Ini Delapan Pameran Seni Rupa Terbesar Tahun 2020

Portal Teater – Di negara manapun, pameran seni rupa tidak hanya dapat mengubah reputasi seniman dan karyanya, tapi juga kehidupan dan imajinasi publik yang menyerap keajaiban dari karya-karya tersebut, tulis Kelly Grovier dalam sebuah publikasi di BBC Culture, Senin (31/12) lalu.

Hari ini, seiring perkembangan mesin teknologi, kita boleh mengatakan bahwa apresiasi karya seni rupa makin melekatkan karya seni dengan publik sebagai apresiator.

Salah satu contoh yang paling mungkin untuk membaca gelagat tersebut yaitu paradigma publik bahwa mengapresiasi karya seni rupa berarti dengan berfoto-selfie berlatar sebuah karya.

Ruang apresiasi kemudian tidak hanya terjadi di galeri pameran, tapi lalu berpindah ke ranah virtual (dalam bentuk galeri digital) di dalam sebuah smartphone.

Menariknya, ketika mengunjungi galeri pameran di ruang riil, publik tampak kurang memberikan apresiasi (atau tidak memahami sebuah karya), namun ketika ia berada di galeri digital, karya-karya tersebut tampak hidup dan berwarna.

Salah satunya dipicu oleh pembauran identitas karya dengan identitas diri publik (yang berfoto-selfie) yang telah tersimulasi.

Di kancah global, acapkali keajaiban karya-karya seni para maestro mengubah paradigma publik dalam mengapresiasi dan memaknai kehidupan mereka setelah kembali dari galeri pameran.

Hal itu seperti yang akan terjadi pada sejumlah karya seni klasik yang akan dipamerkan tahun ini.

Wartawan BBC Grovier mendokumentasikan setidaknya delapan pameran seni rupa terbesar yang menunjukkan kejernihan penglihatan, membuka mata dan memperluas pikiran dari suguhan visual tersebut.

Pameran tersebut tersebar di sejumlah negara, mulai dari “Mesin Magritte di Spanyol, Raphael di Washington, hingga aktraksi tubuh telanjang Abramović di London.

Sebuah pertunjukan ulang dari "Imponderabilia", di mana pengunjung tidak dapat masuk museum tanpa sentuhan fisik dengan Abramovic di pintu masuk. -Dok. dw.com
Sebuah pertunjukan ulang dari “Imponderabilia”, di mana pengunjung tidak dapat masuk museum tanpa sentuhan fisik dengan Abramovic di pintu masuk. -Dok. dw.com

1. Pameran Karya Magritte

Konsep aktivitas kreatif mekanisasi telah hadir dalam seni dan sastra modern dari Edgar Allan Poe hingga Andy Warhol.

Di La Manufacture de poésie (1950, pelukis surealis René Magritte (1898-1967) juga menawarkan katalog imajiner peralatan yang dimaksudkan untuk mengotomatiskan proses pemikiran dan penciptaan, di antaranya “mesin universal untuk membuat lukisan”.

The Lovers, Rene Magritte, 1928. -Dok. kazoart.com
The Lovers, Rene Magritte, 1928. -Dok. kazoart.com

Dengan mengambil penemuan ini sebagai kenyataan, pameran ini bertujuan untuk mengungkapkan cara kerja Mesin Magritte. Pameran digelar di Museum Thyssen-Bornemisza di Madrid, Spanyol.

Pameran yang telah dimulai pada 27 Oktober 2019 dan berakhir pada 28 Februari 2020 ini dikuratori oleh Guillermo Solana, direktur artistik museum, dan akan menamilkan sekitar 65 kanvas dan sejumlah foto dan film.

Materi ini disajikan dalam enam bagian yang sesuai dengan katalog perangkat yang saling terkait yang membentuk apa yang disebut “Mesin Magritte”.

Di mana museum sebagai instrumen yang membuat katalog dan pameran; siluet, yang berfungsi untuk memotong dan mengisi; jendela, yang membingkai dan menutupi; mekanisme yang mengubah ukuran dan berat; mimikri, yang memungkinkan kamuflase di lingkungan sekitar; dan topeng, yang menghapus dan memproyeksikan wajah.

Magritte cukup dikenal sebagai tokoh kunci dalam pengembangan surealisme, terutama di Belgia, negara kelahirannya. Ia belajar di Brussels Académie Royale des Beaux-Arts dari tahun 1916 hingga 1918 dan mulai melukis dengan gaya Impresionis.

Pada 1919 ia tertarik dengan Futurisme dan karyanya segera berbelok ke arah Cubo-Futurisme. Penemuannya tentang lukisan metafisik Giorgio de Chirico pada tahun 1922 memengaruhi arah perkembangan karier artistiknya sesudahnya.

