Indonesia Menuju Puncak Pandemi

Portal Teater – Apa betul bahwa lonjakan kasus yang terjadi pada Kamis (21/5) memantulkan kenyataan bahwa virus corona di Indonesia sedang berada dalam tangga menuju puncak pandemi?

Ya, benar. Para ahli dari berbagai latar belakang, bahkan beberapa pejabat pemerintah, mulai mengklaim bahwa Indonesia sedang menuju puncak pandemi ketika kasus harian melonjak pertama kali pada 13 Mei lalu.

Perkiraan itu didorong pula oleh laporan 973 kasus baru pada Kamis, yang sontak mengagetkan masyarakat yang berharap pandemi ini segera berakhir di tanah air.

Lonjakan kasus itu menjadi yang tertinggi sejak pertama kali terindentifikasi di Depok, Jawa Barat, 2 Maret lalu.

Pandu Riono, epidemiolog dari Universitas Indonesia. -Dok. FKM UI.
Pandu Riono, epidemiolog dari Universitas Indonesia. -Dok. FKM UI.

Bisa >1000 Kasus

Epidemiolog dari Universitas Indonesia Pandu Riono, yang selama ini sering menjadi rujukan media-media nasional untuk membaca grafik perkembangan virus di Indonesia, mengatakan bahwa kasus harian bahkan akan meledak lebih dari seribu per hari.

Hal itu terjadi, kata dia, karena menurut kurva epidemi Indonesia sedang berjalan menuju puncak pandemi.

Perjalanan menuju puncak itu bukan hanya didorong oleh makin banyaknya transmisi virus di tengah masyarakat, melainkan juga karena penambahan jumlah pengujian di sejumlah daerah.

Salah satu daerah yang menjadi pemicu lonjakan kasus pada Kamis adalah Provinsi Jawa Timur. Daerah di ujung timur Pulau Jawa itu diketahui melakukan pengujian lebih besar dari sebelumnya.

“Layanan testing di Jatim itu meningkat tajam, tadinya hanya 300 per hari sekarang sudah mencapai sekitar 2000 per hari. Begitu diperiksa langsung melonjak tinggi karena testing meningkat,” katanya, melansir Detik.com, Kamis (21/5).

Pemprov Jatim melaporkan ada 502 kasus pada 21 Mei, menjadi provinsi kasus terbanyak kedua di bawah DKI Jakarta.

Berdasarkan data Gugus Tugas Jatim, penambahan kasus sebanyak 451 kasus, selisih 51 kasus, hal mana juga terjadi di daerah lain.

Secara keseluruhan, pemerintah sudah menunjuk 104 laboratorium untuk pengujian spesimen di tanah air.

Jumlah itu terdiri dari 69 laboratorium real-time polymerase chain reaction (PCR) dan 35 laboratorium tes cepat molekuler (TCM).

Sementara total pengujian di seluruh tanah air telah mencapai 229.334 spesimen dari 168.969 orang yang diperiksa. Jumlah ini naik 9.359 tes dari sebelumnya ada 219.975 spesimen.

Selama 2-3 hari terakhir, jumlah pengujian harian rata-rata lebih dari 8.000 spesimen, tapi belum konsisten di angka 10 ribu sebagaimana permintaan Presiden Joko Widodo.

Selain peningkatan pengujian, Pandu juga melihat bahwa lonjakan kasus terjadi karena masih banyak masyarakat yang belum disiplin ketika pemerintah menerapkan pembatasan sosial bersakal besar.

Hal itu memicu transmisi lokal, bahkan sejak PSBB diberlakukan beberapa pekan lalu di beberapa daerah.

Untuk Provinsi DKI Jakarta, kasus hariannya terus mendatar di bawah angka 100 selama beberapa hari terakhir, meski fluktuatif.

Tiga Skala Intervensi

Secara keilmuan, para pakar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI memperkirakan bahwa kasus corona akan berpuncak pada bulan Mei ini dan segera mereda bulan berikutnya.

Hal itu disampaikan para pakar berdasarkan analisis permodelan dalam webinar publik Badan Perencanaan Pembangunan Nasinal (Bappenas), Rabu (20/5), melansir Detik.com.

Peredaan kasus corona, menurut para ahli yang terdiri dari Iwan Ariawan, Pandu Riono, Muhammad N Farid, dan Hafizah Jusril, sangat ditentukan oleh perilaku dan tingkat disiplin masyarakat.

