Ketegangan Waktu dalam “Domba-Domba Revolusi” Teater Petra

Portal Teater – Naskah “Domba-Domba Revolusi” karya Bambang Soelarto merupakan salah satu naskah yang mengkritik pandangan oportunis kaum elit di tengah pergolakan revolusi awal kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.

Di mana banyak elit poliitk dan militer yang sok revolusioner, tapi ternyata ada intrik untuk merebut mahkota kekuasaan politik dan ekonomi.

Lewat keempat elit yang dihadirkan dalam naskah ini: penyair, politikus, petualang dan pedagang, “Domba-Domba Revolusi” berkisah tentang pilihan, menjadi nasionalis dengan melakukan perjuangan melawan musuh, atau berkhianat kepada negara.

Dalam situasi serba menakutkan dan mencekam, sikap keempat elit itu menjadi jelas: penyair yang juga adalah seorang wartawan Republik memilih jalannya sebagai pengabdi setia negara, sementara ketiga elit lainnya tersesat di jalan yang salah.

Mereka mati ditelan intrik busuknya sendiri. Alih-alih ingin berkompromi lewat upaya diplomatik, politikus, yang juga adalah pemimpin politik masa itu, terjebak dalam egosime dan naluri sesatnya.

Ia telah berkhianat kepada negara dengan pertama-tama membakar semua dokumen negara setelah dihasut si petualang.

Sesuatu yang lain terjadi pada seorang perempuan pemilik losmen. Niatnya sangat tulus membantu keempat elit yang bersembunyi di losmennya. Segala makanan dan minuman terbaik disajikannya. Meski sebagai balasan, ia menerima perlakuan buruk dan tidak senonoh dari para tamunya.

Namun, karena terdesak oleh situasi gawat yang bakal mengancam nyawanya sendiri, ia berani membunuh si petualang yang telah menjual tubuhnya kepada para serdadu.

Baik si petualang maupun seorang serdadu yang dibunuhnya setelah ia mendengar maksud laki-laki licik itu dari balik kamarnya.

Tindakan itu bertolak belakang dengan karakternya yang jujur, polos dan murni. Meski secara moral, tindakan membunuh untuk membela diri tidak dinyatakan bersalah.

Dalam hatinya ia pun berdoa agar Tuhan mengampuni “domba-domba” yang tersesat itu diampuni dosanya.

“Tuhan, ampunilah arwah mereka yang kubunuh dan akan membunuh aku, ampunilah arwah domba-domba revolusi yang sesat,” panjatnya.

Yang menjadi menarik, lakon ini memuat kisah romansa yang lirih antara penyair dengan perempuan pemilik losmen. Sejak awal perempuan itu sudah menaruh perhatian pada penyair, lebih dari perhatian seorang pemilik losmen pada tamu-tamunya.

Sebenarnya, kasih sayang itu merupakan ungkapan cinta seorang ibu sebab perempuan itu tahu dan mengenal dengan baik siapa pemuda-penyair itu. Setelah diceraikan ayah si penyair, ia memilih berdikari dengan membangun sebuah losmen.

Ini mengingatkan kita pada kisah terjadinya Oedipus Complex. Demikianlah si penyair yang terpukau oleh kebaikan dan kepercayaan perempuan pemilik losmen, ingin membawa pergi bersamanya perempuan yang adalah ‘ibu tirinya’ sendiri.

Itulah singkat cerita dari lakon yang dipentakan Teater Petra dalam pementasan Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019, Sabtu (23/11) malam. Lakon ini disutradarai seniman muda, Sultan Mahadi Syarif.

Kru Teater Petra usai pementasan "Domba-Domba Revolusi" pada Sabtu (23/11) di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. -Dok. portalteater.com
Kru Teater Petra usai pementasan “Domba-Domba Revolusi” pada Sabtu (23/11) di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. -Dok. portalteater.com

Tiga Deskripsi Konsep

Dalam menggarap naskah ini, sutradara Sultan membagi beberapa deskripsi konsep menjadi tiga bagian, yaitu sutradara dengan naskah, sutradara dengan aktor, sutradara dengan audiovisual (artistik, cahaya dan musik).

Untuk menyikapi naskah ini, konsep penyutradaraannya lebih menyerahkan dramaturgi pertunjukan kepada teks. Teks yang mempunyai porsi besar akan setia diikuti demi terciptanya rangkaian peristiwa.

Sebab teks adalah kendaraan imajinasi. Ruang yang dijelaskan pada teks akan setia diikuti dalam penggarapan.

Secara genre pertunjukan, sutradara membawakan naskah dengan konsep realisme. Konsep realisme dibuat karena teks mempunyai kalimat diskusi, perdebatan, kontradiksi, kecemasan, kemarahan dan sebagainya untuk memberi gambaran tentang peristiwa sosial politik.

Realisme dalam naskah ini adalah realisme sosial dengan maksud menggabungkan problem sosial dan psikologi sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Dalam pendekatan keaktoran, sutradara murni melakukan pendekatan secara natural, yaitu bagaimana aktor membaca naskah tersebut dan menentukan pilihan-pilihan sikap dari tokoh-tokoh yang ada di dalamnya.

