Identifikasi Kiprah dan Jaringan Teater di Kalimantan Timur

Portal Teater – Di panggung-panggung hiburan 17 Agustus-an di kampung-kampung di tahun ’70-an di Samarinda, selalu saja dapat ditonton pementasan Mamanda, Sandiwara Mamanda (Sandima), Kethoprak, Ludruk atau Wayang Kulit.

Karena panitia tidak mampu menampilkan band yang ongkosnya terbilang mahal. Biaya untuk mendatangkan band berkali lipat daripada mendatangkan salah satu jenis teater tradisi tersebut.

Wargapun berbondong-bondong datang menyaksikan pementasan yang digelar di atas panggung. Panggung dibuat dari drum yang disusun lalu di atasnya ada papan-papan yang disusun di halaman sekolah atau di lapangan bahkan di tengah jalanan.

Sejak sore warga, terutama anak-anak, menggelar tikar di posisi strategis di sekitar panggung. Bawa makanan dan minuman, lantaran pentas yang mereka saksikan berdurasi berjam-jam.

Apalagi kalau nonton wayang, pasti semalam suntuk. Warga yang menyaksikan pentas teater tradisi itu manggut-manggut, tersenyum, meringis, berteriak-teriak, tertawa bahkan menangis ketika menyaksikan lakon para pemain pemain atau wayang yang dimainkan dalang.

Pokoknya pentas itu mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Padahal pentas yang mereka saksikan tidak atau kurang dimengerti bahasanya. Kok bisa?

Penduduk Kota Samarinda waktu itu sudah heterogen, di kota pinggir sungai ini beragam penduduknya; ada Banjar, ada Jawa, ada Bugis, ada Dayak, ada Buton, ada Batak, ada Minang dan suku-suku lain.

Pementasan Mamanda atau Sandima tidak hanya dihadiri orang-orang Banjar saja. Warga etnis lain juga menyaksikan. Demikian pula manakala ada pentas Wayang, Kethoprak atau Ludruk, yang datang berbondong, bukan hanya warga etnis Jawa saja, tapi etnis-etnis lainnya.

Apa karena kurang hiburan, sehingga warga menonton apa saja yang disajikan. Sehingga tidak perduli mengerti atau tidak bahasa yang digunakan. Faktor itu mungkin ada, tapi kehadiran warga menyaksikan pentas-pentas tradisi itu lebih kepada bentuk apresiasi terhadap kesenian tradisi.

Warga lahir dan berkehidupan bersama nilai-nilai teater tradisi itu. Ketika lahir dan tasmiyahan, anak disambut pementasan seni tradisi. Masa kanak-kanak kerap diajak nonton pementasan, masa remaja dan dewasa warga terlibat dalam proses pementasannya.

Itulah yang membuat warga terlibat secara emosional dan apresiatif terhadap teater tradisi dan seni tradisi lainnya.

Taman Budaya Samarinda
Taman Budaya Samarinda

Perkembangan Teater Kaltim

Kalimantan Timur memiliki sejarah teater yang cukup panjang, di mana sejak awal tahun 1900 sudah ada pementasan-pementasan teater tradisi, meskipun teater yang digelar itu lebih banyak berlatar budaya etnis pendatang, seperti Mamanda dari Kalsel, Kethoprak, Ludruk dan Wayang (kulit, golek dan wong) dari Jawa.

Meski begitu, di pedalaman Mahakam di kalangan etnis Dayak, kerap juga digelar teater tradisi berlatar belakang upacara ritual seperti Hudoq dan Belian. Manakala diidentifikasi teater Kaltim memiliki tiga pilar dan fase perkembangannya:

1. Sandiwara Tonil

Sejak tahun 1940 di beberapa kota di Kaltim, Sanga Sanga, Samarinda, Balikpapan dan Tenggarong sudah ada grup-grup teater sandiwara Tonil. Mereka mementaskan lakon-lakon yang ditulis sendiri atau naskah dari penulis Barat.

Pada awalnya pentas itu ditampilkan di hadapan petinggi Belanda dan bangsawan, namun belakangan sandiwara Tonil dipentaskan juga di kalangan masyarakat biasa.

Cerita yang ditampilkanpun bergeser dari cerita-ceriata Barat, menjadi cerita yang dibuat sendiri yang mampu membangkitkan rasa kebangsaan. Beberapa grup sandiwara yang berada di kota itu itu, menjadikan pentas-pentas mereka sebagai alat perjuangan.

