Lestarikan Budaya Betawi, Sudin Kebudayaan Jaksel Bina 60 Sanggar Seni

Portal Teater – Untuk memperkuat ekosistem kesenian kota berbasis komunitas, Suku Dinas (Sudin) Kebudayaan Jakarta Selatan memfasilitasi pembinaan bagi 60 sanggar seni di Hotel Sotis, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/2).

Pembinaan digagas dengan tujuan agar komunitas atau sanggar-sanggar seni di wilayah Jaksel memiliki sistem nilai dan norma sosial budaya yang melandasi pemikiran dan perilaku masyarakat di tengah arus modernisasi.

Kepala Sudin Kebudayaan Pupla Dirdjaja mengungkapkan, pembinaan ini menghadirkan para narasumber ahli yang akan memberikan materi pembinaan berupa seni lukis, seni rupa, kerajinan tangan, seni teater, seni tari, tata panggung dan kewirausahaan.

“Kita datangkan tujuh narasumber yang ahli di bidang seni,” ujarnya, Kamis (20/2), melansir kastara.id.

Bentuk pembinaan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya Betawi sebagaimana diatur dalam Perda No. 4 Tahun 2015 pada masa Gubernur Ahok.

Pupla berharap, sistem pembinaan ini terus meningkat dengan lebih banyak mengakomodasi kelompok, komunitas maupun sanggar seni.

Pentas Kelompok Pojok, salah satu grup teater berbasis Jakarta Selatan, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. -Dok. Gigih Ibnur/DKJ
Pentas Kelompok Pojok, salah satu grup teater berbasis Jakarta Selatan, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. -Dok. Gigih Ibnur/DKJ

Lestarikan Budaya Betawi

Sementara itu, Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali mengapresiasi kegiatan pembinaaan yang diberikan kepada sanggar-sanggar seni ini, terutama melestarikan budaya Betawi.

“Kami berharap dengan adanya pembinaan ini, sanggar-sanggar kebudayaan memiliki nilai-nilai dan norma sosial budaya yang melandasi pemikiran dan perilaku warganya,” katanya, melansir poskota.id.

Karena itu, ia mengajak masyarakat setempat berkomitmen menjadikan sanggar seni berdiri kokoh dan berkembang sesuatu yang tidak asing bagi masyarakat dalam turut serta melestarikan budaya Nusantara, khususnya Betawi.

“Dengan begitu budaya warisan nenek moyang kita ini tidak tergerus era globalisasi,” ungkapnya.

Awal bulan ini, Sudin Kebudayaan Jakarta Utara pun menyeleksi 74 pelatih terbaik untuk ditempatkan di 74 Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dan Taman Maju Bersama (TMB) se-Jakarta Utara.

Dalam proses pelatihan yang dimulai awal Maret nanti, para instruktur terpilih akan menggembleng sembilan disiplin seni, antara lain: seni tari, musik vokal, musik hadroh, musik marawis, musik qasidah, seni rupa (melukis), seni rupa (membantik), seni silat budaya dan seni teater.

Terus Menurun

Sebagai salah satu komunitas budaya yang hidup di perkotaan seperti Jakarta, keberadaan budaya Betawi hampir pasti akan tergerus, tidak hanya oleh peleburan dengan kebudayaan lokal lainnya, tapi juga oleh modernisme.

Saat ini keberadaan sanggar-sanggar seni Betawi yang masih ‘hidup’ di Kota Jakarta masih dapat dihitung dengan jari, dan terus menurun tiap tahunnya.

Lima tahun lalu, Yayasan Benyamin Sueb melaporkan bahwa sekiranya ada 80 sanggar seni yang hingga kini masih eksis sebagai komunitas budaya Betawi.

”Bisa dihitung dengan jari. Enggak sampai 80 sanggar yang masih eksis melestarikan seni budaya asli Jakarta ini,” kata Beno R. Benyamin, Ketua Yayasan Benyamin Sueb, melansir republika.co.id.

Beno menyebutkan, pada 1986 tercatat ada 579 sanggar Betawi. Namun, mulai 2000-an sampai sekarang, sanggar Betawi tidak lebih dari seratus komunitas.

Ia menambahkan, nasib sanggar kesenian Betawi yang terancam punah, salah satunya juga karena tidaknya ada payung hukum yang mengatur dan melindungi eksistensi budaya Betawi. Namun sekarang sudah ada, yaitu Perda pelestarian budaya Betawi.

Budaya Urban

Untuk mengimbangi perkembangan ekosistem kesenian kota, sudah seharusnya pemerintah DKI Jakarta tidak hanya memperhatikan kebudayaan Betawi, tapi secara luas dapat mengakomodasi kebudayaan lokal lain yang sampai saat ini hidup dan berkembang di Kota Jakarta.

Artinya, kebudayaan lain seperti komunitas atau sanggar seni Jawa, Sunda, Minang, Bugis, Dayak, Tionghoa, Papua, NTT, atau Batak, dapat dijadikan aset budaya yang turut menghidupkan dimensi kultural dari kehidupan metropolitan.

Dengan itu, kebudayaan Betawi dan kebudayaan transmigran tersebut dapat berkolaborasi, beradaptasi dan berinteraksi untuk membentuk satu model baru kebudayaan kota yang lebih dinamis dan cair.

Tidak sedikit komunitas atau sanggar seni kebudayaan yang bergiat di Jakarta. Setiap pekan, Taman Mini Indonesia Indah selalu mengagendakan pementasan kesenian daerah tersebut.

Dengan Jakarta sebagai kota urban, maka tidak ada lagi pemisahan atau polarisasi dalam upaya pelestarian budaya, baik asli maupun pendatang, karena keduanya mesti sama-sama dilestarikan dan diperkaya.*

Baca Juga

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...