“Kebanalan Arsip” dalam Arsitektur, Milenial dan Seni Rupa Pertunjukan

Portal Teater – Tulisan ini tidak bermaksud untuk “sok tahu” meskipun akan terkesan “sok tahu”. Sebab kalau mengutip ucapan Dendi Madya (sutradara Artery Performa) di mana dirinya harus lebih hati-hati ketika me-review pertunjukan, karena ia merasa tidak adil memperlakukan sebuah pertunjukan yang latihan berhari-hari, kemudian dengan gampangnya yang menonton satu atau dua jam saja, lalu “ngoceh” seenaknya sendiri (sekarepe dewe).

Tetapi kadang di sisi lain, penonton sudah ditakdirkan lebih “sok tahu” ketimbang yang melakukan proses pertunjukan, apalagi mereka yang menulis dengan cara memberikan catatan kritis atau pembacaan terhadap pertunjukan yang sudah dipanggungkan.

Saya sejujurnya sedikit terganggu dengan teksnya yang juga “sok tahu”, barangkali ia ragu tentang kemampuan pembacaannya atau sebetulnya ia tidak percaya diri melakukannya.

Maka saya yang ingin disebut “sok tahu”, coba melakukan pembacaan pada pertunjukan Lab Teater Ciputat pada tanggal 9 Juli 2019 lalu dalam rangkaian Djakarta Teater Platform yang diselenggarakan Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta.

Karenanya saya hanya melihat dalam tiga hal berdasarkan ruang “kenyamanan” pertunjukannya sebagai berikut;
Arsip yang “Banal” dan “Membias”.

Dari awal saya sudah diarahkan bahwa penonton pertunjukan Lab Teater Ciputat untuk memasuki gedung Graha Bakti Budaya TIM; bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pengunjung museum. Dan itu sudah dijelaskan oleh Bambang Prihadi pada tulisan sebelumnya, akhirnya saya juga mau tidak mau menjadi pengunjung.

Meskipun di kepala saya: kayak apa ya gedung yang biasa masuk jadi museum? Namun sesuatu yang menarik sebelum pengunjung masuk; pembagian wilayah Jakarta, luar Jakarta, bahkan luar negeri (katanya ada) cukup menjadi riuh bagi pengunjung yang berdatangan mengantri. Terutama saya juga yang berasal dari Bangkalan, tentu tidak terlalu banyak dari luar daerah, sementara lainnya kelima wilayah itu cukup tertib mengantri sekalipun pertanyaan-pertanyaan, “Elo kan Jakarta Timur? Kok elo ada di Jakarta Barat/Elo juga Jakarta Barat, adanya di Jakarta Utara/Hayo… gak ada kan Bangkalan, Mas..oh ada luar Jakarta adanya.”

Hal ini cukup menjadi semacam ‘bias’ dan ‘banal’ bagi saya. Tapi saya lolos begitu saja masuk ke wilayah Jakarta Selatan di mana ada perilaku ketidakjujuran di dalamnya, jangan-jangan pekerja seni itu memang tidak jujur ya, saya perhatikan ada seniman hebat nyelonong begitu saja di depan saya. Berbeda nampaknya pengunjung lainnya yang berlatar belakang mahasiswa, guru, dosen, pekerja kantoran, dll, saya justru meyakinkan mereka lebih jujur ketimbang para pekerja seni. Pemetaan ruang sudah berhubungan dengan cara kerja arsitektur (berdasarkan buku-buku yang saya baca).

Kalau mengutip tanggapan Afrizal Malna pada biografi penciptaan sehari setelah pertunjukan berlangsung, tepatnya pada tanggal 10 Juli 2019 memberikan catatan apa yang dilakukan Bambang Prihadi sebagai usaha merespon arsitektur dari gedung GBB itu sendiri yang dipenuhi dengan arsip-arsip teater masa lalu misalnya berupa kliping koran seputar peristiwa teater di masa lalu khususnya di Indonesia, poster-poster yang pernah dilakukan beberapa grup teater Indonesia; mpu-mpu yang pernah mentas di gedung Graha Bakti Budaya, dan beberapa serba-serbi berita teater lainnya.

