waktu dari apa yang disebut masalalu memori kolektif kita.

Demikian halnya dengan karya Bambang Prihadi, yang berupaya membangkitkan memori kolektif publik terhadap teks dan konteks yang menyertai berdirinya Taman Ismail Marzuki dengan menghadirkan teks-teks lama melalui model cetak-salin.

Namun beberapa poster yang ditampilkan sudah berbeda ukuran. Apakah dengan itu juga akan mengurangi representasi relasi kepentingan dari berdirinya Gedung Graha Bhakti Budaya dengan visi untuk menciptakan apa yang disebut “kepribadian nasional”.

Merespon pertanyaan Ugeng, Dendi mengakui bahwa ada kesulitan untuk menghadirkan secara gamblang karakter-karakter asli dari Teater Sae, meski pertunjukan ini bersifat copy-paste, yang berarti harus menerjemahkan secara lurus semua elemen dan karakter keaktoran Teater Sae.

Selain kesulitan bertemu langsung dengan beberapa aktor Teater Sae, dan beberapa di antara mereka hampir lupa pementasannya, Dendi juga tidak bisa menjangkau sejauh mungkin salinan naskah yangutuh dari ketiga pertunjukan tersebut. Yang ada hanyalah video, foto dan kostum.

Meski demikian, video atau foto dan kostum sekalipun tidak benar-benar dapat direplikasi secara utuh karena ada beberapa adegan yang tidak terdeteksi oleh kamera, misalnya ada penonton yang tertawa karena adegan salah satu aktor di pinggir panggung.

Oleh karena ketidakterjangkauan itu, seorang seniman-peserta mengusulkan agar judul copy-paste diubah sebagai “rekonstruksi” untuk menunjukkan bahwa pertunjukan itu tidak menerjemahkan serta merta karya Teater Sae, tetapi hanya merupakan sebuah upaya untuk pemeragaan ulang dengan tokoh dan karakter yang berbeda.

Tetapi Dendi berpendirian bahwa pementasan ketiga video pertunjukan Teater Sae itu tidak dapat disebut juga sebagai rekonstruksi karena sebagai sutradara pun, ia tidak menerapkan karakter sutradara Teater Sae yang terkenal kejam dalam menyutradarai karya-karya pertunjukan.

Menurut cerita lisan dan naskah-naskah tertulis, dalam ketiga pertunjukan itu, sutradara Teater Sae Budi S. Otong benar-benar mempresentasikan unsur-unsur kekejaman dan kebengisan dengan peristiwa yang berdarah-darah.

Namun di dalam pertunjukannya, Dendi membawa apa yang menjadi karakternya, yang berbeda dari Budi S. Otong. Dengan itulah Dendi lebih melihat pertunjukannya sebagai upaya pemeragaan (reenachment) dari video pertunjukan Teater Sae, dan tidak lagi serta merta memperlihatkan karakter asli para aktor.

Dengan itulah Dendi menciptakan apa yang disebut sebagai “kedisinian yang di sana”. Artinya, sebagai sutradara, Dendi mengantar para aktornya untuk mengimproviasikan pengalamannya sendiri terhadap teks-teks tersebut.

Sementara itu, Bambang pun menuturkan, pembuatan “Sinopsis TIM 2019+’ merupakan untuk menggali dan membangkitkan kembali memori publik akan keberadaan TIM di tengah keterbatasan arsip tentangnya.

Menurut Bambang, TIM kini telah menjadi tempat pembekuan realitas; TIM tidak lebih merupakan sebuah museum yang kaku. Museum ini dipandang oleh masyarakat sebagai sesuatu yang sakral dan agung.

Nah, dengan pertunjukan ini, Bambang ingin mengeluarkan TIM dari keagungannya untuk dinikmati publik secara lebih akrab. Salah satu cara untuk mendekatkan publik dengan TIM sebagai museum, yang merupakan dokumentasi karya kesenian masa lalu, adalah dengan menulis dan mendokumentasikan karya-karya itu dengan wajah yang baru, sehingga tidak ada lagi jarak yang tegas antara publik dengan karya seni.

Dalam pertunjukan ini, Bambang melakukan upaya pendekatan itu dengan meleburkan publik ke dalam adegan pertunjukan itu sendiri, misalnya publik yang diwakili oleh generas milenial. Dengan interaksi yang terjadi antara publik dan museum TIM, Bambang ingin mengantar penonton untuk membayangkan masa depan TIM sebagai museum yang dapat bercakap-cakap aktif dengan publik.

Selain untuk meleburkan publik dengan museum, melalui karyanya, Bambang juga ingin melepaskan seni pertunjukan teater dari panggung prosenium yang terkesan monoton dan pasif bagi penonton.

Tetapi, perspektif itu ditantang oleh peserta diskusi yang melihat ketidakkonsistenan itu justru ketika adegan peleburan seniman dengan publik terjadi di atas panggung. Jika tetap berpendirian agar penonton aktif, maka pertunjukan tidak semestinya terjadi di atas prosenium sebagaimana terjadi pada adegan dialog Arjuna dengan penonton.

Hadir dalam diskusi ini antara lain: Ketua Komite Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Afrizal Malna, anggota Komite Teater Rita Matu Mona, pegiat seni rupa, pegiat seni teater, serta para aktor dari kedua komunitas teater.

Diskusi ini dipandu oleh moderator Ugeng T. Moetidjo, seorang pengamat dan pegiat seni rupa. Ugeng sebelumnya pernah menjadi kurator dalam program Lintas Media 2019 pada bulan Juni lalu.

Berikut kami lampirkan foto-foto selama diskusi berlangsung:

Bambang Prihadi menceritakan tentang proses pembuatan karya "Sinopsisi TIM 2019+".
Bambang Prihadi menceritakan tentang proses pembuatan karya “Sinopsisi TIM 2019+”.
Ketua Komite Teater Afrizal Malna.
Ketua Komite Teater Afrizal Malna.
Robert Tundang dari Portalteater.com, media Komite Teater DKJ.
Robert Tundang dari Portalteater.com, media Komite Teater DKJ.
Sutradara Artery Performa Dendi Madiya.
Sutradara Artery Performa Dendi Madiya.
Salah seorang peserta menanggapi diskusi "Biografi Penciptaan" pertunjukan Artery Performa.
Salah seorang peserta menanggapi diskusi “Biografi Penciptaan” pertunjukan Artery Performa.
Kemal, salah seorang peserta yang juga adalah pegiat teater.
Kemal, salah seorang peserta yang juga adalah pegiat teater.

*Naskah: Daniel Deha; Foto: Andi Andur