NETRALNEWS – Program Teater Arsip 2019 yang berjudul “Di Balik Setiap Pintu” hadir di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

“Di Balik Setiap Pintu” berangkat dari sebuah penelitian oleh Péter Szilàgyi. Penelitian tersebut  dilakukan di antara siswa-siswi asal Hongaria yang belajar tentang budaya Jawa di Jogjakarta dan Solo.

Mereka tidak sekedar mempelajari, tetapi mengalami secara menyeluruh. Raga, jiwa, dan akal turut dilibatkan dalam penelitian seiring dengan kehidupan di antara masyarakat lokal.

Riset tersebut telah menghasilkan sebuah film dokumenter multimedia dengan judul “Di Balik Setiap Pintu” sebagai output atau presentasi. Penelitian tersebut berfokus pada pengalaman keasingan dan proses adaptasi para siswa-siswi asal Hongaria dengan menggunakan pendekatan Sensory Ethnography (antropologi inderawi).

“Pada tahap ini kami mengutamakan pengalaman secara ketubuhan atau pengalaman tubuh, terutama pada persepsi lingkungan,” kata Péter saat konferensi pers di TIM, Senin (11/3/2019).

Turut hadir dalam konferensi pers, Perwakilan dari Kedutaan Besar Hongaria Katalin Boszormenyi Nagy. Hadir pula Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Irawan Karseno, dan Direktur Riset dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Wawan Rusiawan.

Dalam karya ini para kreator telah mengupayakan untuk membangun sebuah dunia visual lintas budaya yang merespon terhadap budaya Jawa melalui gaya visual Wayang Beber oleh Dani lswardana. Ia memainkan konsep dasar wayang kulit yakni permainan dengan cahaya yang dilengkapi berbagai gaya gambar dan teknik permainan menggunakan Overhead Projector oleh Vivien Sérkény.

Judul “Di Balik Setiap Pintu” diambil dari salah satu kalimat yang disebut di dalam film oleh narasumber yang diwawancara. Kalimat utuhnya berbunyi, “Kami bikin peribahasa sendiri:Di balik setiap pintu pasti ada seorang Indonesia”.

Kemudian dilanjutkan dengan, ”Sebab kepadatan di sini luar biasa.Terutama di pulau Jawa. Jadi kamu jalan ke mana pun, membuka pintu manapun, pasti menemukan seseorang atau sedang terjadi sesuatu di sana.”

“Ungkapan “Di Balik Setiap Pintu” memiliki sebuah arti asosiatif yang lebih, yang memicu, membangun penasaran dan keingintahuan tentang apa yang bisa ditemukan dibalik pintu-pintu. Untuk mengetahuinya tentu harus membuka pintu-pintu tersebut,” jelas Péter.

Selama enam hari (12-17 Maret) akan afa workshop yang mendalami tema “Sensory Ethnography” dengan difasilitasi oleh sejumlah nama. Diantaranya ada Bambang Mbesur Suryono, Dani lswardana, Dea Widyaevan, Misbach Dieng Bilok, Péter Szilágyi, Vivien Sarkany, Yola Yulfianti.

“Di Balik Setiap Pintu” dihadirkan oleh Komite Teater DKJ sebagai program Teater Arsip 2019 yang berbasis pemetaan atas Wayang Beber dengan Sensory Ethnography.

* MARTINA ROSA DWI LESTARI