Lebih Dekat Dengan “Wayang Kampung Sebelah” dari Solo

Portal Teater – Pertunjukan wayang yang hingga saat ini masih dapat kita saksikan, sesungguhnya sudah melampaui perjalanan sejarah berabad-abad. Disinyalir pertunjukan wayang sudah ada sejak zaman prasejarah di mana manusia (Jawa) belum mengenal tulisan.

Era di mana orang melakukan komunikasi atau transfer pesan, baik transfer pengetahuan dan maksud tujuan lain dengan cara lisan. Kebiasaan manusia menyampaikan pesan secara lisan atau melalui tuturan disebut sebagai tradisi tutur.

Konon lahirnya pertunjukan wayang berawal dari tradisi ritual penyembuhan. Pada zaman kuno bangsa kita memiliki ritual penyembuhan yang dilakukan oleh sosok yang disebut saman atau dukun.

Dalam ritual penyembuhan tersebut seorang saman mengucapkan mantera yang di dalamnya berisi kisah tentang roh-roh leluhur. Sembari mengucapkan mantra, saman diperkirakan melakukan gerakan-gerakan ritual.

Ritual penyembuhan yang biasa dilakukan pada saat malam hari gerakan saman dan bisa jadi bersama sejumlah asistennya, ketika diterangi cahaya penerangan (api unggun) kemudian memunculkan bayang-bayang. Dari situlah diperkirakan permainan bayang-bayang berawal.

Dapat dikatakan dari ritual penyembuhan paling kuno itulah berawalnya tradisi berkisah, bertutur atau bercerita dengan permainan bayang-bayang. Berangkat dari mantra penyembuhan yang di dalamnya menyebut nama-nama leluhur yang telah meninggal dengan maksud memohon berkah atau kekuatan penyembuhan, kemudian tersusun alur kisah atau cerita mulai dari struktur yang paling sederhana.

Pada perkembangannya kemudian muncul tradisi tulis. Manusia mulai mengenal tulisan. Dengan tradisi tulis itu kisah berkembang menjadi lebih banyak dan variatif. Jagad sastra mulai terlahir. Munculah kitab-kitab sastra yang kebanyakan berisi ajaran-ajaran spiritual dan cerita kepahlawanan yang disebut Wiracarita.

Kitab-kitab yang berbentuk prosa dan puisi tersebut tidak hanya dibaca tetapi juga dituturkan, terutama yang berbentuk puisi atau syair. Penulis atau pengarang sastra pada waktu itu disebut sebagai Kawi atau Mpu, penutur yang membacakan atau mendendangkan karya-karya sastera itu disebut Widu.

Menurut para ahli, pertunjukan wayang atau tradisi bermain bayang-bayang lahir terlebih dulu dari tradisi tulis atau sastra. Namun mengingat kelahirannya di tengah zaman lisan maka tidak dapat dirunut sejak kapan tepatnya permainan bayang-bayang lahir.

Kesimpulan tentang pertunjukan bayang-bayang lahir terlebih dulu berdasarkan prasasti tertua yang ditemukan di Jawa, yakni prasasti raja Balitung. Prasasti yang diperkirakan ditulis pada tahun 907 itu menyebut tentang pertunjukan wayang.

Disebutkan seorang dalang bernama Galigi mendalang ‘mawayang’ dengan menyajikan cerita Bhima Kumara yang artinya Bima remaja atau Bima jatuh cinta. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa di masyarakat sudah berkembang tradisi pertunjukan wayang sebelum prasasti itu ditulis.

Wayang yang lahir di era tradisi lisan kemudian semakin berkembang dengan hadirnya tradisi tulis. Melalui tradisi tulis itu materi kisah menjadi semakin banyak dan variatif. Dari itu dapat dikatakan bahwa tumbuh berkembangnya pertunjukan wayang berhubungan erat dengan tumbuh berkembangnya kesusastraan.

Kedua disiplin seni yang berbeda tersebut, wayang dan sastra, tumbuh bersama dan saling mempengaruhi. Lakon pertunjukan wayang kemudian dominan dipengaruhi oleh kisah-kisah yang disusun oleh para kawi atau mpu sebagai sumber cerita.

Sebaliknya struktur kisah pertunjukan wayang juga mempengaruhi dunia sastra sebagai sumber ide. Zoetmulder dalam buku “Kalangwan” menyebutkan, struktur Arjuna Wiwaha yang ditulis oleh Mpu Kanwa sangat dipengaruhi oleh struktur lakon pertunjukan wayang yang berkembang saat itu.

