Portal Teater – Sebuah pertunjukan ketoprak kebangsaan berjudul “Laksamana Cheng Ho” baru saja disuguhkan oleh Himpunan Seniman Panggung Wayang Orang & Ketoprak “ADHI BUDAYA” dalam kolaborasi dengan Masyarakat Kuangan Perbankan dan Senior Editor pada Rabu (31/7) malam di Gedung Kesenian Jakarta.

Pertunjukan ini diselenggarakan dalam rangka menghormati kebesaran dan jasa Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah asal China, sebagai tokoh besar keberagaman di Indonesia yang menjadi legenda dari sejarah dari masyarakat Indonesia yang beragam.

Cheng Ho dalam ekspedisinya ke Indonesia, mampu menyatukan kebudayaan China dan Indonesia secara baik dan harmonis. Hal itu tampak cara hidup masyarakat di pantau utara Jawa, khususnya di wilayah Jawa Tengah, yang hingga kini hidup dalam keberagaman dan bauran kebudayaan tersebut.

Pertunjukan yang dilakonkan oleh para pegawai keuangan-perbankan dan pekerja media ini disutradarai oleh Aries Mukadi (72 tahun) dan berlangsung selama 3 jam, dari pukul 19.00-22.00 WIB.

Adapun para pemainnya antara lain: Jahja Setiaatmadja, Suprajarto, Haryanto T. Budiman, Tigor Siahaan, Indah Kurnia, Budi Setyarso, Halim Alamsyah, Destry Damayanti, John Kosasih, Ninok Leksono, Dita Faisal, dan masih banyak lagi.

Para pemain lain dalam lakon ini adalah para pekerja media yang sebagian besar adalah senior editor, bahkan para pimpinan redaksi media ternama di Indonesia. Setidaknya ada total 44 orang pemain yang berasal dari lembaga keuangan dan perbankan serta awak media.

Produser Eksekutif Eko B. Supriyanto mengatakan, acara ini dipersembahkan sebagai kecintaan para pegawai di lingkungan masyarakat keuangan-perbankan serta kalangan media terhadap kesenian tradisi budaya Indonesia yaitu ketoprak.

“Kecintaan para seniman tradisi untuk melestarikannya sudah seharusnya dihargai dan diberi kesempatan untuk terus berlanjut mengadakan pentas di banyak tempat,” katanya melalui pernyatan tertulis, Kamis (01/8).

Eko mengungkapkan, hasil dari pementasan tersebut akan disumbangkan untuk pengembangan kesenian tradisi ketoprak Yayasan Adhi Budaya.

Siapa itu Cheng Ho

Kita tahu, Cheng Ho atau Cheng Hwa bagi masyarakat kita bukan nama yang baru sama sekali. Kisah tentangnya banyak ditulis dalam buku-buku sejarah Indonesia dan dunia. Cheng Ho di tanah air lebih dipandang sebagai seorang pendakwah dan Muslim yang taat.

Sementara dalam kesejarahan dunia, nama Cheng Ho disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali menemukan benua Amerika, di samping klaim sejarah yang menulis bahwa pedagang asal Italia Columbus yang menemukannya.

Di kota Semarang, Jawa Tengah, tiap tahun masyarakat di sana mengadakan festival dan pameran Cheng Ho untuk mengenang jasa sang laksamana. Tahun ini, festival tersebut akan diadakan pada 3-4 Agustus 2019 di Semarang.

Menurut cerita masyarakat setempat, Cheng Ho melakukan 5 kali ekspedisinya ke Kepulauan Indonesia sambil memperkenalkan teknologi dan gaya hidup Cina kepada penduduk.

Di setiap tempat yang ia kunjungi, laksamana itu juga menanamkan rasa persaudaraan yang kuat dengan penduduk dengan membangun masjid dan rumah doa yang menunjukkan akulturasi, memadukan budaya Islam dengan tradisi Cina dan kepercayaan lokal serta cara hidup.

Dalam salah satu pelayarannya di abad ke-15, sang laksamana menginjakkan kaki di pantai utara Jawa di Pantai Simongan di Semarang. Menemukan sebuah gua kecil di lereng bukit berbatu, Cheng Ho memilih tempat untuk berdoa dan kemudian membangun sebuah kuil kecil di lokasi itu.

Klenteng Sam Poo Kong, juga dikenal sebagai Gedung Batu, adalah Klenteng Cina tertua di Semarang. Tidak seperti kebanyakan klenteng, bangunan ini bukan milik agama tertentu, melainkan berfungsi sebagai tempat ibadah bagi orang-orang dari berbagai etnis dan kelompok agama termasuk Buddha, Tao dan Muslim.

Cheng Ho: Pendakwah Islam

Bagi masyarakat Cirebon di Jawa Barat (Jabar), penjelajah asal China ini memiliki jasa yang besar dalam penyebaran Islam. Diceritakan, laksamana dari kekaisaran Cina itulah yang pertama kali membawa dua mubalig penyebar agama Islam ke Jabar, yakni Syekh Quro dan Syekh Nurjati dalam ekspedisinya ke Cirebon, meski jejak Cheng Ho di Cirebon hingga kini belum banyak digali.

Hal itu dibenarkan Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung Nina Herlina yang pernah mengatakan bahwa Cheng Ho melaksanakan ekspedisi ke sejumlah wilayah di nusantara dalam rentang waktu 1405-1433. Ekspedisi itu dilakukan dengan membawa misi perdamaian, budaya serta penyebaran agama Islam.

Ketika singgah di Pelabuhan Muara Jati Cirebon, Cheng Ho membawa sedikitnya 73 kapal, dengan ukuran masing-masing panjang 120 meter dan lebar 50 meter. Saat itu, yang sedang berkuasa di Cirebon adalah Kerajaan Singhapura, yang berada di bawah kepemimpinan Kerajaan Galuh.

Anak buah Cheng Ho, yaitu seorang mubalig bernama Syekh Quro melakukan dakwah Islam ke Karawang dan mendirikan pesantren pertama bernama Syekh Quro. Sedangkan Syekh Nurjati, menetap dan menyebarkan Islam di Cirebon.

Syekh Nurjati ini kelak menjadi guru dari Raden Walangsungsang (putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran) dan keponakannya yang merupakan salah seorang Wali Songo, Sunan Gunung Jati.

Meskipun Cheng Ho sendiri kembali ke Cina, namun banyak dari perwiranya di armada memutuskan untuk tetap dan berasimilasi dengan penduduk Jawa setempat, yang menciptakan perpaduan antara budaya Cina-Indonesia di pantai utara pulau Jawa yang masih dapat disaksikan sampai hari ini.

*Daniel Deha