Lebih Dekat Melihat ‘Drama Penonton’ Festival Teater Jakarta 2019

Portal Teater – Ketika seseorang mulai bergerak dari rumahnya menuju gedung pertunjukan teater, sebenarnya itu merupakan sebuah ‘drama’, demikian kata Afrizal Malna, Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada awal November lalu.

Dalam diskusi terkait pelaksanaan Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019 itu, Afrizal menjelaskan, pergeseran infrastruktur transportasi tentu berimbas pada akses serta gambaran tertentu dalam benak penonton tentang teater dan gedung teater itu sendiri.

Penggunaan alat transportasi semisal MRT, LRT, Busway, kereta api KRL, ataupun Gojek dan Grab atau kendaraan pribadi, merupakan pilihan-pilihan yang dibuat penonton untuk mencapai tempat di mana teater akan dipentaskan.

Ekosistem baru ini berbeda dengan kondisi di masa lalu, ketika orang pergi menonton teater dengan berjalan kaki, misalnya, atau menggunakan ojek dan menumpang microlet bersama teman-teman.

Ada dua ‘drama’ berbeda dalam fenomena ini yang bersirkulasi dengan ketersediaan modal, baik untuk menyewa kendaraan maupun untuk membeli tiket pertunjukan.

Beberapa penonton FTJ 2019 rela berdiri agar lebih menikmati jalannya pertunjukan. -Dok. portalteater.com
Beberapa penonton FTJ 2019 rela berdiri agar lebih menikmati jalannya pertunjukan. -Dok. portalteater.com

Drama penonton pun tidak hanya berhenti di situ. Ketika memasuki gedung pertunjukan, mereka akan mencari meja registrasi dan bertemu dengan humas.

Di sana, mereka mendaftarkan diri untuk mendapat nomor kursi lalu mendapatkan pamflet atau flyer yang berisikan konten pertunjukan.

Sembari menunggu pintu gedung pertunjukan dibuka, mereka akan menikmati pameran yang disediakan oleh grup yang mementaskan pertunjukan, atau pameran yang disediakan panitia. Ambil contoh, pameran “Drama Penonton” dalam Festival Teater Jakarta 2019.

Selain itu, sekarang ini banyak grup dan panitia penyelenggara pertunjukan menyediakan satu booth spesifik sebagai tempat untuk berfoto selfie. Istilah kekinian menyebutnya sebagai spot yang “Instagramable”.

Di sanalah, penonton dapat mengabadikan momen-momen jelang pertunjukan untuk segera disiarkan lewat sosial media.

Dari ragam fenomena itu, sesungguhnya ‘drama penonton’ telah dimulai sejak sebelum pertunjukan berlangsung.

Drama Penonton FTJ 2019

Selama helatan FTJ 2019, kami dari tim Portal Teater sempat mewawancarai beberapa penonton sesaat setelah pertunjukan.

Penonton yang diwawancarai umumnya kaum muda, atau yang mewakili kalangan milenial. Ada yang baru saja tamat SMA, ada yang berstatus mahasiswa, ada juga yang telah bekerja.

Beberapa diantaranya merupakan pemain teater atau yang telah akrab dengan dunia teater. Selain mereka, ada juga penonton awam, yaitu penonton yang baru menonton satu-dua kali pertunjukan teater.

Umumnya, penonton awam mengakui bahwa mereka baru mengenal dunia teater. Mereka menonton pertunjukkan di FTJ 2019 karena diajak teman, atau karena memiliki saudara/kerabat yang bermain teater.

Di dalam gedung teater, penonton awam biasanya menikmati pertunjukan tanpa embel-embel apapun. Beberapa dari mereka bahkan merekam pertunjukan menggunakan smartphone, untuk diposting di akun Instagram pribadinya.

Selesai pertunjukan, sebelum keluar dari gedung pertunjukkan beberapa dari antaranya tidak serta-merta pulang. Mereka sekali lagi singgah di ruang pameran untuk sekedar melihat-lihat biografi grup peserta FTJ 2019.

Berbeda dengan penonton yang adalah pelaku teater atau peminat teater. Ketika membaca sinopsis dan masuk ke gedung pertunjukan, mereka juga menikmati jalannya pertunjukan.

Tidak hanya itu, mereka juga memperhatikan secara teliti, kekuatan dan kelemahan dalam pertunjukan, mulai dari musik, lampu, aktor, ekspresi, dan lain-lain.

Rata-rata dari mereka menjawab, itu dilakukan untuk memperkaya gagasan bermain teater agar mereka bisa belajar untuk lebih baik lagi.

Pentas “Macbeth” oleh Sanggar Teater Jerit, Rabu (27/11) malam. -Dok. portalteater.com

Ada frame menonton yang berbeda dari dua kategori penonton ini. Yang satu menonton untuk mencari hiburan dan menikmati pertunjukan, yang lainnya ingin mendapat sesuatu dari tontonan itu.

Uniknya, kedua kategori penonton ini belum mengungkapkan apakah menonton teater akan memberi nilai guna tertentu dalam hidup mereka setelahnya.

Ketika ditanya, pesan apa yang ditangkap setelah menonton pertunjukan, penonton awam umumnya belum menemukan ‘makna lebih’ dari tontonan. Yang mereka petik adalah keindahan properti, atau hal-hal menarik dalam pertunjukan.