Afrizal Malna menyayangkan kalau arsip itu memang tidak menjadikan apa-apa dalam area arsitektur yang dibangunnya. Saya cukup merasakan itu. Sebutlah memang tidak terlalu banyak membaca tentang teater di masa sebelumnya yang sebenarnya bisa diakses dengan mudah, karena rentan waktunya juga tidak terlalu terlampau lama menyebabkan seperti mendapatkan efek ‘bias’ dari arsip itu sendiri sekaligus pengunjung “museum” yang mengantri di belakangnya.

Saya seperti diburu-buru pengunjung arsip lainnya yang menurut saya kehilangan dari watak museum atau fungsionalis dari ruang pertamanya. Saya yang miskin pengetahuan tidak sempat lagi menyaksikan arsip itu karena kepenuhan pengunjung mengantri dengan lorong yang sempit. Maka “kebanalan” dari ruang arsip itu juga penting dicatat secara fungsinya, atau jangan-jangan memang data itu dikonstruksi begitu saja layaknya tim hore-hore untuk melepaskan kejenuhan sosial yang juga “banal”.

Akhirnya saya sedang bertanya-tanya: apakah arsip ini memang difungsikan bagi orang yang miskin ilmu atau memang perangkap dalam fungsi arsitektur.

Iain Mackintosh (1993:104) menyebutkan: “more often the breakdown is the result of functionalist fallacy. This trap has engulfed those architects of recent generations who were trained to believe that form follows function. Such architects required theatrical needs be written down in the form of a quantified specification: so many seats, so many legroom, perfect (always) sightlines, so many lighting bridges and proscenium arch of this or that width. Features cannot be measured were excluded or rather left to the architect unaided” (Architecture, Actor, and Audience. London and New York).

Pernyataan Mackintosh di atas menunjukkan hubungan arsitektur dengan pelaku teater sering kali berbenturan antara fungsional dengan kebutuhannya kalau tidaklah cermat menghitung dan mengukurnya, makanya sepesifikasi yang terukur menurutnya juga sangatlah penting.

Hal itu juga diperkuat Cathy Turner (2015:84): “The constructivists are identified with the former strand, with theatre correspondingly focused on process and model, despite the continuance of representational elements. In the early years of the Revolution it is evident that the provisional, transitional and transformational aspects of new architectural developments tend towards an architecture that is as rhetorical as it is functional, or, rather, its function is primarily rhetorical. In this respect, it shares many characteristics with theatre design and production”(Dramaturgy and Architecture Theatre, Utopia and the Built Environment. England).

Caranya menurut Cathy Turner adalah; (1) konstruktivis diidentifikasi dengan ikatan sebelumnya, dengan teater yang sesuai fokus pada proses dan model, meskipun adanya elemen representasional yang berkelanjutan, dan (2) retoris; berbicara karakteristik dari desain aristektur untuk sebuah produksi teater, di mana hal ini dilakukan pada era revolusi.

Maka gejala yang didapatkan dari adanya ruang pengetahuan itu lewat begitu saja, sehingga saya harus mengulang dan menyesalkan keberadaan fungsi media rekam saya tidak dimanfaatkan secara baik. Justru menjadi kesal pada diri sendiri yang kurang prepare dalam menghitung museum yang ada dalam bayangan Bambang Prihadi. Bahkan bocoran-bocoran ruang makeup luput dari tubuh saya, karena lagi-lagi pengunjung cukup sesak di belakang yang akhirnya mereka segera cepat-cepat duduk di kursi-kursi gedung yang bayangan saya juga dibongkar kursi-kursi yang mencemaskan tersebut.

Maka solusi lain menurut Cathy Turner adalah: “Thus, one way to think about architecture and theatre in relation to each other is not to treat the constructivist stage sets as self- contained, despite their frequently innovatory independence as free standing structures, but to consider them in relation to the spaces they occupied, whether in the theatre or the street” (Cathy Turner: Dramaturgy and Architecture Theatre, Utopia and the Built Environment. England, 2015:93).

