Portal Teater – Sebagai koreografer, Retno Sulistyorini pada dua pertunjukannya di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, 20 dan 21 September 2019, menjelaskan keberangkatan karyanya dari pengalaman kesehariannya yang mengantarkan anaknya ke sekolah.

Ia melihat ruang, aktivitas, dan waktu yang dijalaninya sangat monoton. Suasana itu awalnya tidak pernah dihiraukannya. Sekonyong-konyong semua memori itu rasanya sesak, ditambah berita-berita politik, kriminal, dan lain-lain, riuh jadi satu, sehingga muncul pertanyaan di kepalanya; ini kenapa ya?

“Waktu Lingkar” dan “Noise” menurutnya, dua pertunjukan yang saling terkait; di mana “Waktu Lingkar” adalah perjalanan dari rumah ke sekolah anaknya menimbulkan bunyi-bunyi yang tidak jelas, kemudian pada pertunjukan “Noise”; adanya tali-tali sebagai garis-garis ruang yang saling terkait antara satu dengan lainnya.

Helly Minarti yang pada malam itu menjembatani “artist talk” setelah pertunjukan berlangsung, Sabtu (21/9), hanya melihatnya sebuah karya yang cukup menarik tanpa memberikan catatan kritis apa pun (entah di belakang itu, tentunya banyak catatan kali ya).

Di program On Stage (pertunjukan seni yang dilaksanakan dua bulan sekali) oleh Studio Plesungan, yang juga dua malam ini, Enno, sapaan akrab dari Retno Sulistyorini, sebagai peraih Hibah Seni Kelola 2019, tampak malu-malu bahwa karyanya berangkat dari curhatan hati (justru menolak dikatakan curhat, tapi curhat yang terdengar), mungkin sangat risih kalau ada karya yang curhat.

Memangnya ada apa ya dengan karya curhat? Bukannya pada dasarnya kalau kita lacak ulang; setiap karya seniman berasal dari empiris tubuhnya, bahkan yang paling jelas karya sastra Chairil Anwar sekalipun berasal dari pengalaman puitiknya.

Justru saya merasa terganggu (kalau mengutip teks lisan hari ini), kenapa tidak ada keberanian mengatakan memori tubuhnya yang membuat dirinya dan performernya bergerak, sekalipun masih memikirkan kesamaan atau kerampakan gerak. Seperti berdosa kalau curhat; haram jadah!

Lalu bagaimana dengan pertunjukan autobiografi dan biografi ya? Atau filmnya ya? Justru tadinya saya respek terhadap memori tubuhnya yang mungkin akan tidak dialami oleh orang lain sebagai material, termasuk saya, jadi kebingungan sendiri untuk mengutarakannya.

Saya tidak tahu; entah kenapa Helly Minarti tidak memberikan pancingan-pancingan yang signifikan untuk melihat lubang dan rongga dalam pertunjukan Retno Sulistyorini.

 

Slah satu pentas Retno Sulistyorini. -Dok. kelola.or.id
Salah satu pentas Retno Sulistyorini. -Dok. kelola.or.id

Tentunya sebagai peneliti yang sudah malang melintang di dunia pertunjukan dari lintas kota, Depok, Jakarta, Yogyakarta, dll, bahkan lintas negara, sudah semestinya ia dipantik secara terbuka lubang dan rongga itu agar kita semua menjadi terbuka dalam melihat pertunjukan secara “tidak aman” jika audience terlihat kaku atau malu-malu untuk mengungkapkan kegelisahannya, atau memang tidak ada lubang dan rongga yang harus dikomentarinya.

Maksud saya adalah sayang ketika ada ruang diskusi atau majelis biografi penciptaan atau dapur penciptaan, ketika hadir kurator/peneliti sekeren Helly Minarti tidak dimanfaatkan dengan baik dalam pembacaan itu, kalau nantinya alasannya ia hanya sebatas jembatan saja, atau masalah waktu yang sering kali dilontarkan pada malam itu, why not?

Ada apa dengan malam? Bukannya sudah biasa kita melihat kemonotan dengan malam. Saya rasa tidak ada sesuatu yang luar biasa dengan malam itu.

Mendudukkan Dramaturgi Bunyi

Saya coba me-review meski hanya sekilas mendengar dapur penciptaan Retno Sulistyorini; sekalipun melupakan omongan Dendi Madya (sutradara Artery Performa, kini membangun networking ke Jepang dan Taiwan) yang menurutnya harus berpikir ribuan kali untuk mengomentari pertunjukan di mana kita hanya menonton satu jam lebih, sementara prosesnya berhari-hari hingga berbulan-bulan.

