Melalui Kerja Kolaborasi, Teater Amatir Ujan Pertahankan Tropi Juara FTJU

Portal Teater – Teater Amatir Ujan keluar sebagai pemenang grup terbaik pada Festival Teater Jakarta Utara tahun 2019. Menempati posisi pertama, Teater Amatir Ujan ditemani Teater Cahaya (juara II), dan Maura Lintas Teater (juara III) bakal tampil di final Festival Teater Jakarta pada November mendatang.

Raihan Teater Amatir Ujan melalui lakon “Kursi-Kursi” karya Eugene Ionesco dan sutradara Dedies Putra Siregar ini menunjukkan pola pembentukan dan pengembangan kerja teater yang makin baik dari grup teater yang dibentuk pada sekitar tahun 2007 tersebut.

Sebab, sejak keikutsertaannya pada tahun 2016, setelah vakum selama beberapa tahun, Teater Amatir Ujan, berhasil memperlihatkan kematangan proyek eksplorasi dan kolaborasi kerja teater yang menjadi ciri khasnya.

Dengan prestasi ini, Teater yang hanya beranggotakan dua orang, yaitu Taufik Adi Nugroho dan Dedies Putra Siregar, ini mampu menjadi juara bertahan selama dua tahun berturut-turut (2018, 2019).

Tahun 2016, masih dengan nama Komunitas Ujan, grup ini tidak mampu bersaing dengan dengan grup-grup peserta lainnya. Sementara tahun 2017, seiring perubahan nama menjadi Komunitas Matahari Ujan, grup ini hanya mampu menempati posisi kedua.

Menurut Taufik, yang juga adalah Ketua dan co-sutradara Teater Amatir Ujan, baru pada tahun 2018, masih dengan nama Komunitas Matahari Ujan, grup berhasil merengkuh tropi juara (umum), termasuk di beberapa katergori nominasi, yaitu sutradara, musik dan artistik.

“Tahun 2017, dapat juara II, lalu 2018, dengan nama Komunitas Matahari Hujan kita juara di beberapa kategori. Tahun ini, syukurlan kita dapat di semua kategori, dari aktor, sutradara, musik dan artistik,” katanya seusai malam penganugerahan FTJU 2019 di Pusat Pelatihan Seni Budaya Jakarta Utara, Minggu (22/9).

Kerja Lintas Disiplin

Taufik, menceritakan, dalam rentang waktu tiga tahun terakhir, Teater Amatir Ujan selalu melakukan kerja kolaborasi lintas disiplin dengan beberapa komunitas seni lainnya. Termasuk misalnya dengan komunitas seni musik dan artistik.

Sebab, adalah mustahil mengerjakan proyek teater pada level festival hanya mengandalkan kekuatan pada dua anggota komunitas.

Karena itu, grup teater ini mengundang mitra kerjanya, kebanyakan adalah komunitas-komunitas seni muda, untuk berkolaborasi dan melakukan eksplorasi bersama-sama, baik di tahap gagasan, artstik, musik maupun properti panggung lainnya.

Dalam proyek ini pula mereka bersama-sama mencari dan membaca referensi dari berbagai sumber terkait karya pementasan mereka. Bukan hanya dari naskah teater, tapi juga dari buku yang menulis tentang karya tersebut.

“Semangat kita memang lintas disiplin. Kita berproses. Komunitas yang asli itu cuman kita berdua. Yang lainnya, kita ajak teman-teman pemusik, artistik dan anak-anak kesenian yang memang mitra kita. Di situ kita berkolaborasi,” jelasnya.

Taufik menuturkan, proyek kolaborasi tersebut tidak bersifat tetap. Artinya, pada tiap event atau festival, mereka selalu mencoba mencari dan menyeleksi bentuk-bentuk kerja kolaborasi baru dengan seniman-seniman lain.

Namun, bilamana ada kecocokan gagasan diantara Teater Amatir Ujan dengan komunitas-komunitas tersebut, maka proyek kolaborasinya dapat berlangsung hingga beberapa waktu, sembari terus menggali potensi-potensi baru untuk diperkaya.

