HUT Ke-46 Teater Keliling: Bermula di TIM Jakarta

Oleh: Rudolf Puspa*

Portal Teater – Empat puluh enam tahun lalu, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pada sebuah rumah yang merupakan perumahan penjaga Kebun Binatang Raden Saleh, dengan Rafli sebagai satpam TIM angkatan pertama, kami yang sudah sebulan lebih kumpul-kumpul, berbincang-bincang untuk melaksanakan gagasan saya, yakni pentas teater keliling Indonesia.

Dery Syrna, Buyung Zasdar, Paul Pangemanan, Jajang, Willem, RW Mulyadi, Saeful Anwar, Ahmad Hidayat dan Saraswaty, deal untuk menyiapkan drama karya Arifin C. Noer berjudul “Mega Mega” menjadi naskah pertama pentas Teater Keliling.

Latihan pun mulai diadakan tiap hari dari siang hingga malam di mana saja di Kompleks TIM. Untuk masalah makan, ya tentu saja masing masing mengatasi sendiri atau sering juga kumpul uang dan beli bersama.

Masih belum ada pengurus resmi sehingga semua dikerjakan bersama sama dalam hal cari dana bantuan, hubungan ke daerah-daerah, juga kebutuhan artistik. Sangat terasa apa yang menjadi roh seni teater yakni kerja kolektif.

Singkat cerita, Juni 1974 setelah mendapat dana bantuan pertama dari bidang kesenian Fakultas Ekonomi Universitas Jember dan pelukis Sulebar yang masing-masing memberi bantuan Rp75 ribu, dan Dery bersama teman-teman vokal grup Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Trisakti Jakarta yang ayah dari salah satu anggotanya adalah direktur pabrik gula di Probolinggo membantu kami untuk pentas di Probolinggo.

Tercatatlah dalam sejarah Teater Keliling, enam kota pertama mengawali pentas keliling yakni Jember, Probolinggo, Klaten, Solo Sasonomulyo dan IKIP, Salatiga dan Sragen yang pentas 1-17 Juni 1974.

Begitu kuatnya mempelajari “Mega Mega” yang telah dipentaskan 167 kali; hingga dalam sehari-hari dialog-dialog naskah tersebut sering terucap dalam menyikapi kejadian-kejadian yang mengalir dalam kehidupan kerja kolektif kami.

Tanpa disadari drama “Mega Mega” menjadi maskot Teater Keliling yang mana filosofi yang terkandung didalamnya menjadi acuan kehidupan berkeliling.

Salah satu kalimat yang sangat kuat bahkan hingga ke generasi kedua Teater Keliling adalah ucapan peran Retno (pelacur) yakni “segala bisa asal mau”.

Setiap timbul permasalahan dimanapun dan kening berkerinyut, kepala pusing maka salah seorang dari kami ucapkan kalimat tersebut maka darah merah menghangat kembali dan dengan senyum menatap ke depan. Dan ketemulah jawaban sehingga perjalanan menjadi lancar.

Sungguh di luar dugaan, tahun pertama Teater Keliling bisa pentas di 16 kota di Jawa dan Kalimantan dengan 25 sponsor serta 3 naskah dan tercatat ditonton kurang lebih 34.850 orang. Dan yang membanggakan semua pertunjukkan dijual tiket yang tentu saja tidak mahal dan selalu habis.

Hal ini yang menambah semangat kami sehingga tahun kedua (1975) berhasil melanglangbuana ke seluruh Malaysia, Singapura dan Sumatra.

Teater Keliling membawa lakon 'Sang Saka' berkeliling Indonesia, termasuk di Lampung. -Dok. cnnindonesia.com
Teater Keliling membawa lakon ‘Sang Saka’ berkeliling Indonesia, termasuk di Lampung. -Dok. cnnindonesia.com

Tumbuh di Zaman Orba

Pencapaian ini semakin memperkuat keyakinan bahwa pilihan untuk pentas keliling memiliki arti bagi dorongan kepada grup-grup teater di daerah yang sedang mati suri dalam pemerintahan Orde Baru.

Dan memang zaman itu bukan gampang untuk pentas teater. Saat saat di mana Rendra sangat gencar pentas dengan misi kritik kepada kebijakan pemerintahan sehingga sempat dilarang bahkan ditahan.

