JILF: Seperti Menanam Benih Di Lahan Yang Baru

Portal Teater – Festival sastra skala internasional pertama di Jakarta, Jakarta International Literary Festival (JILF) telah usai pekan lalu. Ratusan pengunjung-penonton ibukota dan sekitarnya berduyun-duyun pada tiap kali program atau acara harian JILF ditampilkan sepanjang 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Terutama pada malam hari, stand pameran buku penuh terisi anak-anak manusia yang haus akan pengetahuan, wawasan dan literasi kebangsaan. Milenial, generasi terakhir abad ini, tampak hilir mudik membolak balik halaman-halaman buku: sastra, fiksi, sejarah, ilmu sosial, komik, dan humaniora, dll.

Tak ketinggalan, generasi tradisionalis dan baby boomers pun ikut nebeng melihat kembali narasi-wacana lama yang hidup pada eranya ditampilkan melalui buku-buku yang dihadirkan Patjar Merah, sebuah festival literasi yang digelar secara berkeliling yang berbasis di Yogyakarta.

Kerumumanan penonton yang memadati stand-stand buku ini tidak terjadi pada beberapa kegiatan festival JILF yang lain, seperti simposium atau diskusi. Salah satu alasannya adalah karena kedua kegiatan itu dilaksanakan pada pagi hingga siang hari.

Namun, ketika hari beranjak senja, kelihatan sekali pengunjung mulai mendatangi lokasi pameran. Dalam acara Author’s Talk, “Reading Night” serta pentas musik dan teater yang diadakan pada waktu-waktu ini biasanya dipadati publik seni ibukota, yang selain melihat-lihat buku, tetapi juga serentak mengikuti acara-acara tersebut.

Namun, justru acara utama JILF seperti simposium dan diskusi karya jarang sekali diikuti publik, selain penulis dan penerbit partisipan dan beberapa peserta lainnya.

Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Yusi Avianto Pareanom mengafirmasi realita tersebut. Di mana banyak orang yang berhalangan hadir pada waktu-waktu itu karena persis dilakukan pada saat jam kerja dan sekolah/kuliah.

Makanya, hanya pada acara-acara sore hari yang memiliki banyak penonton. Yusi berpikir, barangkali event JILF di masa mendatang digelar pada masa-masa liburan sekolah, sehingga lebih bisa mengakomodasi kepentingan penonton untuk datang ke acara.

“Banyak teman-teman yang mengatakan berhalangan karena jam kerja,” katanya di TIM Jakarta, Selasa (27/8).

Seperti Menanam Benih

Banyak lukisan idiom klasik terkenal untuk menggambarkan tentang sebuah permulaan usaha dalam menggapai suatu cita-cita atau kesuksesan tertentu. Pada intinya, idiom-idiom itu mau menarasikan betapa pentingnya sebuah langkah awal, tempat di mana beton-beton perjuangan harus dimulai.

Demikian halnya dengan perhelatan JILF perdana ini. Sebagai sebuah langkah awal dan baru, JILF tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi untuk mengatakan secara hiperbolis, bahwa event ini bakal menjadi pusat literasi dan ekosistem sastra global.

Memang, dengan tingginya dukungan dan sambutan yang luar biasa dari pemerintah setempat dan penulis-penulis luar negeri dan lokal, harapan itu dapat dengan mudah diwujudkan. Tetapi hal itu tidak seperti membalik telapak tangan. Masih ada langkah panjang yang harus dilalui tiap musimnya.

Yusi, yang juga adalah Direktur dan kurator JILF 2019 melihat, kesuksesan event perdana ini menjadi tonggak arah di mana dan bagaimana Komite Sastra DKJ harus berkiprah lebih jauh dan luas pada medan sastra Indonesia di masa-masa mendatang.

Meski tidak semua lini aktivitas sastra, misalnya kepentingan penebitan karya sastra menjadi tanggung jawab khusus Komite Sastra, tetapi ekspektasi akan terciptanya bangunan literasi dan eskositem sastra yang kuat tetap menjadi komitmen penyelenggara.

Penulis novel “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi” (2016) itu menandaskan, kekuatan untuk membangun fondasi literasi sastra bertaraf internasional ini berpijak pada keutuhan gagasan untuk berani memulai sesuatu yang baru. Terutama dalam merespon kegelisahan eksklusivitas penulis-penulis beken internasional yang meredupkan panggung penulis Negeri Selatan (Asia, Afrika, Amerika Latin).

Bagi Komite Sastra, JILF seperti seorang petani yang sedang menggarap lahan baru, lalu menaman benih terbaiknya, dan merawat hingga waktunya menuai. Karena itu, ia berharap program ini dilakukan berkelanjutan dan mendapat atmosfer apresiasi yang baik dari banyak kalangan.

“Kita ini membuka lahan, menanam benih, mungkin yang menikmatinya generasimu atau generasi setelahmu. Tapi kalau bisa dipercepat, mari kita percepat,” terangnya.