Di Sanga Sanga hingga sekarang masih ada bangunan yang pada tahun ’40-an disebut sebagai Gedung Sandiwara, tempat pentas grup sandiwara Tonil.

Pasca kemerdekaan grup-grup sandiwara Tonil satu persatu bubar. Konon, pasca kemerdekaan banyak anggota grup lebih berkonsentrasi mengurus perekenomian masing-masing. Di tahun ’50-an ke atas, tidak ada lagi terdengar kabar grup sandiwara Tonil yang masih eksis.

Pentas Mamanda. -Dok. www.kanalkalimantan.com
Pentas Mamanda. -Dok. www.kanalkalimantan.com

2. Teater Tradisi

a. Mamanda

Teater tradisi Mamanda yang tumbuh dan berkembang di Kaltim dibawa warga etnis Banjar dari Kalimantan Selatan (Kalsel) sejak abad ke-18. Mamanda bagi warga Kaltim sudah dianggap sebagai kesenian lokal.

Seperti juga teater tradisi lainnya di Nusantara, Mamanda tidak mengenal naskah, blocking,grouping,setting, atau property yang berlebihan. Pendek kata, Mamanda tidak mengenal teori-teori teater modern (teater Barat).

Namun mereka mempunyai pakem atau kaidah yang wajib dalam setiap mementaskan. Mamanda punya ‘Beladun’, ‘Benasib’, lagu ‘Terima Kasih’ dan stilisasi gerak serta busana yang khas.

Para tokoh dalam Mamanda terdiri dari Raja/Sultan, Permaisuri, Putri, Putra Mahkota, Wazir/Mangkubumi, Perdana Manteri, Panglima Perang, Khadam, Pengharapan I dan II.

Sementara tokoh-tokoh lain seperti Jin, panglima atau menteri lainnya masyarakat, perampok dan lainnya tergantung kebutuhan cerita.

Lakon yang dibawakan pun seputar “istana-sentris”, inspirasi cerita banyak mengambil khasanah “Cerita 1001 Malam” dari Timur Tengah. Musik pengiring Panting dan di sela pementasan, di pendahuluan sidang kerajaan atau di akhir sidang ditampilkan tarian Tirik atau Japin.

Sebutan Mamanda, konon turunan dari sebutan Raja/Sultan kepada Wazir/Mangkubumi yang lebih tua. Raja/Sultan kerap memanggil ‘Pamanda’ atau ‘Mamanda’ kepada Mangkubumi. Sehingga pentas itu disebut Mamanda.

Masa kejayaan Mamanda di Kaltim sampai tahun ’70-an. Sejak tahun itu Mamanda sebagai seni pertunjukan tradisi digantikan posisinya Sandiwara Mamanda (Sandima). Salah satu penyebab ‘punah’nya Mamanda adalah “kekakuan” para tokoh atau senimannya.

Mereka mengatakan, manakala tidak ada pakem-pakem Mamanda maka pentas itu bukan Mamanda, meskipun tajuknya pentas Mamanda.

Meski begitu, di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan Kabupaten Berau, masih ada tokoh dan seniman Mamanda yang mempertahankan keberadaan teater tradisi itu.

Mamanda Kutai dan Mamanda Berau menggunakan pengantar bahasa Banjar yang bercampur dengan bahasa lokal, Kutai dan Berau.

Pentas Sandima Teater Format, PTN 2019. -Dok. Kemendikbud
Pentas Sandima Teater Format, PTN 2019. -Dok. Kemendikbud

b. Sandima

Sandiwara Mamanda (Sandima) adalah sempalan dari teater tradisi Mamanda. Sandima terbentuk lantaran adanya ‘ketakutan’ terhadap protes tokoh dan seniman Mamanda. Para seniman teater Mamanda menganggap pakem-pakem tersebut ‘membelenggu’ kreativitas berkesenian.

Para seniman Sandima tidak lagi mengacu kepada pakem-pakem Mamanda. Mereka hanya mengambil inspirasi ceritanya saja.

Selebihnya Sandima menampilkan pentasnya dengan menggunakan tata panggung/dekorasi, tata suara, tata cahaya, alur cerita (meskipun dalam bentuk sinopsis belaka), mempunyai sutradara, tata musik diiringi dengan musik ‘piringan hitam’ atau kaset, busana sudah menggunakan busana keseharian. Mamanda berevolusi menjadi Sandima.

