Kembali ke Galnas, Ugo Untoro Siap Pamerkan 70-an Karya Terbaru

Portal Teater – Ugo Untoro, salah satu maestro seni rupa Indonesia, kembali hadir di Jakarta lewat pameran tunggalnya bertajuk “Rindu Lukisan Merasuk di Badan” di Galeri Nasional Indonesia.

Pameran akan dibuka hari ini, Jumat (20/12) pukul 19.30 WIB di Gedung A Galnas oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid dan dimeriahkan musisi Jason Ranti.

Berlangsung hingga 20 Januari 2020, pameran ini akan memamerkan 70-an karya Ugo Untoro yang dihasilkannya dalam kurun waktu delapan tahun terakhir (2011-2019).

Terutama, karya-karya yang dihasilkannya dalam dua tahun terakhir ketika ia kerap melakukan perjalanan pergi-pulang ke kampung halamannya: Yogyakarta-Purbalingga.

Pengalaman di kampung halaman seperti mengingatkan kembali banyak memori yang selama ini tercecer dari ingatannya. Dari sanalah ia ingin menghidupkannya kembali lewat lukisan.

“Ada sesuatu yang memang sering saya lihat dulu, tapi tidak pernah terpikir,” ujarnya.

Selama berjalan pergi-pulang itu pula Ugo Untoro sadar bahwa pada masa lalu ia memulai karya keseniannya dari dua dimensi, yaitu melukis, pekerjaan yang hari-hari ini kembali ditekuninya.

Beberapa karya pendiri dan pemilik Museum Dan Tanah Liat (MDTL) berbasis Yogyakarta yang akan ditampilkan, antara lain: seri sleeping Budha, seri lukisan, seri hujan, versi terbaru dari lukisan gaya Romantik, dan masih banyak lagi.

Selain itu, tersedia juga sebuah ruangan di Galnas yang menampilkan biografi perjalanan Ugo Untoro sebermula ia menjadi seniman hingga hari ini.

Konten pameran sang “Presiden Perupa” ini telah dipersiapkannya sejak akhir tahun lalu hingga sepanjang tahun ini.

Pameran "Rindu Lukisan Merasuk di Badan" Ugo Untoro di Galnas Jakarta. -Dok. ist.
Pameran “Rindu Lukisan Merasuk di Badan” Ugo Untoro di Galnas Jakarta. -Dok. ist.

Kesinambungan Tata Rupa

Kurator pameran Hendro Wiyanto dalam sebuah pernyataan tertulis mengatakan, kembalinya Ugo Untoro ke Galnas menunjukkan kesinambungan tata rupa dalam khazanah seni perupa berusia 49 tahun itu dalam beberapa dekade terakhir.

Tata rupa dalam khazanah karya Ugo Untoro, kata Hendro, datang dari semacam prinsip pencerapan dan penyerdehanaan atau kesatuan yang utuh, lengkap, pulang menjadi bidang, warna, dan komposisi artistik.

“Terutama corat-coret yang berhubungan dengan kebutuhan untuk memberi kesan, imaji, dan asosiasi simbolik tertentu,” katanya.

Esais pameran Goenawan Mohamad dalam catatannya berjudul “Ugo, Zen, dan Delacroix” mengatakan, karya-karya Ugo Untoro memperlihatkan dialektika antara makna dan yang bukan makna.

Itulah yang membuat karya-karya “Man of the Year 2007” yang amat sederhana ini terlihat bermakna dan hidup.

“Sebuah sajak tak menjadi sajak karena mengemban makna, melainkan karena dia hadir dan tumbuh sebagai dirinya sendiri (Archibald MacLeish). Seperti kanvas-kanvas Ugo: yang membuatnya hidup bukan pesan yang diemban, melainkan proses dialektik antara makna dan yang bukan makna,” tulisnya.

Terinspirasi Gaya Romantisme

Dalam berproses, Ugo memang meminjam dan mempelajari gaya Romantisme Barat. Dua pelukis gaya Romantik yang menjadi inspirasi Ugo Untoro adalah Eugene Delacroix (Prancis) dan S. Sodjojono (Indonesia).

Dua tokoh penting dalam sejarah seni rupa beda negara ini akan dihadirkan Ugo dalam wajah yang sama sekali baru.

“Saya harus mencari atau menandai peristiwa dengan dimulai dari kata atau cara pikir Romantisme, saya mencoba semampu saya untuk mengerti, memahami, apa itu romantisme,” ungkapnya.

Pameran ini diselenggarakan atas kerjasama Galnas dengan Obah Mamah dan MDTL yang akan dibuka mulai Sabtu (21/12) setiap hari pada pukul 10.00-19.00 WIB.

Pameran terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya alias gratis.*

Baca Juga

Deal! Hilmar Farid Jawab Keresahan Pelaku Seni dan Budaya

Portal Teater - Penghapusan Direktorat Kesenian dari struktur Direktorat Kebudayaan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim awal tahun ini memunculkan polemik di kalangan...

“Konser Seni” Kembali Gairahkan Aktivitas Kesenian di Bengkulu

Portal Teater - Aktivitas kesenian di Provinsi Bengkulu kembali bergairah. Akhir pekan lalu, ratusan seniman dari berbagai kota dan daerah di Bengkulu menggelar pentas...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Terkini

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...