Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater – Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama terkait jumlah kasus dan kematian akibat Covid-19.

Laporan intelijen AS ini dirilis pekan lalu dan telah diterima Gedung Putih, menurut keterangan tiga pejabat AS, mengutip laporang Bloomberg pada Kamis (2/4).

Para pejabat tidak merinci isi laporan karena bersifat rahasia. Namun mereka mengklaim bahwa laporan publik China tentang jumlah kasus dan kematian sengaja dibuat tidak lengkap dan bahkan palsu.

Sampai saati ini, Staf Komunikasi di Gedung Putih dan Kedutaan Cina di Washington masih enggan berkomentar permintaan untuk menanggapi laporan itu.

Virus Corona diketahui mulai merebak di China pada akhir tahun lalu. Pada Kamis (2/4) Worldometers melaporkan bahwa jumlah kasus China kini sudah digeser oleh AS, Italia dan Spanyol, dan mungkin sedikit lagi digeser Jerman.

Kasus di China saat ini berjumlah 81.589 (35 kasus baru) dengan 3.318 kematian dan 76.408 sembuh. Belakangan, jumlah kasus dan kematian di China mulai melambat.

Data ini tidak sebanding dengan AS yang sudah menderita 215.344 kasus (341 kasus baru), dengan 5.112 kematian dan 8.878 sembuh.

Sejak pekan lalu, pejabat Hubei, China, mengumumkan akan memperbolehkan penduduk yang sehat untuk kembali beraktivitas sampai tengah malam. Sebelumnya, dua bulan lamanya, warga di provinsi itu diminta tetap tinggal di dalam rumah.

Namun pengetatan masih berlaku di kota sumber pandemi Corona, Wuhan. Meski demikian, sejumlah orang sudah terlihat bisa melakukan aktivitas meski dengan menjaga jarak sosial, angkutan umum pun mulai bergeliat, menurut laporan AFP.

Grafik perkembangan virus Corona di dunia. -Dok. bbc.com
Grafik perkembangan virus Corona di dunia. -Dok. bbc.com

Minta Lebih Terbuka

Wakil Presiden Mike Pence mengatakan kepada CNN pada Rabu (1/4) bahwa laporan publik China kepada dunia belum begitu transparan.

Karena itu, dia meminta otoritas Negeri Tirai Bambu lebih terbuka agar AS menjadi lebih baik dalam menangani kasus ini. Lagipula AS telah menjadi episentrum baru Corona.

“Apa yang tampak jelas sekarang adalah bahwa jauh sebelum dunia mengetahui pada bulan Desember bahwa China sedang menangani ini, dan mungkin sebulan lebih awal dari itu, bahwa wabah itu nyata di China,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Negara AS Michael Pompeo telah secara terbuka mendesak China dan negara-negara lain untuk transparan tentang wabah di negaranya.

Berulang kali dia menuduh Cina menutupi tingkat masalah dan lambat untuk berbagi informasi, terutama pada minggu-minggu setelah virus pertama kali muncul, dan menghalangi tawaran bantuan dari para ahli Amerika.

“Kumpulan data ini penting, sehingga kita dapat menyelamatkan nyawa tergantung pada kemampuan untuk memiliki kepercayaan diri dan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi,” katanya di Washington, Selasa (31/3).

Lebih dari itu, Pompeo menegaskan akan mendesak setiap negara melakukan yang terbaik untuk mengumpulkan data dan membagikan informasi itu, sebagaimana telah ditunjukkan AS.

Anggota parlemen Republik AS Ben Sasse pun mengatakan, “Klaim bahwa Amerika Serikat memiliki lebih banyak kematian karena Corona daripada China adalah salah.”

Dia mengklaim bahwa Partai Komunis China telah berbohong, dan akan terus berbohong tentang virus Corona untuk melindungi rezimnya.

Sementara itu, ahli imunologi Departemen Luar Negeri AS Deborah Birx sebelumnya mengatakan bahwa pelaporan publik China memengaruhi asumsi di tempat lain di dunia tentang sifat virus ini. Fakta hari ini, Italia dan Spanyol berjatuhan.

“Karena saya pikir mungkin kita kehilangan sejumlah besar data,” katanya.