Belum ada pesan khusus yang langsung mengantar kepada pemahaman akan nilai-nilai yang disampaikan dalam pertunjukan.

Meski demikian, bagi mereka teater menjadi menarik untuk ditonton karena dianggap berbeda dengan pertunjukan yang lain, misalnya film, bioskop, musik, dll.

Dengan menonton pertunjukkan teater, mereka melihat langsung bagaimana aktor bermain, dan merasakan suasana yang sama sekali berbeda. Karenanya mereka akan mencari tahun tentang pertunjukan teater dari berbagai sumber informasi, terutama lewat Instagram.

Ironi ‘Drama Penonton’ FTJ

Selama 18 hari pertunjukan, yaitu sejak 12-29 November 2019, setidaknya ada beberapa catatan unik dari ‘drama penonton’ FTJ tahun ini.

Ketika FTJ dibuka pada Selasa (12/11) malam, penonon begitu membludak di gedung Teater Besar, TIM Jakarta. Setidaknya jumlah penonton bisa ditaksir mencapai seribuan orang.

Lalu, selama tampilnya kelimabelas grup peserta sejak 13-27 November, jumlah penonton hampir merata dengan kisaran 200-an penonton atau lebih di setiap pertunjukan.

Meski demikian, dalam beberapa pertunjukan, jumlah penonton yang hadir tampak lebih banyak ketimbang pertunjukan-pertunjukan lain.

Dua orang penonton FTJ 2019 berfoto selfie dengan sutradara dan aktor Unlogic Theatre Dina Febriani (tengah) setelah pementasan "Mesin Hamlet", Selasa (26/11) malam. -Dok. portalteater.com
Dua orang penonton FTJ 2019 berfoto selfie dengan sutradara dan aktor Unlogic Theatre Dina Febriani (tengah) setelah pementasan “Mesin Hamlet”, Selasa (26/11) malam. -Dok. portalteater.com

Hal yang menarik justru terjadi pada pertunjukan Teater amatirujan dari Jakarta Utara yang mementaskan naskah “Kursi-Kursi” karya Eugene Ionesco, Senin (25/11) malam.

Di tribun pertunjukan, jumlah penonton tidak sebanyak pertunjukan sebelum maupun sesudahnya. Bahkan, di sela-sela pertunjukan, banyak penonton yang beranjak pergi meninggalkan kursi mereka.

Tinggal sekumpulan penonton, yang kalau boleh ditaksir merupakan para pemain dan pelaku teater. Bukannya pertunjukan tersebut tidak menarik, tapi ada hal lain yang perlu dilacak dari fenomena tersebut.

Dugaan paling awal adalah grup teater yang berdiri pada tahun 2016 itu belum memiliki segmentasi penonton spesifik.

Atau, FTJ sendiri belum memiliki basis penonton, sehingga ketika grup tidak memiliki penonton bawaan, pertunjukan akan terlihat sepi.

Barangkali, fenomena inilah yang ditegaskan periset penonton teater, Sri Bramantoro Abdinegoro, bahwa grup dan pelaku teater di Jakarta perlu bekerja keras untuk menyasar penonton riil (di luar penonton bawaan), dengan menyediakan apa yang mungkin penting untuk memenuhi kebutuhan penonton teater.*

Baca Juga

Komite Tari DKJ Gelar “IMAJITARI” sebagai Ajang Sosialisasi Dance Film

Portal Teater - Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menggelar IMAJITARI "International Dance Film Festival" sepanjang 12-13 Desember 2019 di Art Cinema FFTV...

Ugo Untoro: Melukis Lebih Dekat tentang Personalitas Diri

Portal Teater - Duabelas tahun lalu pameran seni visual Ugo Untoro bertajuk "Poem of Blood" di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, 12-26 April 2007, menghebohkan...

Tutup Tahun, JCP Persembahkan Konser Special “Tribute to Farida Oetoyo”

Portal Teater - Jakarta City Philharmonic dan Ballet Sumber Cipta mempersembahkan konser spesial akhir tahun bertajuk Tribute to Farida Oetoyo pada Jumat (13/12), pukul...

Terkini

Ugo Untoro: Melukis Lebih Dekat tentang Personalitas Diri

Portal Teater - Duabelas tahun lalu pameran seni visual Ugo Untoro bertajuk "Poem of Blood" di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, 12-26 April 2007, menghebohkan...

Tutup Tahun, JCP Persembahkan Konser Special “Tribute to Farida Oetoyo”

Portal Teater - Jakarta City Philharmonic dan Ballet Sumber Cipta mempersembahkan konser spesial akhir tahun bertajuk Tribute to Farida Oetoyo pada Jumat (13/12), pukul...

Ini Daftar 20 Dance Film Yang Lolos Kompetisi IMAJITARI 2019

Portal Teater - Ada 20 karya dance film yang dinyatakan lolos ke tahapan sesi kompetisi helatan IMAJITARI “International Dance Film Festival” 2019. Dari 20...

Selama 43 Tahun, Kritik Seni Rupa Indonesia Masih Sebatas “Pengantar”

Portal Teater - Ketika kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan doktoralnya di Prancis tahun 1981, Sanento Yuliman mulai aktif menulis kritik seni rupa di...

Mahasiswa Prodi Teater IKJ Pentas “Macbeth” dengan Konsep Kekinian

Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan bangga akan mementaskan "Macbeth" karya William Shakespeare di Gedung Teater Luwes IKJ,...