Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih Pentaskan “Satria Piningit” pada PKN 2019

Portal TeaterKelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih (Jakarta) dipilih Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu kelompok seni yang akan membawakan pentas kesenian pada Pekan Kebudayaan Nasional pekan depan.

Sebagai salah satu komunitas seni ibukota yang aktif menjalankan pementasan reguler bulanan, Kelompok Miss Tjitjih akan menampilkan lakon “Satria Pinngit” pada Rabu (9/10), pukul 16.00 WIB di Istora Senayan, Jakata.

Lakon ini ditulis dan disutradarai Imas Darsih dan akan dipentaskan secara kolaboratif dengan artis Yuki Kato. Artis cantik ini sudah beberapa kali berkolaborasi dengan Kelompok Miss Tjitjih untuk pentas reguler di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Cempaka Putih, Jakarta.

Pekan Kebudayaan Nasional, sebagai platform temu pelaku seni budaya Nusantara, sendiri akan berlangsung sepanjang 7-13 Oktober 2019. Seperti Pekan Olahraga Nasional (PON), tahapan PKN dimulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi.

Pentas Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih di Pekan Kebudayaan Nasional 2019. -Dok. Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih
Pentas Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih di Pekan Kebudayaan Nasional 2019. -Dok. Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih

Kekacauan Ekonomi

Lakon kolaborasi ini mengangkat isu tentang konflik di negara-negara akibat kekacauan tata kelola ekonomi. Pemimpin-pemimpin negara dianggap tidak mampu menyelesaikan pelbagai ketegangan akibat terpuruknya ekonomi di negara tersebut.

Kita ingat krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat, Eropa dan Cina pada tahun 2008. Kasus kebangkrutan terbesar di AS ini terjadi karena industri hipotek memberikan dana kepada para peminjam yang sebenarnya tidak mampu membayar.

Sehingga terjadi peningkatan kebangkrutan yang memicu ambruknya sejumlah lembaga peminjaman. Bagi dunia, hal ini menandakan berakhirnya pertumbuhan dan dunia sedang menuju resesi ekonomi.

Setelah enam tahun sebelumnya terjadi pertumbuhan tinggi, ekonomi berkembang melambat di tahun 2009, sementara negara industri menciut menjadi -3,4 persen.

Di Indonesia, kita pernah mengalaminya pada tahun 1998, ketika Rupiah melonjak di luar pakem. Krisis moneter ini telah terjadi setahun sebelumnya, yaitu pada Agustus 1997, ketika mata uang Rupiah mulai bergerak negatif dan sempoyongan (Zulkifli Hasan, detik.com, 22/5/2018).

Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya Juni 1997, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar masih sangat ramah, yaitu, hanya Rp2.380 per Dolar. Namun pada Juli 1998, Dolar mendadak menguat menyentuh level Rp14.150, meski hingga akhir tahun Rupiah kembali menguat.

Ekonomi sebagai kekuatan utama dalam sebuah negara, tentu berpengaruh kuat terhadap segala kebijakan politik, sosial dan budaya negara-negara. Karena itulah, sejak zaman klasik, para filsuf Yunani sudah tandaskan agar untuk mengurus politik, orang-orang harus mapan secara ekonomi.

Permana, Satria Penyelamat

Di tengah krisis ekonomi dan konflik-konflik yang menyertainya di sebuah negeri kayangan, muncullah Permana, tokoh simbolis dalam lakon “Satria Piningit”.

Permana adalah pemuda berdarah sudra atau rakyat jelata. Ia hidup ditengah-tengah kondisi kekacauan negara. Situasi di mana banyak raja hanya mengakumulasi kepentingan pribadi dan mensejahterakan golongan atas, tanpa berpikir tentang rakyat.

Tidak hanya soal kekuasaan, tapi juga soal perekonomian, banyak negara saling serang untuk menunjukkan kekuatan agar menjadi yang terkuat.

Permana hidup di lingkungan pertapaan, dipimpin Eyang Guru Pratista. Permana selalu diajarkan tentang kedamaian dan ketentraman hidup. Pun ilmu beladiri dan kanuragan.

Kondisi negara begitu kacau. Perang terjadi dimana-mana. Korban berjatuhan dan tak terhitung lagi jumlahnya. Benar-benar kondisi yang mengerikan.

Timbul keinginan Permana untuk ikut menyelesaikan pertikaian dengan menyatukan seluruh negara yang bertikai.

Akan tetapi ia bingung harus memulai dari mana. Karena Permana sadar, bahwa dirinya hanyalah keturunan jelata.

Permana meminta saran kepada gurunya Eyang Pratista. Mendengar keinginan muridnya, sang guru merasa sangat bangga. Sebab muridnya mempunyai cita-cita yang luhur.

Eyang Pratista merestui niat Permana dan menyarankan agar ia mendatangi kerajaan Sindu Laga yang dipimpin oleh Prabu Jayeng Kusuma untuk “ulun kumawula” (“mengabdi”) di negara tersebut. Permana pun menuruti petunjuk gurunya.

Perubahan sungguh terjadi di Sindu Laga ketika Permana mengabdi di negara tersebut.

Perbaiki Tata Kelola Ekonomi

Meski sebagai pertapa, Permana tidak semata-mata menguasai ilmu beladiri, tapi juga ilmu pertanian dan perdagangan. Ilmunya itu diaplikasikan ke dalam praktik harian di kerajaan Sindu Laga.

Rakyat Sindu Laga diberinya pengetahuan bagaimana bercocok tanam dan berdagang yang baik. Implementasi ilmu itu berhasil memulihkan kondisi kemiskinan dan kekacauan ekonomi negara.

Melihat ketekunan dan kemahiran Permana, raja Sindu Laga, Jayeng Kusuma, akhirnya mengutus Permana untuk mendatangi beberapa negara yang sedang goyang perekomiannya.

Bagi Jayeng Kusuma, persoalan perekonomian negara adalah persoalan sejauh mana negara tersebut mengelola hasil buminya dengan baik. Sang raja pun berani mengutus Permana ke negara-negara tetangganya.

Terbukti, Permana berhasil membuat negara-negara yang bermasalah menjadi tenang dan damai.

Langkah perjuangan Permana tidak pernah berhenti; ia tidak jumawa atas keberhasilannya mengelola tata ekonomi negara-negara tersebut.

Berkat kepiawaiannya, seluruh negara dan rakyatnya mengenal Permana. Bagi mereka, Permana adalah “Satria” meski ia berdarah sudra; seorang satria yang berjuang melalui jalan damai.

Karena itulah, Permana diberi gelar “Satria Piningit”, sebagaimana menjadi tajuk dari lakon ini.

Tim Produksi

  • Sutradara: Imas Darsih
  • Sekretariat: Neng Eti
  • Tim Artistik: Acep Numan
  • Penata Tari: A. Mulyana
  • Penata Musik: Sudaryana
  • Penata Make-up: Aris Fadillah
  • Penata Lighting: Ujang Smoth
  • Penata Sound: Budiyono
  • Penata Properti: Budi Renil
  • Kostum: Iyah, Chikal
  • Desain Publikasi: Ari Ismaya
  • Promosi: Entin
  • Dokumentasi: Tewel Seketi
  • Mc Acara: Rini
  • Umum: Adang, Mascu, Agus Fatter, Yayat, Irvan, Fisal, Hendi, Ridwan, Nunu

*Daniel Deha

Baca Juga

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...