Komite Seni Rupa DKJ Pamerkan 15 Lukisan “Sontoloyo”

Portal Teater – Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Pameran Sepilihan Koleksi DKJ dan Sketsa Urban dengan tajuk “Sontoloyo”.

Digelar sepanjang 15-30 November 2019 di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pameran ini menghadirkan 15 lukisan dan sketsa “sontoloyo” koleksi DKJ yang dianggap tetap relevan terhadap perkembangan seni rupa di Indonesia saat ini.

Menggunakan metode koleksi antologi zeitgeist Hegel, pameran ini juga bukan sekedar mengeluarkan karya-karya dari museum lalu kembali dipamerkan kepada publik.

Tetapi di penghujung pembacaannya, pameran di penghujung tahun 2019 ini ingin melihat dan merefleksikan nilai dan konteks yang dapat ditafsirkan ulang dalam ruang dan waktu yang berbeda dalam konteks kekinian.

Karena itulah, Komite Seni Rupa DKJ mengundang 20 pensketsa urban untuk merespon empat karya sketsa dan satu lukisan koleksi DKJ dalam refleksi masakini.

Sketsa-sketsa tersebut, yakni sketsa Nashar, Zaini, Oesman Effendi, Muryoto Hartoyo, dan satu lukisan karya Zaini, yang semuanya mengambarkan suasana urban Jakarta di era 1960-an.

Pada akhirnya, respon dari 20 pensketsa urban tersebut menghasilkan 60 karya sketsa baru. Jadi, total karya yang dipamerkan berjumlah 75 sketsa dan lukisan.

Di samping sepilihan lima karya perupa tersebut, ada pula beberapa koleksi lukisan yang dianggap masih berkaitan dengan sketsa urban, yakni karya yang implisit mengemukakan masalah kota, antara lain: Berangkat Kerja (Dede Eri Supria, 1980), Atap-Atap (Jojo Gazali, 1978), Pasar (Ipe Ma’ruf).

Selain itu, ada sejumlah karya lain yang dianggap berada dalam “wilayah” yang sama. Misalnya, karya Rudi Isbandi yang abstrak, Karya Basuki Resobowo yang semiabstrak, dan Hardi yang figuratif dengan menampilkan potret diri berjudul Presiden RI 2001.

Tentang Sontoloyo

Frasa “Sontoloyo” dipilih sebagai tajuk pameran karena ditengarai sketsa-sketsa dan lukisan yang dibuat oleh perupa koleksi DKJ itu tidak terlalu menekankan objek yang dilukisnya, tetapi berupa coreta-coretan abstrak.

Garis-garis horizontal, vertikal, miring, serta beberapa torehan zigzag yang dibuat dengan kuas tinta hitam dibuat untuk menggambarkan gedung-gedung, menara, pasar, dan ruang urban di dalam kota.

Sepuluh tahun belakangan kita melihat munculnya fenomena “Sontoloyo” yang dimulai dari Seattle, Amerika Serikat.

Seorang jurnalis dan desainer bernama Gabriel Campanario membuat sketsa-sketsa tentang sudut-sudut kota di Seattle dan mendapat respon dari mana-mana.

Fenomena “Sontoloyo” yang kemudian dikenal dengan nama Sketsa Urban ini kemudian mengkontaminasi beberapa pensketsa urban yang mengunggah karyannya ke media sosial (ranah virtual) yang menghadirkan foto sketsa dan foto objek.

Dua hal yang dikemukakan dari foto itu adalah: “Sontoloyo”, sketsa ini mirip lho dengan objeknya, yang juga menunjukkan bahwa sketsa dibuat on the spot, sebagai salah satu ketentuan manifesto Sketsa Urban.

Dan yang lebih “sontoloyo”-nya lagi, pameran yang sengaja membandingkan semangat zaman dalam berkesenian di seni rupa ini ternyata, “Sontoloyo”, bisa terkait juga dengan perkembangan seni rupa masa kini yang dinamakan Sketsa Urban.

Koleksi itu memberikan pemaknaan bagi Sketsa Urban, dan sebaliknya, Sketsa Urban membekali kita untuk kembali melihat Koleksi yang menegaskan masalah-masalah kretivitas dan berkesenian.

Dikuratori Dua Kurator Beda Generasi

Pameran yang digagas sejak tahun 2006 ini dikuratori dua kurator beda generasi: Bambang Bujono, jurnalis senior, dan Lisistrata Lusandiana, seniman muda kontemporer.

Bambang Bujono menulis pertama kali tentang Seni Rupa pada tahun 1970 di berbagai media, terutama Sinar Harapan dan Kompas.

Setelah lima tahun mengurus majalah sastra, Horison, ia menjadi wartawan Tempo dari 1978 hingga majalah itu dibredel tahun 1994.

Saat ini dirinya menjadi penulis bebas. Sejak 2018, dirinya terlibat beberapa kali sebagai kurator pameran, namun lebih berperan sebagai penulis pengantar pameran di katalog.

Bambang juga menjadi salah satu penulis esai dalam buku tentang Affandi yang diterbitkan Sardjana Seomichan, dkk. tahun 2007.⁣

Sementara Lisistrata pernah terlibat sebagai peneliti dan asisten kurator dalam Biennale Forum, Biennale Jogja “Age of Hope” tahun 2017.

Ia juga aktif menulis untuk majalah seni budaya, menjadi direktur majalah Mata Jendela, serta terlibat dalam beberapa pameran, proyek seni, dan penelitian.

Lisistrata lulus dari program magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan tesis tentang etnografi backpacker, kajian kritis tentang mobilitas masyarakat dan kosmopolitanisme.

Saat ini, ia sedang mempersiapkan beberapa program publik di Indonesian Visual Art Archive (IVAA) seputar topik dekolonisasi dan pengarsipan. Di IVAA ia menjadi Direktur Eksekutif sejak 2018.

Sebelumnya, ia bekerja sebagai Kepala Program IVAA (2016) dan setahun setelahnya menjadi Direktur Festival Arsip.

Pameran akan dibuka hari ini, Jumat (15/11) pukul 17.00 WIB melalui konferensi pers dan seremoni pembukaan resmi yang berlangsung pada pukul 19.00 WIB di Galeri Cipta II.

Seluruh rangkaian pameran ini terbuka untuk umum dan tidak memungut biaya (GRATIS)⁣.

*Daniel Deha

Baca Juga

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

“Panembahan Reso” di Era Media Digital

Portal Teater - "Panembahan Reso" karya W.S. Rendra yang disutradarai Hanindawan akan dipentaskan pada 25-26 Januari 2020 pukul 19.30-22.30 WIB di Ciputra Artpreneur, Kuningan,...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...