Jakpro Desain Ulang Arsitektur Revitalisasi TIM Jakarta

Portal Teater – PT Jakarta Propertindo (Jakpro) berniat mendesain ulang arsitektur revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta menyusul penolakan dari sejumlah pelaku seni terkait pembangunan hotel mewah di pusat kesenian ibukota tersebut.

Sembari berproses untuk menemukan rancangan baru yang lebih sesuai dengan keinginan para seniman, manajemen Jakpro bakal terus berkonsultasi dengan banyak stakeholders.

“(Desain) masih dalam proses. Sedangkan dialog dengan semua stakeholder terus dilakukan,” ujar Dwi Wahyu Darwoto, Direktur Utama Jakpro, di Jakarta, Selasa (3/12), melansir beritasatu.com.

Menurut Dwi, keberadaan hotel di kawasan kesenian yang didirikan Gubernur Ali Sadikin tahun 1968 itu tidak dimaksudkan untuk komersialisasi kebudayaan. Tapi untuk mendukung kegiatan seni dan budaya para seniman di Kompleks TIM.

Seperti yang pernah diungkapkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, keberadaan hotel mewah tersebut bertujuan untuk melengkapi fasilitas TIM agar para seniman dari dalam maupun luar negeri bisa menjadikan TIM sebagai tempat penginapan.

Sebab selama ini, bilamana ada kegiatan event-event di TIM yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), seniman dari luar negeri dan dari daerah-daerah menginap di hotel-hotel di sekitaran TIM.

Maka, dengan keberadaan tempat penginapan yang lebih luas dan lengkap, para seniman tidak lagi menyewa tempat di luar kompleks TIM.

JIka memang pembangunan hotel untuk komersialisasi TIM, Dwi mengaku heran karena sejauh ini, di dalam kompleks TIM terdapat XXI yang adalah lahan komersil.

“Bayangkan kalau ada pemain-pemain dari luar kota bahkan mungkin luar negeri dan penonton luar kota bisa menginap di area pertunjukan kan bagus. Tetapi sudahlah, tunggu saja nanti hasil redesainnya. Dua minggu terakhir ini kami juga berdialog terus,” katanya.

Sebelumnya, Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Abdul Aziz meminta Jakpro merevisi desain proyek revitalisasi TIM Jakarta.

Saat ini, pihaknya bakal menggodok nasib pembangunan hotel pada proyek ini setelah revisi desain dan model bisnis diajukan kembali.

“Kita diskusi dengan seniman-seniman dan stakeholder. Apa sih yang terbaik untuk para seniman ini? Kalau itu [pembangunan hotel] yang terbaik, ya silakan bangun. Kalau tidak, ya jangan dibangun,” katanya akhir pekan lalu.

Sementara itu, Sekretaris Komisi B DPRD DKI Jakarta Pandapotan Sinaga meminta pengerjaan proyek dimoratorium sambil menunggu desain baru dari Jakpro. Hal ini menjadi penting agar proyek revitalisasi TIM tidak mangkrak.

“Semua fraksi di dewan sudah setuju pembangunan hotel dibatalkan. Sekarang yang menjadi fokus adalah bagaimana agar revitalisasi ini tidak mangkrak,” katanya.

Karena itu, kata Pandapotan, proyek revitalisasi tak bisa dihentikan. Pasalnya, penyertaan modal daerah (PMD) telah masuk ke dalam Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (Kuappas).

“Saat kami lakukan kunjungan, saya bilang kalau revitalisasi tidak bisa dihentikan. Kalau disetop, bagaimana pertanggungjawabannya,” ujarnya.

Tidak Mengurangi Kualitas TIM

Sebelumnya diberitakan bahwa DPRD DKI Jakarta meminta Jakpro untuk meniadakan pembangunan hotel di TIM dengan memangkas anggaran PMD hingga Rp400 miliar.

Dalam sebuah pernyataan, Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta berharap pemotongan anggaran itu tak berpengaruh pada kualitas revitalisasi TIM, terutama spesifikasi material.

“Justru kualitas harus tetap dijaga dengan spek yang sudah mereka persiapkan. Jangan sampai revitalisasi TIM ini hasilnya tak optimal. Harapan kita revitalisasi TIM ini berdampak positif ke semua stakeholder, pemerintah daerah, masyarakat, pelaku seni itu yang harus kita jaga,” katanya di Jakarta, Kamis (28/11) pekan lalu.

Sebelumnya, Pemprov DKI mengusulkan PMD untuk JakPro senilai Rp 3,106 triliun. Kemudian, DPRD memotongnya menjadi Rp 2,706 triliun.

Jika pembangunan Wisma TIM dihapus, manajemen Jakpro mengatakan hal itu tidak mengganggu konsep revitalisasi TIM.

Sebab wisma TIM berada di lantai 8 sampai 14. Sedangkan lantai bawah diisi galeri, perpustakaan, dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin.

Beda Imajinasi

Terkait revitalisasi TIM, masih ada perbedaan imajinasi antara Gubernur Anies dan para seniman.

Hal itulah yang menyulut penolakan dari para seniman terkait pembangunan hotel bintang lima dan masuknya Jakpro sebagai kontraktor proyek tersebut.

“Karena imajinasi soal TIM yang kita buat beda dengan imajinasinya (para seniman), maka itu kami disalahkan,” katanya Jumat (29/11) pekan lalu.

Dalam imajinasi Gubernur Anies, pembangunan hotel mewah di TIM dimaksudkan untuk menjadikan TIM sebagai pusat kesenian dan kebudayaan bertaraf internasional.

Sementara dalam imajinasi para seniman, keberadaan hotel bintang lima akan menghilangkan marwah dasar TIM sebagai pusat kesenian yang bebas dari intervensi politik dan bisnis.

Salah satu seniman, Arie F. Batubara, mempertanyakan seperti apa sebenarnya imajinasi Gubernur Anies terkait proyek tersebut.

Mnenurutnya, para seniman sejak awal mendukung revitalisasi TIM untuk mengembalikan TIM sebagai pusat kesenian yang sesungguhnya, yaitu laboratorium, etalase, dan barometer seni nasional maupun internasional seperti yang terjadi pada 25 tahun pertama sejak pendiriannya.

“Kalau memang benar-benar beda, maka kita bisa maklum lalu kemudian mencari cara untuk mempertemukannya,” tuturnya, Senin (2/12).*

Sumber: beritasatu.com, tempo.co, detik.com, cnnindonesia.com

Baca Juga

Promosi Teater kepada Pelajar, Mahasiswa IKJ Pentaskan “Pinangan”

 Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta akan mempersembahkan drama komedi "Pinangan" karya Anton Checkov (saduran Suyatna Anirun)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

Nantikan Pameran Ekskursi Arsitektur UI “Orang Laut” di Museum Nasional

Portal Teater - Pada periode Juni-Juli 2019 Tim Ekskursi Arsitektur Universitas Indonesia telah melakukan pendokumentasian arsitektur vernakular suku asli di Lingga, Kepulauan Riau, dan...

Terkini

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Portal Teater - Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari...