Komite Tari DKJ Jaring Aspirasi Seniman untuk TIM Baru

Portal Teater – Untuk menjaring aspirasi seniman terkait proyek revitalisasi TIM menuju TIM Baru, Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggagas Focus Group Discussion (FGD) “Ekosistem Tari Pengguna TIM” di Sekretariat DKJ, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (10/3).

FGD ini tidak hanya menghadirkan sejumlah seniman dan komunitas tari, tapi juga produser, koreografer, sutradara dan pelaku lembaga tari yang ada di Jakarta. Termasuk juga, para pemerhati dan praktisi yang berkecimpung dalam dunia seni tari.

Hadir pula dalam FGD ini para pemangku kepentingan dalam pengembangan ekosistem tari di TIM Jakarta, antara lain UP PKJ TIM, Komite Tari DKJ, Institut Kesenian Jakarta, dan TGUPP Provinsi DKI Jakarta.

Diadakan pada sekitar pukul 10.00-12.30 WIB, FGD dibagi ke dalam dua kelompok. Yang pertama adalah kelompok kepentingan terkait ekosistem tari, dan kedua, kelompok seniman dan pelaku tari yang membincangkan hal-hal teknis mengenai pengelolaan TIM Baru.

FGD yang melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengembangan ekosistem tari di Jakarta, antara lain dari DKJ, IKJ, UP PKJ-TIM, dan praktisi tari di Sekretariat DKJ, TIM, Selasa (10/3). -Dok. portalteater.com
FGD yang melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengembangan ekosistem tari di Jakarta, antara lain dari DKJ, IKJ, UP PKJ-TIM, dan praktisi tari di Sekretariat DKJ, TIM, Selasa (10/3). -Dok. portalteater.com

Enam Poin Penting

Poin penting yang digarisbawahi dalam FGD kelompok pemangku kepentingan, yaitu perihal urgensi untuk melakukan pertemuan lebih lanjut dengan Pemprov DKI Jakarta dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) terkait revitalisasi TIM karena belum semua pemangku kepentingan mengetahui secara pasti dudukan persoalan.

Karena itu, dalam perbincangan intens tersebut, para pemangku kepentingan merumuskan beberapa pernyataan yang dapat dirangkum seperti berikut:

Pertama, para pemangku kepentingan meminta agar Pemprov DKI Jakarta dan Jakpro perlu memperjelas informasi mengenai desain dan fasilitas gedung pertunjukan, karena hal itu bertautan langsung dengan kebutuhan para seniman tari di TIM.

Kedua, meminta para seniman agar secara terbuka memberikan masukan konstruktif terkait pembangunan gedung baru dengan mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan seniman tari yang biasa melakukan pertunjukan di TIM.

Ketiga, para seniman tari menyambut baik gagasan Gubernur Anies untuk membangun geedung pertunjukan bertaraf internasional.

Namun hal itu perlu dikomparasi dengan struktur gedung internasional di negara lain. Mengingat banyak gedung pertunjukan di Jakarta, yang belum memenuhi standar internasional. Pemprov DKI Jakarta dalam hal ini perlu terbuka aga terjadi pertukaran gagasan antara pemerintah dengan seniman.

Keempat, para seniman tari meminta perlu memperjelas dan mempertegas posisi Jakpro, UP PKJ-TIM, dan DKJ, dalam pengelolaan TIM. Hal itu akan terkait dengan tatakelola program seniman yang akan mengadakan pertunjukan di TIM ke depannya.

Kelima, Pemprov DKI Jakarta perlu mempertimbangan untuk membuat satu manajemen yang jelas dan spesifik, semacam House, untuk pengelolan program-program TIM ke depannya, sebagaimana dulu pernah ada PKJ TIM.

Keenam, revitalisasi TIM juga harus mempertimbangkan ekosistem seni yang ada di dalam TIM, di antanya adalah DKJ, IKJ dan komunitas-komunitas tari yang selama ini giat menjalankan latihan dan pertunjukan di TIM.