Dan tentu, perilaku masyarakat yang tidak disiplin didorong pula oleh kebijakan yang tegas dan tepat pemerintah dalam memerangi virus.

Menurut para pakar, salah satu komponen proyeksi kasus adalah dengan melihat “Efek Intervensi terhadap Kasus Harian”.

Ada tiga skala intervensi kasus harian yang membutuhkan perawatan rumah sakit di Indonesia, kata para peneliti.

Pertama, intervensi rendah berupa jaga jarak sosial secara sukarela dan membatasi kerumunan masa.

Pada intervensi ini, total bakal ada lebih dari 1,5 juta orang terjangkit corona dan butuh perawatan rumah sakit.

Menurut mereka, jumlah pasien Covid-19 dan perlu perawatan rumah sakit akan memuncak pada Mei, di mana bisa mencapai angka 60 ribu kasus dalam sehari.

Selanjutnya, ketika memasuki bulan Juni, kasus positif dan yang dirawat mulai menurun dan melandai hingga pertengahan Juni.

Pada intervensi moderat, yaitu berupa penerapan tes massal dengan cakupan rendah, mengharuskan pembatasan sosial seperti penutupan sekolah dan tempat bisnis, diperkirakan akan ada 800 ribu orang terinfeksi corona dan harus dirawat.

Dalam intervensi ini, akan ada sekita 30 ribu pasien yang dirawat di rumah sakit dalam sehari. Namun kembali menurun di Juni.

Dalam intervensi tinggi, yaitu berupa tes massal yang masif, serta mewajibkan PSBB, diperkirakan akan ada 500 ribu terinfeksi.

Mereka harus dirawat di rumah sakit. Bahkan, jumlah kasus dalam sehari bisa mencapai 10 ribu pasien pada Mei, lalu turun di Juni.

“Kita mungkin sekarang ada di skala moderat dan kita harapkan menuju skala tinggi,” kata Iwan, melansir Detik.com.

Ia menandaskan bahwa permodelan ini dibuat hanya untuk gelombang pertama corona di Indonesia. Bilamana terjadi gelombang kedua, pihaknya belum melakukan kajian.

Data Corona Indonesia Bergantung pada Jumlah Tes Spesimen
Tim Pakar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Iwan Ariawan. -Dok. @iwanariawan.

Skala Global

Dalam skala global, sudah ada beberapa negara yang telah melewati puncak pandemi, antara lain, China, Korea, Italia, Spanyol, Jerman, Swedia, Inggris, dan Prancis, setelah mengalami ledakan besar.

Meski sudah melandai, jumlah kasus harian di negara-negara ini, selain China dan Korea, masih cukup tinggi. Rata-rata kasus harian di negara-negara tersebut masih berkisar di angka lebih dari 400.

Kekhawatiran muncul lantaran virus ini bisa muncul di gelombang kedua sebagaimana terjadi di China, Korea, dan Hong Kong.

Sementara itu, ada tiga negara dengan populasi terbesar dunia yang saat ini tengah berjuang memerangi virus karena kasus harian terus meledak, yaitu Amerika Serikat, Rusia dan Brazil.

Pada Kamis, Worldometers mencatat ada 28.179 kasus baru di AS, 8.849 kasus di Rusia dan 17.564 kaus di Brazil.

Ada lima negara lain yang masih memperlihatkan kasus harian besar, antara lain: Inggris (2.615 kasus), Iran (2.392 kasus), India (6.198 kasus), Peru (4.749 kasus) dan Chile (3.964 kasus).

Kekhawatiran akan bahaya dari virus ini adalah bahwa ketika di beberapa negara mulai mereda atau melambat, di negara-negara lain justru baru mulai melonjak kasusnya.

Hal inilah yang membuat para ahli sulit memprediksi kapan pandemi akan berakhir, dan berupaya memberi harapan dengan meminta masyarakat global untuk beradaptasi dengan norma hidup baru.*

Baca Juga

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...

Membaca “Ditunggu Dogot”: Berkhidmat dan Mengakrabi Penonton

Portal Teater - Dua aktor kawakan, Slamet Rahardjo dan Nano Riantiarno, membacakan naskah “Ditunggu Dogot” ditemani penulis naskah Sapardi Djoko Damono dan Yola Yulfianti (sutradara). Pembacaan...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...