Industri Seni Indonesia Menderita

Portal Teater – Di tengah pandemi global virus Corona (Covid-19), industri seni Indonesia ikut menderita.

Jika beberapa negara terpapar corona sudah menggelontorkan dana untuk menopang kehilangan pendapatan pekerja seni, sampai saati ini belum ada kebijakan fiskal pemerintah Indonesia untuk menalangi industri seni.

Data yang dikumpulkan Koalisi Seni per 25 Maret 2020 menyebutkan, jumlah acara seni yang dibatalkan atau ditunda efek Corona di Indonesia cukup banyak. Tidak hanya di Jakarta, tapi di seluruh daerah di tanah air.

Dilaporkan bahwa ada 10 proses produksi dan rilis film yang tertunda; 40 konser, tur, dan festival musik; 8 pameran dan museum seni rupa; 3 pertunjukan tari; dan 9 pentas teater, pantomim, dan boneka.

Data ini akan terus bertambah seiring registrasi komunitas atau grup seni ke aplikasi daring yang disediakan Koalisi Seni.

Mengutip Kompas.id, Senin (30/3), Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menyampaikan dalam sebuah diskusi interaktif bertajuk Ngobrol Seru Kesenian, Selasa (24/3), bahwa pemerintah berencana mengeluarkan skema dana jaring pengaman sosial bagi pekerja seni ataupun ekonomi kreatif dalam waktu dekat.

Salah satu opsi skema yang dapat diambil adalah dengan memberikan dana talangan. Skema tersebut mulai dibicarakan pemerintah dengan kelompok seniman dan pekerja ekonomi kreatif. Namun belum disebutkan besaran dana yang digelontorkan.

Untuk sementara waktu, pemerintah sedang memfasilitasi para seniman dari ragam ilmu seni agar bisa terlibat dalam program pertunjukan dan kelas seni daring yang mulai diadakan sejak Senin (30/3) kemarin.

Program ini, selain menampilkan pertunjukan, juga menghadirkan para maestro seni dari pelbagai bidang: teatar, tari, atau film, untuk berbagi dan berinteraksi dengan pemirsa atau penonton di tanah air.

Program ini jika dijalankan dengan baik maka para seniman dapat tetap produktif di tengah kehilangan pendapatan menyusul wabah corona. Namun di sisi lain, program ini tidak dapat mengakomodasi semua pekerja dan pemangku seni dan budaya.

Beberapa seniman sejak pekan lalu, seperti halnya seniman di luar negeri, sudah memanfaatkan media daring untuk berproses kreatif dalam mengembangkan gagasan penciptaan karya seni. Misalnya dengan mementaskan monolog atau menyiarkan dokumentasi karya melalui Yuotube.

Namun demikian, proses kreatif tersebut tidak mendatangkan pendapatan bagi komunitas seni atau kelompok kreatif. Alih-alih paket data yang disediakan untuk mementaskan karya menguntungkan penyedia layanan internet.

Direktur Jenderal Kebudayaan Himar Farid. -Dok. youtube.com
Direktur Jenderal Kebudayaan Himar Farid. -Dok. istimewa

Stimulus Dana Industri Seni

Di tengah kelambanan pemerintah merespon penderitaan industri seni di Indonesia, Koalisi Seni menurunkan laporan pada Senin (30/3) bahwa industri seni di beberapa negara sudah mendapatkan stimulus fiskal dari pemerintahnya.

Salah satunya di Amerika Serikat. Beberapa negara bagian di negara itu sudah menyiapkan dana talangan bagi pekerja dan organisasi seni.

Pemerintah Negara Bagian Seattle, misalnya, telah menyiapkan dana sebesar US$1,1 juta. Dana ini terdiri dari US$100 ribu berupa bantuan langsung dan US$1 juta bagi keberlangsungan organisasi seni selama pandemi.

Sementara Pemerintah Boston bakal memberikan dana bantuan bagi seniman yang kehilangan pendapatan sebesar US$500-1.000 bagi setiap pemohon.

Penyelenggara Grammy Awards, The Recording Academy, mengumpulkan US$2 juta untuk membantu musisi terdampak corona.

Sementara Netflix mengalokasikan US$100 juta untuk membantu pekerja seni serta US$15 juta untuk lembaga nirlaba penyalur dana bantuan bagi aktor dan kru film di negara tersebut.

Di Inggris, Art Council England (ACE) atau Dewan Kesenian Inggris mengalokasikan sebagian dana programnya untuk membantu seniman dan pekerja seni.

ACE berencana memberikan paket bantuan sebesar hingga £25 ribu bagi unit usaha di bidang seni, seperti bioskop dan ruang pertunjukan musik, agar dapat mengurangi kerugian finansial selama pandemi.

Sementara di Australia, Pemerintah Negara Bagian Queensland menganggarkan AUS$8 juta untuk membantu seniman dan organisasi seni berskala kecil hingga menengah.

Otoritas Queensland juga meniadakan tagihan bagi para penyewa fasilitas seni milik pemerintah hingga Desember 2020. Dilaporkan sebelumnya, industri seni Negeri Kanguru kehilangan AUS$2,5 miliar atau setara Rp37,5 triliun akibat corona.

China sebagai episentrum virus corona menjadi negara yang paling terpukul. Sebanyak 70.000 bioskop di Negeri Tirai Bambu ditutup, sehingga memukul pasar bioskop China.

Pemerintah Hong Kong mengalokasikan HK$150 juta dari Dana Penanggulangan Epidemi untuk memitigasi dampak finansial pembatalan acara seni, termasuk bantuan bagi staf temporer yang kehilangan penghasilan.

