Kenangan akan Graha Bhakti Budaya akan Berlalu, Ini Kata Para Seniman

Portal Teater – Proyek revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta yang digagas Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sedang dalam pembangunan tahap II. Memasuki fase ini, sejumlah bangunan bersejarah di kawasan TIM mulai dirobohkan.

Beberapa diantaranya: Gedung Graha Bhakti Budaya, Galeri Buku Bengkel Deklamasi, Galeri Cipta II, Kineforum dan Sektretariat Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Kecuali Teater Jakarta yang baru dibangun dan Planetarium dan Observatorium Jakarta yang akan dijadikan cagar budaya.

Pembongkaran sejumlah gedung ikonik di kawasan yang sejak dulu dibangun sebagai ‘taman kesenian’ ini menuai tanggapan berupa kritik dan curahan hati (curhat) yang miris dan pilu dari sejumlah seniman dan pemerhati seni se-Indonesia.

Kritikan dan komentar para seniman ini umumnya dipublikasikan melalui akun media sosial Facebook. Mereka menilai pembongkaran gedung-gedung bersejarah itu, khususnya Gedung Graha Bhakti Budaya, sebagai penghancuran peradaban dan kebudayaan, tidak hanya di Jakarta, tapi juga di Indonesia.

Sembari melontarkan kritik pedas terhadap keangkuhan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang telah tidak menanggapi aspirasi seniman, para pegiat seni (atau pelaku budaya) memandang, pembongkaran GBB sebagai tindakan pemusnahan ingatan kolektif akan karya dan tokoh seni yang terpatri dalam gedung peninggalan Orde Baru itu.

Harris Priade Bah, mantan Ketua Komite Teater DKJ (2003-2005) mengatakan, pembongkaran GBB TIM merupakan upaya kekuasaan atau penguasa untuk memusnahkan ingatan seniman akan sejarah di masa lalu.

Karena itu, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM terus ‘berperang’ melawan kekuasaan yang tidak adil dan semena-mena tersebut.

“Ini bukan peperangan dengan peluru dan bambu yang diruncingkan. Ini adalah perang melawan ingatan-ingatan yang kabur atau sengaja dibakurkan dan nafsu yang bersekutu dengan libido kebendaan,” tulisnya pada akun Facebook-nya, Selasa (4/2).

Pendiri Teater Kami (1989) itu menambahkan, “Di atas rumah kami telah kalian ratakan dengan tanah itu, yang ruang-ruang kreatifnya telah kalian pagari dengan seng-seng beku. Aku berdiri untuk kalian terakhir di situ, mengenang persona-persona mengagumkan yang telah lama berpulang.”

Sementara itu, Willy FWI, sutradara pertunjukan di Pekanbaru dan Lampung secara terpisah pun menilai, Jakarta dan pemerintahannya terlalu terbuai dalam paradigma modernisme untuk membangun keangkuhan berbalutkan kapitalisme.

Dalam agenda pembangunan itu, pemerintah cenderung mengabaikan sejarah, meluluhlantakkan jejak dan memusnahkan ingatan.

“Entah kenapa saya jadi ingin meletakkan dua gedung kesenian ini berdampingan: Jakarta dan Makassar. (Padahal) TIM menuju situs cagar budaya,” tulisnya dalam akun Facebook-nya, Kamis (6/2).

Senada dengan Willy, sutradara Nara Teater berbasis Larantuka, Flores Timur, di Nusa Tenggara Timur, Silvester Petara Hurit, dalam pernyataan singkat, Kamis (6/2), mengeluhkan, “apa jadinya jika sejarah, simbol, ikon, dan pusat-pusat kreativitas mengalami nasib seperti ini?”

Seniman dan pengajar Wisnu Wardhana di tempat lain menceritakan, pernah mementaskan konser musik bersama kerabat dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan para mahasiswanya.

Meski ingatan akan GBB TIM akan berlalu, namun ia tetap mengenang Gedung GBB TIM sebagai tempat di mana ia pernah menonton pementasan Teater Koma dan juga panggung ketika para mahasiswanya diwisuda.

“Banyak kenangannya, tapi pastinya nanti akan lebih baik lagi dengan gedung yang baru,” tulisnya pada akun Facebooknya, Kamis (7/2).

Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta sedang dalam proses pembongkaran. -Dok. detik.com
Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta sedang dalam proses pembongkaran. -Dok. detik.com

Seniman Kehilangan ‘Rumah’

Kenangan akan GBB TIM Jakarta terpatri terlalu dalam pada setiap ingatan dan memori-memori pribadi maupun kolektif para seniman se-Indonesia.

Merobohkan bangunan bersejarah yang telah ‘membesarkan’ nama-nama mereka, seperti meruntuhkan ‘rumah’ yang nyaman bagi proses kreatif mereka.