Hal itu menyebabkan struktur Arjuna Wiwaha karya saduran Mpu Kanwa menjadi sangat berbeda dengan kitab Wanaparwa dari India sebagai sumber saduran.

Dari uraian singkat di atas dapat diketahui bagaimana perjalanan proses perkembangan pertunjukan wayang sejak awal. Dari tradisi Saman kemudian lahir ide kreatif manusia Jawa bermain bayang-bayang untuk berkisah.

Berawal dari sebatas kisah roh-roh leluhur di sekitar masyarakat kemudian berkembang ke kisah tentang dewa-dewa seiring dengan masuknya sistem keyakinan agama Hindu di Jawa.

Dari waktu ke waktu pertunjukan wayang mengalami perkembangan dan perubahan dari bentuknya yang sangat sederhana hingga menjadi sedemikian lengkap sebagaimana kita saksikan saat ini. Artinya dari waktu ke waktu pertunjukan wayang mengalami transformasi.

Bahkan bukan hanya wayang kulit (purwa) sebagai genre wayang tertua yang berkembang, tetapi juga berkembang atau lahir bentuk atau genre wayang baru yang lain.

Seperti diketahui bahwa sampai saat ini kita memiliki banyak genre wayang, antara lain: wayang madya, wayang menak, wayang golek, wayang klithik, wayang wahyu, wayang sasak, wayang banjar, wayang wong, dan lain sebagainya.

Pentas Wayang Kampung Sebelah. -Dok. youtube.com
Pentas Wayang Kampung Sebelah. -Dok. youtube.com

Wayang Kampung Sebelah

Dari mempelajari sejarah proses perkembangan pertunjukan wayang itulah maka ada keberanian untuk mencipta satu pertunjukan wayang baru yang dinamakan “Wayang Kampung Sebelah” (WKS).

Bahwa dari zaman ke zaman wayang bertransformasi dan bahkan bermunculan berbagai genre baru, merupakan realitas yang mendorong spirit dan kesadaran tentang berproses kreatif.

Kelahiran WKS boleh dikatakan meneruskan jejak sejarah proses kreatif dunia pertunjukan wayang.

Mengerti yang lama untuk membuat yang baru merupakan ungkapan yang menjadi pegangan WKS dalam berkarya kreatif. Wayang Kampung Sebelah tetaplah wayang. Keberadaannya diletakkan sebagai tafsir pertunjukan wayang.

Kaidah-kaidah dasarnya tetaplah mengacu kepada pertunjukan wayang yang lebih tua, terutama pertunjukan wayang kulit. Secara substansi, struktur pertunjukan WKS sama dengan pertunjukan wayang kulit purwa, tapi materialnya berbeda.

Terdapat empat substansi pertunjukan wayang yang tetap dijadikan acuan bagi WKS, yakni: dalang, wayang, cerita dan iringan.

WKS tetap dengan dalang tunggal sebagai aktor sentral pertunjukan. Kaidah-kaidah estetiknya tetap sama mengacu kaidah pedalangan wayang kulit purwa di mana dalang harus mampu membawakan kaidah-kaidah antara lain: antawacana, trampil, sem, nges, greget, regu, banyol, dan cucut.

Antawacana, yakni pengkarakteran tokoh wayang dengan pembedaan warna suara. Trampil, dalang harus terampil menggerakkan boneka wayang sehingga menarik dipandang. Sem, dalang harus mampu menyajikan adegan yang menawan semisal adegan percintaan.

Nges, dalang dituntut mampu menyajikan adegan dengan suasana kesedihan yang benar-benar bisa menyentuh hati penonton. Greget, dalang harus mampu membawakan adegan dengan suasana yang energik penuh semangat semisal adegan tokoh yang sedang marah.

Regu, dalang dituntut mampu menyajikan adegan dengan nuansa berwibawa seperti adegan sidang keraton. Banyol, dalang dituntut mampu menyajikan humor atau lawakan yang segar menghibur. Cucut, dalang dituntut lancar dalam bertutur.

WKS tetap menggunakan boneka wayang dua dimensi, bahan terbuat dari kulit, dengan kelengkapan bakunya berupa layar (kelir), lampu (blencong) dan batang pisang.