Kehadiran Sandima mendapat sambutan dari khalayak. Di Kaltim (khususnya Samarinda) mempunyai grup Sandima yang sangat terkenal dan laris mentas di mana-mana.

Di awal tahun ’70-an sampai di penghujungnya, siapa yang tidak kenal dengan Sandima ‘Batu Banawa’ dan Sandima ‘Mesra’, belakang muncul Sandima ‘Kakamban Habang’ yang kembali mencoba memasukkan beberapa pakem Mamanda.

Sementara itu, seniman-seniman teater modern sejak tahun ’90-an, kembali mencoba menggali nilai-nilai estetik dan etik Mamanda dan Sandima.

Lembaga kesenian seperti BKKNI dan Dewan Kesenian kerap mengadakan workshop Mamanda yang menghadirkan tokoh-tokoh Mamanda yang masih ada, seperti H. Syahrun (almarhum).

Mereka belajar Beladun, Benasib, stilisasi gerak tokoh, musik, busana Mamanda dan lain-lain yang bersentuhan dengan Mamanda.

Para seniman teater modern terperangah ketika mengikuti workshop itu; mereka kaget pakem-pakem Mamanda yang terlihat sederhana itu, ternyata sulit. Hanya satu dua orang saja yang bisa Beladun atau Benasib.

Bisa diduga ketika ada pentas Mamanda yang dimainkan seniman teater, pasti banjir kritik. Mungkin lantaran cari ‘aman’ para seniman itu ada kesepakatan tidak tertulis, mereka lebih mengembangkan Sandima, ketimbang Mamanda.

Kendati begitu Sandima nasibnya lebih baik ketimbang Mamanda. Hingga sekarang Sandima berkembang sedemikian rupa.

Di Samarinda ada kelompok Format yang kerap menampilkan pentas-pentas Sandima di TVRI, di sekolah-sekolah dan di Taman Budaya.

Di Kutai Timur, ada grup ‘Odah Seni’ yang mementaskan Sandima sampai di kecamatan-kecamatan Kutai Timur yang paling jauh.

Sandima hari ini sudah menggunakan teori-teori teater modern. Sandima sudah mengenal penyutradaraan, blocking, grouping, teknik vokal, teknik acting, tata cahaya, tata pentas, tata musik naskah dan manajemen pementasan.

Sangkilan. -Dok. tamanbudayakaltimblog.wordpress.com
Sangkilan. -Dok. tamanbudayakaltimblog.wordpress.com

c. Sangkilan

Sempalan lain dari Mamanda adalah Sandiwara Tingkilan. Cerita terinspirasi dengan Mamanda. Penokohan pun mirip. Yang membedakan adalah pada tata musik. Sangkilan diiringi Tingkilan. Sangkilan berkembang sejak tahun 2000-an.

d. Benalau

Benalau dapat dikategorikan sebagai seni teater tradisi khas Paser (Kaltim). Meski pakemnya mirip dengan Mamanda, namun bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Paser.

Cerita yang diangkat pun adalah cerita tentang kehidupan Raja Nalau. Sehingga Belanau itu turunan dari nama Raja Nalau.

Namun sayang teater tradisi ini sekarang sudah nyaris punah. Tidak pernah lagi ada pentas Benalau di Paser. Pengenalan Benalau hanya dari penuturan satu dua orang tokohnya yang masih hidup. Dokumentasinya pun sulir dicari.

Hudoq Dayak Bahau di Uma Telivaq, Kutai Kalimantan Timur, Januari 2003. -Dok. Afrizal Malna
Hudoq Dayak Bahau di Uma Telivaq, Kutai Kalimantan Timur, Januari 2003. -Dok. Afrizal Malna

e. Hudoq

Sebagai teater tradisi Hudoq hidup di pedalaman Mahakam, di kalangan etnis Dayak. Hudoq dibagi dalam tiga dimensi; dimensi sebagai upacara ritual, dimensi sebagai tarian dan dimensi sebagai teater tradisional.

Hudoq dalam dimensi teater tradisi adalah pada saat pertemuan dan dialog antara Dewa (yang merasuki pimpinan Hudoq) dengan Kepala Adat.

Di antara ratusan Hudoq, pimpinan Hudoq yang telah dirasuki Dewa mengabarkan kepada mahkluk di bumi bahwa kehadiran mereka (hudoq) adalah untuk mengusir roh-roh jahat dan hama tanaman.

