Kala Teater Angkat Wacana Feminitas ke Ruang Kesenian

Portal Teater – Pagelaran Djakarta Teater Platform (DTP) 2019 telah memasuki pekan kedua. Mengalami pekan ini, publik seni ibukota disuguhkan dengan pertunjukan teatrikal dari “Negeri Daeng” Makasar, yaitu Kala Teater berjudul: “Suara-Suara Gelap: Dari Ruang Dapur”.

Pertunjukan ini bertempat di Gedung Teater Luwes Institut Kesenian Jakarta, Senin (15/7), pukul 20.00 WIB dan berlangsung selama kurang lebih satu jam.

Melalui pertunjukan ini, Kala Teater mempresentasikan pengalaman traumatik perempuan-perempuan di kota Makasar akibat perlakuan dan tindakan pelecehan yang dilakukan oleh oknum laki-laki dengan beragam modus.

Representasi suara korban (baca: perempuan/responden) dihadirkan secara langsung melalui rekaman audio yang terus berbicara beriringan dengan adegan-adegan yang diperagakan oleh kelima aktor: Dwi Lestari Johan, Nirwana Aprianty, Sukarno Hatta, Wawan Aprilianto dan Mega Herdiyanti.

Dalam pengakuan-pengakuan responden, tampak bahwa benang kusut yang membelenggu kaum perempuan kota Makasar adalah tindakan pelecehan seksual, baik dilakukan oleh sahabat sendiri, tukang ojek, pengendara mobil, begal, dan juga orang-orang tidak dikenal lainnya.

Shinta Febriany, sutradara pertunjukan ini, secara gamblang dan vulgar menggambarkan perlakuan itu lewat peragaan aktor perempuan yang meremas payudara, atau aktor laki-laki yang berupaya terus menggapai bagian tubuh tersebut.

Menjadi jelas, bahwa pertunjukan ini ingin menggambarkan problem struktural yang mengakibatkan perlakuan buruk terhadap perempuan di kota Makasar, yakni wacana seksualitas yang belum pernah didekati sebagai persoalan moral dan politis. Perlakuan itu seolah menjadi lazim dan banal. Dan korbannya selalu merupakan mahasiswi.

Naskah lakon ini ditulis oleh sang sutradara sendiri: Shinta Febriany. Lakon ini merupakan penciptaan dalam proyek “Kota dalam Teater” yang digagas oleh Kala Teater sejak 2015 sebagai bagian dari upaya pembacaan isu-isu kota berdurasi 10 tahun.

Kala Teater sendiri sejak pendiriannya memiliki visi untuk mengasah kepekaan (respect) antarmanusia melalui berbagai program dan kegiatan seperti penciptaan teater, festival, diskusi, penelitian, pelatihan, dan residensi.

Pemain, sutradara dan kru Kala Teater foto bersama Komite Teater setelah pementasan.
Pemain, sutradara dan kru Kala Teater foto bersama Komite Teater setelah pementasan.

Suara Bungkam dari Ruang Dapur

Berbeda dari aktor-aktor lain selama pagelaran DTP, Kala Teater menampilkan aktor dan properti yang khas, untuk menunjukkan bahwa suara kaum perempuan kota Makasar telah dibungkam oleh kultur dan struktur sosial yang kaku.

Simbolisasi keterbungkaman itu dipresentasikan Kala Teater melalui aktor yang berwajah panci. Selain berwajah panci, di atas kepala para aktor, panci-panci itu dirangkai dengan komposisi tertentu menggunakan senar.

Panci-panci itu, yang secara kultur merujuk kepada “ruang dapur”, menyingkap aneka wacana ke ruang publik. Salah satunya adalah soal pembagian kerja.

Untuk tidak membahas teori Marxis di sini, pembagian kerja ini secara kultur dianggap lazim oleh masyarakat di manapun: laki-laki bekerja di luar rumah (profetik), sedang perempuan bekerja di dalam rumah (domestik).

Pembagian kerja ini kemudian merembes kepada wacana pembungkaman yang naif, bahwa perempuan harus bekerja di dalam rumah, sehingga wilayah kekuasaannya adalah “ruang dapur”.

Di ruang sempit itu, perempuan dikondisikan agar hanya bergulat dengan dirinya sendiri, sehingga kekuasaan yang dimilikinya pun kecil. Sementara laki-laki selalu mengklaim sebagai pemilik kekuasaan di ruang-ruang publik.

Itulah mengapa, melalui pertunjukan ini, Kala Teater ingin memperlihatkan bahwa justru mayoritas pelecehan seksual terjadi di ruang-ruang publik; di jalan, di tempat rekreasi, di kampus, atau di tempat umumnya lainnya.