Cathy Turner menawarkan cara lain yakni adalah ketika menghubungkan arsitektur dengan teater tidak memperlakukan set panggung konstruktivis sebagai mandiri. Tidak membiarkan pengarah artistik bekerja bebas dan personal tanpa mempertimbangkan etika arsitek sekalipun independensi dalam teater sering inovatif sebagai struktur yang selalu berdiri bebas. Kecuali ruang-ruang terbuka untuk teater itu sendiri, begitu juga dengan area yang sifatnya publik seperti di jalan.

Seharusnya menurut saya kerja arsitektur ini justru lebih bisa menjadi “banal” dan “bias” ke mana-mana dalam wilayah kontemporer yang sifatnya pergerakan. Bahkan saya membayangkan gagasan arsitektur arsip-arsip yang dipilih itu sebagai data “kekerasan” dalam teater, dalam pergerakan pengetahuan orang-orang yang “bodoh” (dalam teater) seperti saya sehingga berpotensi mengkonfirmasi kembali pengambilan konteks-konteks kontemporer untuk menolak masa lalu tersebut sebagai perlawanan.

Barangkali “kebanalan” itu bisa terjadi sepanjang antrian pengunjung museum dengan berbagai macam cara baik itu penggunaan slogan-slogan atau tindakan banal setiap performernya pada pengunjung museum sebelum kita semua menjadi beku kembali dan santai terhadap peristiwa yang akan terjadi di ruang berikutnya.

Pendapat ini juga tidak terlontar begitu saja, karena saya menyepakati pendapat Cathy Turner (2015:96): “This movement of the performance from one idea of architecture to another potentially reconfirms the contemporary reappropriation of the airfield and its context, rejecting its past associations with images of violence (including the recent violence of the Revolution, perhaps), instead creating images that violently take possession of its spaces, at times through the use of those ubiquitous written slogans” (Dramaturgy and Architecture Theatre, Utopia and the Built Environment. England).

Seni Rupa Pertunjukan Objek pada Ruang “Proscenium”

Kalau melihat latar belakang penciptaan ini; Bambang Prihadi menuliskan dari keresahannya dan perasaan “bosan” panggung proscenium dengan berbagai macam gejala yang diterimanya termasuk efek dari kobosanan itu sendiri.

Realitasnya di lapangan saya masih merasa dan melihat dari satu arah di mana para performer dan milenial berbaur, berdialog, dengan penjelasan teks-teks yang sangat mudah ditangkap secara umum. Kemudian milenial dengan digitalnya coba mengkonstruksi hal itu melalui sosial media baik foto atau video, yang akhirnya menjadi “hore-hore”.

Mereka menjadi bahagia, yang lantas dimaknai pertunjukan teater bukan saatnya lagi berpikir yang berat-berat, di mana Afrizal Malna juga mengungkapkan perlu pemikiran kembali oleh Bambang Prihadi untuk menyelesaikan metodenya; bagaimana teater sudah menjadi peristiwa “hore-hore” dengan keceriaan milenial dalam ruang yang dibangun secara arsitektural. Dengan itu arsitek pada era pertama kali juga harus membangun gedung Graha Bakti Budaya tidak kecewa dengan segala rincian biaya maupun desain arsiteknya.

Mereka barangkali layak berpesta-pesta melihat pertunjukan Bambang Prihadi yang “hahahihi”, yang juga asyik untuk dinikmati ketimbang berpikir keras setelah pertunjukan, yang dikhawatirkan nantinya berkeinginan bunuh diri. Barangkali pilihannya tepat pada desainer GBB waktu itu dengan bentuk ruang auditorium.

“Building committees were greatly attracted by the engineers promise that one building could serve many different purposes. The architect, who had been handed the detailed design for the auditorium by the engineer, was also relieved as he could then direct his energies to designing the lobby and facade or to gaining a reputation for being good at cutting cost” (Mackintosh: Architecture, Actor, and Audience. London and New York, 1993:108-109).