Kepala Adat kemudian menyahut bahwa makhluk di bumi berterima kasih atas kedatangan para Dewa yang membantu mengusir roh-roh jahat dan hama tanaman.

Adegan dilanjutkan dengan prosesi ‘Makan Hudoq’. Ibu-ibu yang mengenakan busana tradisional memberikan makan kepada para Hudoq.

f. Belian

Belian juga mempunyai tiga dimensi, ritual, seni tari dan seni teater. Pada seni teater, Belian dilihat pada saat Pebelian membaca mantra-mantra pengusir roh-roh jahat. Kemudian melakukan gerakan-gerakan ritmis dan teaterikal. Semua sub-etnis Dayak mengenal Belian.

3. Teater Modern

Para seniman teater di Kaltim mengenal teater modern sejak tahun ’60-an. Para seniman teater yang sering berhimpun di Taman Hiburan Gelora (THG), meski belum menguasai ‘ilmu’ teater secara lengkap.

Para senimannya sudah berani pentas di panggung THG dan di gedung Balai Pertemuan Umum (BPU). Bahkan mereka berani pentas dengan membawakan naskah yang mengkritik rezim Orde Lama dan PKI.

Akibanya, pentas itu yang membawakan naskah ‘Iblis’ itu dibubarkan aparat. Sutradara dan pemainnya dipukul dan disel. Beberapa tokoh senimannya seperti Ibrahim Konong, Johansyah Balham (almarhum), Ahmad Amins (almarhum/mantan walikota Samarinda) tidak jera. Mereka tetap mentas di mana-mana.

Di tahun 1970 hingga 1975 dunia teater Kaltim sepi. Tahun 1976 kembali menggeliat, dipelopori para mahasiswa Universitas Mulawarman dan IKIP PGRI seperti Mugni Baharuddin (almarhum/mantan Kadisdik Samarinda), Rizal Effendi (walikota Balikpapan), Syaiful M, Andi Burhanuddin, Mappa Sikra, Abdul Rahim Hasibuan, Asmi dan teman-teman.

Mereka mendirikan teater kampus yang diberi nama Tema (Teater Mahasiswa) Unmul, Teater 77, Garasi Art Station, Teater Hasanuddin, Teras (Teater Remaja Samarinda).

Di Balikpapan, Zainal Dharma Abidin membentuk Persatuan Artis Drama (Padba) Balikpapan dan Oglex. Kiprah mereka bukan hanya di kampus, namun juga ke sekolah dan masyarakat umum.

Mugni Baharuddin di tahun 1977 masuk ke SMAN 1, PGA dan SPG, ratusan anggota baru dilatih, di antaranya adanya nama Hamdani, Wawan Timor, Syafruddin Pernyata, Syamsul Khaidir (alm.), Joni Topan, Khairid Daha, dan Ismunandar (sekarang bupati Kutai Timur).

Nama-nama itu hingga kini masih berkhikmat di kesenian, entah sebagai pelaku seni, di lembaga kesenian dan di birokrat.

Adalah Achmad Rizani Asnawi (alm., nama beliau diabadikan sebagai nama gedung teater di Taman Budaya) sebagai Ketua Dewan Kesenian Samarinda (DKD) di tahun 1976 mendatangkan A Untung Basuki dari Bengkel Teater Rendra untuk menyampaikan ilmu teater modern.

DKD melalui Kursus Teater DKS merekrut pelajar SMA, mahasiswa, masyarakat umum se-Samarinda untuk dilatih Untung Basuki.

Sejak itulah teater di Kaltim (khususnya di Samarinda) mengenal teknik bermain teater modern. Mas Untung — biasa seniman teater memanggilnya — hadir menularkan ilmu dalam tempo 3 bulan.

Setelah tahun 1976, Mas Untung dihadirkan kembali pada tiga tahun berselang, tahun 1980 hingga 1982. Lalu kembali lagi pada tahun 2000.

Saat Mas Untung ‘mendidik’ di Kaltim, beberapa naskah sempat dipentaskan, seperti ‘Masyitah’, ‘Akal Bulus Scapin’, ‘Ben Go Tun’, ‘Lawan Catur’ dan beberapa naskah lokal.