Mengingat ceritanya berbeda maka bentuk wayangnya juga berbeda dengan wayang yang lain, khususnya wayang purwa. Boneka wayang WKS berbentuk manusia biasa yang distilasi.

WKS tetap berasumsi bahwa pertunjukan wayang adalah seni tutur disertai alat peraga. Maka WKS menempatkan tuturan atau kisahan dalang sebagai pilar utama struktur pertunjukan.

Cerita atau lakon menjadi substansi utama pertunjukan, baru kemudian menempatkan substansi-substansi yang lain sebagai pendukung.

Salah satu pentas Wayang Kampung Sebelah. -Dok. WKS
Salah satu pentas Wayang Kampung Sebelah. -Dok. WKS

Secara material kisah pada pertunjukan WKS berbeda dengan wayang yang lain terutama wayang purwa, yakni mengangkat realitas kehidupan sehari-hari masyarakat sekarang.

WKS tetap menggunakan iringan sebagai elemen pendukung suasana. Instrumentasi WKS tidak lagi menggunakan alat musik gamelan, melainkan menggunakan set alat musik combo band.

Dari empat elemen dasar atau substansi yang membangun struktur pertunjukan WKS sebagaimana tersebut di atas, kiranya jelas bahwa struktur WKS tetap mengacu kepada struktur pertunjukan wayang (kulit).

WKS memang genre wayang baru tetapi secara kaidah estetik bukan hal yang sama sekali baru. WKS berkeinginan bahwa kebaharuan yang dicapai tetap tidak tercerabut dari akar budaya pertunjukan wayang.

Aparat Kritik

Seni merupakan salah satu wahana ekspresi manusia dalam menyalurkan pikiran, perasaan dan bakat potensinya dalam rangka merespon kondisi dan situasi yang ada dalam diri dan dan di luar dirinya.

Banyak bentuk tindakan manusia dalam merespon suatu situasi dan kondisi, seperti misalnya dengan tindakan hukum, politik, ekonomi, teknologi, ritual agama, dan sebagainya.

Seni adalah tindakan manusia dalam merespon suatu kondisi dan situasi secara estetik. Ekspresi dapat diartikan sebagai proses reaksi atas suatu situasi dan kondisi. WKS sebagai wahana ekspresi keberadaannya tidak lepas dari makna tersebut.

WKS memang lahir bukan dari ruang hampa. WKS lahir dan berproses berangkat dari respon atas situasi dan kondisi yang berkembang di sekitar.

Dorongan utama adalah kegelisahan terhadap eksistensi pertunjukan wayang pada umumnya yang semakin rapuh tergeser minggir dari ru- ang kehidupan masyarakat. Banyak faktor yang membuat seni pertunjukan wayang makin tersisih, baik yang bersifat internal dan eksternal.

Dengan makin tersisihnya seni pertunjukan wayang maka masyarakat kita dapat dikata potensial kehilangan salah satu wahana pencerahan sekaligus aparat kritik sosial.

Padahal pada hematnya dalam eskalasi situasi sosial, politik dan kultural yang semakin tidak menentu saat ini, bahkan kapan pun, eksistensi kesenian sangat diperlukan oleh masyarakat.

Seni apa pun. Baik itu seni musik, seni wayang, seni sinematografi, dan lain sebagainya keberadaannya sangat diperlukan oleh masyarakat.

Mengingat pada hakekatnya seni bukan hanya keindahan dan hiburan pelipur lara, melainkan ada tugas mulia sebagai agen pencerahan guna mengawal moral-spiritual (dan intelektual) masyarakat.

Salah satu karakter Wayang Kampung Sebelah. -Dok. WKS
Salah satu karakter Wayang Kampung Sebelah. -Dok. WKS

Meminjam satu adagium dalam dunia teori sastra yang diungkap oleh Rene Welk dan Austin Weren, bahwa prinsip seni adalah “dulce at utile” yang artinya “indah dan berguna”. Indah artinya memberi hayatan estetis atau keindahan ke dalam jiwa manusia; berguna artinya memiliki manfaat bagi pengembangan moral-spiritual manusia.

WKS berkeinginan turut serta menegakkan eksistensi seni di masyarakat. Itulah salah satu orientasi WKS. Untuk orientasi tersebut bukanlah pekerjaan mudah. Sebagai konsekuensinya WKS dituntut melakukan banyak hal dalam berproses kreatif. Banyak persyaratan-persyaratan estetik dan non estetik yang harus dipenuhi.