Di lain kesempatan, Mackintosh melihat fenomena ketertarikan hubungan komite bangunan dengan para insinyur menerapkan semua energinya ke dalam gedung tersebut, di mana Bambang Prihadi menggagalkan semua rancangan subyektivitas di kepala saya.

Saya melihat karya seni rupa pertunjukan yang saling utuh antara ruang satu dengan ruang lainnya. Tetapi seni pertunjukan objek; di mana milenial bagian dari karya seni rupa dengan cahaya dari handphone menjadi estetika seni rupa anggapan saya. Akhirnya hal itu semua tetap menjadi bagian subyektivitas dan obyektivitas yang terkadang berbelit dipersoalkan dan dibedah, karena barang tentu setiap insinyur dan komite bangunan punya tujuan masing-masing.

Begitu juga dengan pandangan Cathy Turner terhadap McLucas (2015:183): “If McLucas’s spaces are utopian in their presentation of hybrid space, a space where difference can be expressed and acknowledged, they are critical and even dystopian in their representation of the figure held in the grip of performative and disintegrating architectures that are past negotiation or control” (Cathy Turner: Dramaturgy and Architecture Theatre, Utopia and the Built Environment. England, 2015:183).

Maka saya juga akan berusaha melihat arsitektur itu dalam kedua pendapat tersebut seperti disutopian. Di mana persoalan yang berat untuk dipikirkan ditabrakan sekalian dengan beratnya milenial berada di era digital yang sudah memberatkan mereka secara tidak langsung. Kalau ruang McLucas kalau kata Turner bersifat utopis dalam presentasi ruang hibridanya, maka juga ruang yang dibangun Bambang Prihadi bersifat disutopian dalam representasi tentang kebosanan proscenium dalam cengkeraman arsitektur performatif dan disintegrasi yang melewati negosiasi atau kontrol masa lalu.

Saya melihat arsitektur dan seni rupa sudah mencengkeram begitu kuat pada milenial yang menurut saya juga terlalu asyik dengan cara kerjanya sendiri, kehebohannya sendiri, tanpa berpikir kemauan orang lain layaknya proses didaktif yang memunculkan komentar, dugaan, sinisme, kesebalan, dan kekesalan.

Milenial yang sangat dekat dengan saya layaknya melihat ruang publik pada umumnya, saya melihat di depan ada segerombolan orang dari entah berantah seperti Arjuna dll (hasil representasional), di mana sebelah saya ada gerombolan milenial yang asyik berbicara soal sosial medianya, hubungan peristiwa dengan digital.

Ini juga sebuah proses kinerja dramatis secara tidak langsung; yang cukup menyesakkan secara personal, tepatnya teknologi digital film semakin akrab dengan teater termasuk rekaman dokumenter ketika saya dan pengunjung lainnya masuk ke gedung Graha Bakti Budaya.

Analisa ini hampir menyerupai analisis Rebbeca Rouse (2013:115) terhadap film Erwin Piscator; “technologies can be understood to function in the following four modes in theater when employed in an integrated manner: dramatically, didactically, as commentary, and as scenery/costume/prop. These functions can relate to technologies both digital and pre-digital, and are helpful for understanding the role a technology plays on stage” (A New Dramaturgy for Digital Technology in Narrative Theater. Georgia).

Di ruang auditorium kalau saya membacanya sebagai pertunjukan arsip seni rupa, digital, yang memungkinkan menemukan caranya yang lebih detail untuk melahirkan “kebanalan” arsip.

Atau memang sengaja Bambang Prihadi secara sengaja mengacak-acak keutuhan arsip satu dengan arsip lainnya; memang tidak sengaja dihubungkan meskipun juga tetap berhubungan. Atau mungkin selama ini saya selalu dibutakan dengan namanya kausalitas, hukum sebab akibat yang menurut saya tidak penting dalam menguji penolakan dari sebuah pergerakan kontemporer, selain itu ada hal privat yang dibocorkan, padahal banyak seni yang tidak jujur pada estetika tubuhnya (seperti halnya mengasingkan diri melalui kata-kata, mengujinya lewat puisi, cerpen, novel, dan lain sebagainya), atau memang sengaja menyiksa orang-orang teater yang bodoh dan telat paham seperti saya.