Apakah perjuangam dilakukan untuk merdeka 100 persen atau melakukan kompromi, karena beralasan terjebak pada situasi fait accompli di mana terjebak pada keadaan yang tidak bisa dihindari.

Sejatinya perjuangan kemerdekaan tidak mengenal kata menyerah dan tidak mengenal kompromi. Lewat naskahnya, Soelarto menunjukkan kebenciannya terhadap orang berpura-pura berjuang demi revolusi tapi tercium baunya juga yaitu untuk kepentingan pribadi.

Tokoh perempuan dan penyair pada narasi teks dianggap sebagai simbol perjuangan sejati. Pedagang dan politisi adalah gambaran manusia yang orientasinya adalah mencari keuntungan pribadi baik secara materi maupun kekuasaan.

Sementara petualang adalah tokoh yang gambaran kemenangan akal dan pikiran yang mampu mengelabui orang khususnya pada watak politisi dan pedagang.

Sutradara juga menangkap bahwa naskah ini juga mengangkat persoalan degradasi moral para pemimpin di era Orde Lama karena karakter kultural yang berakar dan merupakan warisan bakat-bakat generasi sebelumnya.

Dalam konteks kekinian persoalan degradasi moral juga banyak hadir baik dalam diri para pemimpin maupun masyarakat. Seringkali rakyat dijadikan objek dalam perjuangan kesejahteraan.

Namun toh pada akhirnya persoalan eksistensi, keuntungan, hawa nafsu dan politik transaksional membawa sendiri mereka ke jurang kesesatan.

Bergerak ke kinerja keaktoran, Sultan juga beranggapan bahwa ketika teks berhasil ditafsirkan dengan baik maka lahirlah tubuh-tubuh yang melahirkan peristiwa yang diinginkan.

Tubuh aktor adalah tubuh yang diisi oleh riset isi pikiran dan riset stilisasi fisik manusia. Misalnya, seorang penyair di era 1950-an punya kecenderungan kebiasaan seperti apa, lalu bagaimana pola pikir yang diwujudkan dalam menyikapi realitas sosial.

Dalam menjalin adegan, sutradara pun membuat analisis struktur dengan mencari benang merah dari setiap plot. Benang merah didapat ketika dibedahnya beat dari setiap kalimat atau dialog pada setiap plot.

Meski begitu, terlalu menekankan kekuatan pada tubuh aktor membuat lakon ini terlihat formal. Aliran dialog cukup terbangun, tapi representasi ‘situasi perang yang mencekam, darurat, dan menakutkan’ belum sepenuhnya tersampaikan.

Para aktor masih terbatas melafalkan teksnya masing-masing dan belum beranjak untuk melihat lingkungan sekitarnya yang sedang genting. Selain aliran dialog, para aktor perlu juga membuat suspensi terhadap teks, agar penonton dapat masuk ke dalam tubuh dialog.

Dalam kinerja audiovisual, sutradara menjadi tiga elemen konsep, yaitu setting/ artistik, cahaya dan musik.

Setting menggambarkan sebuah losmen yang terlihat usang di mana tekstur dinding berkualitas rendah. Ada meja resepsionis sebagai ruang kuasa perempuan pemilik losmen.

Ada sofa yang menjadi ruang dominan untuk percakapan. Jendela menjadi bagian bahwa perisitwa di luar sana punya hubungan erat dengan laku orang-orang di dalam losmen.

Barangkali dalam pementasan malam itu, tokoh perempuan lupa memberikan simbol tentang keadaan cekam yang bisa jadi menimpa losmennya ketika ia membuka jendela di pagi hari.

Untuk menandai situasi gawat, ekspresi tersebut semestinya tersampaikan lewat perempuan itu. Apalagi di saat adegan pembuka pertunjukan.

Teater Petra pun menghadirkan tangga di sudut panggung untuk menggambarkan ada ruang lain yang tidak ditampakkan dalam panggung, yaitu kamar losmen.

Di sisi kanan panggung, ada sepeda ontel. Ketika adegan memasuki kisah romansa antara penyair dan perempuan, dengan cerdas si penyair menempatkan dirinya di sana. Seolah tubuhnya kembali ke masa lalu bersama kisah masa lalunya.

Dari atas sepeda, sambil mendayung-dayung, ia mengisahkan keperihan masa kecilnya yang ditinggal dan dibuang ayahnya. Perempuan, yang mendengarnya terharu di satu sudut yang lain.

Blocking dan pencahayaan pada dua spot pertunjukan itu, sungguh memberi membawa imajinasi penonton berkelana ke pengalaman-pengalaman masa kecilnya masing-masing.

Teater Petra menggunakan musik Keroncong untuk mendekatkan suasana pertunjukan dengan nuansa pasca-kemerdekaan, di mana kala itu musik keroncong cukup populer.