Para pemangku kepentingan seni tari berharap agar proyek revitalisasi tidak hanya membangun gedung atau ruang pertunjukan, tapi juga ruang-ruang alternatif untuk latihan, workshop, termasuk juga termasuk laboratorium penciptaan gagasan.

Para seniman dan komunitas tari di Jakarta terlibat dalam FGD "Ekosistem Tari Pengguna TIM" oleh Komite Tari DKJ di Sekretariat DKJ, TIM Jakarta, Selasa (10/3). -Dok. portalteater.com
Para seniman dan komunitas tari di Jakarta terlibat dalam FGD “Ekosistem Tari Pengguna TIM” oleh Komite Tari DKJ di Sekretariat DKJ, TIM Jakarta, Selasa (10/3). -Dok. portalteater.com

Perlu SDM Handal

Rama Soeprapto, salah seorang peserta dalam FGD kelompok seniman dan komunitas tari mengungkapkan, pembangunan dan pengelolaan TIM Baru harus memperhatikan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang handal, terutama pada bidang menajemen dan pemasaran.

Menurut Artistic Director for Art and Entertainment Events itu, kedua aspek itulah yang sangat penting dalam pengelolaan seni pertunjukan. Karena itu, seniman tidak perlu lagi ribut soal TIM direvitalisasi atau tidak, tapi wacana kemudian bergeser ke persoalan SDM.

Terlibat dalam beragam pertunjukan internasional, antara lain menjadi Assistant Director dari Robert Wilson untuk proyek epik Bugi “I La Galigo” dan “Temptation of Saint Anthony”, Rama memahami betul bagaimana mengelola produk seni pertunjukan.

Pendiri Coconut Mind itu mencontohkan beberapa lembaga dan komunitas seni di Barat yang memiliki manajemen seni dan strategi pemasaran tersendiri dalam mengelola karya pertunjukan. Seperti halnya di Korea Selatan yang memiliki direktorat khusus untuk bidang-bidang program dan pemasaran seni pertunjukan.

Dengan ekosistem seni Indonesia yang belum sepenuhnya terintegrasi, maka penting seniman hanya akan fokus pada gagasan penciptaan, tanpa harus berpikir untuk melakukan promosi atau iklan, karena sudah ada SDM yang memadai.

Pernyataan Rama ini menyinggung persoalan ketidaksinkronan kerja antara DKJ dengan UP PKJ-TIM belakangan, di mana kedua lembaga ini seolah bekerja pada jalur yang berbeda.

DKJ tampak aktif mengadvokasi dan mengembangkan gagasan penciptaan seni dan ekosistem seni di Jakarta, sementara UP PKJ-TIM memiliki program tersendiri yang belum terkoneksi dengan DKJ. Kebanyakan merupakan program Pemprov DKI Jakarta.

Banyak program DKJ yang dijalankan tanpa melibatkan UP PKJ-TIM, selain pemakaian gedung dan pemasangan banner/iklan di Kompleks TIM.

Sistem pengelolaan yang belum tersambung inilah yang menyembulkan kenyataan bahwa kedua lembaga seolah berdiri sendiri-sendiri. Padadal, UP PKJ-TIM dibentuk untuk mendukung program kerja DKJ, terutama di bagian manajemen dan pemasaran.

Seperti halnya Dewan Kesenian Korea (ARKO) yang memiliki manajemen pengelolaan dan pemasaran yang terintegrasi dengan program para seniman, dalam konteks Indonesia, seniman diwakilkan oleh DKJ.

Rama justru menilai, barangkali perbedaan sistem kerja ini lebih karena pemerintah, dalam hal ini diwakilkan oleh UP PKJ-TIM, tidak memiliki sumber daya untuk mengelola ekosistem kesenian karena mayoritas dari mereka bukan orang seni/pekerja seni.