Bahkan juga saya menganggap Bambang Prihadi menguji segala macam “kebosanan” itu lewat sinopsis TIM 2019 yang dianggap terlalu luas capaiannya. Indraswara (seorang yang terlibat diskusi) menyebutkan TIM bukan hanya sebatas pertunjukan teater, tapi juga musik, rupa, tari sejarah historiknya. Malah hubungan sosial antar masyarakat sudah menciptakan teater sendiri.

Saya tidak menyangkalnya; betul memang TIM sudah menciptakan diskriminatif sosial, keterasingan di kalangan seniman itu sendiri, muncul gejala buruk, keinginan atau hasrat menguasai, perebutan kekuasaan lembaga itu juga tetap sebagai hubungan sosial yang disebut Victor Turner sebagai drama sosial. Tapi mungkin Bambang Prihadi melihat TIM dalam kerangka gedung historiknya, asal usul penciptaannya, termasuk biografi penciptaannya kini yang lebih “ruwet”.

Bisa memungkinkan konsep drama sosial ini juga dimasukkan ke dalam arsip ruang auditorium tersebut; di mana gejala-gejala kesaksian, pengakuan, testimoni bisa menjadi data yang dikemas dalam seni rupa; sehingga nantinya terjadi “kebanalan” sebagai penolakan pertunjukan yang sudah mapan dan sudah diuji oleh mpu-mpu pertunjukan.

Memang kerja keras untuk menguji apa yang dilakukan Bambang Prihadi dalam menemukan metodenya, cara kerjanya, ruang bosannya, maupun diksi-diksi yang hanya ia sendiri mengerti dan pbulik tinggal setuju, tidak setuju atau merimannya, apakah arsip, seni rupa pertunjukan, pertunjukan objek, dan lain sebagainya; yang penting keluarnya diksi itu dari kita yang dimengerti oleh kita sekalipun bertolak belakang nantinya. Bahkan Bambang Prihadi saking tidak mengertinya kita sampai turun tangan memberi tahu bahwa kita harus pindah ke ruang berikutnya; dari auditorium menuju halaman gedung Graha Bakti Budaya TIM.

Ia pun tidak menyadari kalau tepat di depannya saya sudah bergerak lebih dulu untuk keluar; atau memang kita yang terlalu lambat untuk bergerak, jangan-jangan proscenium di kursi tadi sudah menjebak perangkap kebosanan atau dentuman musik yang sangat mempengaruhi kita melayang kemana-mana. Hahaha…

Ruang Publik yang Memungkinkan “Chaos”

Ruang ketiga pertunjukan Lab Teater Ciputat merupakan ruang publik di mana sebelumnya pengunjung mengantri untuk memasuki gedung sesuai dengan wilayah masing-masing yang sudah disebutkan di atas.

Saya melihat perpindahan pengunjung memang layaknya mereka yang sedang study tour ke beberapa museum, dari luar ke dalam memberikan energi ruang berbeda dari sebelumnya. Sekalipun seperti lepas dari ‘kandang’ kejemuan, ‘kandang’ kebekuan, ‘kandang’ kebanalan, ‘kandang’ arsip yang ingin tetap dikatakan sebagai arsip, apa pun bentuknya.

Para performer coba melakukan representasi dari pertunjukan sebelumnya yang juga dikombinasikan dengan digitalisasi ketika terjadi perisitwa modeling layaknya peragawan dan peragawati di atas catwalk.

Namun yang memerlukan catatan adalah mereka coba menginterpretasi dengan ruang kebekuan dari proscenium. Sayangnya tidak memberikan apa pun untuk memikat mereka, memikat saya, bahkan ketika performer ke loket gedung Graha Bakti Budaya, tidak sama sekali memberikan daya tarik pada saya untuk berlari dan bergegas melihat. Kita sudah terjebak dengan persoalan kebekuan-kebekuan dalam ruang proscenium yang mengganggu sehingga tidak menjadi maksud atau tujuan dari yang dimaksud.