2. Pameran Karya Raphael

Raphael Sanzio adalah salah satu seniman yang paling diminati dan terhormat Italia pada abad ke-16. Karya-karyanya terpajang di seantero Vatikan, khususnya di Istana Vatikan, Roma, tempat tinggal Paus Yulius II.

Dalam lingkup Gereja Katolik, lukisannya yang paling terkenal adalah “Transfigurasi”, kisah tentang Yesus dimuliakan di atas Gunung Tabor. Lukisan itu diarak menuju Pantheon, tempat pemakaman bergengsi di Italia, ketika ia meninggal pada 1520.

Kematian itu menyisakan banyak pertanyaan tentang apa yang mungkin dapat diciptakan dari kejeniusan sang maestro Renaisans itu jika tidak mati muda pada usia 37 tahun.

Berdasarkan desain Raphael, "David Slaying Goliath" (1520-1527) karya Ugo da Carpi adalah salah satu contoh potongan kayu pertama dalam "terang dan gelap" (chiaro et scuro), atau chiaroscuro. -Dok. BBC.
Berdasarkan desain Raphael, “David Slaying Goliath” (1520-1527) karya Ugo da Carpi adalah salah satu contoh potongan kayu pertama dalam “terang dan gelap” (chiaro et scuro), atau chiaroscuro. -Dok. BBC.

Salah satu karya awal Raphael yang terdokumentasikan adalah lukisan altar untuk Gereja San Nicola da Tolentino in Città di Castello, sebuah kota kecil penghubung Perugia dan Urbino.

Pengerjaan lukisan ini manghabiskan waktu setahun, mulai 1500-1501. Lukisan ini rusak akibat gempa pada 1789, dan kini hanya beberapa bagiannya yang sempat diselamatkan dan disimpan di Pinacoteca Tosio Martenigo, Brescia.

Karya penting lainnya adalah Crowning of the Virgin untuk Oddi Chapel di Gereja San Francesco di Perugia dan The Marriage of the Virgin (1504) yang terinspirasi oleh lukisan Pietro Perugino Giving of the Keys to St. Peter pada 1481-1482.

Untuk menandai peringatan 500 tahun kematiannya, tahun ini sejumlah pameran telah digelar di seluruh dunia.

Pameran telah dimulai dari retrospektif di Galeri Nasional di London hingga persiapan pembukaan kartun yang dilestarikan untuk karya sang seniman, Sekolah Vatikan di Athena (1509), di Veneranda Biblioteca Ambrosiana, Milan.

Di Amerika Serikat, Galeri Seni Nasional Washington DC akan memajang sebuah koleksi cetakan dan gambar luar biasa karya Raphael dan seniman sezamannya yang akan dimulai pada 16 Februari mendatang.

Salah satu keajaiban dari agunan tersebut yakni potongan kayu chiaroscuro Ugo da Carpi, David Slaying Goliath, yang didasarkan pada desain Raphael di Vatikan.

Karya ini menunjukkan kejeniusan Raphael sebagai pelukis gambar dan Da Carpi sebagai pelukis seni cetak.

3. Pameran Karya Rembrandt

Masih di Februari 2020, Museum Ashmolean di Oxford, Inggris, akan mengadakan pameran terbesar pertama di Inggris. Pameran ini didedikasikan untuk karya Rembrandt van Rijn, seniman yang mungkin paling dipuja dari semua penguasa Belanda.

Pameran Ashmolean dimulai dengan karya-karya Rembrandt yang paling awal diketahui dibuat di asalnya Leiden pada pertengahan 1620-an, termasuk potret diri ini dari tahun 1629. -Dok. BBC.
Pameran Ashmolean dimulai dengan karya-karya Rembrandt yang paling awal diketahui dibuat di asalnya Leiden pada pertengahan 1620-an, termasuk potret diri ini dari tahun 1629. -Dok. BBC.

Bertajuk Young Rembrandt, pameran ini akan membawa pengunjung ke coretan-coretan paling awal yang diketahui dibuat pada tahun 1620-an, hingga karya-karya terobosan di dekade berikutnya, yang mendorong sang mastro ke dalam imajinasi populer.

Pameran ini boleh dibilang cukup ambisius karena akan menampilkan lebih dari 130 karya, termasuk 34 lukisan karya Rembrandt dan 10 karya rekan sezamannya.

Salah satu lukisan yang akan dipamerkan adalah karyanya yang baru ditemukan dari periode formatif tersebut berjudul Let the Children Come to Me (1627-1628). Karya itu dibuat ketika Rembrandt berusia awal dua puluhan.

4. Pameran Karya Gentileschi

Pada April, Galeri Nasional London, Inggris, akan menunjukkan survei terbesar di Inggris dari pelukis Baroque Italia yang hebat dan seorang artis wanita, Artemisia Gentileschi.

