Komaneka Fine Art Gallery Hadirkan Proyek Kolaborasi Kedua Hanafi dan GM

Portal TeaterKomaneka Fine Art Gallery dan Studiohanafi mempersembahkan¬†“57 x 76”, pameran kolaborasi untuk kedua kalinya dua maestro seni Indonesia, Hanafi dan Goenawan Mohamad (GM), pada 15 September hingga 30 Oktober 2019.

Sebagai kelanjutan dari pameran dengan tajuk yang sama, yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, tahun lalu, pameran yang mempertemukan seniman visual dan sastrawan ini akan digelar di Jln. Monkey Forest, Ubud, Gianyar, Bali.

Tanda “x” dalam judul pameran ini tidak hanya menguatkan makna pertemuan atau dialog kedua seniman, tapi juga peleburan visi artistik Hanafi dan GM yang telah malang melintang dalam kancah kesenian Indonesia.

Ketika menggarap proyek ini, Hanafi dan GM masing-masing berusia 57 dan 76 tahun pada tahun 2017. Setahun sebelumnya, 2016, kedua seniman ini baru mulai melakukan kerja kolaborasi.

Metode kerja kolaborasi sebenarnya merupakan trend penciptaan kesenian era pascamodern, terhitung sejak 1960, yang menjadi penanda penting transisi dari seni modernis ke kontemporer.

Flyer pameran 57x76 Hanafi dan GM di Ubud, Bali, 15 September-30 Oktober 2019. -Dok. Komaneka Fine Art Gallery (FB).
Flyer pameran 57×76 Hanafi dan GM di Ubud, Bali, 15 September-30 Oktober 2019. -Dok. Komaneka Fine Art Gallery (FB).

Dialog Di Atas Kanvas

Lukisan-lukisan dalam “57 x 76″ dikerjakan dengan prosedur yang khusus: Hanafi memulai dengan kanvas atau kertas yang telah ia lukis, lalu memberikannya kepada GM untuk diteruskan.

Demikian pula, GM menyerahkan kertas atau kanvas yang sudah dilukisnya untuk direspon Hanafi.

Hanya satu-dua kali Hanafi dan GM “melukis bersama” di satu tempat. Sebagian besar karya dalam proyek ini mereka selesaikan di studio masing-masing, tanpa tatap muka satu sama lain.

Tidak ada konsep atau preseden untuk meletakkan karya-karya mereka. Yang ada hanyalah dialog di atas kanvas; bagaimana keduanya mereposisi tradisi kesenian masing-masing dari satu dan lain perspektif estetika.

Selama beberapa bulan, kerja kolaborasi ini menghasilkan ratusan lukisan dan gambar. Penyelesaian satu lembar kertas atau kanvas lebih sering terjadi dalam satu putaran.

Dengan saling membuka diri terhadap respon atau “intervensi”, baik Hanafi maupun GM sebetulnya tengah membongkar batas-batas gagasan personal masing-masing.

Pola penciptaan lukisan menjadi tidak linear karena keduanya harus bekerja dari permulaan yang tak terduga, yang sering tak sepenuhnya mereka fahami atau kuasai.

Pada tahap akhir, baik Hanafi maupun GM harus pasrah menerima kejutan-kejutan, ketika bentuk yang masing-masing bayangkan di awal mengalami pergeseran, perluasan, hingga perubahan-perubahan besar.

Proyek Aleatoris dan Junktaposisi

Kurator pameran Agung Hujatnikajennong menyebut, kolaborasi Hanafi dan GM sebagai proyek yang bersifat aleatoris (Latin, aleator: “pelempar dadu”) yang bertumpu pada ketidakmenentuan atau kebetulan yang acak.

Aleatorisme, sebagai sebuah metode kolaborasi artistik, menganggap ketakterdugaan sebagai sesuatu yang mengatasi determinasi kesadaran dan kehendak subjek.

Dalam proyek ini, karya kolaborasi menjadi subversi atas paradigma artistik yang menempatkan individu sebagai pusat penciptaan.

Proyek “57 x 76” ini tentu tidak akan terjadi tanpa adanya saling pengertian, baik oleh Hanafi maupun GM.

