Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater – Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi?

Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur, lintas disiplin dan kemudian performance studies.

Berakhirnya Perang Dingin memantulkan ruang baru yang kian terbebaskan dari konflik kubu-kubu politik internasional.

Ruang baru menjadi terbuka untuk berkembangnya berbagai agenda hubungan-hubungan alternatif yang sebelumnya tidak mudah dilakukan.

Lingkaran traumatik dari sejarah perang membutuhkan ruang abu-abu untuk keluar dari posisi biner konstruksi sejarah konservatif.

Era tersebut dilihat ikut menandai lahirnya posmodernisme setelah Mikhail Gorbachev menyatakan kebijakan glasnost (keterbukaan) dan perestroika (restrukturasi) politik dan ekonomi.

Garis waktu posmodernisme juga bisa ditarik jauh ke belakang, ketika sebuah apartemen modern “Puitt-igoe” di St. Louis, Missouri, Amerika Serikat, diruntuhkan.

Apartemen dengan arsitektur mutakhir ini (dirancang oleh Minoru Yamasaki yang dikenal sebagai perancang World Trade Center), dibangun tahun 1954, terdiri dari 33 blok bangunan 11 lantai, dan dihancurkan tahun 1972.

Penghancuran Pruitt-Igoe. Photo courtesy of the U.S. Department of Housing and Urban Development Office of Policy Development and Research.
Penghancuran Pruitt-Igoe. Photo courtesy of the U.S. Department of Housing and Urban Development Office of Policy Development and Research.

Kompleks ini awalnya dibangun sebagai respon masalah pemukiman setelah perang berakhir. Namun dalam perkembangannya, kompleks hunian ambisius ini dianggap gagal dan berubah menjadi wilayah kemiskinan, kriminalitas, maupun sarang penyebaran narkoba. Di antaranya juga dianggap sebagai kegagalan modernisme.

Garis waktu posmodernisme seperti ini saya terima melalui sebuah pameran retrospeksi posmodernisme “Style and Subvertion 1970-1990”, yang berlangsung di Museum Nasional Zurich, Swiss, 6 Juli-20 Oktober 2012.

Sebuah pameran yang melibatkan semua fenomena posmodernisme dari sejarah, seni, dan berbagai produk budaya seperti bar, fashion maupun interior.

Lampu neon dan printing menjadi ikon utama yang memperlihatkan kuatnya kultur urban dalam pembentukan posmodernisme, di samping uang yang membentuk struktur makro dalam pola relasi kita.

Sementara di Indonesia, setahun setelah penanda posmodernisme itu (penghancuran apartemen Puitt-igoe), di tahun 1973 terjadi penyempurnaan terhadap bahasa Indonesia.

Perjalanan bahasa Indonesia yang sudah berlangsung panjang sebagai lingua-franca dan kemudian sebagai bahasa nasional ini, tiba-tiba berhadapan dengan pembaharuan yang radikal.

Peristiwa ini justru bisa kita lihat sebagai awal modernisme di Indonesia, karena terjadinya perubahan yang menyangkut elemen paling mendasar dari sebuah bangsa, yaitu bahasa.

Perbedaan itu ikut mewarnai praktik-praktik kerja kesenian antara negara bekas terjajah dengan penjajah, dan kemudian memunculkan teori-teori di sekitar poskolonial yang mempelajari bentuk-bentuk baru akan dominasi maupun subordinasi, juga akibat-akibat luas yang dialami masyarakat bekas jajahan setelah banyak negara merdeka, seperti Indonesia.

Studi poskolonial memunculkan kesibukan baru dalam memposisikan identitas. Sebuah ruang intelektual baru yang membingungkan untuk masyarakat terjajah (yang kemudian disebut sebagai “Dunia Ketiga”) bisa memiliki pandangannya sendiri, justru setelah mengalami modernisasi melalui kolonialisme yang memutus hubungan mereka dengan garis pengetahuan yang membentuk tradisi panjang sebelumnya.

Studi poskolonial (terutama pada karya Edward Said, Orientalism, 1978) dan performance studies (terutama setelah terbit buku Richard Schechner, Performance Studies: An Introduction, 2002) menjadi rujukan utama dalam praktik-praktik kolaborasi.