Alihkan Perhatian

Kepala Editor Global Times yang dikelola pemerintah China Hu Xijin sebaliknya mengatakan, kesimpulan intelijen AS tentang adanya pemalsuan data adalah upaya untuk mengalihkan perhatian dari melonjaknya kematian di AS dan negara-negara Barat lainnya.

Melalui akunnya di platform media sosial China Weibo, Hu menyebutkan tidak ada cara untuk memalsukan data serius di China hari ini, terutama untuk insiden yang telah menarik perhatian dunia saat ini.

Dia mengatakan bahwa China telah berhasil mengurangi jumlah kematian di Hubei, provinsi tempat virus itu pertama kali muncul, dengan mengirim pekerja medis dan peralatan dari bagian lain negara itu.

Jika pemalsuan benar-benar terjadi, atau berpura-pura untuk menekan jumlah korban, maka itu akan mengacaukan dan memiliki risiko yang sangat tinggi.

“Untuk memalsukan data korban, departemen mana yang akan dikerahkan? Siapa yang akan mengimplementasikan rencana itu?” katanya.

Bukan Hanya China

China bukan satu-satunya negara dengan tersangka pemalsuan pelaporan publik. Para pejabat Barat telah menuduh Iran, Rusia, Indonesia, dan terutama Korea Utara, yang belum melaporkan satu pun kasus penyakit ini sebagai kemungkinan di bawah hitungan. Termasuk juga Arab Saudi dan Mesir yang mungkin juga mengecilkan jumlah mereka.

Keterbukaan informasi mengenai data ini penting, di samping upaya proteksi negara-negara untuk melindungi warganya, untuk merangkum dampak global dari virus ini.

Laporan resmi pemerintah Indonesia pada Kamis (2/4) menyebutkan adanya peningkatan jumlah kasus positif Corona sebanyak 113 kasus, sehingga total 1.790 kasus, dengan 170 kematian dan 112 orang sembuh.

Angka ini terus naik namun cukup menunjukkan perlambatan. Pada Rabu (1/4), jumlah kasus positif sebanyak 1.677 kasus, dengan 157 kematian dan 103 sembuh.

Secara global, Corona telah merebak di lebih dari 200 negara, dengan total kasus sebanyak 940.733 kasus, 47.518 kematian dan 196.214 sembuh.*

Baca Juga

Sekali Dayung Dua-Tiga Pulau Terlampaui

Portal Teater - Pukulan misterius virus corona telah memporak-porandakan "sistem politik, ekonomi, dan budaya negara-negara", meminjam istilah yang diperkenalkan Harari beberapa waktu lalu. Tidak ada...

Update Corona 29 Mei: Kasus Baru Turun Tipis, Total 25.216 Positif

Portal Teater - Kasus baru virus corona turun tipis pada Jumat (29/5) sebanyak 678 kasus dari sebelumnya 687 kasus. Dengan demikian, menurut juru bicara Achmad...

Pasien Meninggal di AS Tembus 100 Ribu Orang

Portal Teater - Kematian akibat virus corona di Amerika Serikat telah mencapai 100 ribu orang pada Kamis (28/5). Ini terjadi hanya lebih dari empat bulan...

Terkini

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

“Dini Ditu” Teater Kalangan: Menjahit Publik di Ruang Digital

Portal Teater - Kehadiran pandemi virus corona barangkali tak pernah dipikirkan atau diramalkan, meski ada teori konspirasi yang menyeruak belakangan bahwa Bill Gates telah...

Teater di Ruang Digital

Portal Teater - Bencana bukan alam sedang menghinggapi sebagian besar negara di dunia dan Indonesia termasuk kebagian. Wabah yang disebut Covid-19 sedang bergentayangan dan belum...

Rencana Reaktivasi Pembelajaran Ditolak

Portal Teater - Dunia pendidikan menjadi salah sektor yang ikut terpukul oleh pandemi virus corona. Di Indonesia, seluruh kegiatan pembelajaran dihentikan dan dilakukan secara...

Update Corona 29 Mei: Kasus Baru Turun Tipis, Total 25.216 Positif

Portal Teater - Kasus baru virus corona turun tipis pada Jumat (29/5) sebanyak 678 kasus dari sebelumnya 687 kasus. Dengan demikian, menurut juru bicara Achmad...