Hadiri DTP 2019, ‘Corali’ akan Beri Workshop Bertajuk Disabilitas

Portal Teater – Kabar gembira buat pencinta seni Indonesia. Pekan depan, Corali Dance Company, sebuah perusahaan seni tari asal Inggris, akan berkunjung ke Indonesia dalam rangka mengisi acara residensi inklusif pada kegiatan Djakarta Teater Platform (DTP) yang berlangsung sejak 8 hingga 20 Juli 2019 di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Direncanakan, mereka akan tiba pada Senin (8/7) dan tinggal di Indonesia selama dua minggu, lalu kembali lagi ke Inggris pada 21 Juli.

Selama pekan kegiatan DTP 2019, mereka akan hadir sebagai pembicara dalam workshop inklusif selama empat hari berturut-turut, yaitu pada 16-19 Juli 2019 setiap pukul 11.00 WIB, di Studio TOM FFTV Institut Kesenian Jakarta.

Dalam residensi itu, Corali tidak sendirian, tetapi ditemani oleh Impermanence Dance Theatre, sebuah kelompok teater tari yang juga berasal dari Inggris, dan para penari dari GIGI Art of Dance dan Institut Kesenian Jakarta.

Pada kesempatan itu, mereka secara bersama-sama akan berdiskusi dan saling berbagi tentang kerja kesenian yang mengangkat tema kaum disabilitas ke panggung seni pertunjukan.

Esoknya, yaitu tanggal 20 Juli, Corali dan Impermanence serta penari dari GIGI Art of Dance dan Institut Kesenian Jakarta, akan mengadakan “Sharing dan Showcase” di Gedung Teater Luwes IKJ.

Corali sendiri telah lama bekerjasama dengan Impermanence dalam beberapa tahun terakhir, termasuk soal berbagi metode kerja, dan menciptakan dan melakukan karya bersama.

Selain itu, Corali telah bekerja dalam kemitraan dengan tempat dan organisasi seni di seluruh London dan sekitarnya, termasuk Pusat Seni Attenborough, CGP London, Impermanence, Ovalhouse dan Tate.

Sepenggal Kisah Corali

Corali, sejak berdiri pada 1989 oleh seorang pekerja layanan sosial, Virginia Moffat, di sebuah pusat kegiatan di Southwark, Inggris, terkenal sebagai perusahaan seni yang aktif mempromosikan peningkatan akses ke seni bagi para seniman dan penonton disabilitas di seluruh dunia.

Sejak dibentuk, Corali menjadi pemimpin dalam pertunjukan tari yang diciptakan oleh seniman dengan ketidakmampuan belajar. Latihan dibuat melalui proses kolaborasi artistik dan mengeksplorasi hubungan antara pemain dengan dan tanpa ketidakmampuan belajar, antara tarian dan bentuk seni lainnya, dan antara karya seni profesional dan partisipatif.

Pada mulanya, Corali merupakan sebuah kelompok tari kasual, di mana nama Corali adalah sebuah anagram dari huruf pertama dari nama anggota perusahaan.

Pada tahun 1991, Corali menerima bantuan pertama, kemudian didirikan secara independen di kantor di pusat komunitas setempat.

Sarah Archdeacon bergabung dengan perusahaan sebagai sukarelawan pada tahun 1991 dan menjadi Direktur Artistik pada tahun 1993. Saat ini dipimpin oleh Direktur Bethlem Gallery.

Kerja Seni dan Sosialitas

Corali menawarkan penyediaan kegiatan tari dan seni secara teratur untuk orang dewasa, anak-anak dan remaja dengan ketidakmampuan belajar di London Tenggara, Inggirs.

Dalam karyanya, Corali memberikan pendidikan reguler di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, pusat-pusat komunitas dan teater dan tempat-tempat seni di seluruh Inggris.

Tahun lalu, April 2018-Maret 2019, lebih dari 2.300 orang melihat pertunjukan Corali sebagai penonton, dan lebih dari 3.800 orang terlibat dalam pameran dan karya digital mereka.

Corali juga menyelenggarakan kelas komunitas mingguan dan sesi penjangkauan rutin untuk berbagi pekerjaan kami dengan lebih banyak orang dengan ketidakmampuan belajar.

Tahun lalu Corali memimpin 115 lokakarya partisipasi untuk lebih dari 330 orang. Metode kerjanya adalah dengan menawarkan penari 1:1 melalui bimbingan dan dukungan yang penuh, serentak memastikan bahwa orang-orang itu benar-benar terlibat dalam semua kegiatan artistik yang dibawa Corali.

Bagi Corali, penari adalah jantung dari semua kegiatan seni perusahaan, dan keaslian para penari difabel itu berasal dari pemahaman mereka tentang dunia, kreativitas dan bakat yang unik.

Agar lebih mengenal apa dan seperti apa kerja kesenian Corali, jangan lupa datang dan ikuti diskusi mereka pada 16-20 Juli 2019 di Studio TOM FFTV Institut Kesenian Jakarta.

*Daniel Deha

Baca Juga

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...