Kerja Penerjemahan Sastra: Antara Tantangan dan Peluang

Portal TeaterAnton Kurnia dalam ulasannya pada Majalah Tempo (17 November 2014) menulis demikian: “… sebenarnya, penerjemah adalah serupa kekasih yang ingin selalu setia walau pada ujungnya tak selalu bisa”.

Demikian pula, sastrawan dan penerjemah adihulung Goenawan Mohamad dalam penutup tulisannya: “Terjemahan” (Tempo, 11-17 Agustus 2014), mengutip Sapardi Djoko Damono: “Tak ada penerjemahan yang salah; yang ada adalah karya (yang disebut ’terjemahan’) yang berhasil atau yang gagal menyentuh kita.”

Itulah mengapa kerja penerjemahan memiliki dinamika dan tantangan dan waktu khusus yang penting. Artinya, kerja penerjemahan juga sebenarnya tidak semata-mata sebuah proses kerja yang berjalan dalam pusaran “waktu pasar”, misalnya tergesa-gesa agar buku-buku sastra terkenal laris terjual di sebuah bahasa sasaran.

Tetapi, kerja penerjemahan adalah sebuah proses di mana arus waktu itu ditarik sekian menjadi milik sang penerjemah. Pada tataran itu, penerjemah memiliki otoritas multak terhadap teks sastra yang diterjemahkannya.

Di situlah penerjemahan teks sastra menemukan bentuknya dalam pusaran “waktu kultural”. Waktu di mana seorang penerjemah lebih banyak bergulat dengan alam perenungan, refleksi dan serentak menyatukan ketubuhannya dengan roh sastra yang bakal dilahirkannya.

Karena, teks sastra yang dilahirkan dari rahim penerjemahan itu sangat ditentukan bukan oleh karya itu sendiri, melainkan bagaimana seorang penerjemah mampu menyentuh dan mendekatkan substansi dan makna karya tersebut kepada pembaca.

Dengan kata lain, “biar tulisan karya sastra itu enak dan mengalir untuk dibaca oleh pembaca”, seperti yang diungkapkan Ayu Winastri (32 tahun), seorang penerjemah lepas yang bekerja sebagai karyawan swasta pada salah perusahaan pariwisata di Jakarta.

Karena bagi Ayu, kerja penerjemahan bukan untuk mentransliterasi teks asli ke dalam bahasa sasaran, tetapi soal mentransfer makna dan substansi dari teks asli tersebut ke dalam bahasa baru agar enak dibaca, mengalir dan mudah dipahami.

Anton Kurnia: Penerjemahan Sastra Indonesia Ke Bahasa Asing Masih Minim
Anton Kurnia sedang memaparkan materi dalam lokakarya “Menerjemahkan Teks Sastra” di Goethe Institute Jakarta, Selasa (13/8). -Dok. portalteater.com.

Ada Tantangan Serius

Ayu meyakini, bahwa kerja penerjemahan memiliki tantangan serius. Berawal dari pekerjaan sebagai penerjemah dokumen, ia kini sudah kurang lebih lima tahun bergelut di bidang penerjemahan teks sastra berupa puisi dan cerita pendek (cerpen).

“Misalnya ada kawan yang minta terjemahkan, saya terjemahkan puisi atau cerpen mereka,” katanya dalam lokakarya “Menerjemahkan Teks Sastra” di Goethe Institute Jakarta, Selasa (13/8).

Namun, perjalanan itu tidak mudah. Ada banyak kesulitan pokok yang terus dihadapi selama waktu-waktu tersebut. Salah satu kesulitan paling menonjol adalah persoalan ketepatan pemilihan diksi untuk mendefinisikan teks-teks asli. Kerap terjadi, makna dari teks-teks asli tidak ekuivalen dengan makna dalam bahasa sasaran (Indonesia).

Hal yang sama dialami Tiya Hapitiawati (29 tahun), penerjemah muda lulusan sarjana Sastra Jerman dan Pascasarjana Linguistik di Universitas Indonesia. Tiya saat ini bekerja sebagai penerjemah Jerman-Indonesia pada penerbit milik sastrawan Eka Kurniawan.

Bagi Tiya, kerja penerjemahan pada dasarnya merupakan proses yang membutuhkan waktu lama (bisa 3-4 bulan) karena kerja biasanya terkendala oleh perbedaan sosiokultur yang begitu tebal antara teks asal dengan teks sasaran. Apalagi teks Jerman yang memiliki struktur yang kaku dan baku.