Dalam bereksplorasi estetik WKS harus memahami betul kaidah-kaidah (disiplin) seni pertunjukan wayang agar tidak terjebak menjadi sebatas “entertainment”, yang sebagian kaidah-kaidah itu sudah sedikit disinggung di depan.W

WKS berusaha memegang prinsip seni pertunjukan wayang yang menyebutkan: “wayang kang katonton, dhalange nora katon”, di mata penton hanyalah wayang yang terlihat dalangnya sama sekali tidak tampak. Artinya, fokus perhatian penonton terpusatkan pada layar.

Dalang dan musisi pendukung keberadaannya tidak boleh mengganggu perhatian penonton terhadap kisahan di layar. Sebagaimana film, dalang adalah sutradara dan musisi adalah ilustrator. Ketika melihat film orang hanya melihat kisahan yang tersorotkan di layar.

Sutradara, musisi dan seluruh tim produksi tak satupun yang menampakkan wajahnya di layar film. Begitulah lebih-kurang muara dari kaidah estetik atau disiplin seni pertunjukan wayang.

Eksplorasi non estetik tak kalah berat dan banyak. Seniman pelaku, terutama dalang dituntut memiliki kematangan skill, keluasan wawasan dan pengetahuan. Yang tak kalah penting adalah kepekaan terhadap situasi dan kondisi yang berkembang di sekitar sebagai sumber inspirasi.

Seniman pada dasarnya perajut benang problematika kehidupan. Seniman tetaplah manusia biasa yang mustahil menguasai segala hal, akan tetapi seniman dituntut mengerti tentang banyak hal.

Mengingat seni adalah dunia mimesis, potret kehidupan, wewayanganing urip: gambaran kehidupan. Bagaimana mungkin seniman mampu menyajikan mimesis ketika dia tak mengerti seluk-beluk kehidupan?

Seni adalah potret kehidupan, tempat khalayak bercermin. Maka seni disebut agen pencerahan. Dengan bercermin orang menjadi tercerahkan, mengerti tentang baik-buruk, benar-salah, layak-tak layak.

Dalam berproses kreatif WKS berupaya terus belajar dan mempelajari banyak hal terutama guna mengerti problematika-problematika kehidupan atau zaman.

Problematika sosial, politik, lingkungan, hukum, kultur, ekonomi, keagamaan dan lain sebagainya sedikit banyak mesti dimengerti. Mengingat WKS harus hadir di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian kompleks.

Yang tak kalah penting adalah bagaimana WKS menyikapi kebudayaan masa lalu. Kebudayaan masa lalu ditempatkan sebagai warisan yang semestinya dijaga.

Namun pengertian menjaga di sini tidak dalam paradigma puritanistik melainkan progresif. Kebudayaan masa lalu adalah warisan yang harus kita olah demi kepentingan kehidupan masa kini dan masa depan.

Yang penting dimengerti yakni substansi kebudayaan adalah nilai. Merawat kebudayaan adalah bagaimana kita menjaga nilai-nilai yang senantiasa dipegang dan dikembangkan oleh bangsa kita sejak dulu, seperti nilai-nilai ketuhanan, kemanusian, kebersamaan, toleransi, keutamaan dan sebagainya.

Dalam upaya menjaga nilai itu setiap orang, setiap komunitas, setiap zaman niscaya masing-masing akan memiliki cara berbeda. Prinsip “cara berbeda” itulah letak kreativitas di ruang kebudayaan.

Dengan berbekal kesadaran tentang prinsip tersebut maka setiap generasi akan senantiasa berkebudayaan, yang artinya berbekal materi yang sudah ada untuk menciptakan sesuatu yang belum ada. Begitulah lebih kurang makna gerak kebudayaan yang berkesinambungan.

Pentas Wayang Kampung Sebelah. -Dok. myimage.id
Pentas Wayang Kampung Sebelah. -Dok. myimage.id

Struktur Pertunjukan

WKS sebagai tafsir baru atas seni pertunjukan wayang kulit pada struktur fisiknya tetap menggunakan kelengkapan layar dengan batang pisang, menggunakan boneka dua dimensi, dan iringan musik.

Boneka wayangnya terbuat dari kulit dengan berbentuk manusia realis yang distilasi. Sebagai iringan tidak lagi menggunakan gamelan melainkan instrumentasi combo band.