Sebagian dari dana ini, yakni sebesar HK$50 juta, disalurkan melalui Hong Kong Arts Development Council (HKADC).

Negara tetangga Indonesia, Singapura, dilaporkan telah menyiapkan Sin$1,6 juta untuk dua program bantuan bagi kegiatan seniman dan organisasi seni.

National Arts Council sebagai pengelola dana tersebut, akan menyalurkan hingga S$600 untuk seniman individual, S$3.000 bagi organisasi seni kecil dan menengah, serta S$10.000 kepada organisasi seni besar.

Selain itu, NAC juga memberikan subsidi 30 persen untuk biaya sewa ruang pertunjukan dan ruang pameran yang dimiliki pemerintah, seperti The Esplanade, National Gallery Singapore, The Arts House, serta Victoria Theatre and Concert Hall.

Musik adalah bidang dalam dunia hiburan yang banyak diminati dan bisa menghasilkan keuntungan yang melimpah. Para musisi maupun penyanyi baru datang silih berganti dan menampilkan bakat dan keterampilannya dalam bermusik yang layak diapresiasi. -Dok. highlight.id
Musik adalah bidang dalam dunia hiburan yang banyak diminati dan bisa menghasilkan keuntungan yang melimpah. Para musisi maupun penyanyi baru datang silih berganti dan menampilkan bakat dan keterampilannya dalam bermusik yang layak diapresiasi. -Dok. highlight.id

Tak Punya Data

Pemerintah Indonesia saat ini tengah mengkaji data kerugian dan kehilangan pendapatan akibat wabah corona. Namun sayangnya, pemerintah belum memiliki sistem kontrol atau monitor yang dapat secara langsung menghitung jumlah kerugian itu.

Hal ini berbeda dengan sistem kerja industri seni di negara-negara maju seperti yang disebutkan di atas, Australia dan Inggris, salah duanya.

Di negara-negara ini, pemerintah memiliki basis data yang komprehensif mengenai perkembangan kelompok atau komunitas seni di negaranya. Sehingga ketika menghadapi krisis, dengan cepat ditalangi.

Sementara di Indonesia, pendataan kelompok atau komunitas seni baru dimulai tahun ini dan belum jelas sejauh mana data-data telah dikumpulkan bersamaan dengan meleburnya Direktorat Kesenian di tubuh organisasi Ditjen Kebudayan.

Dengan kondisi krisis seperti ini, pemerintah kerepotan untuk mendatanya, alih-alih meminta lembaga atau asosiasi seni dan budaya terpercaya. Kondisi ini seperti menambah penderitaan seniman dan kelompok kreatif.

Namun angin segar berhembus ketika Dirjen Hilmar Farid mengatakan akan mengeluarkan skema dana jaring pengaman sosial untuk para seniman dan kelompok kreatif yang secara langsung terpukul karena corona.

Ketua Umum Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) Edwin Nazir akhir pekan lalu, kepada Kompas.id mengatakan bahwa pemerintah saat ini meminta pihaknya mendata seniman dan kelompok kreatif yang terpapar corona.

Namun, pihaknya belum mengetahui detail teknis pelaksanaan penyaluran bantuan tersebut. Karena itu, skenario terbaik adalah bahwa emerintah mesti terlebih dulu melakukan pendataan pekerja seni, budaya, dan ekonomi kreatif yang terdampak.

Di Indonesia, hanya ada dua subsektor seni yang memiliki data yang cukup lengkap, yaitu musik dan film. Sementara teater, tari dan seni lainnya masih minim.

Karena itu, Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Kesenian Jakarta Hikmat Darmawan menganjurkan, jika bantuan dana sosial tersebut disalurkan, pemerintah dapat menggandeng komunitas, organisasi, atau asosiasi yang sudah memiliki data.

Dengan demikian, penyaluran bantuan menjadi lebih tepat sasaran dan berdaya guna bagi pertumbuhan seniman dan kelompok seni di tengah pandemi corona.*

Baca Juga

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

Bertambah 52 Orang, Total 928 WNI di Luar Negeri Terinfeksi Covid-19

Portal Teater - Jumlah warga negara Indonesia yang terpapar virus corona di luar negeri masih terus bertambah. Hari ini, Rabu (27/5), Kementrian Luar Negeri kembali...

Update Corona 27 Mei: Bertambah 686 Kasus Baru, Ini Sebarannya!

Portal Teater - Setelah menurun tiga hari berturut-turut sejak Minggu (24/5), kasus harian positif virus corona kembali naik pada Rabu (27/5) setelah menemukan 686...

Terkini

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

“Dini Ditu” Teater Kalangan: Menjahit Publik di Ruang Digital

Portal Teater - Kehadiran pandemi virus corona barangkali tak pernah dipikirkan atau diramalkan, meski ada teori konspirasi yang menyeruak belakangan bahwa Bill Gates telah...

Teater di Ruang Digital

Portal Teater - Bencana bukan alam sedang menghinggapi sebagian besar negara di dunia dan Indonesia termasuk kebagian. Wabah yang disebut Covid-19 sedang bergentayangan dan belum...

Rencana Reaktivasi Pembelajaran Ditolak

Portal Teater - Dunia pendidikan menjadi salah sektor yang ikut terpukul oleh pandemi virus corona. Di Indonesia, seluruh kegiatan pembelajaran dihentikan dan dilakukan secara...

Update Corona 29 Mei: Kasus Baru Turun Tipis, Total 25.216 Positif

Portal Teater - Kasus baru virus corona turun tipis pada Jumat (29/5) sebanyak 678 kasus dari sebelumnya 687 kasus. Dengan demikian, menurut juru bicara Achmad...