Inggit Garnasih, Narasi Perempuan yang Hilang dari Literasi Sejarah Indonesia

Portal Teater – Inggit Garnasih adalah istri kedua Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia. Keduanya menikah pada 24 Maret 1923, dengan paut umur yang cukup jauh, yakni 13 tahun. Saat menikah, Soekarno muda berusia 22 tahun (lahir 1901) dan Inggit berusia 35 tahun (lahir 1888).

Perbedaan umur keduanya tidak menghalangi hasrat cinta Soekarno yang sudah terlebih dahulu mencintai perempuan Sunda tersebut ketika ia menempuh studi di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sayangnya, perkawinan mereka yang akhirnya harus menemui jalan buntu ketika diketahui Inggit tidak dapat memberi Soekarno muda anak dari rahimnya. Bahtera mereka pun goyah ketika Soekarno menaruh hati pada perempuan lain yang bernama Fatmawati.

Bertahan selama 20 tahun dalam perkawinan, Inggit berjasa besar dalam kehidupan Soekarno yang saat itu mulai aktif di dunia politik kemerdekaan.

Namun, hingga menjelang kemerdekaan, yaitu tahun 1943, keduanya tidak dapat lagi bertahan sebagai sebuah keluarga. Naluri Soekarno yang menginginkan keturunan dari darah dagingnya sendiri membuat ia harus rela melepaskan Inggit dan memilih Fatmawati.

Inggit yang saat itu sudah berusia 55 tahun terpaksa harus berpisah/bercerai dengan suami tercinta dan meminta kepada Soekarno agar memulangkannya ke rumah di mana dulu mereka mengikrarkan perkawinan.

Sebagai suami yang baik dan bermartabat, Soekarno membujuk istrinya itu agar bertahan meski ia harus membagi cintanya dengan perempuan (istri) yang lain. Namun, agaknya Inggit lebih memilih meninggalkan sang suami dan hidup sendiri di rumah keluarganya di Bandung.

Pertemuan terakhir Inggit dan Soekarno terjadi pada tahun 1960, sepuluh tahun sebelum Soekarno meninggal dunia pada usia 69 tahun, tanggal 21 Juni 1970, dan Inggit meninggal dunia di usia 96 tahun, 13 April 1984.

Kisah cinta dan pergumulan keluarga serta hidup mereka ditulis secara lengkap oleh Ramadhan KH dalam buku novelnya “Kuantar ke Gerbang” (1988). Novel itu menggambarkan kisah cinta Inggit Garnasih mendampingi Soekarno selama menjadi pelopor kemerdekaan.

Kelahiran dan Kisah Cinta

Lelyana Mei punya kedekatan emosional dengan Inggit Garnasih. Lely sejauh ini dikenal sebagai seniman yang senantiasa perhatian pada narasi sejarah perempuan Indonesia, terutama Inggit. Beberapa kali ia telah mementaskan teater monolog tentang kisah cinta dan perjuangan Inggit dengan Soekarno.

Dalam diksusi interaktif bertajuk “Narasi Inggit Garnasih, Perempuan Tak Sudi Dimadu”, Jumat (30/8) di Cemara 6 Galeri-Museum, Jakarta, ia membeberkan sejarah, kisah dan perjuangan ideologis serta jasa-jasa besar Inggit dalam kehidupan dan karir proklamator Indonesia: Soekarno.

Diskusi itu sendiri merupakan rangkain pameran tunggal seni rupa Seruni Bodjawati dan peluncuran dan diskusi buku Esthi Susanti Hudiono sepanjang 21-31 Agustus 2019. Pameran ini diselenggarakan Cemara Galeri 6 Museum Jakarta dengan SEA Junction dengan mengusung tema “Perempuan-Perempuan Menggugat”.

Lely menuturkan, Inggit lahir di tatar Sunda, Desa Kamasan Banjaran, Kabupaten Bandung, pada 17 Februari 1888, dari pasangan Bapak Ardjipan dan Ibu Amsi. Namanya diberikan dengan penuh makna dan harapan, di mana kelak menjadi anak yang tegar, segar, menghidupkan dan penuh kasih sayang.