Mungkin dia salah satu manusia yang beretika di hari ini; saya mungkin bagian manusia yang “sok tahu” untuk melakukan pembacaan sebagai pelacakan kembali.

Pertunjukan pertama, “Waktu Lingkar” (berdurasi 25 menit). Tertulis bahwa penarinya ada Hana Yulianti dan Retno Sulistyorini sendiri. Dimulai salah satu penari yang membuat lingkaran dari kapur tulis, semakin lama semakin cepat dengan gumaman yang menurut saya menarik, selain efek dari bunyi kapur itu pada dinding, hingga lingkaran itu akhirnya membentuk sebuah gelombang elektromagnetik.

Setelahnya kita hanya disuguhkan pada gerak yang berangkat dari rutinitas yang sudah saya sebutkan di atas, yang menarik lagi bunyi-bunyi seperti orang Cina/Jepang ngomel gak jelas dijadikan sebuah dramaturgi/musik, yang juga awalnya adalah bunyi dari kapur, suara, atau pekikan yang keluar dari tubuhnya sendiri.

Di mana menurut saya berpikir sebagai bagian dramaturgi bunyi; yang berawal dari budaya, bahasa, teks lisan, yang ternyata Enno tuturkan dari orang-orang yang bergumam.

Saya kira bentuk yang terlihat dalam pertunjukannya tidak disadari menjadi sesuatu yang menarik sebagai dramaturgi bunyi; kalau melihat dramaturgy of sound Mladen Ovadija, yang juga sama terkejutnya saya dengan pertunjukan Ali Ibnu Anwar yang saya tulis di rubrik online sutera.id mengenai dramaturgi bunyi.

Hal ini menurut saya juga memungkinkan jauh lebih kaya dan menarik jika dilihat dari kepenatan dan memori monoton setiap mengantar anaknya, bunyi dan gerak menjadi satu kesatuan musik pertunjukan dalam estetika yang jauh lebih melahirkan kemungkinan lain dalam eksperimennya.

“The dramaturgy of sound operates in this counterpoint of performative and theatrical, corporeal and figurative, visceral and architectural elements” (Ovadija, 2011:8).

Pertunjukan Enno disadari atau tidak, menurut saya potensial jika dilihat pada dramaturgi suara yang beroperasi dalam perlawanan elemen performatif dan teatrikal, korporeal dan figuratif, visceral, dan arsitektur yang sudah dibangunnya baik itu melalui memori tubuhnya maupun gedung pertunjukan itu sendiri.

Cak Ayu Permata, salah satu koreografer muda hari ini yang disebut spektakuler pertunjukannya memaparkan bahwa di “Waktu Lingkar” tidak menangkap sebuah cerita, ada refleksi apa? Atau di konsep seperti apa?

Nah, ini maksud saya ketika bunyi sudah melebur dengan gerak, maka memungkinkan bisa terjadi pengamatan seperti itu karena tidak disadari konstruksi-konstruksi bunyi dihadirkan seperti layaknya saya menangkap ada korelasi dengan budaya, bahasa dan lainnya. Hanya saja Enno menjawab sebagai gumaman saja tanpa dipengaruhi rangsangan bahasa dalam budaya.

Ini menurut saya yang perlu dilacak kembali, berbeda dengan salah satu penonton lainnya, Sita, yang menjelaskan bahwa dirinya senang dan menyukai dengan alur, intensitas, maupun tegangan-tegangan tubuh dibangun lewat sensualitas suara yang semestinya bisa lebih ekspresif di atas panggung.

“The transience, immanence, fluidity, dynamics, and sensuality of the human voice and expressiveness of the stage sound-traditionally considered as secondary to the primacy of the text-are essential elements of the performativity and scenic dynamics that propel contemporary theatre. Sound, thus, reveals-or perhaps more appropriately, is-performance” (Ovadija, 2011:18).

Sekalipun kutipan di atas merujuk pada teater kontemporer, karena ini sifatnya performatif, maka saya melihat dramaturgi bunyi dalam kefanaan, imanensi, keluwesan, dinamika, dan sensualitas suara manusia dan ekspresivitas suara panggung sudah dirancang oleh Enno, entah detailing tidak dibaca secara teliti, justru itulah keunggulan dari pertunjukannya sebagai kinerja hari ini.

