Graha Bhakti Budaya dan “Pengaburan” Ekosistem Seni di Jakarta

Oleh: Afrizal Malna*

Portal Teater – Sesuai dengan namanya “Taman Ismail Marzuki”, DNA taman sudah melekat dalam sejarah TIM yang sebelumnya “Taman Raden Saleh” sebagai kebun binatang.

Pusat Kesenian ini oleh arsitek Ir. Wastu Pragantha Zhong (Pak Tjong) memang dirancang sebagai taman atau bio-arsitektur. Sebuah pusat kesenian yang direpresentasi sebagai “laboratorium dan ruang presentasi seni” di Jakarta, bukan sebagai pasar.

Bangunan dirancang tidak provokatif agar seni dan tanaman mendapatkan ruang auratiknya yang dibayangkan.

Fungsi masing-masing bangunan antara studio latihan, ruang presentasi (Teater Arena, Teater Tertutup dan Galeri Cipta) saling bersinggungan dengan kolam sebagai titik-temunya.

Sirkulasi yang membuat masing-masing disiplin seni (baik seniman dan penonton) bisa salingg bertemu, tidak berjalan sendiri-sendiri.

Teater Tertutup, Galeri Cipta 1, Teater Arena dengan taman kolam di tengahnya, sebelum dihancurkan menjadi Teater Kecil dan Teater Jakarta sekarang ini. -Dok. Afrizal Malna.
Teater Tertutup, Galeri Cipta 1, Teater Arena dengan taman kolam di tengahnya, sebelum dihancurkan menjadi Teater Kecil dan Teater Jakarta sekarang ini. -Dok. Afrizal Malna.

Kapasitas kursi penonton juga dirancang dengan jumlah kursi untuk sekitar 300 penonon. Penonton yang memang dibayangkan sebagai yang sadar akan perlunya kesenian.

Karena itu pada masanya TIM dianggap eksklusif, walau setiap akhir tahun ada “Pesta Seni” di mana pasar dan dangdut bisa ikut jadi bagian di dalamnya.

Setelah Ali Sadikin tidak lagi menjabat Gubernur Jakarta, dan juga kritis terhadap kekuasaan Soeharto dengan membentuk gerakan “Petisi 10”, TIM, yang sudah menjadi ikon satu-satunya kebebasan kreatif yang kritis terhadap Orde Baru bersama LBH (Lembaga Bantuan Hukum), mulai menjadi sasaran untuk dipreteli.

Di samping kawasan ini kian strategis untuk bisnis.

Bangunan Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki Jakarta. -Dok. ussfeed.com
Bangunan Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki Jakarta. -Dok. ussfeed.com

Graha Bhakti Budaya (GBB) kemudian berdiri. Arsitektur maupun penggunaan nama bangunan ini, mulai mengubah ruang auratik TIM. Nama yang menjadi simbol mulai masuknya Orde Baru ke dalam kawasan ini.

Pada masanya, umumnya seniman pertunjukan tidak ingin menggunakan bangunan ini, karena suasana Orde Baru yang dibawanya.

Termasuk beban managemen yang tinggi, karena bangunan ini dirancang untukk 1000 penonton, tiga kali lebih besar dengan Teater Arena dan Teater Tertutup.

Kantin-kantin dan gedung Bioskop XXI juga berdiri. Maka kawasan ini memang mulai berubah menjadi kawasan kuliner dengan fasilitas parkir yang luas. Sebagian besar seniman mulai meninggalkannya.

19 April 1993, beberapa bangunan di TTIM terbakar. Meizuar sebagai Pembantu Urusan Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), setelah melakukan pelacakkan atas kerugian akibat kebakaran ini, melaporkan barang-barang yang ikut terbakar sebagai bagian investasi sejarah DKJ pada 28 Juli 1993 kepada Ketua DKJ dan tembusan ke KABAG Dokumentasi DKJ dan KABAG Pengawan Interen TIM.

Pada masa ini, Salim Said sebagai Ketua DKJ, Pramono PMD sebagai Direktur Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Ruang dalam Teater Arena setelah kebakaran yang memporak-porandakannya. -Dok. DKJ.
Ruang dalam Teater Arena setelah kebakaran yang memporak-porandakannya. -Dok. DKJ.

Dalam laporannya, diantaranya Meizuar menyebut karya-karya yang terbakar: poster-poster TIM 1968-1975, 80 sketsa Nasrus Thaher, 60 lukisan Asrul Djoni, 12 lukisan dan setumpuk karya Nashar, 20 lukisan cat air Zaini, 6 lukisan Wahyoe Wijaya, 2 lukisan Ipung Gozali, 10 sketsa Ipe Makruf, 2 lukisan dan 3 sketsa Trisno Sumarjo.

Lukisan Abdullah SR, Abdulah R, S. Sudjojono, rubus, Oesman Effendi, Sabri Jamal, 5 lukisan Baharudin MS, 3 lukisan Hamidatun Sullivan, 1 lukisan Amang Rahman, poster-poster Festival Teater Remaja, 1 lukisan Fajar Sidik berbagai karya dan arsip-arsip penting lainnya pun ikut terbakar.

Terbakarnya Teater Arena, dan kemudian dihancurkannya bangunan-bangunan lain (Teater Tertutup, Teater Terbuka, Galeri Cipta I, Studio Huriah Adam dan Wisma Seni), sebenarnya sama dengan berakhirnya Taman Ismail Marzuki, atau berakhirnya ‘oase kebebasan’ di Indonesia.

Satu-satunya gedung yang tersisa adalah Graha Bhakti Budaya. Ini pun bukan ikon primer dari keberadaan TIM, GBB merupakan ikon Orde Baru.

Kondisi Taman Ismail Marzuki yang sedang direvitalisasi. -Dok. ist.
Kondisi Taman Ismail Marzuki yang sedang direvitalisasi. -Dok. ist.

Kini Revitalisasi TIM juga menghancurkan Graha Bhakti Budaya. Artinya, di kawasan ini sebenarnya sedang tumbuh “sesuatu TIM yang baru” atau “sesuatu yang bukan TIM” lagi.

Sejarah Pusat Kesenian ini, yang menghasilkan karya maupun seniman-seniman penting pada masanya (Biennalle pertama di Asia, pusat kesenian terbesar pertama di Asia Tenggara) sedang memperpanjang sebuah “pengaburan” ekosistem seni di Jakarta.

TIM yang dirancang sebagai platform pertama (setelah Pusat Kebudayaan yang dibentuk Jepang) untuk pembentukan ekosistem kota, justru sering digunakan memang untuk terus mengaburkan ekosistem seni di Jakarta.

Seolah-olah Jakarta tidak pernah bisa membuat ekosistem kota yang bisa mengintegrasikan berbagai agen-agen sosial-budaya yang aktif dalam masyarakat kota.*

*Penulis adalah penyair, penulis dan pengamat teater Indonesia. Saat ini menjadi Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta.

Baca Juga

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Adaptasi Game Mobil Legend, Teater Alamat dan Teater Binaan Garap “Pertarungan Takdir”

Portal Teater - Teater Alamat berkolaborasi dengan teater binaannya, yaitu Teater Batara dan Teater Balang, akan mempersembahkan garapan terbaru untuk dipanggungkan perdana tahun ini...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...