Harapan kedua orangtuanya itu menjadi kenyataan. Menginjak dewasa, Inggit menjadi seorang remaja putri yang cantik dan menarik, sehingga kemanapun ia pergi selalu menjadi perhatian masyarakat sekitar terutama para pemuda.

Di antara mereka sering melontarkan kata-kata seperti: “medapat senyuman dari Garnasih sama dengan mendapat uang seringgit, yang akhirnya julukan inilah yang kelak merangkai namanya menjadi Inggit Garnasih.

Tahun 1900 pada usia sekitar 12 tahun, Inggit memasuki gerbang perkawinan pertamanya dengan Nata Atmadja yang menyandang jabatan sebagai Patih pada Kantor Residen Belanda. Namun pernikahan tidak bertahan lama karena menikah tanpa cinta.

Setelah berpisah dengan Nata Atmadja, pada tahun 1916 Inggit dilamar oleh H. Sanoesi, seorang pedagang kaya dan sukses. Ia juga seorang tokoh organisasi perjuangan Sarekat Islam Jawa Barat dan merupakan salah satu kepercayaan H.O.S Tjokroaminoto.

Kisah cinta Inggit dan Soekarno bermula ketika Soekarno muda menjadi mahasiswa di ITB Bandung yang mulai dirintisnya pada Juni 1921. Melalui rekomendasi HOS Tjokroaminoto, Soekarno muda dititipkan di rumah Sanoesi.

Di rumah itulah Soekarno berkenalan dengan Inggit yang merupakan istri dari “bapak asuhnya”. Setelah satu tahun tinggal bersama, Soekarno mulai jatuh cinta pada kecantikan Inggit meski ia tahun wanita itu telah bersuami.

Hubungan itu lama kelamaan mulai tercium oleh Sanoesi. Akhirnya, pada tahun 1922 Sanoesi menceraikan Inggit dan merelakannya menikah dengan Soekarno pada 24 Maret 1923.

Namun, perkawinan keduanya itu tidak bertahan lama juga. Akhirnya, setelah 20 tahun, keduanya pun bercerai dan hidup sendiri-sendiri.

Jasa-Jasa Dalam Kehidupan Bunga Karno

Dalam hidup Soekarno, Inggit menjadi perempuan dan istri yang nyaris sempurna. Ia mampu menjadi api yang membakar dan mendorong pergerakan awal politik Soekarno muda, terutama di masa-masa pengasingan Bung Karno akibat tekanan politik kolonial.

Seperti yang diungkapkannya, “Kekuatan perempuan bukanlah dapat menguasai, tapi perempuan punya kekuatan untuk memberi keseimbangan.”

Dalam pemaparannya, Lely pun membeberkan beberapa jasa besar Inggit dalam karir politik Soekarno, antara lain: menjadi saksi proses lahirnya Perserikatan Nasional Indonesia yang kemudian berubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tanggal 4 Juli 1927.

Inggit juga menjadi saksi lahirnya Sumpah Pemuda 1928. Selain itu, ia juga turut mendampingi dan menjadi penerjemah setiap kegiatan Soekarno di setiap perjalanan ke berbagai kota ataupun tempat-tempat pengasingan Soekarno.

Dengan gigih dan tegar memberikan semangat hidup dan perjuangan kepada Soekarno pada saat di penjara di Banceuy, Bandung tahun1929. Meskipun ia harus bekerja mencari uang untuk kebutuhan hidupnya.

Membantu memberikan materi (data) untuk referensi Soekarno ketika menyusun pembelaan yang berjudul “Indonesia Menggugat” di depan Pengadilan Landraad Bandung tanggal 18 Agustus 1930.

Ia pun turut mendampingi dan mendukung Soekarno serta menggantikan peran Soekarno dalam pergerakkan kemerdekaan. Buku Soekarno: “Di Bawah Bendera Revolusi (1931) sukses pun karena jasa Inggit yang turut membantu penulisan naskahnya.

Mendampingi Soekarno selama masa pengasingan di Ende, Flores-NTT (1934), serta membentuk tonil kalimutu dan pengajian sebagai sarana pergerakkan.

Mendampingi Soekarno di pengasingan Bengkulu 1938, membentuk grup sandiwara Montecarlo, mengajarkan membuat obat tradisional, berkebun dan keterampilan perempuan lainnya pada penduduk sekitar.