Sebagai wanita pertama yang diterima sebagai anggota Accademia delle Arti del Disegno (akademi seniman) Florence, Italia yang eksklusif, Gentileschi diakui karena penemuannya, terutama dalam pembuatan adegan alegoris dan potret diri yang inovatif.

"Potret Diri" sebagai Pemain Lute (1616-18) akan menjadi salah satu karya yang dipamerkan di pameran Galeri Nasional, yang mencakup pelatihan Gentileschi di Roma dan waktunya di Naples. -Dok. BBC.
“Potret Diri” sebagai Pemain Lute (1616-18) akan menjadi salah satu karya yang dipamerkan di pameran Galeri Nasional, yang mencakup pelatihan Gentileschi di Roma dan waktunya di Naples. -Dok. BBC.

Di antara tiga lusin karya Gentileschi yang akan dipanggil dari koleksi internasional adalah lukisan yang menghipnotis publik, Self-Portrait, yang menampilkan dirinya sebagai Pemain Lute.

Lukisan itu menggambarkan potret diri sang seniman, jari-jari yang siap, di tengah-tengah, memetik misteri keberadaannya sendiri dari sombro bayangan yang gelisah.

5. Pameran Karya Christo

Pada 19 September-4 Oktober 2020, sorotan utama publik internasional juga dapat diarahkan ke pameran karya sang maestro asal Bulgaria, Christo, di Arc de Triomphe, Paris, Prancis.

Dalam pameran ini Christo bekerjasama dengan Centre des Monuments Nationaux dan Centre Pompidou, Prancis.

Bertajuk L’Arc de Triomphe, Christo akan membungkus Arc de Triomphe dalam 25.000 meter persegi kain polypropylene daur ulang dengan warna biru keperakan, dan 7.000 meter tali merah.

Reichstag yang dibungkus adalah proyek yang mulai dibayangkan Christo pada tahun 1971 bersama Jeanne Claude. -Dok BBC/Alamy
Reichstag yang dibungkus adalah proyek yang mulai dibayangkan Christo pada tahun 1971 bersama Jeanne Claude. -Dok BBC/Alamy

Sebagai pemanasan, Christo akan menggelar sebuah pameran besar bertajuk Wrapped Reichstag di Centre Georges Pompidou dari 18 Maret-15 Juni 2020.

Pameran ini seakan memberi kesan nostalgia untuk menelusuri kembali tahun-tahun Christo dan Jeanne-Claude, istrinya (meninggal tahun 2009) di Paris dari 1958-1964, serta kisah The Pont Neuf Wrapped, Project for Paris (1975-1985).

“Pameran di Centre Pompidou akan mengungkapkan konteks historis dari periode di mana kita tinggal dan bekerja di Paris,” kata Christo, mengutip christojeanneclaude.net.

Pada 1961, tiga tahun setelah mereka bertemu di Paris, Christo dan Jeanne-Claude mulai membuat karya seni di ruang publik.

Salah satu proyek mereka adalah membungkus bangunan umum. Pada saat itu, Christo, yang menyewa sebuah kamar kecil dekat Arc de Triomphe, membuat beberapa studi tentang sebuah proyek di sana, termasuk, pada tahun 1962, sebuah photomontage yang dibungkus Arc de Triomphe, dilihat dari Avenue Foch.

Pada 1970-an dan 1980-an, Christo menciptakan beberapa studi tambahan. Hampir 60 tahun kemudian, proyek ini akhirnya dikonkretkan tahun ini.

“Tiga puluh lima tahun setelah Jeanne-Claude dan saya membungkus Pont-Neuf, saya ingin sekali bekerja di Paris lagi untuk mewujudkan proyek kami untuk Arc de Triomphe,” katanya.

6. Pameran Karya Fénéon

Pada tahun 1894, anarkis dan kritikus seni Félix Fénéon, yang menjadi subjek pameran yang menarik di Museum Seni Modern di New York (mulai akhir Maret 2020), didakwa menanam bom di pot bunga dengan cara yang modis di sebuah restoran hotel Paris.

Fénéon sangat penting bagi kemunculan lukisan Post-Impresionis. Dia pula menciptakan salah satu istilah yang dengannya kita mengetahui titik-titik kecil dan cat yang dikaitkan dengan seniman seperti Georges Seurat dan Paul Signac: Neo-Impresionisme.

Fénéon adalah sosok yang sulit dipahami; dia menolak permintaan Paul Signac untuk melukis potretnya sampai tahun 1890, ketika dia setuju menunjukkan wajahnya yang penuh. -Dok. BBC.
Fénéon adalah sosok yang sulit dipahami; dia menolak permintaan Paul Signac untuk melukis potretnya sampai tahun 1890, ketika dia setuju menunjukkan wajahnya yang penuh. -Dok. BBC.