Irama Sintizer juga berusaha mendukung ketegangan peristiwa demi peristiwa dengan berusaha tidak menghilangkan jenis keroncongnya.

Arsip berupa radio, yang berisi siaran berita seputar isu revolusi awal diperdengarkan pada awal pertunjukan untuk mempertebal atmosfer perang mempertahankan kemerdekaan.

Untuk mempertajam memori kolektif bangsa akan perjuangan menjaga kedaulatan di era Orde Lama, Teater Petra menampilkan transisi cahaya ketika video di screen fade in, monolog pemain dan peristiwa mencekam.

Di akhir cerita, represetnasi kehancuran Kota Tengah, termasuk losmen milik si perempuan, begitu gamblang dihadirkan di atas panggung. Api yang menyala-nyala, dentuman meriam, bunyi bedil lantang terdengar.

Sungguh sebuah ending yang fantastik sekaligus membedakannya dengan pentas kedua grup sebelumnya: Teater Ciliwung dan Teater Cahaya.

Namun demikian, sebetulnya ada ketegangan waktu yang muncul serentak ke atas panggung dalam garapan Teater Petra, yaitu tubuh masalalu dan tubuh masakini.

Di satu sisi, Teater Petra ingin mendekatinya secara kekinian, misalnya dengan multimedia, tapi di dalamnya mereka belum cukup dapat melepaskan begitu saja tubuh masa lalu seperangkat elemen yang melatari perisitiwa dalam lakon tersebut.

Tim Produksi

Sutradara: Sultan Mahadi Syarif
Penata musik: Goldy Nathaniel Langitan
Penata artistik: Nurohman
Penata cahaya: Egy Iskandar
Penata busana: Faridah Gustiani
State Manager: Rizal Izra Mahmudi dan Putra Wijaya Prasetyo
Sektretaris: Fildzah Fauziyah Nur Shabrina
Bendahara: Safira Nurjanah

Pemain

Aktor utama perempuan: Oktaviani Hairumnisa
Aktor utama laki-laki: Boby Faisal
Aktor peran pembantu: Ahmad Rifqi Fakhruzzman
Aktor pembantu laki-laki: Sultan Mahadi Syarif, Ardhan Luthfi

Tentang Teater Petra

Teater Petra berdiri pada tahun 2016 di wilayah Galur, Johar Baru, Jakarta Pusat. Beranggotakan sekelompok orang yang pernah bermain di teater anak dan teater pelajar serta remaja karang taruna.

Selain kegiatan teater, Teater Petra juga sering aktif dalam kegiatan apresiasi seni budaya dan apresiasi sastra, khususnya di wilayah Jakarta.

Sultan Mahadi Syarif, sutradara Teater Petra, adalah seorang mahasiswa dan juga pegiat teater yang sudah masuk dalam dunia teater sejak Sekolah Dasar.

Selain menulis naskah, ia juga sering terlibat dalam kegiatan apresiasi seni dan sastra seperti teater anak, baca puisi, musikalisasi puisi, Sohibul hikayat, dan beberapa lainnya.

Sultan sudah beberapa kali menulis naskah teater di antaranya berjudul Teenager’s Voice, Peninggalan Arsitektur, Literasi lLnier, Rumahku Satu Kamarnya Banyak, Kamuflase Langkah dan Pasca Disiarkan.

Di level pelajar, Sultan pernah menerima penghargaan sebagai sutradara terbaik pada Festival Teater Pelajar Jakarta Pusat tahun 2015, parade drama musikal tahun 2015, Festival Drama Pendek SLTA tahun 2017 dan Festival Teater Jakarta Pusat tahun 2017 dan 2019.

*Daniel Deha

Baca Juga

Kasus Corona Masih Fluktuatif, Ratusan Bioskop di China Kembali Ditutup

Portal Teater - Menyusul kembali meningginya penemuan pasien terkonfirmasi virus Corona akhir pekan lalu, otoritas China meminta pelaku industri bioskop untuk menutup kembali lebih...

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...

Corona Meluas, Teater Katak Tunda Pementasan “Zeus and The Olympian God”

Portal Teater - Mencermati transmisi virus corona (Covid-19) yang makin luas di Indonesia, Teater Katak mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas produksi pertunjukan "Zeus and The...

Terkini

Linimasa Kasus Corona Indonesia Selama Maret 2020

Portal Teater - Sebulan penuh Indonesia telah bergumul dengan ancaman virus Corona (Covid-19). Sejak pertama teridentifikasi melalui dua pasien Corona di Depok, Jawa Barat,...

Industri Seni Indonesia Menderita

Portal Teater - Di tengah pandemi global virus Corona (Covid-19), industri seni Indonesia ikut menderita. Jika beberapa negara terpapar corona sudah menggelontorkan dana untuk menopang...

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

ATAP Manfaatkan Media Daring Gelar Parade Monolog

Portal Teater - Kreativitas senantiasa mengalir tanpa muara. Kalaupun ada, maka itu adalah awal bagi gagasan baru untuk terus berproses kreatif. Dalam situasi krisis...

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...