Komunitas Tari Sebagai Sekolah Alternatif

Portal Teater – Gelaran Jakarta Dance Meet Up (JDMU) tahun ketiga pada 23-26 Agustus 2019 mendatang menghadirkan 16 komunitas tari yang berkarya di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Komunitas-komunitas tersebut merepresentasikan berbagai genre tari, mulai dari ballet hingga kontemporer.

Uniknya, JDMU tahun ini tidak hanya menghadirkan komunitas tari yang beranggotakan para penari profesional dan dewasa, tetapi juga komunitas pemula yang beranggotakan pelajar SMA.

Ke-16 komunitas tari tersebut, yakni Muda Move, Unit Seni Budaya Trisakti, Jakarta Dance Art Education 17, EKI On Call, Swargaloka, Bidar Dance Community, Last Team, dan KIG Dance Community UPI Bandung.

Selain itu, ada pula komunitas tari Ballet Sumber Cipta/Kreativität Dance – Indonesia, DMP Project, Noken Lab, Bahasa Dance Project, Indonesia Dance Company, Citra Istana Budaya, Lentera Fannani Dance, dan Daun Gatal.

Komunitas sebagai Sekolah Alternatif

Dengan gelaran JDMU, Komite Tari berniat untuk menjadikan komunitas tari sebagai sekolah alternatif. Karena memang banyak seniman tari Indonesia tumbuh dalam lingkungan sekolah formal dan komunitas swadaya. Kedua institusi itu dengan cara masing-masing telah menumbuhkan dan membesarkan seniman tari di Indonesia.

Kedua sistem ini bisa saling berkonfrontasi satu sama lain tetapi juga bisa saling membuahi. Sekolah seni bisa menjadi kompetitor bagi komunitas seni, tetapi sekaligus bisa menjadi kolaborator yang saling melengkapi. Kehadiran dua jenis institusi ini telah menjadi corak unik dalam gelanggang seni tari di Indonesia.

Hari ini, hubungan komplementer antar kedua institusi itu lebih dibutuhkan, terutama pada taraf pembinaan seniman muda di Indonesia.

Kita telah menyaksikan bagaimana sekolah formal (di mana tari selalu ada di dalamnya) telah berkembang sedemikian rupa dengan segala kelebihan dan keterbatasannya. Demikian halnya dengan peran sekolah seni yang masih diperhitungkan dalam medan seni tari.

Namun, tidak semua kalangan masyarakat bisa memasuki wilayah sekolah formal tersebut. Hal itu disebabkan beragam persoalan, termasuk aksesiblitas dan dan modal ekonomi, sehingga tidak semua sekolah seni bisa melakukan hal itu.

Sebagai instutisi formal yang terikat dengan aturan negara dan aspek formal-legal lainnya, tentu saja sekolah seni mempunyai keterbatasan. Tidak hanya dalam menerima berbagai siswa yang mempunyai peminatan besar pada seni tari. Tetapi juga mengukuhkan berbagai fenomena kultural yang terjadi sebagai elemen pendidikan di dalam sekolah itu sendiri.

Dengan demikian, di sinilah peran penting komunitas tari yang berada di luar kewenangan pemerintah secara penuh. Dengan haraan komunitas tari (yang tak jarang juga terdapat lulusan sekolah seni di dalamnya) dapat menjadi sekolah alternatif yang bisa mengakomodasi masalah yang tidak disentuh sekolah formal.

Merespon Isu Kontemporer

Sebagai sekolah alternatif, komunitas seni diharapkan bisa merespon isu-isu kontemporer, gejala-gejala baru, dan persoalan-persoalan tidak terselesaikan, dengan lebih cepat, luas, dan tidak terlalu dibebani oleh tuntutan legal-formal yang biasanya melandasi sekolah formal.

Selain itu, sebagai alternatif, komunitas seni diharapkan dapat mengakomodir persoalan sosial lain yang seringkali menemui solusi terbatas, seperti banyaknya peminat seni tari di kalangan masyarakat umum tapi tidak memenuhi kriteria masuk ke sekolah seni, baik secara legal-formal, pendanaan, aksesibilitas, dan seterusnya.

Dengan watak komunitas yang mempunyai komitmen sosial yang tinggi, kemungkinan untuk menguatkannya sebagai ‘sekolah alternatif’ menjadi semakin mungkin.

Karena itu, kita memerlukan suatu ruang dialog yang bisa menemukan celah terbaik bagi peran dan posisi komunitas seni sebagai sekolah alternatif. Kita tidak hanya membicarakan keterbatasan sekolah formal tetapi juga peluang apa yang bisa diisi oleh komunitas tari.

Begitu pula sebaliknya, kita tidak hanya membincangkan potensi alternatif dari komunitas seni tetapi juga keterbatasannya sendiri dalam menuju menjadi ‘sekolah alternatif’.

Dengan demikian, pembicaraan mengenai komunitas seni sebagai sekolah alternatif ini tidak dalam skema menempatkan sekolah formal dan komunitas seni dalam kubu yang berlawanan. Melainkan sebagai kolaborator yang saling memaksimalkan potensi masing-masing, serentak terciptanya keterhubungan baru.

Pameran JDMU

Dalam gelaran tahun ketiganya, JDMU juga menggelar pameran dan bazar tari. Pameran ini dimaksudkan untuk mengembalikan wajah Jakarta sebagai etalase Indonesia seperti yang terjadi pada era 1970-an. Gubernur DKI Jakarta Ali Sakidin saat itu mengatakan, “segala yang terbaik di daerah mesti dibawa ke Jakarta”.

Ironisnya, cerita manis tentang ibukota sebagai “etalase” Indonesia tinggal kenangan. Hari ini, generasi baru mesti merunut kembali cerita itu dan seolah-olah merenovasi bangunan kejayaan yang runtuh.

Karena Jakarta hari ini proyeksi dari silang-sengkarut sekaligus jalin-kelindan antar berbagai kultur yang berlalu-lalang, datang dan pergi, di Indonesia. Ia berwujud sebagai benang kusut yang tidak mudah diuntai satu sama lain.

Sebagai entitas yang hidup di pusaran kosmopolitan global, Jakarta berwatak tradisional sekaligus global. Ia berdiri layaknya batu cadas sekaligus kerikil berserakan.

Berdiri pada narasi inilah pameran JDMU ini dirancang untuk merevitalisasi fitrah Jakarta. Kehadiran belasan komunitas tari, yang agaknya belum sungguh-sungguh merepresentasikan wajah seni tari Jakarta, akan menjadi batu loncatan bagaimana kisah masa lalu itu bertutur indah.

Melalui gelaran JDMU, seniman-seniman itu menari untuk merayakan kompleksitas hidup Jakarta: tantangan, persoalan, dan dinamika hidup para penghuninya.

*Daniel Deha⁣

Baca Juga

ATAP Manfaatkan Media Daring Gelar Parade Monolog

Portal Teater - Kreativitas senantiasa mengalir tanpa muara. Kalaupun ada, maka itu adalah awal bagi gagasan baru untuk terus berproses kreatif. Dalam situasi krisis...

Industri Musik AS Ambruk Karena Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah menyebar di 203 negara di dunia dengan terkonfirmasi positif 859.965 kasus, 42.344 meninggal dan 178.364 sembuh. Amerika Serikat...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...