Jakarta dan Ketergerusan dalam Arus Kosmopolitan

Portal Teater – Jakarta merupakan kota pertama di Asia Tenggara yang tumbuh sebagai kosmopolit. Tertimbun dalam lapisan-lapisan civilisasi yang panjang sebagai negosiasi pertemuan berbagai budaya, perubahan politik dan ekosistem.

Jakarta, adalah kota yang awalnya dibentuk berdasarkan ekosistem sungai bersama irisan khas tumbuhnya kultur lokal yang disebut Betawi.

Alih-alih Betawi direpresentasi bertentangan dengan Batavia (lokal vs kolonial) dalam sejarah kota, dan melahirkan pandangan beragam tentang asal-usul Jakarta.

Tiga film karya Sjuman Djaja memperlihatkan pergeseran orientasi identitas yang cukup berarti: “Si Doel Anak Betawi” (1973), menjadi “Si Doel Anak Modern” (1976), kemudian “Opera Jakarta” (1985).

Perubahan ini merepresentasikan pandangan Sjuman Djaja (sebagai salah satu seniman Betawi) tentang Jakarta yang juga telah berubah dari pandangan budaya sebagai nilai ideologis ke pandangan budaya sebagai perangkat kota dan kini kian ke arah industri budaya.

Perubahan matarantai ekosistem di Jakarta lebih gamblang dengan memetakan apa saja yang telah hilang dan berubah di kota ini.

DKJ dan Ekosistem Kota

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) merupakan salah satu DNA pembentukan politik budaya Orde Baru yang hampir tidak pernah bisa direplika di luar Jakarta, tetapi lembaga kesenian berbasis kota provinsi ini tetap bertahan hingga kini di Jakarta.

Namun, apakah lembaga kesenian tertua di Asia Tenggara ini masih bekerja dengan ekosistem lamanya, atau telah bergeser, terutama bergesernya teknologi analog ke teknologi digital?

Apa kaitan lembaga seni ini dengan kebutuhan dengan kebutuhan pemetaan aktivitas budaya di Jakarta maupun kebutuhan atas kerja-kerja kuratorial atas kota?

“Dalam konteks Jakarta dan DKJ, Gubernur Ali Sadikin pada eranya membentuk DKJ, pusat kesenian berorientasi pada budaya, hiburan, regenerasi,” ungkap Plt. Ketua DKJ Danton Sihombing, Senin (26/8).

“Namun, sekarang ada pergeseran-pergeseran perilaku. Inilah yang menjadi dasar diselenggarakannya DKJ Fest (Dewan Kesenian Jakarta Festival),” lanjutnya.

DKJ Fest merupakan kerja kurasi sosial-politik kota Jakarta untuk memunculkan ‘cermin budaya’, melalui pemetaan dan investigasi.

Pantulan cermin budaya yang diharapkan menghasilkan tatapan baru untuk membaca resposisi memori kota maupun identitas kota yang terjadi.

Meretas Indeks

DKJ Fest sebelumnya diselenggarakan pada tahun 2018. Sebagai program kerjasama antar Dewan Kesenian Jakarta dengan Jakarta Propertindo (Jakpro) di tahun keduanya, DKJ Fest mengusung tema “Meretas Indeks” yang bertujuan untuk memantulkan pergeseran ekosistem ibukota.

Tema ini diangkat karena bersentuhan langsung dengan program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta “Revitalisasi Pusat Kesenian Jakarta TIM” yang akan membawa Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) ke dalam pergaulan seni yang masa kini dan terhubung dengan arus globalisasi seni.

Program tersebut dimaksudkan untuk mengurai medan budaya sebagai ruang hidup Jakarta dan reposisi ekosistem seni di Jakarta dalam konteks Revolusi 4.0.

Dalam kerangka program itu, Jakarta dilihat sebagai kota dengan beragam lapisan budaya, sekaligus menjadi pintu pertama masuknya teknologi menjadikannya cepat berubah posisi atau bergeser dari budaya itu sendiri.

*Rere Marselina

Baca Juga

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...