Mungkin ketika tawarannya seperti yang diungkapkan Indraswara (mengutip gagasaan Afrizal Malna) menyebarkan performer di taman-taman depan gedung justru menjadi arena dalam peristiwa arsip modeling yang banal.

Saya merasa kedekatan jarak yang penting untuk melakukan antitesis, bagaimana menggugah dalam proses transaksional pengunjung atau tamu undangan catwalk layaknya di beberapa event modeling dalam interpretasi setiap aktor.

Saya melihat milenial bersorak-sorak dengan estetika digitalisasi bisa memungkinkan peran banalitas berfungsi dengan baik dalam rangka penyelidikan sosial dimana Rebecca Rouse (2013:20) mengungkapkan: “digital media scholars have shifted the meaning of the term media toward the meaning of artistic media or an artistic medium, which refers to an artist’s materials. This shift has been important in gaining recognition for the computer as legitimate tool for creative expression, and has allowed cultural products created with the computer, such as video games, to enter into the realm of serious inquiry within academia” (A New Dramaturgy for Digital Technology in Narrative Theater).

Saya juga melakukan pembacaan terhadap peneliti media, para sarjana media belakangan ini dengan menggunakan digitalisasi sebagai syarat artistiknya dengan menguji dirinya sesuai zaman, ekpresi kreatif, dan telah memungkinkan produk budaya yang dibuat dengan komputer, seperti video modeling, game modeling, sudah dicoba dalam beberapa mata kuliah tata makeup dan kostum, khususnya di perguruan tinggi seni.

Pembacaan saya terakhir sehubungan ‘pembanalan’ arsip; ruang publik terakhir yang digunakan oleh Bambang Prihadi memungkinkan lebih “chaos”; kekacauan dari sebuah seni yang merupakan titik balik dari sebuah penolakan terhadap hal yang mapan, atau pergerakan dari proses eksprimental, karena hakikatnya memang menuju struktur atau tekstur yang sudah mapan dengan ujian mpu-mpu sebelumnya.

Sebutlah capaiannya Bambang Prihadi memang dianggap berbeda dengan cara kerja Richard Schechner dengan teater lingkungan, Victor Turner dengan drama sosialnya, tapi kemungkinan-kemungkinan yang tertangkap dalam realitas bisa berpijak dari sana yang diinterpretasikan oleh Bambang Prihadi ke dalam pertunjukannya termasuk mengulang dari proses “kubangan” yang mana saya melihat bagian cara memanggil memori, salah satu dari cara kerja Schechner.

Namun yang tetap menarik adalah, yang perlu dipikirkan bersama kalau ungkapan Afrizal Malna bukan hanya sekadar guyonan belaka, atau memang “ngenyek” belaka, kalau memang patut dicermati, perlu direnungkan, dicarikan kemungkinan bagaimana cara kerja yang tepat di mana kaum milenial, generasi alpha bisa have fun masuk ke dalam pertunjukan layaknya seperti menonton musik, modern dancer, berjingkrak-jingkrak, clubbing, dan lain sebagainya.

Teater akhirnya juga menjadi konstruksi dari kebahagiaan manusia untuk lepas dari kepenatan, atau memang dikonstruksi sebagai hal yang berat atau memang tidak berat sama sekali, hanya seniman yang terlalu mengkultuskan dan membaiat bahwa seni itu keren, atau memang tidak lazim atau tidak relevan di negara ‘tercinta’ ini.

Maka perlu berlari-lari ke hulu, telanjang bulat mungkin di sungai, atau mungkin pilihannya adalah bunuh diri seperti pertunjukan yang ditawarkan Abi ML; yang di satu sisi bisa dipandang sebagai virus, atau memang seni ini dikonstruksi sebagai virus yang merusak kita semua! Jelas menimbulkan ruang publik yang semakin “chaos”.

*Arung Wardhana Ellhafifie adalah co-sutradara Lab Teater Ciputat. Saat ini sedang menyeleasikan studi Pascasarjana Jurusan Penciptaan Karya Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.

Baca Juga

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Terkini

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...