KORAN TEMPO – Lobi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, ramai oleh penonton yang duduk menghadap panggung kecil dengan meja tertutup kain hitam. Di sebelah kanan beberapa pengiring musik meriung, sedangkan di sebelah kanan belakang berjajar beberapa penyanyi.

Seorang dalang, dibantu asistennya, kemudian menghadirkan cerita sebuah desa yang bertransformasi di negara Poco-poco. Sebuah desa yang subur, gemah ripah loh jinawi. Penduduknya hidup dari hasil pertanian.

Layar yang dibeberkan bergambar suasana pedesaan dengan gunung membentang, orang membajak sawah dengan kerbaunya. Sang dalang bertutur dengan menyelipkan humor di sana-sini dan menyinggung isu keseharian.

Desa mulai berubah wajah. Sawah beralih menjadi apartemen, pasar tradisional terbakar lalu tiba-tiba berubah menjadi pasar modern dan mal. Ketika anak-anak remaja menjadi anak nongkrong di mal dan ketika mata air di desa yang menghidupi warga desa mulai akan dieksplorasi, sang dalang, Samuel Santoso, dengan tongkat menunjuk gambar sambil membumbui cerita dengan guyon-guyon dan celetukan yang membuat penonton tertawa kecil.

Pementasan Wayang Beber Metropolitan oleh Samuel Santoso berjudul Meraba-raba merupakan bagian dari rangkaian pentas teater arsip Dewan Kesenian Jakarta bertitel Di Balik Setiap Pintu (Wayang Beber dan Sensory Ethnography) yang berlangsung 11-17 Maret 2019.

Selain pertunjukan wayang, dipamerkan lembaran-lembaran wayang beber karya perupa kertas, Dani Iswardana. Diputar pula film Di Balik Setiap Pintu – sebuah film dokumenter hasil kolaborasi riset antropolog Peter Szilagyi, Dani Iswardana, dan Vievien Sarkany.

Pertunjukan wayang beber menjadi inti acara yang merupakan kobalorasi Dewan Kesenian Jakarta, Badan Ekonomi Kreatif, dan Kedutaan Besar Hungaria tersebut.

Wayang beber menjadi medium bagi para antropolog dan seniman untuk menuangkan kreativitas: lewat aksi sang dalang, lukisan kertas, dan film. Wayang beber semula merupakan wayang yang muncul dan berkembang di Jawa pada masa pra-Islam.

Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran-lembaran (beberan) yang berkisah tentang tokoh dalam cerita wayang Mahabharata dan Ramayana. Wayang ini berbentuk lukisan di atas kertas seperti wayang kulit purwa.

Yang muncul dalam lembaran pertunjukan Wayang Beber Metropolitan dan lembaran wayang yang dipamerkan adalah gambar dengan tokoh hampir seperti bentuk wayang purwa tapi dengan aktivitas keseharian saat ini.

Pada salah satu lembaran wayang yang dipamerkan, misalnya, pengunjung bisa melihat lukisan sosok bule atau kelompok manusia. Ada juga lukisan dengan pipa-pipa air, bukan lagi dengan ornamen gunungan wayang purwa.

Dani Iswardani menjelaskan, mereka memilih konten yang lebih kontemporer kekinian agar wayang beber menjadi lebih aktual dan mewakili zamannya. Ia mencontohkan, lukisan wayang beber yang menggunakan lukisan wayang konvensional merupakan lukisan dengan semangat cerita panji dari novel berjudul Candra Kirana. Sedangkan lembaran wayang dengan pipa air merupakan kisah metropolitan untuk isu air yang sudah menjadi komoditas.

Sementara itu, film dokumenter yang diputar merupakan kolaborasi bersama tiga seniman dan akademikus. Sebuah proyek yang menggali ide tentang keterasingan dan pengalaman indrawi yang mereka peroleh. Peter dan Vievien yang orang asing, misalnya, pernah mengalami gegar budaya ketika datang ke Indonesia.

Begitu pula Dani ketika mengalami gegar budaya saat datang ke Prancis. Mereka menggali wawancara dari banyak narasumber dengan pengalaman indrawi dan membuat gambar secara manual, kemudian secara visual diolah dengan film. Hasilnya disuguhkan dengan model wayang beber.

“Kami pernah mengalami gegar budaya, dan kami mencoba mengangkat situasi itu dengan etnografi indrawi. Bagaimana indra menangkap itu,” ujar Dani kepada Tempo.

Dia mencontohkan, gegar budaya yang pernah dialami oleh orang asing ketika pertama kali menjumpai durian, mencium baunya, atau mencicipi rasanya. Atau ketika Dani datang ke Prancis dengan segala fasilitas dan situasi negara maju tersebut. Hal ini yang kemudian dituangkan dalam gambar dan difilmkan.

Melengkapi proyek pengalaman indrawi dan wayang beber ini juga dipertontonkan dua pertunjukan lain, yakni pertunjukan musik dari Airmatahari Project dan pertunjukan musik–tari tentang tubuh dan suara. Proyek ini mengelaborasi tubuh yang berinteraksi dan bereaksi terhadap suara. Pengalaman dari peserta workshop menggali pengalaman indrawi tersebut menjadi penutup acara ini.

* DIAN YULIASTUTI