Tahap Reduksi

Salah satu hal yang tersingkap dari cara kerja Teater Amatir Ujan, sebagaimana telah menjadi kekhasannya, adalah tahap yang disebut Taufik sebagai “tahap reduksi”, yaitu fase di mana para performer melakukan kemah selama perhelatan festival.

Sejak dua-tiga tahun belakangan, fase ini modus kerja khas Dedies Putra Siregar, pimpinan dan sutradara Teater Amatir Ujan. Sebagai orang yang lama malang melintang di dunia teater, ia menggagas proyek kemah ini sebagai fase mereduksi dan membantinkan pikiran, ingatan, dan medan kerja pentas karyanya.

Tahun ini, kata Taufik, mereka memilih Sekretariat Ikatan Teater Jakarta Utara (Itera) sebagai pusat kemah teater mereka. Tempat itu dipilih karena dianggap lebih dekat dan cukup baik untuk proses perkemahan.

“Setelah itu, kami melakukan kemah selama perhelatan FTJU 2019. Tempatnya di sektretariat Itera. Itu menjadi tahap reduksi. Ini dari gagasan sutradara, tahun ini baru lakukan kemah, sebelumnya tidak berhasil,” katanya.

Fase inilah yang menjadi kekuatan Teater Amatir Ujan. Karenanya, meski telah dua kali gagal di Festival Teater Jakarta (FTJ), tahun ini, Taufik berharap ada lompatan baru yang dicapai komunitasnya di ajang yang mempertemukan grup teater se-kota Jakarta tersebut.

“Tahun ini mudah-mudahan lah,” ungkapnya.

Jangan Jumawa

Sembari mengapresiasi keberhasilan Teater Amatir Ujan dan grup-grup pemenang FTJU 2019 lainnya, Walikota Administrasi Jakarta Utara Sigit Wijatmoko pun berharap, agar kemenangan tersebut tidak membuat mereka jumawa, tapi menjadi pijakan untuk terus mengembangkan diri menjadi lebih baik.

“Para seniman, baik yang juara atau yang belum juara, kalian adalah para juara teater di Jakarta Utara. Karenanya, saya memberikan dukungan. Yang menjadi juara jangan menjadi jumawa. Dan bagi yang belum juara, terus mengembangkan diri agar melampaui para juara saat ini,” katanya.

Dengan mencontohkan model tropi FTJU 2019 yang menyerupai Piala Oscar (AS), Sigit berniat membawa grup-grup teater yang ada di Jakarta Utara agar bisa tampil dan menjangkau panggung-panggung lain yang lebih besar lagi.

“Kita ingin menjangkau lebih luas lagi. Saya mohon kepada para pegiat dan pekerja teater. Kita dapat tampil di panggung-panggung yang lain,” tambahnya.

Ketua Itera Parulian pun berharap, ketiga grup teater yang mewakili wilayah Jakarta Utara tersebut menjadikan prestasi tersebut sebagai titik kerja baru, agar sambil belajar dari evaluasi yang diberikan tim juri, mereka bisa tampil meyakinkan pada gelaran final FTJ nanti.

“Harapan saya kepada para juara, jadikan ini sebagai sebuah pekerjaan baru,” katanya.

Menurutnya, ketiga grup tersebut dianggap telah melewati tahap-tahap elementer dalam kerja teater. Namun, ia menggarisbawahi penting bagi mereka agar tetap belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya untuk terus memperbaiki kinerja perteateran.

“Jadi, saya pingin mengutus kepada mereka yang sudah selesai itu,” tutupnya.

Kepada para juara Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Utara memberikan hadiah berupa uang pembinaan. Menurut seorang pegawai Sudin, atas prestasinya, Teater Amatir Ujan mendapatkan uang sebesar Rp12,5 juta.

Selain diumumkan ketiga grup juara terbaik, FTJU memberikan nominasi juara kepada Teater SD 30 Senja (juara harapan I) dan Teater Itaci (juara harapan II).

*Daniel Deha

Baca Juga

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

Terkini

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...