Galeri Seni di Pedestrian Surabaya

Portal Teater – Seiring pergeseran dan perubahan ekosistem kota, ruang-ruang kreatif seniman tidak lagi terlokalisasi pada satu dimensi spasial tertentu.

Misalnya, ruang pameran seni tidak lagi melulu berada dalam bangunan fisik, tapi dengan konsep tata kota, seniman dapat melakukan pameran di ruang publik.

Terlepas dari konsepsi para sarjana, ruang publik ini merupakan ruang yang berada persis di tengah-tengah antara ruang domestik (tempat tinggal) dengan ruang profesional (tempat kerja). Ia seolah menjadi jembatan kedua sumbu tersebut.

Ruang publik di lingkup perkotaan menjadi penting untuk memungkinkan penduduknya tidak terjebak pada aktivitas domestik atau profesinya.

Tapi bagaimana ruang publik tersebut menjadi wahana bagi masyarakat untuk berinteraksi, bertemu dan berbicara secara luas dan inklusif, tanpa dominasi kekuasaan.

Pameran karya para siswa SMAN I Surabaya di pedestrian Jalan Wijaya Kusuma Surabaya. -Dok. kumparan.com
Pameran karya para siswa SMAN I Surabaya di pedestrian Jalan Wijaya Kusuma Surabaya. -Dok. kumparan.com

Pameran di Pedestrian

Memanfaatkan ruang publik tersebut, para kandidat seniman di SMAN 1 Surabaya mengadakan pameran seni rupa tiga dimensi di pedestrian Jalan Wijaya Kusuma, Surabaya, Kamis (13/2) bertajuk “Gallery on the Street” (GOTRE3D).

Seolah memindahkan galeri seni dari ruang pameran beratap, para pelajar ini menyulap pedestrian yang merupakan tempat bagi pejalan kaki untuk memamerkan setidaknya 86 karya mereka. Karya-karya ini merupakan materi ujian matapelajaran Seni Budaya.

Lewat karya-karya mereka, sekitar 250 siswa Kelas XII ini memberikan edukasi estetik kepada pelajar dan masyarakat umum tentang apresiasi karya seni.

Jika selama pameran seni kerap dibuat di galeri-galeri tertutup dan mapan, mereka seolah ‘memberontak’ dan keluar dari zona nyaman untuk ‘menjemput’ publik.

Beberapa karya yang menarik perhatian publik adalah milik kelompok Djuliandhika Rachmaningtyas, Gading Tio Yuniar, dan Novia Norman Azzahra. Tiga siswi ini menamakan karyanya “Into the Labyrinth”.

"Into The Labyrinth" karya dari Djuliandhika Rachmaningtyas, Gading Tio Yuniar, dan Novia Norman Azzahra. -Dok. kumparan.com
“Into The Labyrinth” karya dari Djuliandhika Rachmaningtyas, Gading Tio Yuniar, dan Novia Norman Azzahra. -Dok. kumparan.com

Karya ini dibuat dari papan multiplex (kayu lapis) yang di atasnya dihias string art yang berbentuk labirin yang bisa dimainkan pengunjung.

“Kami memang ingin bikin karya yang enggak hanya dipajang, tapi juga bisa dimainkan orang yang melihat. Kami kasih challange siapa yang bisa keluar dari labirin dalam 15 detik, bisa dapat reward dari kami,” kata Novia, melansir kumparan.com.

Selain itu, ada juga karya yang mengangkat Festival of The Tooth dari Sri Lanka. Ini adalah karya dari kelompok Farah Kusuma, Lupita Prashanti, dan Maharani Orlin.

Ketiga siswa ini membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk mengerjakan karyanya.

Seorang siswa bernama Fajar memamerkan pun karya 3 dimensi dengan bahan kopi yang dikerjakannya selama kurang lebih dua minggu.

Salah satu karya GOSTRE3D milik siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Surabaya. Foto-foto : Windy Goestiana/Basra
Salah satu karya GOSTRE3D milik siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Surabaya. Foto-foto : Windy Goestiana/Basra

Pemanfaatan pedestrian atau ruang publik untuk pameran juga pernah dilakukan seniman kaca patri asal Bandung, Patricia Untario, ketika memajang karyanya di pintu masuk dan keluar terowongan bawah tanah MRT Jakarta Agustus-September tahun lalu.

Terlibat bersama 10 seniman lainnya pameran seni “Rambut Aku Kata Aku”, bagian dari perhelatan Jakarta Art Week 2019, Patricia menampilkan sosok wajah perempuan dengan model rambut beragam.

Pedestrian di Kota Jakarta. -Dok. liputan6.com
Pedestrian di Kota Jakarta. -Dok. liputan6.com

Kehadiran karya Patricia ini lantas menjadi obyek foto-selfie bagi warga yang melintas di kawasan Pintu 5 Gelora Bung Karno dan kawasan SCBD Jakarta.

Bergesernya galeri pameran yang umumnya tertutup ke galeri seni terbuka di ruang publik memantulkan satu bayangan bahwa aktivitas dan kreativitas seni masakini tidak lagi dibatasi oleh apapun.

Ruang publik dapat dimanfaatkan untuk proses kreatif. Karena dengan itu memudahkan seniman untuk bertemu dengan publik, yang dalam terminologi sepakbola disebut ‘menjemput bola’.

Aksi tolak revitalisasi TIM di pedestrian Kawasan Taman Ismail Marzuki Jakarta. -Dok. mediaindonesia.com
Aksi tolak revitalisasi TIM di pedestrian Kawasan Taman Ismail Marzuki Jakarta. -Dok. mediaindonesia.com

Di Jakarta, perluasan arena pedestrian di beberapa titik menjadi polemik. Namun selain untuk kepentingan PKL dan pejalan kaki, ruang spasial tersebut dapat digunakan sebagai galeri pameran seni para seniman ibukota.*

Baca Juga

Forum Seniman Peduli TIM Gelar Rapat Dengar Pendapat dengan DPR RI

Portal Teater - Sejak November 2019, sejumlah seniman, budayawan dan pelaku budaya yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM (FSPT) menggelar aksi 'silet movement'...

Nara Teater: Bertumbuh dalam Ekosistem yang Buntung

Portal Teater - Ketika Gedung Graha Bhakti Budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dirubuhkan, banyak yang risau soal geliat dan ekosistem kesenian dan...

HUT Ke-46 Teater Keliling: Bermula di TIM Jakarta

Portal Teater - Empat puluh enam tahun lalu, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pada sebuah rumah yang merupakan perumahan penjaga Kebun Binatang Raden...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...