Dengan sistem pengelolaan dan pemasaran yang baik, dan didukung oleh story telling yang intens, dapat dipastikan pentas-pentas seni pertunjukan bakal tidak kekurangan penonton, malah beberapa diantaranya menjadi fans/penggemar.

Masih Pusat Seni

Para seniman tari yang terlibat dalam FGD umummya melihat TIM masih menjadi pusat kesenian (art center) di Jakarta. Hal itu bukan karena mereka tidak memiliki tempat latihan dan gedung pertunjukan sendiri.

Memang beberapa komunitas tari tersebut menjadikan TIM sebagai tempat latihan, namun bagi mereka TIM menjadi wahana kesenian yang telah membesarkan nama dan pengkaryaan mereka.

Seroang peserta menceritakan bahwa sejak kecil ia telah berlatih dan berkarya di TIM; sudah ada semacam ikatan emosional yang kuat dengan TIM dan dirinya.

Menaruh perhatian yang tinggi terhadap perkembangan TIM, termasuk merespon proyek revitalisasi, para peserta menganjurkan agar gedung-gedung baru yang dibangun mesti memperhatikan desain yang sesuai dengan kebutuhan seni pertunjukan.

Sejauh pengalaman mereka, gedung teater Graha Bhakti Budaya dan Teater Jakarta tidak cukup representatif untuk melakukan pertunjukan tari, khususnya ballet, bertaraf internasional.

Salah satu gedung pertunjukan yang dianggap layak, satu-satunya adalah Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Namun, gedung ini juga selama dua tahun tidak lagi terpakai karena termasuk dalam proyek revitalisasi.

Gubernur Anies Baswedan sebelumya mengatakan akan membangun gedung pertunjukan berskala internasional di TIM setelah Graha Bhakti Budaya dibongkar. Dari yang sekarang berkapasitas 800-an kursi menjadi sekitar 1500-an kursi.

Menurut para seniman, pada prinsipnya, karya pertunjukan tidak terlalu membutuhkan jumlah kursi yang banyak dan gedung yang besar. Yang paling dibutuhkan adalah kesesuaian struktur panggung dengan konsep/bentuk pertunjukan.

Selain itu, para seniman malah memerlukan gedung-gedung yang lebih kecil dan terjangkau agar ada interaksi antara performer dengan penonton. Sebab tidak jarang, struktur gedung mengabaikan pertemuan (intimate) antara penonton dengan pemain.

Salah satu peserta dalam bincang-bincang itu mengusulkan agar pengelola TIM juga perlu memberikan akses yang lebih luas kepada para seniman.

Sejauh pengalaman pementasan selama ini, waktu yang disedikan bagi sebuah pertunjukan hanya dua hari. Satunya untuk Gladi Resik (GR) dan satunya untuk hari pementasan.

Karena itu, ke depannya, para seniman semestinya diberi waktu lebih agar bisa melaklukan sebentuk residensi atau memproduksi gagasan di gedung pertunjukan. Waktu dua hari tidak cukup bagi produksi gagasan pertunjukan.

Ruang Alternatif

Saat ini TIM telah direvitalisasi. Proyek ini telah berjalan sejak akhir tahun lalu. Namun atas pelbagai kontroversi yang muncul ke ruang publik, proyek ini akhirnya diberhentikan sementara (moratorium) oleh Komisi X DPR.

Rama mengatakan, moratorium proyek ini sangat merugikan kerja seniman karena seperti ditargetkan, proyek ini akan selesai tahun depan. Semakin lama, maka akan makin banyak komunitas yang terbengkalai karena tidak memiliki gedung pertunjukan alternatif.

Beberapa komunitas tari yang sering mengadakan latihan di TIM akhirnya kehilangan separuh anggota mereka karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan kondisi TIM yang sedang dibangun. Misalnya karena debu atau kotoran.

Lebih dari itu, Rama menerangkan, dengan moratorium tersebut maka pemerintah kehilangan pajak senilai Rp200 juta setiap harinya.

