Harris Priade Bah: Teater adalah (Bau) Aktor

Portal Teater – Ketika pandemi virus corona merebak awal Maret lalu, panggung teater Indonesia langsung sunyi. Sepi. Tak ada lagi pertunjukan. Tak ada pula manusia yang hilir mudik di atas dan belakang panggung. Semuanya mengurung diri, di kamar, sendiri.

Kesunyian ini tak segera pecah. Pandemi masih berlanjut, dan seolah terus berdampingan dengan manusia. Ia bagai “istri”, meminjam istilah Luhut Binsar Pandjaitan dalam sebuah pesan singkat kepada Mahfud MD, beberapa waktu lalu yang sempat viral.

Barangkali di panggung-panggung teater di seluruh Indonesia, seperti halnya di dunia lain, rayap sudah mulai berdatangan. Mereka menyusupi ruang, celah, dan kursi-kursi kosong. Berpesta ria karena tak ada lagi penghuni yang bisa mengusir mereka.

Di belakang dan di atas panggung, infrastruktur panggung berupa sound system sudah lama tak disetel. Lampu-lampu sudah lama tak lagi dinyalakan. Properti aktor tak lagi disentuh. Semuanya tersimpan rapi. Dan menjadi “surga” bagi tikus dan rayap.

Mengisi kesunyian panjang, untuk sekadar menarik napas di tengah pandemi terbesar abad ini, beberapa penggiat teater mencoba menghidupkan lampu-lampu, properti dan sound system itu.

Namun itu tidak mereka lakukan lagi di panggung konvensional, yaitu panggung berupa gedung-gedung pertunjukan, seperti yang sering mereka lakukan jauh hari sebelum pandemi ini.

Dalam satu tarik napas ini, umumnya mereka mementaskan beberapa karya teater pendek secara digital di arena terbuka, di rumah, di halaman rumah, atau tempat lainnya.

Ruang gerak mereka memang menjadi lebih luas. Tapi mereka tidak pernah bebas. Karena mereka akan selalu diawasi oleh mata kamera.

Berbeda ketika mereka pentas di panggung konvensional, dan merasakan daya tarik mata penonton sebagai gairah, energi, yang menggerakkan seluruh tubuh mereka ke dalam pertunjukan.

Ini yang membuat mereka mengalami pengalaman yang jauh berbeda, seolah terpisah oleh jurang yang tak terjembatani.

Seperti seorang jurnalis yang sudah terbiasa hidup dan mendapat banyak keuntungan dari jualan koran/majalah cetak-fisik, ketika memasuki era internet/digital, membuat mereka berpikir bahwa dunia jurnalisme makin tidak menguntungkan.

Penghasilan tidak pasti, karena kue iklan mereka sudah direbut lebih banyak oleh Google, Facebook, atau Youtube, bahkan Tik Tok.

Pengalaman inilah yang kini mulai dirasakan oleh pekerja teater. Beberapa memang sudah beralih ke pertunjukan (teater) digital. Tapi lagi-lagi, kue mereka tidak ada di sana.

Selain karena tidak memiliki penonton yang pasti, dan sesekali waktu bisa pergi begitu saja atau menutup layar, mereka tidak memiliki pendapatan apa-apa. Selain, cukup untuk bertumbuh.

Ini meninggalkan dilema, kegelisahan dan trauma. Bersyukurlah, mungkin ada beberapa grup, komunitas atau kelompok teater yang memiliki jaringan kerja yang kuat di dunia digital.

Tapi bagi kelompok yang masih bertatus “rintisan”, pandemi ini memukul persis ke titik terendah kreativitas mereka.

Sementara grup-grup yang lebih muda dan melek digital, barangkali bisa bergiat, tapi masih banyak lainnya yang tak terjangkau.

Harris Priade Bah, pendiri Teater Kami (1989) dan mantan aktor Teater Sae. Saat ini mengajar teater di STIKOM LPSR Jakarta. -Dok. Pribadi.
Harris Priade Bah, pendiri Teater Kami (1989) dan mantan aktor Teater Sae. Saat ini mengajar teater di STIKOM LPSR Jakarta. -Dok. Pribadi.

Teater adalah (Bau) Aktor

Dari percakapan-percakapan yang sering didiskusikan selama bulan pandemi ini, lalu muncul satu wacana, misalnya, tentang bagaimana jika teater menyiasati situasi ini dengan mengubah praktik kerja medium, dari konvensional ke digital, layaknya film.

