Gigih Wiyono Angkat Budaya Agraris Ke Dalam Seni Rupa

Portal Teater – Gigih Wiyono adalah salah satu perupa Indonesia yang terkenal sangat produktif menggelar pameran tunggal, di samping keikutsertaannya dalam pameran-pameran kolektif.

Setelah tahun lalu berhasil menggelar pameran tunggal ke-10 bertajuk “Voice of Life” di Koi Galeri Kemang Jakarta, kali ini seniman berusia 52 tahun itu lagi-lagi mengadakan pameran tunggal seni rupa dengan mengangkat tema “Subur Makmur” di Bentara Budaya Jakarta. Gigih kali ini menampilkan 28 lukisan dan 11 patung.

Pameran ini dibuka secara resmi oleh Dr. Restu Gunawan, Direktur Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pada 18 Juli dan tengah berlangsung hingga 27 Juli 2019, setiap pukul 10.00-18.00 WIB.

Identik dengan Budaya Agraris

Kurator Bentara Budaya Jakarta Efix Mulyadi mengungkapkan, sebagai seniman kontemporer, Gigih masih sangat terhubung langsung dengan budaya agraris yang tergerus modernitas. Semangat kebaruan dihidupinya dengan memberi konteks baru pada artefak maupun jejak tradisi agraris yang digali dan dirawatnya.

Itulah mengapa, Gigih selalu mengangkat tema kesuburan dan kemakmuran dalam setiap display karyanya.

Dalam pameran ini, banyak karya Gigih menampilkan daun-daun, tetumbuhan, dan perempuan. Ia mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, pesan yang disampaikan melalui karya yang dibuatnya dapat menjangkau ke wilayah yang sangat luas.

Sementara itu, Gigih mengungkapkan, Indonesia terkenal sebagai daerah dengan alam yang luas dan subur. Namun karunia kesuburan itu mesti dikelola dengan baik dan adil, jika tidak, maka keadilan sulit tercapai.

Karena itu, melalui karya-karyanya, ia ingin mengangkat kesuburan Indonesia. Misalnya dalam karya lukisnya tahun 2016 yang terbuat dari cat akrilik yang berjudul “Berkah Berlimpah II”.

Selain untuk merepresentasikan kearifan lokal, Gigih juga ingin mewakili identitas sebagai orang Jawa dan menjadi representasi wilayah timur di kancah internasional. Dengan kata lain, ia ingin menjadikan karya-karyanya sebaga ikon yang dikonstruksi dari model peradaban yang dihidupinya.

Tema “Subur makmur” pada akhirnya merupakan sebuah jargon yang lazim hidup di masyarakat. Subur dapat diartikan sebagai kemampuan untuk hidup, tumbuh, dan berkembang biak secara sempurna. Sedangkan makmur dimaksudkan sebagai hasil yang serba berkecukupan.

Berpijak pada konsep itulah, Gigih mengangkat tema ini untuk memberi sentuhan terhadap kearifan lokal, serentak mendengungkan kondisi kemiskinan dan ketidakadilan di tanah air karena persaingan dan perebutan alam demi mencapai kesuburan dan kemakmuran.

Tentang Gigih Wiyono

Gigih Wiyono lahir di Sukoharjo pada tanggal 30 Agustus 1967. Menamatkan pendidikan sarjana pada STSI Surakarta tahun 1995. Ia menyelesaikan pendidikan pasca-sarjana di ISI Yogyakarta dan lulus dengan predikat cumlaude pada tahun 2008. Pada tahun 2001, ia mendirikan Padepokan Seni Djayabhinangun Sukoharjo.

Gigih sudah aktif berpameran kolektif sejak tahun 1989, yang diawali dengan pameran di Taman Budaya Riau di tahun 1989, hingga pameran “DUA KUTUB, Masdibyo – Gigih Wiyono” di Galeri Nasional Indonesia Jakarta di tahun lalu.

Pameran tunggal pertamanya diadakan pada tahun 1995 di STSI Surakarta. Sudah lebih dari 10 kali ia berpameran tunggal. Tetapi ia juga berkolaborasi dengan seniman lintas bidang seperti Harry Roesli, Sawung Jabo, dan lain-lain.

*Daniel Deha

Baca Juga

Nara Teater: Bertumbuh dalam Ekosistem yang Buntung

Portal Teater - Ketika Gedung Graha Bhakti Budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dirubuhkan, banyak yang risau soal geliat dan ekosistem kesenian dan...

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Adaptasi Game Mobil Legend, Teater Alamat dan Teater Binaan Garap “Pertarungan Takdir”

Portal Teater - Teater Alamat berkolaborasi dengan teater binaannya, yaitu Teater Batara dan Teater Balang, akan mempersembahkan garapan terbaru untuk dipanggungkan perdana tahun ini...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...