JDMU: Platform Pengembangan Manajemen dan Jejaring Kerja Komunitas Tari

Portal Teater – Jakarta Dance Meet Up (JDMU) 2019 yang digelar selama tiga hari berturut-turut (23-25 Agustus) pekan lalu berjalan sukses dan berhasil mementaskan karya-karya terbaik koreografer muda 16 komunitas tari se-Jakarta.⁣

Keenam belas komunitas tari partisipan JDMU, antara lain: Muda Move, Unit Seni Budaya Trisakti, Jakarta Dance Art Education 17, EKI On Call, Swargaloka, Bidar Dance Community, Last Team, dan KIG Dance Community UPI Bandung.

Selain itu, ada Ballet Sumber Cipta/Kreativität Dance-Indonesia, DMP Project, Noken Lab, Bahasa Dance Project, Indonesia Dance Company, Citra Istana Budaya, Lentera Fannani Dance, dan Daun Gatal.

Publik seni ibukota pun terlihat antusias mendatangi lokasi gelaran, yaitu di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta. Mereka datang untuk menyaksikan langsung aksi-aksi penari yang ditempa komunitas-komunitas tari itu berkreasi dan berimprovisasi.

Selain pentas tari, komunitas-komunitas tari tersebut terlibat aktif dalam program diskusi, salah satu program inti perhelatan ini. Setidak ada tiga kali diskusi yang dimaksudkan sebagai wahana lahirnya pengetahuan dan gagasan produksi karya bagi pegiat dan koreografer tari.

Diskusi pertama diadakan sekaligus untuk menandai pembukaan event pada Jumat (23/8) dengan topik “Komunitas Tari sebagai Sekolah Alternatif”. Diskusi ini menghadirkan pembicara: Rury Nostalgia dan Aiko Senosoenoto.

Diskusi kedua, Sabtu (24/8), menghadirkan pembicara Firman Ichsan dan Rusdi Rukmarata dengan tema “Fotografi Tari”. Sementara diskusi ketiga, Minggu (25/8), bertajuk “Perempuan, Seni dan Kodrat” menghadirkan pembicara Amna Kusumo, Ajeng Soelaeman dan Alisa Soelaeman.

Adapun komunitas tari yang terlibat dalam event ini tidak dilakukan melalui seleksi dan kurasi tertentu, tetapi dihadirkan secara terbuka melalui open call application.

Tidak Sekedar Pentas

Sebagai penggagas JDMU, Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) melihat penting bagi pengembangan ekosistem tari yang secara baik dan berkelanjutan di Jakarta.

Salah satunya dengan menyediakan paltform di mana para penari dari komunitas-komunitas tidak hanya punya pengalaman pentas, melainkan juga dapat bekerja pada gagasan dan manajemen produksi sebagai koreografer.

Karena itu, tidak seperti gelaran sebelumnya, JDMU 2019 menghadirkan pengamat dan executive board untuk menempa pengetahuan dan gagasan produksi para koreografer.

Deretan pengamat dan manajer tari terkenal yang dihadirkan pada JDMU kali ini, yakni: Hartati (Executive Board), Josh Marcy (Executive Board)⁣, Maya Tamara (pengamat)⁣ dan Fariq Alfaruqi (pengamat)⁣.

Ketua Komite Tari DKJ Yola Yulfianti menuturkan, JDMU menjadi platform di mana para penari dari komunitas tari dilatih dan dibimbing untuk menjadi koreografer, tidak hanya melalui pengalaman pentas, tetapi juga melalui diskusi, workshop dan Focus Group Discussion (FGD) yang secara reguler diselenggarakan DKJ.

Rangkaian kegiatan itu dimaksudkan agar penari dapat dilatih oleh para pakar yang selama ini malang melintang di dunia tari, baik untuk teknik manajemen, gagasan, artistik, dan instrumen panggung lainnya.

Misalnya, Maya Tamara, pendiri Namarina Balet School, yang menekankan pentingnya menyiapkan kurikulum tari bagi seorang koreografer, entah itu genre tari tradisi, balet atau hip hop.

Demikian halnya dengan Fariq Alfaruqi yang membagikan pengalamannya tentang bagaimana mendesain artistik panggung, dll, termasuk gagasan untuk membuat sinopsis karya yag baik.

Semua pelatihan itu, kata Yola, bertujuan untuk menciptakan koreografer-koreografer tari yang bisa berkarya dan memproduksi gagasan secara profesional.

“Jadi program kita ingin melahirkan koreografer yang bisa berkarya,” katanya.

Ia pun menceritakan, pada sesi evaluasi di hari terakhir kegiatan, Senin (26/8), banyak peserta, terutama koreografer-koreografer pemula sadar dan tahu betapa pentingnya kerja sebagai koreografer yang dapat memproduksi karya.

Ciptakan Jejaring Kerja

Koreografer yang terlibat dalam JDMU kali ini tidak hanya pemula, tetapi juga ada beberapa koreografer yang sudah matang dalam urusan manajemen produksi karya.

Para koreografer pemula dalam tataran ini tidak dimaksudkan sebagai koreografer yang baru mengenal manajemen produksi, melainkan koreografer-koreografer yang berkarya masih terbatas pada pementasan untuk kepentingan seremonial atau ornamen tertentu.

“Tidak dalam konteks berkarya,” papar Yola.

Mengingat realita tersebut, Komite Tari DKJ pun berniat menciptakan keseimbangan pengalaman antar koreografer melalui kerja berjejaring untuk bertukar gagasan karya. Salah satunya dengan menggelar diskusi, FGD dan kegiatan sejenis lainnya, termasuk lewat gelaran JDMU.

Namun demikian, Komite Tari DKJ pun menyadari bahwa sampai saat ini belum ada hub yang mengagregasikan semua informasi tentang karya-karya komunitas partisipan JDMU. Selain keterhubungan informasi yang tercipta lewat Whatsapp grup.

Karena itu, Komite Tari DKJ berpikir untuk menciptakan wahana di mana pertukaran gagasan antar komunitas yang pernah terlibat di JDMU menjadi mungkin dan berkelanjutan.

Termasuk misalnya dengan menggelar JDMU Selection yang akan terjadi pada November mendatang. Gelaran tersebut menjadi platform di mana 8 peserta yang lolos JDMU Reguler 2019 belajar untuk memproduksi karya baru.

“Setelah JDMU Reguler, mereka akan masuk ke JDMU Selection pada November mendatang. Di sana mereka akan membawa karya baru, bukan karya yang sudah ditampilkan pada JDMU Reguler,” ungkapnya.

Diharapkan, setelah perhelatan tersebut, komunitas-komunitas tari dapat terhubung satu sama lain secara inklusif dan kolektif untuk menciptakan ekosistem tari ibukota yang kuat.

*Daniel Deha

Baca Juga

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

ITI Ajak Insan Teater Berbagi Karya Lewat Media Daring

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) merebak seantero dunia. Ratusan negara telah terpapar virus yang datang bagai ledakan asteroid ini. Sementara ratusan ribu umat...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...