Komite Seni Rupa DKJ Gelar Diskusi Buku Tiga Kritikus Seni Rupa

Portal TeaterKomite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar Diskusi Buku Seri Wacana Kritik Seni Rupa dari tiga kritikus seni rupa Indonesia pada 14-15 Januari 2020 di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Tulisan ketiga kritikus seni rupa yang akan dibedah, yakni “Dari Pembantu Seni Lukis Kita: Bunga Rampai (1956-1961)” karya Oei Sian Yok; “Rumpun dan Gagasan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-2019)” karya Bambang Bujono; dan “Estetika yang Merabunkan (1956-1961): Bunga Rampai dan Kritik Seni Rupa” karya Sanento Yuliman.

Diskusi buku karya Bambang dan Sian Yok akan digelar pada Selasa (14/1), pukul 17.00-19.00 WIB di Galeri Cipta II, TIM Jakarta.

Diskusi ini menghadirkan pembicara Alia Swastika⁣ dan Ibrahim Arimurti Rasha⁣ dengan moderator Brigitta Isabella.⁣

Sementara diskusi karya Sanento digelar pada Rabu (15/1), pukul 19.00-21.00 WIB di tempat yang sama. Diskusi ini menghadirkan narasumber Iwan Meulia Pirous⁣ dan Nirwan Dewanto⁣ dengan moderator Hendro Wiyanto (kurator pameran).

Ketiga diskusi ini merupakan satu rangkaian dari kegiatan pameran “Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)” yang digagas Komite Seni Rupa DKJ untuk memberikan ruang apresiasi bagi karya-karya kritikus asal Banyumas, Jawa Tengah tersebut.

Pengunjung melihat-lihat karya-karya Sanento Yuliman yang dipamerkan di Galeri Cipta II, TIM Jakarta. -Dok. Eva Tobing/DKJ
Pengunjung melihat-lihat karya-karya Sanento Yuliman yang dipamerkan di Galeri Cipta II, TIM Jakarta. -Dok. Eva Tobing/DKJ

Kritikus Terbaik Indonesia

Sanento Yuliman adalah kritikus terbaik yang pernah dimiliki Indonesia pada lalu. Esai-esainya begitu tajam menyoroti karya seni rupa dan kebudayaan Indonesia.

Mengutip publikasi DKJ, Saneno Yuliman (1941-1992) sudah rajin menulis sejak 1960-an. Secara ajeg ia menulis esai dan kritik seni rupa di berbagai media massa cetak akhir 1960-an.

Setelah kembali ke Indonesia usai menyelesaikan studinya di Prancis tahun 1981, Sanento banyak menulis ulasan pameran yang terutama terbit di majalah mingguan Tempo, selama 1981-1992.

Meski jauh dari lengkap, tulisannya berjudul “Dua Seni Rupa: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman” telah terbit pada 2001.

Kritikus kelahiran Banyumas ini menempuh Pendidikan di Studio Seni Lukis, Jurusan Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus pada 1968.

Selain kritikus, Sanento juga dikenal aktif sebagai pemain teater dan esais.

Buku “Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai dan Kritik Seni Rupa (1956-1961)” merupakan bagian lengkap dari karya Sanento Yuliman.

Buku ini berasal dari berbagai terbitan di media massa cetak, majalah, dan koran, makalah ceramah, pidato ilmiah, pengantar katalog dan hasil kajian yang belum pernah dipublikasikan.

Termasuk di dalamnya beberapa naskah dokumentasi yang kini disimpan baik oleh keluarga Sanento di Bandung.

Namun masih ada begitu banyak tulisannya yang dipublikasi di beberapa media setelah tahun 1961. Rencananya, arsip-arsip tersebut oleh DKJ juga akan dipublikasikan di kemudian hari.

Kritikus Produktif

Bambang Bujono juga adalah kritikus seni rupa. Ia dikenal kritikus yang paling produktif menulis esai seni rupa, sejak 1968 hingga saat ini.