Menurut Agung, yang lebih menarik dari proyek kolaborasi ini adalah bagaimana pameran ini tidak terlalu bertumpu pada diskusi-diskusi, apalagi perdebatan, yang berkepanjangan di antara kedua seniman.

“Pameran “57 x 76″ seperti tengah mengajarkan bagaimana dua orang seniman dapat memunculkan wilayah irisan gagasan dan pemikiran yang subjektif, melalui gambar, simbol dan tanda-tanda, dan tentu saja sikap terbuka, saling belajar dan respek satu sama lain,” katanya.

Pada tataran ini, kata Agung, hirarki kesenimanan mereka hilang. Tak ada lagi Hanafi dan GM sebagai individu dalam karya-karya ini.

Menikmati lukisan-lukisan dalam pameran “57 x 76” lebih pas jika diibaratkan dengan mendengarkan sebuah “kontrapung” (counterpoint): hasil dari suatu junktaposisi dari dua atau lebih (rangkaian) nada dari satu atau lebih jenis instrumen musik yang dihadirkan secara bersamaan.

Sebab proyek kolaborasi seniman visual (Hanafi) dan sastrawan (GM) sendiri secara historis berakar dari ekphrasis, menulis tanggapan terhadap seni; di mana sastrawan berusaha menerjemahkan bahasa visual ke dalam kode-kode verbal.

Atau sebaliknya, pelukis yang merespon karya para penyair, meski kerap praktik kerja tersebut tetap memiliki batas-batas linguistik yang masih kuat.

Tentang Hanafi dan GM

Hanafi (lahir di Purworejo, 5 Juli 1960) dikenal luas sebagai pelukis, meskipun bekerja selama puluhan tahun dengan media-media artistik yang beragam.

Lulus dari Sekolah Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta (1979), Hanafi terlibat dalam puluhan pameran tunggal dan kelompok di dalam dan luar negeri sejak awal 1990-an.

Ia termasuk seniman yang paling sering berkolaborasi dengan praktisi seni lain, terutama dari sastra, teater dan arsitektur.

Pameran tunggalnya antara lain: “The Maritime Spice Road” (Konsulat Jenderal New York, Amerika Serikat, 2017); “Pintu Belakang | Derau Jawa” (Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 2016); “Migrasi Kolong Meja” (Komaneka Fine Art Gallery, Ubud, 2013), dan “Of Spaces and Shadows” (Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 2009).

Goenawan Mohamad (lahir di Batang, 29 Juli 1941) adalah seorang penyair, esais, jurnalis dan dramawan. Gemar menggambar sejak kecil, GM mulai aktif berpameran tunggal dan kelompok sejak 2016.

Berangkat dari minatnya terhadap persoalan-persoalan seni dan budaya, GM banyak menulis esai tentang seni rupa. Beberapa pameran tunggalnya, antara lain: “Kata, Gambar” (Dia Lo Gue, Jakarta, 2017); “Another Stage” (Aksara, Jakarta, 2017), dan “Don Quixiote dan Hal-hal yang Belum Sudah” (Galeri Semarang, Semarang, 2019).

Baru-baru ini GM menerbitkan buku kumpulan esai seni rupanya, “Pigura tanpa Penjara” (2019).

*Daniel Deha

Baca Juga

Virus Corona dan Problem Kultural

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) yang kini melanda dunia, bagi Yuval Noah Harari, salah satu filsuf masakini, merupakan krisis global. Mungkin krisis terbesar...

Industri Seni Indonesia Menderita

Portal Teater - Di tengah pandemi global virus Corona (Covid-19), industri seni Indonesia ikut menderita. Jika beberapa negara terpapar corona sudah menggelontorkan dana untuk menopang...

Pesta Kesenian Bali 2020 Ditiadakan

Portal Teater - Pemerintah Provinsi Bali mengumumkan peniadaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-42 tahun 2020 menyusul penyebaran virus Corona (Covid-19) di Indonesia, khususnya di...

Terkini

Data dan Dana Untuk Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Indonesia membuka jalur pendataan bagi pekerja seni yang secara ekonomi terdampak virus Corona. Pendataan telah dibuka sejak akhir pekan lalu,...

Mendata Pelaku Industri Kreatif Terdampak Corona di Ibukota

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul semua lini kehidupan manusia saat ini. Wabah global ini tidak hanya menghantam sektor ekonomi, politik, atau...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...