Pameran ini menampilkan lebih dari 150 karya dikagumi Fénéon.

Dengan mengeksplorasi lebih jauh penciptaan sang maestro, pameran ini menampilkan bagaimana visi seninya membantu meledakkan hingga berkeping-keping kepekaan modern.

7. Pameran Karya Kusama

Pada Mei mendatang, seniman kontemporer Jepang, Yayoi Kusama, akan memecah dunia menjadi badai yang memesona dari titik-titik atomistik di New York Botanical Garden (NYBG), AS.

Ketertarikan Kusama dengan bintik-bintik dan bunga-bunga dapat ditelusuri kembali ke visi halusinasi yang dialaminya sebagai seorang anak.

Instalasi Yayoi Kusama yang terinspirasi dari halusinasi masa kanak-kanaknya. -Dok. NYBG/BBC
Instalasi Yayoi Kusama yang terinspirasi dari halusinasi masa kanak-kanaknya. -Dok. NYBG/BBC

Kusama terkenal dengan lukisan polkadot, ruangan dengan dinding polkadot, serta labu berhiaskan polkadot di bagian luarnya.

Pameran di NYBG bertajuk “Kusama: Comic Nature” akan menampilkan patung tanaman polkadot berskala besar, sketsa botanical awal. Terdapat pula sebuah “obliteration room” bermodel rumah hijau, para pengunjung diberi kesempatan untuk mendekorasi ruangan dengan stiker bunga.

Pameran ini berlangsung selama enam bulan, mulai 9 Mei-1 November 2020.

8. Pameran Karya Abramović

Boleh dibilang pameran karya Marina Abramović, seniman berkebangsaan Serbia akan sulit dlupakan jika Anda sudah pernah mengunjunginya.

Pada 1977, dalam sebuah pameran di Bologna, Italia, pengunjung disodorkan dengan sebuah penampilan yang tidak biasa, sebuah tubuh telanjang, yaitu tubuhnya sendiri, ketika memasuki galeri dengan meremas melalui pintu.

Tahun 2010, Marina Abramović memandangi orang asing di MoMA. Banyak di antara mereka yang terharu hingga menangis . -Dok. BBC/Getty Images.
Tahun 2010, Marina Abramović memandangi orang asing di MoMA. Banyak di antara mereka yang terharu hingga menangis . -Dok. BBC/Getty Images.

Sebelum itu, seniman kelahiran Beograd itu membuat penonton menggeliat ketika ia mengiris bentuk bintang ke perutnya dengan pisau dan mencambuk dirinya sendiri tanpa alasan sambil berbaring di balok es dengan tubuh telanjang.

Baru-baru ini, dia mengajak pengunjung untuk menatap matanya selama mereka bisa menahannya. Dalam pameran itu, seniman kelahiran 1946 itu bertahan selama 736,5 jam.

Dalam performanya, Abramović juga telah mengizinkan publik untuk mendorong, menyelidiki dan menyiksa tubuhnya.

September tahun ini, seniman perempuan fenomenal itu akan kembali beraksi di Royal Academy of Arts di London. Di sana ia mengadakan survei 50 tahun bertajuk “Marina Abramović: After Life”.

Ada rumor bahwa “pintu masuk”-nya yang pernah ditampilkan empat dekade lalu kemungkinan akan kembali beraksi.*

Sumber utama: BBC Culture

Baca Juga

Industri Musik AS Ambruk Karena Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah menyebar di 203 negara di dunia dengan terkonfirmasi positif 859.965 kasus, 42.344 meninggal dan 178.364 sembuh. Amerika Serikat...

Linimasa Kasus Corona Indonesia Selama Maret 2020

Portal Teater - Sebulan penuh Indonesia telah bergumul dengan ancaman virus Corona (Covid-19). Sejak pertama teridentifikasi melalui dua pasien Corona di Depok, Jawa Barat,...

ATAP Manfaatkan Media Daring Gelar Parade Monolog

Portal Teater - Kreativitas senantiasa mengalir tanpa muara. Kalaupun ada, maka itu adalah awal bagi gagasan baru untuk terus berproses kreatif. Dalam situasi krisis...

Terkini

Data dan Dana Untuk Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Indonesia membuka jalur pendataan bagi pekerja seni yang secara ekonomi terdampak virus Corona. Pendataan telah dibuka sejak akhir pekan lalu,...

Mendata Pelaku Industri Kreatif Terdampak Corona di Ibukota

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul semua lini kehidupan manusia saat ini. Wabah global ini tidak hanya menghantam sektor ekonomi, politik, atau...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...