Kedua pendekatan ini menjadi kanal utama dari bagaimana posmodernisme dipahami sebagai model pengetahuan yang tidak tunggal (menggeser kerja “tesis-anti tesis-sintesis” yang tunggal, ke “konstruksi-dekonstruksi-rekonstruksi” yang tidak tunggal).

Praktik yang membongkar posisi biner “kita dan mereka” (Timur dan Barat) sebagai praktik kekerasan identitas pada satu sisi; pada sisi lainnya, kembali menggali narasi-narasi komunitas adat, tradisi, arsitektur, lingkungan, berbagai produk budaya sebagai memori kolektif dan menjadi tatapan baru ke dalam ruang masakini.

Antropologi menjadi kendaraan utama yang digunakan dalam kedua pendekatan ini.

“Yang-asing” dan “berbeda” yang menebalkan posisi biner dalam ruang sosial kita memang merupakan konstruksi kolonial (lih. Fizriyani, “Jejak Akar Rasisme di Indonesia”, Republika, 15/6/2020).

Akar ini mengeras pada era “Bersiap”, ketika tentara Sekutu masuk untuk menjaga proses evakuasi peranakan Eropa maupun China ke Belanda, setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan.

Para peranakan ini bisa mudah dicap sebagai “pro Belanda”. Para imigran politik ini harus menghadapi situasi yang juga sama sulitnya di Belanda, karena banyak negara pada masa itu menghadapi krisis setelah perang.

Peranakan Eropa dalam proses evakuasi di Tanjung Perak, Surabaya, setelah Kemerdekaan. -Dok. Koleksi Tropenmuseum.
Peranakan Eropa dalam proses evakuasi di Tanjung Perak, Surabaya, setelah Kemerdekaan. -Dok. Koleksi Tropenmuseum.

Konsep “pribumi” maupun “bumiputera” dalam paradoks kemerdekaan maupun seruan “anti imperialis”, alih-alih juga mempertebal posisi biner atas “yang-asing” dan “pendatang”.

Menjadi sistemik setiap menghadapi tekanan baru, krisis ekonomi-politik maupun perubahan kekuasaan.

Praktik kolaborasi dalam kerja-kerja kesenian, merujuk kepada agenda panjang untuk menggoyahkan dan melumerkan posisi biner ini.

Saling mengenali dan mengalami apa yang kita anggap asing melalui diri kita sendiri dan sebaliknya, sebagai praktik dua wajah saling bertukar persepsi. Bahwa yang kita anggap asing maupun “yang-lain”, merupakan proses performatifitas identitas yang perlu dikenali batas-batasnya untuk tidak menghadapi cermin sebagai orang buta.

Dalam seni pertunjukan, praktik kolaborasi awalnya lebih banyak berlangsung dalam performance art. Kolaborasi memang menjadi salah satu agenda utama yang banyak dilakukan seniman-seniman performance art.

Salah satu diantaranya yang saya kenal melalui forum Undisclouse Teritory di Solo, yang diprakarsai Melati Suryodarmo, adalah seniman kolektif Black Market Internasional yang anggotanya tersebar di berbagai negara, terutama Eropa. Kelompok ini berturut-turut saya ikuti sejak 2007-2010 dalam forum yang sama.

Suprapto Suryodarmo, "Undisclouse Teritory", Mojosongo, 2013. -Dok. Afrizal Malna.
Suprapto Suryodarmo, “Undisclouse Teritory”, Mojosongo, 2013. -Dok. Afrizal Malna.

Kolaborasi yang mereka lakukan bersifat terbuka dan berdurasional untuk setiap anggotanya masuk kapanpun ke dalam arena pertunjukan mereka. Tahapan-tahapan yang mereka tempuh berlangsung seperti ruang pertemuan yang dimulai dari:

  • masuk,
  • menemukan momen paling mendasar,
  • menggali,
  • mengembangkan,
  • membenturkan,
  • membagi dan menerima,
  • menggali dan membongkar struktur untuk aktualisasi ruang kolektif,
  • memantulkan puitika pertunjukan.

Kemudian bagaimana pertunjukan diakhiri pada momentumnya. Sebuah kolaborasi yang terkesan improvisatif.

Namun sesungguhnya setiap anggota mempertaruhkan kecermatan, sensor, kecerdasasan dan enerji untuk bertindak dan saling merespon, menjaga setiap aksi menghasilkan gambaran, mengolah aura pertunjukan dan hadir dalam momennya.

