Karya Seni, Ruang Bermartabat Suarakan Ketertindasan Ibu Bumi

Portal Teater – Menarik jika kita dapat meringkas narasi yang tepat untuk menghubungkan wacana feminisme dengan konsep ekologi, yang dalam mitos bangsa-bangsa, perempuan dilihat sebagai ibu bumi, yang memberikan kesuburan dan kelahiran bagi alam ciptaan, termasuk manusia.

Salah satu upaya untuk menjalin benang-benang kusut dari seliweran praktik dominasi dan kapitalisme partriarkis, yang memandang perempuan dan alam sebagai dua entitas yang mesti dikeruk dan ditindas, adalah gerakan ekofeminisme.

Dua padanan kata ini: ekologi dan feminisme, tidak berdiri sendiri, melainkan tersusun menjadi satu kerangka berpikir teoretik untuk meneropong mengapa norma-norma ketidakadilan dalam struktur patriarkat diwariskan dan bagaimana meletakkan perempuan sebagai subjek dalam keterhubungannya dengan bumi/lingkungan.

Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta berupaya merespon isu tersebut dengan mengangkat tema “ekofeminisme” dalam perhelatan tahun kelima Proyek Seni Perempuan Perupa (PSPP) kali ini.

Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua DKJ Danton Sihombing mengatakan, baik ekologi maupun feminisme berupaya memecahkan dominasi sistem hierarki atau kapitalisme manusia atas alam, atau dominasi laki-laki atas perempuan.

Proyek seni ini juga bertujuan mengakhiri mentalitas dualistik atau konstruksi biner yang memandang entitas sebagai sesuatu yang bertentangan: kebaikan vs kejahatan, alam vs kapitalisme, atau perempuan vs laki-laki.

“Apapun interpretasi terhadap ekofeminisme, perhelatan Proyek Seni Perempuan Perupa mengambil perna sebagai lensa feminis dalam memandang hubungan antara gender dan masalah lingkungan,” tulis Danton dalam Katalog PSPP 2019.

Menurut Danton, kerusakan lingkungan jelas merupakan masalah feminis. Karena itu sangat membutuhkan keterlibatan perempuan yang mampu menyuarakan ekspresi ketertindasannya melalui cara-cara yang elegan dan bermartabat. Lewat karya seni adalah salah satunya.

Prof. Dr. Toeti Heraty bersama Plt. Ketua DKJ dan perempuan perupa pada pembukaan PSPP. -Dok. Eva Tobing/DKJ
Prof. Dr. Toeti Heraty bersama Plt. Ketua DKJ dan perempuan perupa pada pembukaan PSPP. -Dok. Eva Tobing/DKJ

Membuka Gagasan Penciptaan

PSPP sendiri merupakan agenda tahunan Komite Seni Rupa DKJ untuk mendukung peran unik perempuan dalam menawarkan kontribusi terhadap perkembangan seni kontemporer Indonesia lewat isu-isu domestik, reproduksi, feminisme, serta karakteristik patriarki dalam kebudayaan dan tradisi Indonesia.

Dengan term “proyek”, event ini berniat memfasilitasi “proses” dalam penciptaan karya seni. Mengedepankan keterbukaan gagasan dengan pendekatan paralel yang mencakup penelitian, intevensi publik, diskusi, pameran, dan penerbitan buku, menjadi garapan utama proyek ini.

Tahun ini, PSPP dikuratori Saras Dewi dengan mengusung tajuk “Siklus Buana”. Adapun lima perempuan perupa yang terlibat dalam proyek ini adalah Citra Sasmita, Dea Widya, Dewi Candraningrum, Prilla Tania, dan Tita Salina.

Saras Dewi. -Dok. portalteater.com
Saras Dewi. -Dok. portalteater.com

Citra Sasmita lewat karyanya “Timur Merah project II, The harbour of Restless Spirits” ingin memperlihatkan relasi manusia saat ini yang mengedepankan hierarki, otoritas dan diskriminasi.

Bagi Citra, tubuh perempuan juga adalah tubuh alam yang menjadi korban ganasnya budaya patriarki.

Dea Widya adalah seorang arsitek. Latar belakang ilmunya ini yang membawanya kepada gagasan untuk menghasilkan karya berjudul “Naked Home”, yang terinspirasi dari konstruksi rumah model Eropa di sebuah tempat di Yogyakarta.

Lewat karyanya, Dea menyusun kembali rumah-rumah yang terbengkalai, bercakap-cakap dengan roh yang bersemayam dan mendengarkan keluh kesah mereka.

Dengan konstruksi rumah yang telanjang itu, Dea ingin mengkritisi ruang perempuan yang makin terhimpit, terpojok dan disembunyikan oleh sistem patriarki yang kental pada masa kolonial.

Dewi Candraningrum menampilkan dua karyanya, yakni “Naga Kendeng” dan “Lesung Kendeng”. Lukisan Dewi merupakan saksi bisu dari praktik diskriminatif yang dialami masyarakat Gunung Kendeng (Jawa Tengah) akibat tambang semen.

Dalam lukisannya, Dewi menggunakan salah satu bahan (selain arkrilik) dari cairan semen, sehingga terlihat jelas kontur lukisan yang agak kasar.

Menariknya, Prilla Tania lewat karyanya seolah ingin menarik penonton (publik) ke dalam arena lukisannya. Lukisannya lebih merupakan sebuah karya eksperimentasi, berbentuk singular.