Seniman Tatan Daniel, salah satu anggota Forum Seniman Peduli TIM, dalam sebuah publikasi di akun Facebook-nya, menulis kemirisan pembongkaran rumah GBB TIM ini dengan amat puitik:

“Kenangan itu sebentar lagi menjadi puing. Tertimbun di dalam ruang ingatan. Menjadi arkais. Panggung, lampu-lampu, kursi-kursi, suara-suara, tepuk tangan, air mata. Kekuasaan yang tuli, sebelah mata, yang sombong dan buas, telah meruntuhkannya.

Panggung itu akan kita bangun kembali, di dalam pikiran dan gerakan kita. Ia bisa berdiri di trotoar, di lubang-lubang galian, di depan toilet, di jalan raya. Kesenian kita adalah kredo peperangan. Ode yang dibacakan di mana saja.

Kita kini berumah di jalanan. Di bawah langit Jakarta yang biru, di tepi kali yang busuk. Di depan hidung kekuasaan yang niradab, hampa dan busuk.

Kita tidak pernah kalah. Meski seratus panggung dan rumah dirubuhkan. Kita ada di mana-mana. Membawa bendera dengan grafiti hati nurani berwarna hitam, merah, dan kuning. Jangan bersedih, kawanku? jangan menangis. Tetaplah bersikap, meski harus menjadi klandestein!”

Di tempat lain, sutradara muda Rangga Riantiarno pun menyebut, GBB TIM merupakan bagian dari masa kecilnya, yang bertumbuh bersama dengan Teater Koma.

Terakhir, Teater Koma mementaskan “J.J Sampah-Sampah Kota” di GBB TIM pada Novemmber 2019 lalu. Setelahnya Teater Koma diketahui akan mementaskan karya-karyanya di Teater Jakarta, TIM, hingga proyek revitalisasi rampung.

Putra sutradara terkemuka Nano Riantiarno itu pun berharap, GBB TIM dapat diganti dengan gedung yang lebih baik setelah direvitalisasi.

Maya Azeezah, sutradara Maura Lintas Teater berbasis Jakarta Utara, mengaku amat prihatin dengan pembongkaran GBB TIM. Sebab banyak kenangan terpatri di tempat ini.

Sejak 2013, ia telah mendengar desas-desus bahwa TIM akan direvitalisasi dari salah satu mantan direktur Pusat Kesenian Jakarta (PKJ)-TIM. “Tapi saya berpikir ini adalah jangka panjang dan hal yang tidak mudah dilakukan.”

Namun ketika belakangan mengetahui bahwa proyek revitalisasi telah dimulai dan kemudian mendapat penolakan dari sejumlah seniman, ia pun berharap agar TIM harus tetap menjadi tempat yang ‘marwah’ bagi seniman, menjadi cagar budaya dan barometer ruang kesenian nasional dan internasional.

“Saya merasa pasti akan ada rembuk dengan seluruh seniman yang memiliki kepentingan di TIM,” katanya di Jakarta, Jumat (7/2).

Di sisi lain, pegiat teater yang juga sastrawan itu menaruh respek yang tinggi pada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memperhatikan kemajuan TIM, baik dari segi sarana dan prasarana maupun dimurahkannya retribusi pemakaian gedung.

“Saya pun berharap, pemerintah kembali menelaah Pergub No.63/2019 dan melibatkan seniman untuk bertukar pikir,” tuturnya.

Menilai secara keseluruhan proyek revitalisasi yang sedang berjalan, meski ditolak para seniman, penulis Exan Zen dalam sebuah pernyataan mengatakan, TIM ibarat ‘anak kandung’ yang mesti dirawat dan dijaga.

Karenanya ia mengaku sangat sedih dan ikut memperjuangkan hak para seniman mendapatkan kembali apa yang menjadi ‘rumah’-nya.

“Saya sangat sedih mengetahui TIM dihancurkan. Akademi Jakarta beberapa kali ingin bertemu Gubernur mengenai TIM tapi tidak pernah ditanggapi,” tulisnya pada akun Facebook-nya, Rabu (6/2).*

Baca Juga

“CAGAK”: Berani Memilih Jalan yang Benar

Portal Teater - Jika seorang anak manusia dikondisikan untuk memilih salah satu dari dua pilihan beroposisi biner: kebaikan atau keburukan, maka ia akan memilih...

Adaptasi Game Mobil Legend, Teater Alamat dan Teater Binaan Garap “Pertarungan Takdir”

Portal Teater - Teater Alamat berkolaborasi dengan teater binaannya, yaitu Teater Batara dan Teater Balang, akan mempersembahkan garapan terbaru untuk dipanggungkan perdana tahun ini...

Nara Teater: Bertumbuh dalam Ekosistem yang Buntung

Portal Teater - Ketika Gedung Graha Bhakti Budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dirubuhkan, banyak yang risau soal geliat dan ekosistem kesenian dan...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...