Luncurkan “HUMBA DREAMS”, Riri Riza Angkat Kisah Tentang Sumba

Portal Teater – Penulis naskah dan sutradara film Riri Riza akan segera meluncurkan karya terbarunya berjudul “HUMBA DREAMS” kepada publik seni Indonesia pada 3-4 Agustus akhir pekan ini di Yogyakarta. Sebelumnya film ini hanya ditayang khusus bagi undangan dalam acara JAFF Movie Night 3.2 di Empire XXI, Yogyakarta, pekan lalu. Selanjutnya, film ini akan diputar secara bergiliran di kota-kota lainnya.

Film ini juga merupakan karya yang dibawa Riri Riza dalam keikutsertaannya pada pagelaran pameran seni rupa kontemporer ARTJOG 2019 sepanjang 25 Juli-25 Agustus 2019 di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta.

Dalam pameran tersebut, Riri Riza yang tidak ingin berhenti dalam mengeksplorasi karyanya, akan menjadikan film terbarunya itu sebagai salah satu medium seni yang juga memiliki unsur lain yang mendukungnya. Kekayaan unsur seni yang terdapat dalam medium film ini kemudian dihadirkan dalam karyanya.

Pada Juni lalu, film ini diputar sebagai World Premiere pada ajang Shanghai International Film Festival 2019 di China dan mendapat sambutan baik oleh penonton di sana. Film ini telah memenangkan CJ Entertainment Award di Asian Project Market (APM) Busan International Film Festival pada tahun 2017.

Riri Riza dan Sumba

Sumba, atau yang dalam film ini dikenal dengan sebutan Humba, mempunyai tempat istimewa bagi sutradara Riri Riza dan manajemen Miles Films.

Kisah tentang Humba ini berawal dari perjalanan pertama Mira Lesmana, Riri Riza dan Ifa Isfansyah ketika bertemu dengan orang-orang di pulau Sumba, NTT, sekitar tahun 2012/2013, saat mereka mencari kemungkinan-kemungkinan lokasi untuk film Pendekar Tongkat Emas.

Pertemuan awal mereka dengan Sumba ternyata sangat membuat mereka jatuh cinta dan terinspirasi untuk membuat sesuatu di Sumba. Hingga mereka dan Sumba pada akhirnya mempunyai hubungan yang spesial.

Mempertimbangkan kedekatan emosional dan estetik yang mulai menjalar di dalam raganya, Riri Riza dan manajemen Miles Films akhirnya terinspirasi untuk memotret narasi yang lebih lengkap tentang keindahan dan keterpesonaan mereka tentang Sumba, mulai dari orang-orang hingga alamnya, dalam film “HUMBA DREAMS”.

Ketika menggarap ide untuk film keduanya yang mengambil latar masyarakat Sumba, Riri Riza mencoba menangkap dan menggali budaya masyarakat Sumba dan menemukan bagaimana kematian dalam kepercayaan lokal Marapu adalah peristiwa penting yang menjadi sentral dalam kehidupan masyarakat Sumba.

Uniknya, pada saat yang sama, masyarakat Sumba juga dihadapkan pada isu-isu kontemporer, seperti kesulitan perekonomian, konsumerisme, dan persoalan pengelolaan limbah. Artinya, masyarakat Sumba tercengkram di dalam pusaran antara “waktu pasar” dan “waktu kultural”, untuk mengutip tulisan Afrizal Malna.

Bagi Riri Riza, masyarakat Sumba kaya akan tradisi dan adat-istiadat yang sampai saat ini masih terpelihara begitu dalam oleh sebagian masyarakatnya. Akhirnya, proyek besar itu merupakan sebuah karya lintas medium yang berlatar belakang budaya, adat-istiadat, pola hidup, dan isu sosial di tanah Sumba.

Desentralisasi Latar Kesenian

Riri Riza mengakui, selama ini hampir 95 persen produksi perfilman Indonesia mengambil latar (belakang) Jakarta dan Jawa umumnya. Sementara tersisa hanya 5 persen yang mengambil latar kehidupan masyarakat di luar pulau Jawa.

Karena itu, sejak tahun 2003, Riri Reza dan Mira Lesmana (dari Miles Films) sudah mulai menjelajahi wilayah di seluruh Indonesia. Hal itu dibuat mereka untuk menunjukkan bahwa sentra produksi perfilman itu amat luas dan kompleks; tidak semata-mata dapat dilakukan di Jakarta atau Jawa.

Untuk mendistribusikan kekuatan latar sosial yang sentralistik itulah, Riri Riza mencoba keluar dari menara gading industri perfilman Indonesia dan mengeksplorasi lebih banyak kekayaan lokal masyarakat di luar Jawa, yang ternyata juga memiliki konteks yang khas untuk produksi kesenian (baca: film).

Mimpi Humba

Menurut Riri Riza, ide awal pembuatan film ini muncul dari pengalaman pribadinya di tanah Sumba ketika melihat bagaimana hubungan antara kepercayaan, adat-istiadat, lanskap daerah, dan isu sosial yang sangat kental pada masyarakat.

Konflik tersebut ia narasikan lewat kisah pencaharian jati diri seorang pemuda Sumba yang merantau ke pulau Jawa untuk melanjutkan studi perfilman di sebuah universitas. Permuda bernama Martin (J.S Khairen) itu harus bergelut dengan dirinya sendiri karena kepercayaan lokalnya bernama Marapu yang menuntut dirinya untuk kembali ke masa saat ayahnya masih hidup.

Kepercayaan Marapu ini terkenal sebagai kepercayaan kepada roh nenek moyang masyarakat Sumba yang hingga maish lekat dianut oleh sebagian masyarakat. Menurut kepercayaan Marapu, kematian dan ritual menjadi sebuah hal yang sangat penting dan vital bagi kehidupan masyarakat.

Pemuda Martin ini diberikan gulungan film 16mm oleh mendiang ayahnya. Sementara ibunya memintanya untuk mencari bahan kimia yang bisa memproses film itu di tanah Sumba.

Dalam perjalanannya, Martin dipertemukan dengan kehadiran Ana (Ully Triani), perempuan yang membuatnya jatuh hati. Dengan berbagai pertanyaan tentang kepercayaan asalnya, ia perlahan menemukan jawaban baru dalam hubungan mereka.

Jadi, film ini sebenarnya mengisahkan tentang perjalanan menuju kepada siklus hidup yang lebih dewasa dan matang bagi seorang seniman bilamana ia harus berkarya.

*Daniel Deha

Baca Juga

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...