Di samping Mas Untung, seniman teater Kaltim juga banyak menimba ilmu dari tokoh teater nasional, seperti Adi Kurdi, Emha Ainun Nadjib, Nano Riantiarno, Ratna Riantiarno, Udin Mandarin, Yose Rizal Manua dan sejumlah nama lain yang didatangkan DKD, BKKNI, Unmul dan lembaga lainnya.

Satu tokoh teater yang didatangkan DKS pada tahun 1980, Syafril Teha Noer dari Yogyakarta, hingga sekarang masih betah di Kaltim, bahkan menjadi ketua umum DKD Kaltim. Secara khusus pernah membina teater di kelompok Rumpun Pisang DKS.

Kehidupan teater antara tahun 1980 hingga tahun sekarang semarak. Dari sekian ratus murid Mas Untung, hanya segelintir yang aktif mengembangkan teater di Kaltim. Di antaranya Wawan Timor, Syamsul Khadir dan Hamdani. Mereka bertiga mengembangkan teater di sekolah, kampus dan masyarakat umum.

Wawan Timur menjadi aktor dan pelatih di Teater Mula, Teater Mahakam dan Teater Gelang. Syamsul K. Hadir di masa hidupnya aktif mengembangkan teater di Teater Suluh dan Bimtek Tenggarong (yang melahirkan beberapa kelompok teater di Tenggarong dan Samarinda).

Sementara Hamdani menjadi ketua, pelatih dan penulis naskah di Teater Citra Tepian, Teater Batu, Teater Karang dan Teater Bahtera FKIP Unmul.

Dari kelompok-kelompok teater itu muncullah para seniman teater yang membidani Teater Yupa Unmul dan teater sekolah dan kampus lainnya.

Kiprah di Pentas Nasional

Dalam kiprahnya teater Kaltim sempat masuk 10 Besar Penyaji Terbaik Kelompok B pada Festival Teater Nasional di Jakarta tahun 1986. Beberapa kali mengikuti festival dan parade teater yang diselenggarakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI di tahun ’90-an.

Pernah pentas di Temu Teater Dewan Kesenian se-Indonesia di Makassar dan di Solo. Pentas beberapa kota di kota di Negara Bagian Sabah, Malaysia tahun 1998. Pentas di Kuala Lumpur tahun 2012.

Pentas-pentas kelompok teater Kaltim pun dilakukan di di beberapa kota, seperti di Surabaya, Bandung, Malang, Yogyakarta, Jakarta, Banjarmasin, Ujung Pandang, Denpasar dan Padang.

Pentas Teater Yupa Samarinda pada Pekan Teater Nasional 2018. -Dok. Eva Tobing/DKJ
Pentas Teater Yupa Samarinda pada Pekan Teater Nasional 2018. -Dok. Eva Tobing/DKJ

Teater Mahasiswa (Tema) Unmul dan Yupa Unmul beberapa kali meraih prestasi regional dan nasional. Kelompok teater dari Tenggarong pernah menjadi juara umum pada perhelatan teater nasional yang diselenggarakan Federasi Teater Indonesia.

Para seniman teater di Kaltim boleh dikatakan menjadi pioner bagi kesenian secara umum. Para pengurus Dewan Kesenian Daerah Kaltim dan beberapa kabupaten/kota didominasi oleh para seniman teater (karena yang mau repot itu tampaknya hanya seniman teater).

Pada event-event besar seperti pembukaan PON XVII 2008, pembukaan MTQ Kaltim di beberapa kota/kabupaten, yang menyutradarainya seniman teater.

Tentang Hamdani

HAMDANI, lahir di Samarinda, 18 Oktober 1960. Dalam usia menjelang 60 tahun itu (kalau tidak mau dikatakan sepuh), Hamdani masih asyik berkesenian teater dan sastra (sesekali menggarap pergelaran tari).

Kini dia aktif sebagai ketua harian Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Timur hingga 2021 nanti. Mantan wartawan harian Manuntung dan Suara Kaltim ini mengaku tidak mau pensiun sebagai seniman dan penulis.

“Tidak ada pensiunnya bagi kesenian dan tulis-menulis,” kata Hamdani yang memiliki lima putra-putri ini.

Sebagai sutradara teater dan penulis naskah, Hamdani cukup banyak mempunyai karya. Naskah drama “Seberkas Cahaya Merah Putih di Sanga Sanga” berhasil membawa tim teater Kaltim masuk 10 Besar Penyaji Terbaik Kelompok B Festival Teater Tingkat Nasional di Jakarta tahun 1986.