Demikian pula anggota pertama kami Jajang akibat menjadi salah seorang pendemo kedatangan Mr. Pronk, tokoh pemerintahan dari Belanda, dan ia berhasil menyampaikan surat ketika turun pesawat di Kemayoran, maka Jajang terpaksa harus berada di Paris beberapa waktu.

Hal ini tentu saja bukan membuat Teater Keliling menjadi hebat, namun justru di mana-mana pihak keamanan setempat sering ditanya tentang keberadaan Jajang dan hubungannya dengan Teater Keliling. Demikian pula apa hubungan kami dengan Rendra.

Lalu apa maksudnya keliling ke daerah-daerah sebagai anak muda yang kebetulan masih sebagai mahasiswa? Itulah awal keliling yang harus mengenal politik kekuasaan, politik kebangsaan dan juga kebudayaan.

Kamipun mengangkat dua orang yang segi pemahaman sosial, politik dan budayanya kuat untuk menjadi penasehat, yakni Om Rustam Anwar dari Padang dan Cak Kadaruslan dari Surabaya.

Om Rustam yang pernah menjadi anggota DPRD Minangkabau sangat banyak memberi asupan mengenai perpolitikan yang sedang berlangsung di tanah air.

Sementara Cak Kadar yang tentunya sama namun juga karena beliau adalah wartawan Berita Yudha Jawa Timur sehingga memiliki kekuatan untuk menembus kepala-kepala daerah di Indonesia Timur.

Sungguh keduanya menjadi penasehat yang sangat tepat pada waktu dan ruang yang pas sehingga Teater Keliling dapat lebih cepat belajar mengenal asam-garam-hitam-putihnya lika-liku perpolitikan di zaman Orde Baru.

Nama Teater

Nama Teater Keliling dipilih ketika pentas di Solo dan penyelenggara bertanya apa nama grup keliling ini? Kamipun baru sadar bahwa kami secara resmi belum mencetuskan nama grup. Segera berunding dan tercetuslah nama “Teater Keliling”.

Selanjutnya tahun kedua barulah mulai menyusun kepengurusan yang diketuai oleh Dery Syrna yang kemudian menyusun anggaran dasar dan juga Saeful Anwar menciptakan lambang Teater Keliling yang berupa cakra yang bulat dan punya delapan arah panah yang melambangkan semangat bergerak ke ‘delapan penjuru dunia’.

Dan ketika Mas Mulyadi dari Dewan Kesenian Malang seusai menerima dan menyelenggarakan pentas kami di Malang, kemudian ikut bergabung dan menambah gambar pada lambang kami dengan dua tangan terbuka yang berarti menyangga kehidupan teater yang berkeliling.

Dan pada generasi kedua juga mengubah lambang kami yang diambil dari gambar topeng sedih gembira namun dibuat sedemikian rupa bagai dua telapak kaki yang berarti terus berjalan melangkah.

Ini semua adalah kesiapan akan kesadaran kami untuk tidak tabu membuat perubahan karena dunia bulat-berputar yang tentu saja akan menciptakan adanya perubahan-perubahan agar tidak menjadi monoton.

Dolfry Inda Suri. -Dok. republika.co.id
Dolfry Inda Suri. -Dok. republika.co.id

Usia 46 Tahun

Di usia 46 tahun, Teater Keliling sudah alih generasi di tahun 2012. Catatan sejarah menceritakan ketika itu datang Dolfry Inda Suri yang setelah lulus cumlaude sarjana Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ngobrol dengan saya dan berkata:

“Saya menyesal ketika SMA tidak suka pelajaran sejarah. Ternyata bangsa ini rusaknya karena tak tahu sejarah.”

Wah, sebuah pengakuan yang bagi saya sangat menyentuh hati dan sejak itu kami mulai membuat cerita yang membawa pesan sadar sejarah bangsa.

Selanjutnya ia meminta untuk meneruskan kegiatan Teater Keliling dan sekaligus memimpinnya. Kami pun rela dan gembira bahwa yang selama ini tak pernah berpikir apa jadinya Teater Keliling jika kami tinggalkan; ternyata datang sang penerus.

Generasi kedua kini melaju dengan mengawali membuat yayasan untuk mengelola sanggar Teater Keliling. Menulis naskah-naskah beraroma sejarah bangsa, dan selain pentas di Jakarta juga tetap membawanya keliling.

