Labo El Aktor Soroti Isu Feminisme Lewat “Ruang Tunggu” Karya Zen Hae

Portal Teater – Cerita rakyat “Nyai Dasima” (atau “Nyai Dasimah”) telah begitu populer di kalangan masyarakat Betawi (Jakarta). Sebab cerita ini bukan sebuah karya fiksi, tetapi merupakan cerita nyata dan hidup bagi orang Betawi.

Menurut Bascom (Dananjaya, 1991), legenda ini adalah prosa rakyat yang dianggap pernah benar-benar terjadi dan hidup, ditokohi manusia, tempat terjadinya adalah di dunia seperti yang kita kenal sekarang di kota Jakarta.

Dari penuturan warga, rumah Nyai Dasima dan suaminya Edward William berada di Pejambon, tepatnya di belakang Gereja Immanuel, dekat Stasiun Gambir.

Ketenarannya telah dibuktikan dengan kemunculan dalam berbagai bentuk: prosa (novel, bacaan anak-anak), puisi (syair, pantun), drama (Komedie Stamboel, Miss Riboet), film dan sinetron.

Kisah ini memiliki kompleksitas konflik yang tinggi. Tokoh-tokohnya terikat satu sama lain dalam alur irama cerita dan progresi yang ketat untuk bersama-sama menuju titik klimaks, di samping plotnya sempurna.

Isi cerita nyata ini dianggap berhasil menggambarkan sosok atau tipe Nyai klasik.

Labo eL Aktor dalam pementasannya berjudul “Ruang Tunggu” (atawa Peninjauan Kembali terhadap Nyai Dasima) karya Zen Hae, mencoba membaca dan mengidentifikasi naskah/cerita tersebut dengan menyoroti isu feminisme.

Ada isu lain juga yang muncul dalam teks yang dipentaskan pada Kamis (14/11) malam di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, tersebut. Antara lain: kejujuran, kemiskinan, SARA, dan peran media informasi dan komunikasi.

Namun semuanya dipakai sebagai wacana pendukung untuk mencapai tema dan gagasan utama, yaitu feminisme.

Pijakan konseptual ini dijadikan dasar bagi penggalian sutradara Lalu Karta Wijaya terhadap semua elemen dan materil pertunjukan untuk mencapai keutuhan pementasannya.

Media mapping berupa video-video pemberitaan televisi pun dijadikan sebagai artistik yang tidak hanya mendukung interaksi peran, tapi juga menjadi tubuh pertunjukan itu sendiri.

Dua Versi Cerita

Labo eL Aktor mengambil dua versi cerita tentang Nyai Dasima, yaitu dari karangan G. Francis (1896) dan karangan S.M. Ardan (1960).

Dikisahkan, dalam menjalani pilihan hidupnya, Nyai Dasima (diperankan Lailatin Na’ma, SAG) justru dibawa kepada pada pengalaman pahit dan berakhir pada kematian yang tragis.

Bersama kedua suaminya: yang pertama Tuan William (diperankan Muhammad Jauhar Haekal) dan yang kedua Samiun (diperankan Lalu Karta Wijaya), ia bukannya mendapatkan kebahagiaan, melainkan diperbudak oleh nafsu kedua laki-laki itu.

Setelah bercerai dengan Wiliiam, dan jatuh ke dalam pelukan Samiun, ia seperti keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau. Baginya, semua laki-laki sama: menjadikan perempuan objek pemuas nafsu.

Dalam pementasan ini, Labo eL Aktor menghadirkan wujud Nyai Dasima beserta tokoh-tokoh lainnya, kembali dari lembaran masa lalu untuk menyatakan segala aspirasinya.

Isi pemberitaan, kisah dan rumor yang berkembang tentang kehidupan dan kematiannya selama ini (ditampilkan lewat video mapping) dinilai tidak memberi ruang yang lebih layak baginya.

Menurut Nyai Dasima, kedua penulis: G. Francis dan S.M Ardan adalah dua sosok laki-laki yang terlalu berlebihan menggambarkan kisahnya di masa lalu.

Tim Produksi

  1. Sutradara: Lalu Karta Wijaya
  2. Penata musik: Imam Widayat
  3. Penata artistik: Turana
  4. Penata cahaya: Prio Herminto
  5. Penata busana: Tim Labo eL Aktor
  6. Pendukung lain:
  7. Pimpinan Produksi: Lailatin Na’ma, SAG

Stage Manager: Kurniawan J. Abror
Penata Rias: Nufus Art
Pemusik: M. Ramdhani dan Ahmad C Thariq
Penata Properti: Ryan N Sukma
Penata Grafis: Tedi Kriyanto
Penata Video Mapping: M.J Haeckal
Player Video Mapping: Bahtar
Dokumentasi: Sayyidul Aqsa
Videografer: Mata Warna
Konsumsi: Siti Zahro
Publikasi: Idris Affandi
Crew: Dirga, Zama, Muhriji, Adi Nugroho, Suhail, Renata
Tim Make Up dan Kostum: Ayu Dicka, Riska Amenda, Anisa Fitriani

Pemain

1. Aktor utama perempuan: Lailatin Na’ma, SAG (Nyai Dasima)
2. Aktor utama laki-laki: Muhammad Jauhar Haekal (Tuan William)
3. Aktor peran pembantu perempuan: Siti Rukoyah (Hayati)
4. Aktor peran pembantu laki-laki: Lalu Karta Wijaya (Samiun)
5. Aktor lainnya:
Puasa: Turana
Markum: Imam Widayat
Security: Kurnaiwan J Abror dan Ryan N Sukma.
Tuan P: Nurkholis Makki
Pelaku Gerak: Anisatin Nufus, Ayu Dicka, Ryan N Sukma, Kurniawan J. Abror, Wahyudin Al Ayubi, BMF Ubaid, Rahmat HM.

Tentang Labo eL Aktor

Labo eL Aktor berdiri pada tanggal 21 Juni 2019, merupakan salah satu komunitas teater yang berada di bawah naungan Yayasan eL Na’ma Indonesia.

Pada Festival Teater Jakarta Selatan, Labo El Aktor meraih juara/pemenang pada tiga nominasi, yaitu grup terbaik I dan sutradara terbaik, serta aktris pendukung terbaik.

Lalu Karta Wijaya, sutradara Labo eL Aktor, adalah seniman kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ia berkesenian sejak tahun 2000 sebagai anggota pertama Teater eL Na’ma hingga sekarang.

Sebagai aktor, Lalu telah meraih berbagai penghargaan sebagai aktor utama dan penata artistik terbaik di ajang festival teater.

*Daniel Deha

Baca Juga

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

Tandai HUT Ke-5 JIVA, Galnas Pamerkan Karya 19 Seniman Muda

Portal Teater - Menandai lima tahun Jakarta Illustration Visual Art (JIVA), Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran seni rupa sepanjang 8-27 Januari 2020. Pameran bertajuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...