Pemikiran avant-garde dengan praktik-praktik kerja yang baru juga dengan menyampingkan keseragaman dan kesamaan gerak tubuhnya. Karena saya melihat peluang kinerja Enno bukan di sana.

Lalu pertunjukan kedua, “Noise”, yang tertulis bahwa keriuhan suasana yang terjadi di sekitar kita sangat mempengaruhi pikiran dan perasaan manusia. Keriuhan bagi beberapa orang bisa sangat mengganggu dan mempengaruhi emosi; tapi tidak terlalu mengganggu untuk mengganggu beberapa orang lainnya, yang berdurasi 45 menit.

Di mana penarinya disebutkan: Hana Yulianti, David Bima Sakti Pradana, Kristyanto, Prasetya Dwi Adi Nugroho, dan Yezyuruni Forinti.

Kalau kata Cak Ayu Permata justru tidak melihat noise-nya dalam ruang dalam gedung pertunjukan. Namun begitu penari/performer bergerak ke luar ruang pertama hingga berjalan melewati jalan luar gedung dan tepat berhenti di pintu masuk teater arena, yang sudah disiapkan dengan benang-benang, di mana melibatkan kita yang menonton untuk merespon hanya sebatas melilitkan benang-benang itu sehingga tampak Cak Ayu Permata melihat “Noise” ada di sana.

Menurut Dr. S. Parmadi, pengajar di ISI Surakarta, ini mengingatkan elemen dan caranya pada karya Sardono W. Kusumo, pada era 1994/1996/1993, di mana Helly Minarti/Halim HD dan Parmadi sendiri saling klaim tahunnya.

Helly Minarti menjelaskan bahwa secara historis itu saling mengingatkan antara satu sama lainnya sekalipun Enno belum pernah menyaksikan karya Sardono W. Kusumo (saya tak tahu pasti karena tak diungkapkan). Barangkali bisa dilacak ulang mengenai tahunnya sebagai pengetahuan dan korelasi memori.

Kalau Cak Ayu Permata melihat Noise ada di depan pintu teater arena Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, justru saya melihat berbeda. Ruang noise sesungguhnya ada di dalam di mana ada satu bagian mereka cukup hening dengan geraknya yang lambat, berjalan pelan, yang memang di awal pertunjukannya sudah diawali perjalanan para penari menemukan kegaduhannya sendiri.

Bagi saya cara gaduh semacam itu adalah watak personal yang dikonstruksi tubuh secara privat bisa memungkinkan mengalami perbedaan estetik antara penari satu dengan lainnya; bukan keseragaman yang dipertemukan. Mungkin juga kalau memang kudu dilakukan sebagai cara transaksional atau peniruan dilakukan penari satu dengan penari lainnya; karena sekilas tampak semacam itu.

Tetapi bagaimana kegaduhan disikapi dengan cara yang lain; ketika ruang realitas disikapi dengan cara yang berbeda oleh Enno melalui para penarinya atau performernya. Di sini sebenarnya memungkinkan transaksional antara koreografer dengan penari. Di mana penari bisa menjadi koreografer, dan Enno mengamini pernyataan saya bahwa ruang itu justru melahirkan noise-noise sesungguhnya.

Sehingga lubang dan rongga dalam memori tubuhnya bener-bener clear masuk ke hadapan penonton; sekalipun saya ragu juga akan pertunjukan bener-bener clear.

Pertunjukan Noise dari dalam gedung digiring ke luar gedung. -Dok. AWE.
Pertunjukan Noise dari dalam gedung digiring ke luar gedung. -Dok. AWE.

“More encouragingly, and in contrast to this summary description of the illustrative function of sound, some theatre scholars, notably Hans-Thies Lehmann and Erika Fischer-Lichte, the most cited theatre theoreticians of the last decade, have begun to give theatre sound its due. Lehmann, in his Postdramatic Theatre, acknowledged the substantiveness of stage sound and the emergence of an auditory semiotics, while Fischer-Lichte, in her work The Transformative Power of Performance, conceived of a “performative generation of materiality” in which the orality/aurality of performance plays a major role” (Ovadija, 2011:17).

Ketika Ovadija sangat bahagia dengan adanya perbedaan pandangan mengenai fungsi dari ilustrasi suara, sehubungan dengan beberapa sarjana teater, terutama Hans-Thies Lehmann dan Erika Fischer-Lichte, ahli teori teater yang paling banyak dikutip pada dekade terakhir, telah mulai memberikan hak suara teater pada waktunya.