WKS yang digagas dan dikerjakan sejak pertengahan tahun 2001 itu, durasi pertunjukannya tidak semalam suntuk sebagaimana pertunjukan Wayang Kulit Purwa, melainkan sekitar 2-3 jam.

Lakon di WKS tidak berkisah tentang kerajaan, legenda, mitos atau cerita rakyat yang berkembang di era kerajaan, melainkan mengangkat kisah kehidupan sehari-hari masyarakat sekarang.

Susunan dan perilaku masyarakat urban perkampungan menjadi sumber ide struktur cerita. Sebagaimana kehidupan masyarakat kampung yang kompleks, tokoh-tokohnya terdiri dari bakul jamu, penarik becak, pelacur, anggota Linmas, dan sebagainya, dan jabatan tertinggi setingkat Lurah.

Tema-tema ceritanya mengangkat isu-isu besar menyangkut problematika di ranah lingkungan, sosial, kebudayaan, pendidikan, hingga persoalan politik negara.

Isu-isu besar tersebut diolah dan disajikan dengan perangkat struktur cerita kehidupan masyarakat setingkat kampung dengan harapan lebih mudah dicerna dan dipahami oleh masyarakat penonton.

Dari keinginan agar selalu dekat dan mudah diterima serta dipahami masyarakat itulah Wayang Kampung Sebelah memiliki slogan “mengungkap hal serius dengan cara tidak serius”.

Persoalan-persoalan besar yang diangkat sebagai tema cerita disajikan dalam struktur kisahan sederhana dan cenderung mengusung atmosfer cair, nakal, namun kritis. Begitu pula sajian musikalnya dipilih format yang easy listening agar lebih gampang diterima dan dicerna oleh masyarakat kebanyakan.

Susunan Pelaku

  • Dalang/Sutradara: Jlitheng Suparman
  • Komposer/Djimbe: Yayat Suheryatna
  • Saxophone: Gendot Dekanipa
  • Kendang: Kukuh Widiasmoro
  • Bass Guitar: Nadias Rushendro Nugroho
  • Guitar/Vokal: Peter Ardiansyah
  • Flute: Muhammad Basri
  • Drum: Paulus Hendardi
  • Vokal: Rima Ashari Kriisnawati

Jlitheng Suparman (Dalang WKS). -Dok. WKS
Jlitheng Suparman (Dalang WKS). -Dok. WKS

Tentang Jlitheng Suparman

Dalang kelahiran Surakarta 1 Desember 1966 ini belajar mendalang wayang kulit purwa kepada kakek dan pamannya di Ngadirojo, Wonogiri, sejak kelas 5 SD.

Prestasinya mulai terlihat saat menyabet juara II lomba dalang remaja se-Kabupaten Wonogiri di tahun 1979. Dalam mengembangkan bakatnya ia menempuh jalur pendidikan di Jurusan Seni Pedalangan SMKI Negeri Surakarta, lulus tahun 1986.

Kemudian meneruskan jenjang pendidikan berikutnya di Jurusan Sastra Jawa Fakultas Sastra UNS Surakarta dan berhasil menyandang gelar Sarjana Sastra di tahun 1995.

Di tahun yang sama, dalang berputera dua laki-laki itu berhasil meraih prestasi masuk Sepuluh Besar Dalang Unggulan pada Festival Greget Dalang yang diikuti oleh 50 dalang se-Indonesia.

Kiprah dalang yang lahir di kota Solo ini tidak hanya berhenti di jagad panggung pertunjukan wayang. Menulis adalah salah satu kegemarannya. Tidak sedikit buah pena berbentuk cerpen, cerita wayang, geguritan dan artikel seni-budaya yang dimuat di berbagai media cetak.

Tidak sedikit pula komunitas masyarakat maupun kampus-kampus yang mengundangnya seba- gai pembicara diskusi seni dan budaya. Menurutnya, dalang bukan sebatas penghibur, lebih dari itu ia menempati posisi strategis.

Jlitheng Suparman sebagai agen pencerahan bagi masyarakat. Maka untuk melengkapi wawasan sosial-politiknya sekaligus terdorong oleh keinginan ambil bagian dalam menggelisahkan problematika bangsa-negara, sejak tahun 2009 ia bergabung dengan komunitas Pergerakan Kebangsaan.