Kemudian juara I cabang Teater Porseni Mahasiswa se-Kalimantan tahun 1982.

Naskahnya “Tuha” berhasil dibawakan dengan bagus oleh kelompok Teater Lanjong sehingga menjadi juara umum Festival Teater Federasi Teater Indonesia di Jakarta tahun 2011 lalu.

Naskah ‘Tuha’ yang ditulisnya pada tahun 1992 itu menjadi salah satu favorit kelompok-kelompok teater di Kaltim untuk dipentaskan.

Hingga sekarang sudah ratusan kali ‘Tuha’ dipentaskan di beberapa kota, Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Balikpapan, Tenggarong, Tanjung Redeb, Sangatta, Bontang dan kota lainnya.

Naskah Hamdani lainnya yang kerap dipentaskan adalah “Petaka” ditampilkan di Kuala Lumpur, Denpasar, Samarinda dan Sangatta. Lalu ada naskah “Ngayau”, sempat pentas di Surabaya, Padang dan Samarinda.

Meski suami dari Hj. Deasy Selvia berlatarbelakang teater dan sastra, namun Hamdani tidak canggung menyutradarai pentas-pentas sendratari kolosal.

Sebut saja sutradara pembukaan PON 2008 yang dilangsungkan di Samarinda, sutradara sendratari kolosal ‘Menanti Sang Ratu Adil’ kerjasama Koalisi Ornop Kaltim dan UNDP tahun 2004, sutradara Sendratari kolosal pembukaan MTQ se Kaltim di Berau tahun 2018.

Ia juga menjadi koreografer Tari Kolosal HUT Kabupaten Berau sejak tahun 2011 hingga 2017.

“Untuk tari saya belajar langsung dengan Pak Bagong Kussudiardjo,” kata Hamdani.

Sedang untuk urusan tulis-menulis, Hamdani sudah menerbitkan beberapa buku: “Sungai Kehidupan”, “Penataan Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus”, “Kampung HBS”, “Kampung Pejuang dan Kampung Saudagar”, “Masjid Shiratal Mustaqiem”.

Masih ada buku-buku lain, seperti “Kilas Sejarah Masjid Tertua di Kaltim”, “Bunga Rampai Sejarah Perjuangan Rakyat Kaltim”, “Bunga Rampai Pembangunan Kabupaten Kutai Timur”, “H. Harbiansyah Hanafiah”, “Penting Jadi Orang Baik”, “Prestasi Samarinda”, “Prestise Kaltim” dan “Cinta Kuyang”.

*Naskah ini merupakan materi sarasehan pada Pekan Teater Nasional 2019 di Samarinda, 20-26 September.

Baca Juga

Sekali Dayung Dua-Tiga Pulau Terlampaui

Portal Teater - Pukulan misterius virus corona telah memporak-porandakan "sistem politik, ekonomi, dan budaya negara-negara", meminjam istilah yang diperkenalkan Harari beberapa waktu lalu. Tidak ada...

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

Update Corona 29 Mei: Kasus Baru Turun Tipis, Total 25.216 Positif

Portal Teater - Kasus baru virus corona turun tipis pada Jumat (29/5) sebanyak 678 kasus dari sebelumnya 687 kasus. Dengan demikian, menurut juru bicara Achmad...

Terkini

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

“Dini Ditu” Teater Kalangan: Menjahit Publik di Ruang Digital

Portal Teater - Kehadiran pandemi virus corona barangkali tak pernah dipikirkan atau diramalkan, meski ada teori konspirasi yang menyeruak belakangan bahwa Bill Gates telah...

Teater di Ruang Digital

Portal Teater - Bencana bukan alam sedang menghinggapi sebagian besar negara di dunia dan Indonesia termasuk kebagian. Wabah yang disebut Covid-19 sedang bergentayangan dan belum...

Rencana Reaktivasi Pembelajaran Ditolak

Portal Teater - Dunia pendidikan menjadi salah sektor yang ikut terpukul oleh pandemi virus corona. Di Indonesia, seluruh kegiatan pembelajaran dihentikan dan dilakukan secara...

Update Corona 29 Mei: Kasus Baru Turun Tipis, Total 25.216 Positif

Portal Teater - Kasus baru virus corona turun tipis pada Jumat (29/5) sebanyak 678 kasus dari sebelumnya 687 kasus. Dengan demikian, menurut juru bicara Achmad...