Lewat karyanya berjudul “Ibu Termenung Bapak Merenung Anak Menanggung Tak Usah Sangsi Nurani Beraksi Alam Bersaksi”, Prilla ingin memperlihatkan betapa alam dan kapitalisme telah hidup berdampingan, seolah tanpa sekat.

Terpancang di dinding setinggi kira-kira 2 meter dan panjang sekitar 6 meter, lukisan Prilla ingin mempertontonkan sirkulasi revolusi industri, yang tidak saja mengubah tatanan dunia, tapi juga serentak mrekonstruksi paradigma estetik manusia untuk melihat di mana dirinya ditempatkan dalam sirkulasi tersebut.

Berbeda dengan perupa lainnya, Tita Salina lewat karyanya, yang terpajang persis di pintu masuk ruang pameran, mengekspresikan keresahannya terhadap praktik buruk para pengusaha sawit di kampung halamannya.

Karya Tita Salina. -Dok. Eva Tobing/DKJ
Karya Tita Salina. -Dok. Eva Tobing/DKJ

Berjudul “Antrhropocentric Annual Ritual”, karya ini berupa kotak kaca yang diberi lampu warna merah (simbol kebakaran/api), dengan lubang seukuran kepala manusia di bagian bawahnya.

Lubang itu dimaksudkan agar penonton dapat bereksperimentasi untuk merasakan dari dekat (sebagai ungkapan empati korban kebakaran) bagaimana hidup di lingkungan yang berkabut asap akibat kebakaran lahan gambut.

Pada dinding di sebelahnya, bergantungan masker-masker bertuliskan bahan-bahan yang merupakan produk dari kelapa sawit, misalnya bimoli, detergen, mentega, shampo, es krim, dll.

Sudah Tahun Kelima

Sebagai wujud komitmen untuk membuka gagasan-gagasan penciptaan untuk merespon isu-isu kontemporer, Komite Seni Rupa DKJ menggelar PSPP sejak tahun 2014.

Pada tahun pertama, PSPP bertajuk “Wani Ditata” untuk merespon delapan seniman perempuan yang menelusuri Dharma Wanita dalam konstruksi sosial dan politik, mencerna bagaimana negara memposisikan wanita dalam masyarakat.

Di tahun keduanya, PSPP mengusung tema “Bon Seni”, untuk mendudukkan relasi kuasa negara atas lembaga pemasyarakatan perempuan.

PSPP tahun ketiga mengangkat tema “Tulang Punggung” untuk menyoroti persoalan buruh perempuan di Indonesia.

Tahun lalu, PSPP lagi-lagi menggelar pameran dan diskusi bertemakan “Yang Tersingkap” di balik jilbab yang direspon enam perempuan perupa.

Pengunjung melihat-lihat lukisan Prilla Tania. -Dok. Eva Tobing/DKJ
Pengunjung melihat-lihat lukisan Prilla Tania. -Dok. Eva Tobing/DKJ

Tahun ini, dengan mengusung tema “Ekofeminisme, proyek (pameran dan diskusi) ini akan berjalan sepanjang 15-29 Oktober 2019 di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Malam Pembukaan PSPP dihadiri oleh Danton Sihombing (Plt. Ketua DKJ dan Ketua Komite Seni Rupa DKJ)⁣, Saras Dewi (kurator PSPP 2019)⁣, dan tiga perupa perempuan: Citra Sasmita, Dea Widya, dan Prilla Tania.

PSPP dibuka oleh Prof. Dr. Toeti Heraty dan dilanjutkan dengan penampilan musik oleh Monica Hapsari.

*Daniel Deha

Baca Juga

Goethe-Institut Gelar Tiga Acara Budaya Daring

Portal Teater - Goethe-Institut Indonesien sepenuhnya menyadari bahwa pandemi global virus Corona (Covid-19) bakal menghentikan semua acara kebudayaan selama paruh pertama tahun ini. Untuk...

Jokowi: Glenn Fredly Lebih Dari Seorang Musisi

Portal Teater - Presiden Joko Widodo menyampaikan kabar duka atas berpulangnya musisi gaek Glenn Fredly pada Rabu (8/4) malam. Glenn diketahui meninggal karena penyakit...

Presentasi Fotografi Performans di Masa Krisis

Portal Teater - 69 Performance Club, sebuah platform seni performans yang digagas Forum Lenteng (Jakarta), kembali menyapa publik seni lewat fotografi performans. Seni performans ini...

Terkini

PSBB untuk Jakarta Berlaku Selama Dua Minggu

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama dua minggu ke depan, mulai 10-23 April 2020. Penetapan PSBB...

Kemenparekraf Talangi Pekerja Pariwisata dan Seni

Portal Teater - Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berencana memberikan stimulus fiskal bagi pekerja di bidang pariwisata dan seni. Pendataan akan diperketat agar tidak...

Temuan Kasus Baru Melonjak Drastis

Portal Teater - Temuan kasus baru pasien terkonfirmasi virus Corona (Covid-19) di Indonesia melonjak drastis pada Kamis (9/4). Otoritas melaporkan, ada 337 kasus baru...

500 Juta Penduduk Dunia akan Jatuh Miskin Karena Corona

Portal Teater - Oxfam, sebuah organisasi nirlaba dari Inggris yang fokus pada penanggulangan bencana dan advokasi, mengatakan pada Kamis (9/4) bahwa dampak dari penyebaran...

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...