Beberapa praktik kolaborasi di Indonesia yang sempat saya amati, cenderung gagal menghasilkan gambaran, karena masing-masing jalan sendiri-sendiri, atau sibuk penebar pesona untuk merebut pusat perhatian dan merusak aura pertunjukan.

Eksentriksisme yang banyak menjadi tindakan performatif seniman-seniman teater, dan umumnya sebagai efek dari praktik model-model representasi pemeranan dalam tradisi keaktoran kita, ikut mempertebal batas aksi performance masing-masing hingga pertemuan dalam sebuah kerja kolaborasi cenderung gagal.

Kian banyaknya orang menggunakan internet, terutama setelah Reformasi, dan munculnya generasi milenial yang merepresentasi masyarakat global dalam lingkungan Big-Data, ikut mendestabilasi posisi biner dalam ruang sosial kita yang sebelumnya terkungkung dalam blok “kita-mereka-kami” atau “timur-barat”.

Politik identitas kian dilihat sebagai tidak tunggal lagi. Bahwa yang asli tidak pernah ada rujukannya. Kita tidak memiliki rujukan apapun tentang keberadaan atau apakah “yang-asli” itu.

Kemudian mulai muncul generasi yang lebih memperlihatkan kerja daripada sebuah gaya kesenimanan sebagai identitas biner (gue seniman-elu awam).

Teater jauh lebih sulit melakukan kolaborasi, karena teater merupakan genre seni pertunjukan yang jauh lebih kompleks, terbiasa bekerja dalam manajemen maupun produksi yang berada dalam otoritas sutradara maupun manajer produksi, melibatkan banyak pihak, fasilitas maupun kebiasan berlatih untuk memproduksi pertunjukan. Membuat teater tidak mudah beradaptasi atau menerima input-input baru dari lingkungan yang berubah.

Praktik kolaborasi dalam teater, sama dengan sebuah intervensi untuk membongkar praktik-praktik kerja teater yang menjebak dirinya sendiri.

Membawa teater untuk terbuka melihat sedang berubahnya ekosistem ketika kita mulai berhubungan dengan lebih banyak lagi media teknologi artifisial yang bisa digunakan untuk memanipulasi banyak hal.

Teater Garasi Raih "Ibsen Award" Untuk Proyek "Multitude of Peer Gynts"
Pentas “Peer Gynts – Asylum’s Dreams” oleh Teater Garasi di Tokyo, Jepang, Jumat (6/9/2019). -Dok. Teater Garasi.

Jaringan kerja yang dibangun Teater Garasi dalam jaringan dramaturgi Asia, Australia dan Eropa, mulai membuka praktik-praktik kolaborasi dalam teater di Indonesia; di antaranya dengan Rimini Protokoll yang berbasis di Berlin, atau Shizuoka Performing Arts Center (SPAC) yang berbasis di Tokyo.

Kemudian berkembang kerja kolaborasi BPAF (Bandung Performing Art Forum) bersama X Theatre Muibo yang juga berbasis di Tokyo.

Dalam kolaborasi ini terdapat Taufik Darwis dan Riyadhus Sholihin. Mereka masing-masing memilih situs dari narasi tradisi sebagai titik-tolak melakukan kolaborasi, kemudian ditempatkan ke dalam kerangka persoalan masakini.

Salah satu eksplorasi dari kolaborasi BPAF (Bandung Performing Art Forum) bersama X Theatre Muibo. -Dok. BPAF.
Salah satu eksplorasi dari kolaborasi BPAF (Bandung Performing Art Forum) bersama X Theatre Muibo. -Dok. BPAF.

Kolaborasi ini sudah dimulai sejak tahun 2019 di mana masing-masing kolaborator melakukan riset terbalik: dari Bandung melakukan riset di Tokyo dan sebaliknya yang dari Tokyo melakukan riset di Bandung.

Hasil temuan mereka akan menjadi elemen yang akan membangun situs tradisi yang digunakan sebagai memori kolektif masyarakat (Sangkuriang) menjadi pertunjukan kolaboratif mereka.

Bambang Prihadi dari Lab Teater Ciputat termasuk yang acap melakukan kolaborasi, di antaranya dengan Asia Performing Arts Forum (APAF), di samping juga tergabung dalam beberapa pertunjukan SCOT di bawah Tadashi Suzuki dalam proyek Bumipurnati. Yustiansyah Lesmana dari Teater Gantha juga pernah berkolaborasi dengan lembaga APAF.