Pada masa pembuangan Bung Karno ke Bengkulu inilah menjadi awal mula keretakan rumah tangga Inggit dengan Soekarno. Saat itu, Soekarno yang menjadi seorang guru bertemu dan jatuh cinta dengan muridnya, Fatmawati, yang kemudian menjadi istrinya dan berjasa karena telah menjahit bendera pusaka Sang Saka Merah Putih.

“Setelah bercerai dari Soekarno, Inggit tetap mengabdikan dirinya kepada rakyat dengan melayani rakyat yang memerlukan pengobatan baik lahir maupun batin, sampai diujung usianya, bahkan beberapa dari istri Soekarno kerap mengunjunginya,” kata Lely.

Pemikiran Inggit

Dalam buku Ramadhan KH, Inggit mengungkapkan demikian: “… sesungguhnya, aku harus senang karena dengan menempuh jalan yang tidak bertabur bunga, aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga. Ya, gerbang hari esok yang pasti akan lebih berarti, yang jauh lebih banyak diceritakan orang secara ramai.”

Dalam diskusi pekan lalu, Lely menyebut beberapa pemikiran dan ideologi perjuangan Inggit, baik kesadarannya sebagai perempuan (istri) maupun sebagai pejuang yang berdiri di samping sang proklamator.

Berikut kutipan ungkapan-ungkapannya:

  • Cinta adalah kekuatan, mengabdi jalannya, iman pegangannya, ikhlas adalah penuntunnya.
  • Sebagai perempuan bukan artinya hanya menjadi pengikut suami saja, melainkan juga berdaya dengan kemampuan yang Tuhan berikan dan paham akan batas batasnya.
  • Apalah arti kemewahan, yang penting adalah kebahagiaan, dan itu adanya di dalam hati.
  • Dalam hidup ini saya tidak membawa apa apa,hanya dibekali dengan iman,dan iman itu tetap saya pegang, semoga untuk selama hidup saya.
  • Tuhan mencintai kita dengan menciptakan tanah air ini, Mencintai tanah air dan menjaganya adalah cara kita bertemu dengan cinta Tuhan.
  • Kehormatanku lebih berharga daripada istana. Sebuah perjuangan untuk bangsa dan negara tak akan ada yang sia sia. Apa yang tak terlihat dibumi, maka langit akan mencatatnya.

Narasi Yang Nyaris Hilang

Barangkali, jasa-jasa dan ideologi perjuangan Inggit belum layak diberi penghargaan yang tinggi seperti perempuan-perempuan lain dari istri Bung Karno, termasuk Fatmawati yang pada tahun 2000 diberi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Namun, dengan melihat dan menyaksikan jasa-jasanya di awal-awal pergerakan politik sang proklamator, agaknya Inggit Garnasih tidak pernah bisa dilepaskan dari kebesaran Bung Karno dalam meletakaan dasar-dasar yang kokoh bagi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Narasi tentang perjuangan Inggit, termasuk perjuangannya membesarkan nama Soekarno, tidak boleh hilang dari sejarah kebangsaan kita. Bukan untuk membesarkan atau memberi penghargaan kepahlawanan (nasional).

Tetapi lebih kepada ihwal untuk membangkitkan kembali ingatan kolekif bangsa akan ideologi perjuangannya yang telah menyatu dalam visi dan ideologi perjuangan Soekarno sendiri.

Nama Inggit kini nyaris hilang dari sejarah kekinian bangsa kita. Hanya segelintir kecil komunitas atau orang yang berniat membangkitkannya. Dan tidak semua kita mengenal namanya. Apalagi di tengah meredupnya literasi sejarah karena desakan teknologi informasi yang menyajikan narasi kekinian yang instan.

*Daniel Deha

Baca Juga

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Bamsoet Ajak Milenial Nonton “Panembahan Reso” Mahakarya Rendra

Portal Teater - Masterpiece dramawan WS Rendra, "Panembahan Reso", akan dipentaskan ulang oleh kolaborasi GenPI.Co, JPNN.Com, Ken Zuraida, dan BWCF Society. Lakon yang menjadi buah...

Terkini

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...