Bambu, begitu sapaannya, telah menghasilkan 445 buah tulisan seni rupa, terbanyak berupa ulasan pameran yang tersebar di sejumlah terbitan, terutama majalah berita mingguan Tempo.

Secara konsisten ia mengetengahkan pendekatan estetikanya atas karya seni rupa sebagai peleburan bentuk dan isi.

Kecenderungan baru atas goyahnya posisi subjek-seniman dan pembebasan dari kekhasan medium dalam karya seni rupa di masa belakangan tak lepas dari pengamatannya.

Dalam esai-esainya, Bambu menekankan pengalaman langsung atas karya seni dan pentingnya ide yang selaras dengan gagasan bentuknya.

Penulis pernah menempuh Pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta selama dua tahun (1967-1968).

Ia bekerja di Majalah Sastra Horison (1973-1978), Tempo (1978-1994), jurnal Kalam (1994), D & R (1996-2000), dan sebagai Kepala Divisi Pusat Data dan Analisa Tempo (2000-2002).

Bambu juga pernah menjadi Anggota Komite Seni Rupa DKJ (1990-1993) dan Ketua Komite Seni Rupa DKJ (2006-2009). ⁣

Buku “Rumpun dan Gagasan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-2019)” merupakan kelanjutan dari terbitan kumpulan tulisannya berjudul “Melampaui Citra dan Ingatan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1968-2017)”, terbit tahun lalu.

Penulis Produktif Era 1950-an

Oei Sian Yok (1926-2002) dikenal sebagai pengulas seni rupa yang produktif menjelang akhir 1950-an.

Tulisan-tulisannya menunjukkan pandangan dan sikapnya sebagai kritikus yang percaya pada otonomi karya seni, dan karena itu “subjek seniman perlu digusur agar lukisan memperoleh otonomi”.

Hal itu menandai masa pembentukan yang penting dalam narasi seni rupa Indonesia modern.

Sian Yok belajar seni rupa di Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar (sekarang Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB).

Ia secara rutin menerbitkan sebagian besar tulisannya, ulasan pameran maupun sosok seniman dan karyanya di majalah Star Weekly yang terbit setiap Sabtu.

Dalam beberapa ulasannya di Star Weekly, Sian Yok kerap menggunakan sebutan “Pembantu Seni Lukis Kita”.

Tidak jarang ulasannya ditulis dengan gaya mengarang surat, dengan nama panggilannya yang sesekali disebut “Sian”.

Namanya, Sian, baru dipakainya secara terang-terangan mulai tahun 1961.

Anda bisa mendapatkan ketiga buku para kritikus dengan melakukan registrasi Diskusi Buku Seri Wacana Kritik Seni Rupa pada tanggal 14 dan 15 Januari 2020 di Galeri Cipta II, TIM Jakarta.

Registrasi peserta diskusi dapat diakses melalui link: http://tiny.cc/bukuseriwacanasenirupa⁣.

Baca Juga

Linimasa Kasus Corona Indonesia Selama Maret 2020

Portal Teater - Sebulan penuh Indonesia telah bergumul dengan ancaman virus Corona (Covid-19). Sejak pertama teridentifikasi melalui dua pasien Corona di Depok, Jawa Barat,...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Mendata Pelaku Industri Kreatif Terdampak Corona di Ibukota

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul semua lini kehidupan manusia saat ini. Wabah global ini tidak hanya menghantam sektor ekonomi, politik, atau...

Terkini

Data dan Dana Untuk Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Indonesia membuka jalur pendataan bagi pekerja seni yang secara ekonomi terdampak virus Corona. Pendataan telah dibuka sejak akhir pekan lalu,...

Mendata Pelaku Industri Kreatif Terdampak Corona di Ibukota

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul semua lini kehidupan manusia saat ini. Wabah global ini tidak hanya menghantam sektor ekonomi, politik, atau...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...