Melalui pertunjukan ini, Kala Teater ingin menyingkap kedok tersebut dan membawa wacana tersebut ke ruang publik. Suara-suara yang terbungkam, wajah-wajah perempuan yang ditutupi panci, mesti dibuka selebar-lebarnya, bukan hanya untuk mendapat panggung kekuasaan, tetapi juga untuk didengarkan.

Suara-suara gelap itulah yang justru harus menciptakan wacana baru dalam relasi kekuasaan dan seksualitas, dengan seksualitas sejak zaman modern telah dikomodifikasi menjadi “objek” kekuasaan.

Karena itulah, selama pertunjukan, para aktor (perempuan) berusaha melawan dan menolak simbol-simbol kekuasaan yang dipakai laki-laki untuk menjatuhkan martabatnya. Mereka tidak hanya melawan dengan fisik, tetapi bagaimana wacana itu mestinya diletakkan dalam ruang yang inklusif dan adil.

Salah satu adegan dalam pementasan "Suara-Suara Gelap: Dari Ruang Dapur".
Salah satu adegan dalam pementasan “Suara-Suara Gelap: Dari Ruang Dapur”.

Digarap Melalui Proses Riset

Shinta sebelumnya menuturkan, karyanya itu bercerita tentang kehidupan perempuan kota Makasar, yang terhimpit oleh dominasi maskulinitas. Salah satu bentuk relasi yang tidak seimbang itu adalah banyaknya kafe di kota itu yang diminati dan didatangi oleh kaum laki-laki.

Dalam bahasa yang lain, Shinta melihat bahwa dominasi laki-laki begitu kental dalam struktur sosial dan kultur di kota terbesar di kawasan timur Indonesia itu.

Sebagai dbagian dari proyek Kala Teater, Shinta dan timnya akhirnya melakukan riset khusus untuk mencari dan menemukan latar-konteks yang turut memengaruhi kelaziman problem tersebut di masyarakat.

Hasil riset tersebut kemudian diolah menjadi data yang lengkap, termasuk rekaman suara responden. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir semua bentuk perlakuan tidak adil disebabkan oleh relasi gender yang tidak seimbang antara perempuan dan laki-laki, misalnya melalui tindakan pelecehan seksual.

Hampir pasti, ketidaksetaraan itu disebabkan oleh instrumen kekuasaan (daya) yang dipakai laki-laki untuk “melemahkan” otonomitas perempuan, dan bukan untuk melemahkan kekuasaan yang dimilikinya.

Lewat pelecehan seksual, laki-laki sebenarnya tidak berhak atas ketubuhan perempuan, tetapi instrumen kekuasaan, seperti uang, harta, dan prestise menjadi modus yang paling sering digunakan laki-laki untuk menikmati tubuh itu.

Shinta Febriany

Shinta Febriany adalah penyair, penulis naskah, dan sutradara teater yang menetap di Makassar. Dia bekerja di Kala Teater sebagai Direktur Artistik. Ia meraih gelar master di Prodi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Selama karirnya, ia pernah meraih penghargaan sebagai Aktris Terbaik Festival Teater Se-Sulawesi Selatan 1998 dan juga Aktris dan Sutradara Terbaik Festival Teater Se-Sulawesi Selatan 2002. Atas dedikasinya di bidang teater Shinta dianugerahi penghargaan Celebes Award dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di tahun 2007.

Pada awal tahun 2000-an, ia menerima fellowship dari Japan Foundation untuk pengenalan kehidupan teater di beberapa kota di Jepang (2000) dan meraih Empowering Women Artists dari Yayasan Kelola, Jakarta (2007-2009).

Shinta banyak berbicara tentang gagasan teaternya di Indonesian Culture Workshop di Universitas Tasmania, Launceston, Australia (2005), Asian Dramaturgs Network Meeting di Yokohama, Jepang (2017), Artist Platform International Coproduction Fund di Bangkok (2018), dan Asian Women Performing Arts Collective Meeting di Hue, Vietnam (2018).

Pada tahun 2018, ia pernah tinggal di beberapa kota di Inggris dalam program Residensi Penulis Indonesia dari Komite Buku Nasional. Sebagai penulis yang produktif, naskahnya turut dimuat dalam buku antologi: “Di Luar 5 Orang Aktor” terbitan IDRF Yogyakarta.

*Daniel Deha

Baca Juga

Ini Delapan Pameran Seni Rupa Terbesar Tahun 2020

Portal Teater - Di negara manapun, pameran seni rupa tidak hanya dapat mengubah reputasi seniman dan karyanya, tapi juga kehidupan dan imajinasi publik yang menyerap...

Deal! Hilmar Farid Jawab Keresahan Pelaku Seni dan Budaya

Portal Teater - Penghapusan Direktorat Kesenian dari struktur Direktorat Kebudayaan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim awal tahun ini memunculkan polemik di kalangan...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Terkini

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...