Lebih hebat karena bisa menyewa bis dan membawa sedikitnya 15 orang dalam satu rombongan selama dua minggu. Cara kerja anak zaman now sungguh kami angkat topi. Bravo dan salut.

Pelajaran yang kami dapatkan dalam hal regenerasi adalah justru dalam hal kerelaan, keikhlasan serta keberanian dan kemampuan yang tua untuk melepaskan dan memberikan kursi empuknya kepada penerusnya.

Bahkan kursi empuk itupun mungkin akan dibuang dan diganti kursi baru atau bahkan tak memerlukan kursi.

Yang paling berat dan rumit ketika harus mampu menerima cara kerja anak muda yang sering sangat berbeda dengan yang tua-tua.

Inilah pelajaran yang paling berharga bagi kami dan ingin mengajak para orangtua di bidang apapun untuk menyadari bahwa zaman akan semakin cepat bergerak dengan risiko muncul perubahan-perubahan yang selalu baru dan sering umurnya tidak panjang karena muncul hal baru lagi.

Oleh karena itu, harus mau dan berani serta mampu menyerahkan kepada para penerus terlebih anak muda kita yang sudah sangat jauh beda dalam berpikir, bertindak, bahkan dalam soal rasa dan hati.

Dalam kesempatan ini kami sampaikan penghargaan kepada seluruh anggota generasi kedua Teater Keliling di bawah kepemimpinan Dolfry Inda Suri yang banyak memberikan kejutan serta lecutan kepada kami dengan memulai produksi drama musikal yang pertama dengan 100 pemain dan crew dan yang kedua dengan 600 pemain dan crew.

Gembira dan bahagia tentunya masih diberi kepercayaan saya menjadi sutradara dan Dery ketua pembina yayasan.

Kami sangat percaya dan yakin akan muncul penulis naskah, sutradara, art director baru yang mengenal sejarah kesenian teater Indonesia dan dunia sehingga lahir karya-karya baru yang memang belum pernah ada digarap sebelumnya.

Inilah arti kesadaran sejarah seperti yang Dolfry ungkapkan di awal kegiatan generasi kedua Teater Keliling.

Namun pesan kami tetaplah mendekat kepada para tetua Teater Keliling. Barangkali sebutan eyang membuat jarak karena pada umumnya pengertian “eyang” adalah orang uzur yang ditinggikan dan duduk manis saja melihat cucu-cucunya berkiprah.

Sebutan “om” kadang masih hangat dekat dan merasakan sebagai teman untuk bekerja atau berkarya dalam berkesenian teater.

Saya merasakan hal ini ketika di ekskul teater semasa SMP karena hingga kini tetap panggil om maka terasa ada rasa sama-sama muda, sehingga akrab.

Teater Keliling yang hari ini berusia 46 tahun tentu masih terasa ada darah dan mampu menggelinding dengan roda-roda yang sudah semakin canggih bahkan tak perlu lagi minyak sebagai pembakar mesin karena duniapun sudah mulai dengan listrik dan tenaga surya.

Untuk itu kami ucapkan Happy Birthday Teater Keliling. Walau tanpa ada acara pesta atau peringatan yang serba mewah, namun hari ini terasa Teater Keliling masih hangat mengalir dan akan semakin deras alirannya dengan tampilan yang lebih perkasa dan yang utama tetap mampu menyapa anak zamannya.

Teater keliling tetaplah melihat ke belakang dan hidup hari ini serta selalu memandang ke depan.

HUT ke-46 Teater Keliling dirayakan pada 13 Februari 2020. Grup teater ini sekurang-kurangnya sudah mementaskan lebih dari 1500 pertunjukan di seluruh provinsi di Indonesia dan dunia.

Pada tahun 2010, Teater Keliling mendapat penghargaan dari MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai grup teater dengan pertunjukan teater modern Indonesia terbanyak.

*Penulis adalah pendiri dan sutradara Teater Keliling.

Baca Juga

Nara Teater: Bertumbuh dalam Ekosistem yang Buntung

Portal Teater - Ketika Gedung Graha Bhakti Budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dirubuhkan, banyak yang risau soal geliat dan ekosistem kesenian dan...

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Tanggapi Aspirasi Seniman, DPR Dukung Moratorium Revitalisasi TIM

Portal Teater - Menanggapi aspirasi Forum Seniman Peduli TIM dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Kompleks Parlemen, Senin (17/2), Komisi X DPR yang...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...