Memperkaya Benih

Komite Sastra DKJ memandang, template atau format lahan baru tersebut sudah ideal bagi terciptanya ruang di mana para penulis, penerbit dan komunitas sastra dapat berinteraksi, berdialog, dan terhubung dalam kondisi kesalingpengenalan.

Untuk mengisi dan memperkaya benih yang ditabur, Komite Sastra berencana akan berkolaborasi dengan Komite-Komite lain yang di DKJ pada event mendatang.

Salah satunya adalah dengan Komite Tari DKJ. Menurut Yusi, dapat terjadi di mana Komite Tari menampilkan salah satu pentas yang merespon atau membaca salah satu buku fiksi-sastra tertentu ke dalam gerak tari.

Kolaborasi lainnya adalah dengan Komite Teater dan Komite Film dan Komite Musik.

Pentas teater yang ditampilkan pada JILF 2019 adalah Teater Satu Lampung melalui karyanya “Jalan Yang Tak Ditempuh”. Ada juga tiga pentas musik dan pemutaran film “Atheis” karya Sjuman Djaya (1974) yang diadopsi dari roman Achdiat K. Mihardja.

Memperluas Program

Bangunan literasi sastra pada dasarnya masih terus diperluas. Di tengah gairah literasi Indonesia yang kian rendah, perlu jalan alternatif untuk membongkar pagar-pagar eksklusivitas dan klaim kepemilikan, bahwa sastra hanya perlu digeluti oleh orang-orang hebat di lingkup terbatas.

Komite Sastra menyadari sungguh adanya wilayah yang tak terjangkau tersebut. Karenanya, di masa mendatang, Komite Sastra sebagai programer JILF berniat mengadakan diskusi-diskusi pre-festival di kampus-kampus.

Selain itu, Komite Sastra juga akan mengadakan program Jakarta Award, ruang di mana penulis-penulis terbaik dari Negeri Selatan diberi penghargaan atas karya-karya mereka. Tahun ini, program tersebut tidak sempat diadakan, meski sudah masuk ke dalam program tentantif.

Penulis yang masuk nominasi Jakarta Award adalah penulis Negeri Selatan yang berkarya atau menulis secara serius sejarah kebangsaannya dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan universal.

Itulah gagasan yang melandasi JILF, bahwa ada kesadaran akan pentingnya keterhubungan baru antar penulis dari Negeri Selatan. Karena banyak penulis dari negeri ini karyanya bagus,tetapi kurang mendapat perhatian internasional.

JILF dan Jakarta Award kemudian menjadi ruang atau platform di mana para penulis berkualitas tersebut bisa mendapatkan tempat, tentu setelah memenuhi standar karya bermutu.

Panggung Bagi Penulis Lokal

Di kancah internasional, masih sangat sedikit penulis Indonesia yang dikenal. Di antara beberapa nama yang sering disebut-sebut saat ini adalah Eka Kurniawan.

Nama Eka melejit berkat karya monumentalnya “Cantik Itu Luka” (2004) yang membius kacamata pembaca Barat, termasuk penerbit-penerbit buku. Novelnya itu kini sudah diterjemahkan hampir ke dalam 30-an bahasa internasional dan meraih penghargaan World Readers’ Award (2016).

Eka dianggap sebagai representasi kesusastraan Indonesia masakini. Namanya pun sering disebut dalam paparan simposium JILF oleh beberapa penulis Barat, termasuk oleh Laurie Callahan, penulis Amerika Serikat.

JILF berniat menghapus klaim-klaim tersebut dengan menghadirkan banyak penulis lain Indonesia yang karya-karyanya juga bermutu, baik dari lingkup sastra ataupun dari topik-topik humaniora, yang karyanya pantas dibaca masyarakat internasional.

Pada tataran itulah JILF diadakan untuk melahirkan konsep baru bagi para penulis dan penerbit luar untuk mengenal lebih banyak penulis lokal yang karyanya juga bagus.

Dalam hampir semua acara JILF, baik simposium, diskusi dan autor’s talk serta malam pembacaan karya, ditampilkan beberapa penulis lokal yang karyanya dinilai mumpuni untuk diperhatikan dan diperbincangkan.

Namun demikian, tetap dengan catatan, bahwa para penulis didesak untuk menjaring koneksi yang luas dengan penulis dan penerbit luar, termasuk agen-agen penerbit, agar karya-karya mereka dapat dipublikasikan di luar negeri. Karena kerja keagenan ini sangat penting dalam penyebaran karya seorang penulis.

“Soal agen penerbitan, ke depan menjadi sangat penting. Karena kita ini punya barang tapi tidak punya penjual. Kita punya tapi sangat sedikit,” papar Yusi.

*Daniel Deha

Baca Juga

Ini Delapan Pameran Seni Rupa Terbesar Tahun 2020

Portal Teater - Di negara manapun, pameran seni rupa tidak hanya dapat mengubah reputasi seniman dan karyanya, tapi juga kehidupan dan imajinasi publik yang menyerap...

Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Portal Teater - Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari...

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

Terkini

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...