Galeri Pementasan “Baal” oleh Impermanence Dance Theatre

Portal Teater – Bahana tepukan tangan penonton melesak-lesak ke dinding Gedung Graha Bakti Budaya TIM Jakarta setelah Impermanence Dance Theatre mengakhiri pementasan karya terakhir mereka: “Baal”. Lalu ketika keempat pemain dan seorang komposer berdiri di tengah panggung untuk memberi ‘salam’ penutup, tepukan itu semakin riuh dan bergetar.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap panggung “Baal”, Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta yang terdiri dari Afrizal Malna, Adinda Luthvianti dan Rita Matu Mona, dan Direktur British Council Indonesia Paul Smith memberikan bucket bunga kepada kru Impermanence.

Sementara penonton yang masih terpesona oleh adegan-adegan “Baal” menyambut momen itu dengan aplause yang makin meriah.

“Baal” dipentaskan selama dua hari berturut-turut, yaitu pada Kamis dan Jumat malam di Gedung Graha Bhakti Budaya TIM Jakarta. “Baal” dipentaskan selama kurang lebih satu jam, yaitu dimulai pada pukul 20.09-21.07 WIB.

Naluri alamiah “Baal” sebagai penghancur, penuh sensasional, keserakahan, dan anti-hero diperagakan dengan apik oleh keempat performer: Roseanna Anderson, Josh Ben-Tovim, Alessandro Marzotto Levy dan Sonya Cullingford.

Sebagai sutradara, Roseanna Anderson dan Josh Ben-Tovim mengadopsi karya Bertolt Brecht (1918), setelah Brecht kembali dari medan perang. Melalui tulisan itu, sebenarnya Brecht sedang berjuang untuk berdamai dengan pembantaian Perang Dunia I. Bayangan-bayangan kematian, atau yang Afrizal Malna sebut sebagai “jurnalisme gelap” dihadirkan Brecht melalui representasi Baal.

Dalam penggarapannya, Impermanence mencoba menampilkan “Baal” bersama film (video) yang menggabungkan cuplikan baru dengan bahan arsip yang ditampilkan di layar selama pertunjukan. Video pada layar itu menghadirkan penyatuan realitas virtual yang terpampang lewat teknologi dengan dunia pertunjukan riil di panggung.

Untuk menambah khazanah pertunjukan kontemporer, Impermanence memadukannya dengan sebuah soundtrack orisinil yang dibuat dan dipertunjukkan secara live oleh musisi elektro-akustik Robert Bentall.

Bental duduk di sisi kiri panggung dan memainkan melodi klasik khas Swedia, Nyckelharpa, dan rekaman sampel Violin Concerto Sibelius dari tahun 1943 di Berlin, dan beberapa karya musik lainnya. Itulah saat di mana “Baal” siap beraksi di atas panggung.

Sepanjang pertunjukan, Bental piawai menciptakan instrumen-instrumen yang harmoni ketika “Baal” bermain-main dengan sensasionalismenya.

Pada bagian akhir, sementara keempat pemain bermain-main di belakang layar, Bental tampil solo untuk memperlihatkan kecerdasannya merangkai berbagai nada tradisional itu. Itulah momen di mana “Baal” selesai dipentaskan.

Sementara, untuk memperbesar ‘kelas’ panggung “Baal”, desainer produksi Pam Tait merancang kostum panggung yang turut mempercantik pertunjukan.

Desain pertunjukan “Baal” tidak terlepas dari kepiawaian Tim Hardy sebagai penata cahaya dan Duncan Wood sebagai penata video, yang mempermegah panggung “Baal” menjadi sebuah perunjukan kelas dunia yang tiada bandingnya.

Pertunjukan ini disaksikan oleh 400-an penonton pada malam pertama, dan malam berikutnya penonton ada sekitar 500-an penonton. Kebanyakan dari mereka adalah kaum milenial penikmat seni teater.

Indonesia menjadi panggung pertama di luar Inggris di mana “Baal” dipentaskan. Kedatangan Impermanence dan pementasan “Baal” sendiri merupakan bentuk kerjasama Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta dengan British Council Indonesia. Kerjasama ini telah berlangsung dalam dua tahun belakangan.

Foto Pertunjukan

Berikut kami lampirkan beberapa foto yang diambil selama pertunjukan “Baal”:

Pemain dan komposer Impermanence serta Komite Teater foto bersama setelah pementasan.
Pemain dan komposer Impermanence serta Komite Teater foto bersama setelah pementasan.

Direktur British Council Indonesia Paul Smith menyerahkan bucket bunga kepada para pemain "Baal".
Direktur British Council Indonesia Paul Smith menyerahkan bucket bunga kepada para pemain “Baal”.

Salah satu adegan "Baal".
Salah satu adegan “Baal”.

Salah satu adegan dalam pementasan "Baal".
Salah satu adegan dalam pementasan “Baal”.

Salah satu adegan "Baal".
Salah satu adegan “Baal”.

Momen-momen "Baal" bermain-main dengan sensasionalismenya.
Momen-momen “Baal” bermain-main dengan sensasionalismenya.

Baal menikmati kebahagiaan dengan berpesta dan mabuk-mabukan.
Baal menikmati kebahagiaan dengan berpesta dan mabuk-mabukan.

*Naskah: Daniel Deha; Foto: Andi Andur

Baca Juga

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...