Yayat Suheryatna (Komposer WKS). -Dok. WKS
Yayat Suheryatna (Komposer WKS). -Dok. WKS

Yayat Suheryatna (Komposer)

Pria kelahiran Banyumas 30 Juli 1960 ini memang teraliri darah seni dari kakeknya yang sekaligus guru belajar karawitan baginya sejak kecil.

Sejak awal pula wawasan estetiknya tak hanya terpagari di ranah seni tradisional. Naluri kreatifnya mulai meliar ketika di tahun 1976 sudah mengkolaborasikan antara gamelan dan musik kombo band, bersama-sama dengan rekan seusianya di kampung.

Bakat kreatifnya dikembangkan dengan menempuh jalur pendidikan di Jurusan Seni Karawitan ASKI Surakarta yang diselesaikannya di tahun 1985 dan menyandang gelar Sarjana Karawitan.

Musisi dan pencipta lagu ini lintasan kiprah kreatifnya menjangkau wilayah dalam dan luar negeri.

Sederet pengalamannya benar-benar menunjukkan kapasitasnya, antara lain: menjadi pemusik Teater Gapit Surakarta 1980-1990an; mendirikan grup musik Golden Water 1991; memperkenalkan gamelan Jawa kepada masyarakat Norwegia bersama KBRI Oslo 1994.

Ia pernah mengajar gamelan Jawa di Rikkskonsertene Norwegia 1995; mengikuti Rendez vouz or Art, Chiang Mai, Thailand 1997; mengikuti Pacific Music Festival, Sapporo, Jepang 1999; bekerjasama dengan komunitas Eurythmie Mobile Stuttgart Jerman 1999; dan menjadi salah satu pendiri WKS (2001).

Menjadi narasumber workshop Musik Dayak Barongtongkok Kab. Kutai Barat Kaltim 2002; menjadi pemusik tari “Aceh Bersimbah Darah” karya Deddy Luthan 2004; menjadi pemusik Sobrat, Bengkel Teater Rendra, Jakarta 2005; dan menjadi pemusik Teatrikalisasi Puisi “Suluk Hijau” karya W.S. Rendra, Jakarta 2008.

Kini di WKS, selain sebagai pemegang alat musik Djimbe, ia memegang posisi pilar sebagai komposer dan penata iringan. Repertoar lagu (origin) iringan WKS yang nakal dan kritis adalah dominan karya pria yang akrab disapa Yayat ini.

*Naskah ini diambil dari Katalog Pekan Teater Nasional 2019 yang diadakan di Samarinda, 20-26 September 2019.

Baca Juga

Penyebaran Virus Corona di Indonesia Terus Meluas

Portal Teater - Penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia terus meluas sejak pertama kali teridentifikasi melalui dua pasien di Depok, Jawa Barat, awal Maret...

Pekerja Teater Manfaatkan Media Daring untuk Tetap Bekerja

Portal Teater - Para pelaku teater memilih bekerja dari rumah di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang terus meluas. Tidak hanya di Indonesia, sejumlah...

31 Film Hollywood Terdampak Virus Corona

Portal Teater - Hollywood sebagai simbol bisnis hiburan terbesar dunia sepenuhnya merasakan efek pandemi virus corona (Covid-19) yang kini sedang melanda dunia. Setidaknya ada 31...

Terkini

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...

Merayakan Hari Teater Dunia Di Tengah Corona

Portal Teater - Keprihatinan yang mendalam saya sampaikan kepada seluruh rekan teater Indonesia yang sejak Februari 2020 harus membatalkan atau mengundurkan waktu pertunjukkan. Hal itu...

Cegah Covid-19 Baru, China Batasi Akses Wisatawan Asing

Portal Teater - Untuk mencegah penyebaran virus corona baru, otoritas China sementara waktu akan menutup perbatasannya untuk sebagian besar wisatawan asing. Penutupan akses tersebut...

Transmisi Virus Corona Tak Terbendung, AS Terbanyak

Portal Teater - Transmisi virus corona terus meluas. Ini menunjukkan bahwa penyebaran corona makin tak terbendung di tengah ketidaksiapan dan kelambanan negara-negara untuk mencegahnya....

Dewan Kesenian Inggris Luncurkan Rp2,9T Untuk Sokong Industri Seni

Portal Teater - Dewan Kesenian Inggris atau Arts Council England (ACE) telah meluncurkan paket tanggap darurat senilai £160 juta atau setara Rp2,9 triliun (kurs...