Gelar Perdana, JIPFest 2019 Angkat Tema ‘Identitas’

Portal Teater – Jakarta International Photo Festival (JIPFest) mengangkat tema ‘Identitas’ pada pagelaran perdananya yang berlangsung selama dua pekan, yaitu pada 28 Juni-9 Juli 2019, dengan lokasi utamanya di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Menurut Festival Director JIPFest 2019 Cristian Rahadiansyah, tema ini dianggap relevan dengan situasi dan kondisi Indonesia saat ini, misalnya dalam bidang politik, di mana kebangkitan politik identitas akhir-akhir ini, telah memberi rasa traumatis pada psikososial masyarakat.

“Tema ini sebenanrya diangkat berdasarkan situasi terkini suatu negara. Karena diadakan di Indonesia, maka kita melihat tepat jika angkat tema ‘identitas’,” katanya di Jakarta, Rabu (3/7).

Lebih dari itu, kata Cristian, tema ini ingin memperlihatkan bagaimana identitas itu terejawantahkan di berbagai bidang, misalnya mode busana, tren arsitektur, dan tradisi kuliner. Identitas tidak jarang lebih dilihat sebagai sumber ekspresi kultural dan ilham kreativitas.

Melalui tema ini, JIPFest 2019 juga ingin memamerkan karya-karya yang mengkritisi problem-problem riil yang lahir dari konsep identitas, baik identitas sebagai buah klasifikasi biologis, warisan kolonialisme, atau preservasi kelompok.

“Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan banyak suku, bahasa dan agama, tentu identitas menjadi problem bersama kita saat ini,” imbuhnya.

Festival ini diselenggarakan oleh PannaFoto Institute dengan menampilkan 13 program, yang terdiri dari Exhibitions, Fringe, Workshops, Urban Photo Tour, VIP Dinner, Perfomermances, Bazzar, Panel Discussions, Artist Talks, Public Lectures, Portofolio Review, Projection Nights, dan Curators Laboratorium.

Program-program itu terbagi ke dalam 61 acara dengan menampilkan lebih dari 60 tokoh industri dari dalam dan luar negeri. Mereka antara lain: Anton Ismael (Kelas Pagi), Bambang Bujono (kritikus seni), Cyrille Cartier (mentor jurnalisme asal Kroasia), Erik Prasetya (street photographer), Marine Vitalglione (Panos Pictures, London), Riza Marlon (wildlife photographer).

Selain itu, ada Rony Zakaria (fotografer), Shahidul Alam (TIME Person of The Year 2018, pendiri Patshala South Asian Media Institute), Teun van der Heidjen (spesialis buku foto, Beladan), Veejay Villafranca (fotografer dan mentor, Filipina) dan Zhuang Wubin (kurator, penulis asal Singapura).

Cristian menjelaskan, JIPFest 2019 ini lahir dari obrolan santai dengan Ng Swan Ti, fotografer dan Managing Director PannaFoto Institute, pada Juni 2018. Setelah mendapatkan kepastian, maka dibuatlah even dengan model kuratorial yang mengelaborasi berbagai varian acara dengan kurator kepala Firman Ichsan, serta Jenny Smets dan Ahmad Salman sebagai kurator.

Menurutnya, even ini diadakan dengan berpijak pada tiga kerangka utama. Pertama, menciptakan wadah bagi pelaku fotografi dan publik untuk bertemu, bertukar gagasan, berbagi ilmu, dan berkolaborasi.

Kedua, menciptakan marketplace bagi pelaku fotografi untuk menjual karya, menawarkan jasa, melebarkan jaringan, baik di lingkup lokal maupun internasional.

Akhirnya, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam dunia fotografi dunia. Diharapkan, pelaku fotografi berbakat Indonesia ditangkap oleh para maestro fotografi dunia itu.

“Untuk itu pula kami mendatangkan bintang-bintang asing yang berpengaruh di gelanggang fotografi global,” ungkapnya.

Sementara itu, Ng Swan Ti mengatakan, program JIPFest ini juga dirancang untuk mengasah kemampuan pelaku industri fotografi, sekaligus mengundang masyarakat untuk ambil bagian dalam rangkaian acara.

Dengan itu, diharapkan dapat menghibur, membuka mata dan memantik semangat diskusi dalam konteks keseharian sebagai warga Jakarta, Indonesia dan dunia.

“Sebagai festival, kami juga berusaha menjadi bagian yang langgeng dari kota Jakarta, karenanya JIPFest telah diagendakan sebagai festival rutin yang didukung oleh para pemangku kepentingan industri fotografi,” ungkapnya.

Cristian selanjutnya menguraikan, peserta atau fotografer yang memamerkan karya-karya fotografi terbaiknya pada festival ini telah dijaring melalui sistem open call beberapa bulan sebelumnya. Dalam proses itu, terdaftar 255 fotografer dari 31 negara, tetapi kemudian diseleksi dan dipilih 36 fotografer terbaik dari 17 negara.

“Dari Indonesia ada 16 fotografer, sedangkan yang lainnya dari luar negeri, termasuk dari Prancis,” paparnya.

JIPFest sendiri adalah platform bagi fotografer dan publik untuk bersua, berdialog, dan bertukar cerita, serta arena bagi proyek-proyek fotografi untuk menjangkau khalayak yang lebih luas.

Sebagai festival interrnasional pertama di Indonesia, JIPFest juga bertekad menyemai dan membawa fotografer Indonesia ke panggung dunia.

Festival ini diselenggarakan oleh PannaFoto Institute dan didukung oleh Yayasan Tifa, World Press Photo, CoHive, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Ekonomi Kreatif, Magnum Foundation dan Fujifilm.

*Daniel Deha

Baca Juga

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...