Lehmann, dalam Postdramatic Theatre-nya, mengakui substantivitas suara panggung dan munculnya semiotika pendengaran, sementara Fischer-Lichte, dalam karyanya The Transformative Power of Performance, mengandung “generasi performatif materialitas” di mana lisan/auralitas performatif kinerja memainkan peran utama.

Ada Lubang dan Rongga

Saya gembira sesungguhnya karena pertunjukan Enno memiliki peluang yang jauh lebih memungkinkan dalam nilai kreativitas seiring dengan produksi pendengaran suara, auralitas performatif, dan tegangan-tegangan memori yang semestinya bisa lebih longgar agar lubang dan rongga ini lebih cair tanpa hambatan suara, tegangan, memori, auralitas, pada produksi pembaharuan.

Karenanya saya tidak melihat dua pertunjukan; saya melihat ada tiga pertunjukan yang saling berkaitan, “Waktu Lingkar”, “Noise” dan entah apa namanya; yang berupa instalasi-instalasi juga bukan menjadi kesatuan dari pertunjukan kedua, malah terlihat kesinambungan dari kegaduhan yang sudah dikonstruksi tubuhnya.

Saya melihat di ruang luar berdiri sendiri seakan bermain-main dengan arsitektur gedung, penonton, yang mungkin tidak dilakukan pembacaan sebelumnya atau dihitung energinya lebih mendalam, mungkin juga akan berbeda keterlibatan penonton bukan hanya sebatas aktivitas tubuh penonton, melainkan juga bisa bergerak layaknya penari yang disangsikan oleh Enno akan mengganggu koreografinya.

Saya terkadang aneh; ketika kita berpikir tentang garda depan, tapi praktik kerjanya masih ditumpangi ketakutan kebiasaan-kebiasaan cara kerja konvensi, bukan semestinya pembongkaran, keterbalikan makna, bekerja di luar kebiasaan atau semacamnya untuk mencari kemungkinan-kemungkinan budaya yang lain baik itu dari gerak itu sendiri, bunyi, teks lisan dan semacamnya.

Lagi-lagi menurut saya hal semacam ini dipengaruhi oleh latar belakang pengkaryanya, interpretasi, maupun pengolahan ruang realitas ke dalam pertunjukan atau menjadikan “pertunjukan” sebagai alat realitas.

Transaksional pertunjukan Enno yang dikonstruksi melalui benang melibatkan beberapa penonton agar larut dalam aktivitas pertunjukannya.-Dok. AWE.
Transaksional pertunjukan Enno yang dikonstruksi melalui benang melibatkan beberapa penonton agar larut dalam aktivitas pertunjukannya.-Dok. AWE.

Lubang dan rongga yang mungkin tidak terlalu penting adalah ketika coretan tangan lingkaran yang berupa gelombang elektromagnetik.

Menurut saya pada pertunjukan “Waktu Lingkar”, sama sekali tidak ada respon sama sekali sekalipun diberikan cahaya, atau memang disimbolkan dengan ruang gelap saja di mana saya sebagai penonton masih melihat samar-samar kegelapan dari tulisan putih tersebut.

Meskipun penting dan tidak penting, tapi jelas ketika ada keterkaitan kenapa hal itu menjadi sebagai penghubung atau transisi dari judul satu ke judul lainnya tanpa diberi space sejenak yang memungkinkan penonton kembali ingat siapa dirinya, atau keluar dari amnesianya.

Saya kira kalau tidak dhitung secara matang, lubang dan rongga bukannya menjadi nilai estetik dalam sebuah pertunjukan, justru menjadi lubang maupun rongga yang tersumbat sesungguhnya menjadi celah bisa dilewati.

*Penulis adalah dramaturg, penulis. Belakangan ini sedang melakukan penelitian dramaturgi di beberapa komunitas teatear ataupun seniman seperti Abi ML, Lab Teater Ciputat, Arteri Performa, Teater Kaki Langit, Arda Vanya Ena/Miftahul MJ, Komunitas Masyarakat Lumpur, Teater Asa, dll. Lulus S1 Jurusan teater Peminatan Sutradara di STKW Surabaya. Kini menempuh S2 Penciptaan Teater di Institut Seni Indonesia Surakarta.