Dendi Madya dari Artery Performa juga melakukan kolaborasi dalam proyek Asian Performing Arts Forum (APAF)-Workshop for International Collaboration, November 2018. Kolaborasi ini melibatkan berbagai seniman dari Jepang maupun Asia Tenggara.

Dalam sebuah presentasi yang diselenggarakan Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Dendi bercerita bahwa kolaborasi ini dilakukan dari A hingga Z. Jadi tidak ada lagi wilayah pusat yang otoritasnya diambil oleh sutradara maupun penulis naskah.

Seluruh elemen pertunjukan dari gagasan hingga bagaimana gagasan itu diwujudkan, dilakukan bersama. Seluruh kolaborator berada dalam posisi setara.

Kolaborasi dalam proyek Asian Performing Arts Forum (APAF) dengan Dendi Madya sebagai sutradara.
Kolaborasi dalam proyek Asian Performing Arts Forum (APAF) dengan Dendi Madya sebagai sutradara.

Praktik kolaborasi yang dilakukan Dendi tidak lebih sama dengan yang dialami Bambang Prihadi, di mana sebagian otoritas sutradara diambil-alih untuk terjadi kesetaraan dalam kerja, dan membuat apa yang dimaksud kolaborasi mendapatkan metode kerja yang dipahami bersama.

Sutradara lebih sebagai kurator yang memfasilitasi bagaimana masing-masing ide bisa bertemu dan diwujudkan menjadi karya.

Tradisi teater di Indonesia sebagai grup, merupakan salah satu hambatan terjadinya kerja-kerja kolaborasi.

Teater di Indonesia tidak mengenal kerja individu, karena selalu bekerja berdasarkan grup, serta otoritas sutradara yang terlalu masif. Hal ini pula yang membuat teater di Indonesia cenderung gagal melakukan regenerasi.

Kalau sutradara sebagai pimpinan meninggal (seperti WS Rendra, Arifin C. Noer atau Teguh Karya), maka grup yang ditinggalkan seolah-olah ikut mati.

Di sisi lain, lembaga-lembaga kesenian juga belum pernah membuat platform berbasis kolaborasi terjadinya hubungan lintas budaya, maupun kolaborasi mix-generation yang bisa mengatasi kesenjangan antar-generasi.

Mix-generation, atau generasi lintas usia maupun lintas-disiplin, penting dilakukan untuk membongkar kebekuan dan terjalinnya hubungan yang lebih dialogis antar generasi maupun antar disiplin.

Platform yang baru bisa dibuat Komite Teater DKJ adalah Lintas Media (kini menjadi “Cross Border Meeting”), yang sebenarnya di dalamnya juga menyangkut konsep lintas-generasi dan sudah berlangsung 3 tahun ini. Namun platform ini kadang dicurigai “mengacaukan” dunia teater.

Dua Perang Dunia (I dan II) melahirkan generasi yang traumatik hingga akhir abad ke-20. Ketika kita mulai memasuki abad ke-21, dan kemudian menghadapi Revolusi Industri 4.0, tumbuh praktik-praktik baru dalam melihat sejarah, terutama melalui kerja-kerja penciptaan berbasis riset maupun arsip.

Kolaborasi digunakan sebagai salah satu metode dalam melihat sejarah di luar konstruksi kanal utamanya (yaitu konstruksi nasionalisme maupun orientalisme yang masih mempertahankan ruang biner dalam sejarah).

Praktik ini dilakukan terutama agar generasi masakini dan masadepan tidak lagi ikut menyandang beban-beban traumatik masalalu, dan keluar dari politik identitas biner yang memisahkan diri dalam isolasi “kita” dan “mereka” sebagai pihak yang dianggap saling berbeda.

Sejarah bukan untuk diwarisi, tetapi untuk menjadi pengetahuan yang membuat masalalu dan masakini terhubung sebagai pengetahuan bersama yang saling membentuk pergaulan kreatif, bukan memisahkan.*

*Afrizal Malna adalah penyair dan aktivis teater. Aktif menulis esai teater dan kritik teater. Buku terakhirnya berjudul “Teater Kedua. Antologi Tubuh dan Kata” (2019). Buku ini merupakan bunga rampai paling komprehensif yang berisikan reportase, dokumentasi dan pembacaannya terhadap lanskap teater Indonesia kontemporer.

Baca Juga

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...