Topik percakapan ini bukan hal baru. Sudah lama didiskusikan, bahkan beberapa di luar negeri sudah mulai mempraktikannya.

Wacana ini bergulir di antara beberapa penggiat teater. Namun, masih banyak ditolak [baca tulisan kami sebelumnya di sini].

Di antara penggiat teater, yang cukup argumentatif mempertahankan pendapat bahwa teater tetap mempresentasikan roh-nya, adalah Ari Pahala Hutabarat, sutradara Komunitas Berkat Yakin Lampung, dan Harris Priade Bah, pendiri Teater Kami.

Beberapa waktu lalu, dalam diskusi dengan Afrizal Malna melalui Live Instagram Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Ari mengatakan bahwa jika teater berpindah ke film, maka teater akan “mati”.

Kematian yang dimaksudkan Ari adalah “kematian tubuh aktor”. Karena teater memungkinkan tubuh biologis aktor untuk bergerak secara alamiah, tidak seperti film yang memainkan “peran” tertentu.

Artinya, secara eksistensial dan esensial, teater tak dapat berpindah secara medium untuk menyerupai film atau diproduksi secara digital.

Argumentasi ini diperkuat lagi oleh Harris Priade Bah. Pengajar mata kuiah Introduction of Performing Art Communication pada STIKOM LPSR Jakarta ini menekankan bahwa roh teater adalah aktor.

Dalam sebuah manifesto berjudul “MANIFESTO KAMI” yang diunggahnya di akun media sosial, 14 Juni lalu, Harris terlihat sangat ekspresif dan keras melontarkan kritiknya mengenai wacana peralihan medium teater untuk menyerupai film ini.

Ia mengatakan, media televisi atau film boleh mengambil apa saja yang dimiliki teater, misalnya keaktoran, tapi pada prinsipnya, medium baru tersebut tidak dapat mengambil bau dan keringat, penderitaan dan rasa sakit tubuh biologis sang aktor.

Pengalaman biologis inilah yang menjadi esensi teater; organisme yang paling berharga dalam kerja teater.

Harris dalam hal ini lebih melihat aktor sebagai penafsir dalam pertunjukan, bukan pemeran seperti dalam teknologi reproduksi film.

Dalam teater, aktor dituntut untuk menafsir teks-teks, tanda-tanda dan mengambil jarak dari pengarang yang tak dikenalnya, untuk menjadi diri sendiri yang otentik di atas panggung.

Hubungan Intim dengan Publik

Bagi Harris, teater menyediakan keintiman dengan publiknya, mengandaikan ketak-berjarakan antara aktor dan penontonnya.

Meski pandemi merebak dan pekerja teater harus berdiam diri, Harris melihat bahwa itulah harga yang tak dikalkulasi secara ekonomi dalam sebuah kerja teater.

Teater, ya tetap teater. Barangkali ini argumentasi yang cukup fundamentalistik yang pernah saya dengar selama percakapan.

Karena bagi penulis buku teks monolog “Nepsongism, Hasrat-hasrat yang Mengatasi Dirinya” (2015) ini, teater adalah aktor.

Berbicara mengenai aktor, maka otomatis berbicara mengenai ketubuhannya (biologis), bukan skrin yang mendedahkan gambar-gambar rekayasa, atau tumpukan perabot-perabot panggung, kostum, rias, setting atau pencahayaan yang spektakel.

“Seberapapun jauhnya teater berevolusi dia tetap tidak bisa mengkhianati dirinya yang asali, yakni badan, keringat dan bau,” tuturnya bernada fundamentalis.

Pada akhirnya, ia tidak mempersoalkan kreativitas dalam memindahkan karya panggung ke realitas digital sebagaimana dilakukan seniman teater belakangan ini.

Sebagai penganut mazhab fundamentalisme teater, ia bersiteguh menanti pandemi ini akan berakhir. Dan bersama-sama mereka akan berpesta-ria menumpahkan cawan kesunyian ini.

“Kami tak akan tergoda dan tak berkehendak ikut-ikutan untuk menyelingguhi panggung yang kami cintai itu dengan pesona “palsu” dunia virtual digital itu,” tutupnya.*

Baca Juga

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...