“Jadi bagaimana cara kita membuat kata-kata itu dipahami, itu sulitnya,” ungkapnya.

 

Tiya Hapitiawati (29 tahun), penerjemah muda lulusan sarjana Sastra Jerman dan Pascasarjana Linguistik di Universitas Indonesia.
Tiya Hapitiawati (29 tahun), penerjemah muda lulusan sarjana Sastra Jerman dan Pascasarjana Linguistik di Universitas Indonesia. Dok. pribadi.

Namun karena memiliki passion yang besar di bidang penerjemahan, ia bahkan mampu menyiasati kesulitan tersebut dengan tidak menghilangkan gagasan atau makna dasar yang disampaikan penulis asal.

Adapun kesulitan lain dalam perjalanan karir penerjemahannya. Misalnya ada banyak teks asli yang jika diterjemahkan malah jadi jelek atau mengalami pelemahan makna.

“Yang terpenting di sini adalah ekuivalensi, yaitu kesepadanan makna. Kita boleh mengubah struktur tapi maknanya tidak boleh berubah,” imbuhnya.

Ingin Belajar Lebih

Ayu datang ke lokakarya yang digagas Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta ini tidak dengan iming-iming menjadi penerjemah profesional. Ia datang sebagai seolah-olah seorang pemula, meski ia sendiri sudah malang melintang dalam dunia penerjemahan, meski belum pernah menerjemahkan karya novel.

“Saya sudah lama giat di bidang penerjemahan. Saya suka menulis dan banyak membaca karya-karya asing. Makanya saya datang ke workshop ini untuk perdalam ilmu saya,” ungkapnya.

Dalam konteks penerjemahan teks Indonesia ke dalam bahasa asing, Ayu menyarankan agar kerja tersebut dapat dilakukan oleh orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, atau oleh penulis asing yang benar-benar paham soal latar sosiokultur bangsanya.

Hal itu bertujuan untuk menjaga ekuivalensi makna dan kelaziman dari teks Indonesia ke dalam kebudayaan lain. Pada tataran ini, masih perlu jalinan internasional yang kuat antara praktik sastra Indonesia dengan penulis-penulis asing di lebih banyak negara.

Tertarik Jadi Penerjemah

Berbeda dari semua peserta lokakarya yang adalah penerjemah, Ariel (21 tahun) hanyalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang mengaku tertarik pada kerja penerjemahan dan sastra.

Sebagai mahasiswa jurusan psikologi pada Universitas Islam Negeri (IUN) Ciputat, Tangerang Selatan, ia mengaku sering menulis karya sastra di blog-nya. Bukan sekedar menulis, ia bahkan menulis dan mulai terjun dalam proses menerjemahkan karya-karya sastra yang dibacanya.

Datang ke lokakarya, Ariel mula-mula tertarik ketika ia mengikuti diskusi pre-festival ke-4 yang mengusung tema “Indonesian (N Literature) For Sale” pada 29 Juni 2019 di Kios Ojo Keos, Lebak Bulus, Jakarta.

Sontak di pikirannya menjadi penerjemah, ketika seorang pembicara dalam diskusi itu mengatakan, bahwa yang terpenting bagi Indonesia saat ini adalah menerjemahkan teks-teks sastra asing ke dalam bahasa Indonesia sebelum menerjemahkan teks sastra Indonesia ke bahasa asing.

“Makanya saya mikir, penerjemahan itu penting, makanya saya ikut,” katanya singkat.

Hal itu juga menjadi alasan mendasar mengapa pemuda yang tengah sibuk menyelesaikan skripsinya itu begitu ceria mengikuti lokakarya di bawah asuhan pembicara Anton Kurnia.

Ariel (21 tahun), mahasiswa jurusan psikologi Universitas Islam Negeri Ciputat, Tangerang Selatan. -Dok. portalteater.com
Ariel (21 tahun), mahasiswa jurusan psikologi Universitas Islam Negeri Ciputat, Tangerang Selatan. -Dok. portalteater.com

Lokakarya ini tidak hanya menjadi momen di mana ia bisa bertemu dengan para penerjemah profesional yang akan menjadi gurunya, melainkan juga mengukuhkan cita-citanya menjadi penerjemah yang handal dan kreatif di kemudian hari.

“Saya sudah mendapat dinamikanya seperti ini, jadi saya tertarik untuk menerjemahkan buku,” tutupnya.

*Daniel Deha

Baca Juga

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...