Karena itu, ia mendesak para seniman segera membuat komitmen bersama untuk mendesak Pemprov DKI Jakarta dan Jakpro segera melanjutkan pembangunan, sambil mempertimbangkan aspirasi para seniman.

Sembari menunggu realisasi pembangunan, para seniman pun meminta Pemprov DKI Jakarta agar dapat menyediakan ruang-ruang alternatif milik pemerintah agar dipakai sebagai tempat latihan atau gedung pertunjukan yang lebih terjangkau.

Beberapa peserta mengeluhkan karena ketika karya selesai dibuat, mereka tidak memiliki gedung pertunjukan. Sementara pengelola TIM, dalam hal ini UP PKJ-TIM, selalu mengkonfirmasi bahwa ruangan semuanya terpakai (penuh).

Karena itu, untuk memastikan pemakaian gedung pertunjukan di TIM, UP PKJ-TIM perlu membuat daftar resmi pemakai gedung yang terkoneksi secara digital. Dengan itu, seniman dapat mengetahui kapan gedung pertunjukan dipakai atau kosong.

Pada akhirnya, para seniman bersepakat untuk membuat sebentuk aliansi atau forum yang dapat memberikan posisi tawar untuk mengadvokasi kebijakan dan kebutuhan seniman di masa depan.

Selain itu, di tengah ketidakgairahan industri seni pertunjukan, tidak seperti industri musik dan film, para seniman meminta agar pemerintah perlu campur tangan dalam menyediakan fasilitas dan biaya untuk mengembangkan ekosistem seni.

Beberapa contoh dapat dijadikan dasar argumentasi bagaimana eksistem kesenian bertumbuh di negara-negara maju, khususnya di Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Pemerintah di kedua negara tersebut sangat mendukung pengembangan kesenian. Tidak hanya infrastruktur, tapi juga anggaran. Bagi mereka, kesenian adalah medium yang paling cepat dalam menyebarkan ideologi dan kebudayaan.

Gagaan Komite Tari DKJ untuk menjaring aspirasi para seniman ini penting dilakukan dan diapresiasi. Mengingat saat ini proyek revitalisasi sedang dimoratorium yang memungkinkan Pemprov DKI Jakarta dan Jakpro dapat menerima aspirasi para seniman mengenai kebutuhan seniman akan TIM Baru.

Beberapa waktu lau, Komisis X DPR memberhentikan sementara proyek revitalisasi TIM sampai ada pertemuan atau duduk bersama antara semua pemangku kepentingan dalam pembangunan dan pengelolaan TIM.

Diharapkan, aspirasi yang disampaikan seniman dalam FGD ini menjadi daya tawar yang mempengaruhi arah kebijakan dan imajinasi Pemprov DKI Jakarta mengenai TIM.*

Baca Juga

Linimasa Kasus Corona Indonesia Selama Maret 2020

Portal Teater - Sebulan penuh Indonesia telah bergumul dengan ancaman virus Corona (Covid-19). Sejak pertama teridentifikasi melalui dua pasien Corona di Depok, Jawa Barat,...

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...

Terkini

Linimasa Kasus Corona Indonesia Selama Maret 2020

Portal Teater - Sebulan penuh Indonesia telah bergumul dengan ancaman virus Corona (Covid-19). Sejak pertama teridentifikasi melalui dua pasien Corona di Depok, Jawa Barat,...

Industri Seni Indonesia Menderita

Portal Teater - Di tengah pandemi global virus Corona (Covid-19), industri seni Indonesia ikut menderita. Jika beberapa negara terpapar corona sudah menggelontorkan dana untuk menopang...

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

ATAP Manfaatkan Media Daring Gelar Parade Monolog

Portal Teater - Kreativitas senantiasa mengalir tanpa muara. Kalaupun ada, maka itu adalah awal bagi gagasan baru untuk terus berproses kreatif. Dalam situasi krisis...

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...