Hahan Bangkitkan Memori Warga Dresden tentang Raden Saleh Lewat Lukisan

Portal Teater – Seniman asal Yogyakarta Uji Handoko Eko Saputro, atau akrab disapa Hahan, baru saja memamerkan lukisan kolosal Raden Saleh dengan Pop Art di Hygiene Museum Dresden, Jerman, pekan lalu.

Lewat lukisannya, Hahan berupaya membangkitkan kembali memori kota Dresden tentang Raden Saleh. Ia berupaya membangun jembatan antara masa lalu dengan penghuni kota masa kini.

Bulan Mei lalu lulusan seni grafis Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini berkunjung ke Dresden selama tiga minggu untuk riset tentang hidup Raden Saleh dan tentang Dresden saat ini beserta sejarah, perubahan serta ketegangan sosialnya.

Lantas, lewat lukisan yang dibuat dengan akrilik dan spray paint di atas kanvas ini, Hahan mengombinasikan potongan karya-karya Raden Saleh dengan pop art yang menjadi ciri khasnya.

Sementara elemen modern dan tradisional dari kota Dresden juga banyak ditemukan dalam karyanya, di mana dalam karyanya ia mengambil banyak inspirasi dari sebuah organisasi bernama Lapidarium.

Organisasi ini mengumpulkan berbagai objek seni, yang tidak lagi sesuai dengan ideologi kota Dresden atau yang rusak dan disimpan untuk digunakan lagi di lain waktu.

Dengan itu publik bisa mengakses koleksi ini dan mengajukan permintaan untuk kembali menampilkan atau menggunakan objek-objek yang mereka butuhkan.

“Itulah yang saya lakukan dengan lukisannya: memotret, mengoleksi produk-produk budaya yang saya temukan selama saya tinggal di Dresden, bisa bentuk visual atau cerita, yang akhirnya saya masukkan di lukisan saya,” tutur Hahan.

Uji Handoko Eko Saputro yang juga dikenal sebagai Hahan. -Dok. dw.com
Uji Handoko Eko Saputro yang juga dikenal sebagai Hahan. -Dok. dw.com

Pelukis Asia Pertama di Eropa

Menurut penuturan Michael Schindhelm, Raden Saleh (1811-880) adalah orang Asia pertama yang menikmati pendidikan melukis secara akademis di Eropa. Ia juga turut melahirkan aliran lukis orientalis di Jerman.

Karya-karya Raden Saleh juga mempunyai pengaruh kuat dari era romantisisme yang pada masa ia tinggal di Dresden sedang populer.

Kurator pameran itu menceritakan, pelopor seni lukis modern Indonesia itu pada sekitar 200 tahun lalu pergi ke Dresden dari Belanda untuk mendalami ilmu melukis dan tinggal di sana sekitar 10 tahun.

“Dengan proyek ini kami juga ingin merangsang fantasi warga Dresden. Bagaimana mereka membayangkan hidup seorang seniman. Untuk memikirkan seperti apa hidup orang-orang yang menciptakan karya-karya seni dan membawa kreativitas ke kota ini, bagaimana kisah-kisah mereka,” ungkap Schindhelm.

Hahan membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk menyelesaikan lukisan yang merupakan karya terbesarnya sampai saat ini.

Salah satu benda yang dibarter dengan lukisan: kue stollen khas Dresden. -Dok. dw.com
Salah satu benda yang dibarter dengan lukisan: kue stollen khas Dresden. -Dok. dw.com

Ciptakan Dialog Multikulturalisme lewat Lelang Karya

Di Dresden, Hahan tidak menjual hasil karyanya, tapi menukarkannya dengan barang atau sistem barter. Hal itu dimaksudkan sebagai cara berdialog secara baru dengan masyarakat setempat.

Sebab, menurut penuturan Schindhelm, masyarakat Dresden saat ini sedang ketakutan untuk menerima orang asing.

Karena itulah ia mengundang Hahan dari Indonesia melakukan pameran di kota yang tengah dikampanyekan sebagai Ibukota Kebudayaan Eropa pada 2025 lewat tajuk “Neue Heimat” (Kampung Halaman Baru) itu.

“Saya pikir, penting bahwa kita tidak hanya memajang sesuatu yang harus diterima atau ditolak orang, melainkan memberikan mereka kesempatan untuk berurusan dengan itu dan membawa kontribusi mereka sendiri. Mereka tidak harus jadi pakar, mereka hanya perlu membawa keterbukaan dan semangat untuk ikut serta,” katanya.

Lukisan Uji Handoko Eko Saputro, atau akrab disapa Hahan, baru saja memamerkan lukisan kolosal di Hygiene Museum Dresden, Jerman. -Dok. dw.com
Lukisan Uji Handoko Eko Saputro, atau akrab disapa Hahan, baru saja memamerkan lukisan kolosal di Hygiene Museum Dresden, Jerman. -Dok. dw.com

 

Proses lelang lukisan Hahan dilakukan dalam tiga tahap yang berlangsung selama dua hari, di mana tiap sesi, satu bagian lukisan selebar 2,80 x 9 meter itu akan dipotong.

Semakin banyak peminat, lukisan Hahan makin menghilang dari kanvas. Sementara meja tempat objek barter dikumpulkan semakin penuh.

Menurut warga Dresden yang datang, masing-masing benda mempunyai hubungan dengan hidup seniman, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Selanjutnya, barang-barang itu akan diolah menjadi sebuah karya seni baru menggantikan lukisan yang sudah terpotong-potong. Barangkali, olahan itu berpotensi menghasilkan karya-karya baru selanjutnya.

Bukan barang baru bagi Hahan ketika lukisannya dipotong-potong. Sudah berkali-kali memamerkan lukisan yang akhirnya dipotong-potong di berbagai kota dunia: Hong Kong, Sidney, dan London.

“Dari proyek seperti ini, saya ingin karya seni bisa dikoleksi semua orang dan memposisikan semua penikmat seni di posisi yang sama. Tidak ada tamu istimewa, tidak ada yang harus didahulukan, semua sama,” katanya.

Sumber: Anggatira Gollmer/dw.com

Baca Juga

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Terkini

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...