Melihat Dampak Konsumerisme terhadap Air

Portal Teater – Koji Yamazaki, 38 tahun, keluar dari sebuah tong sampah besar berwujud kontainer yang terbuat dari aluminium berwarna kuning karat. Ia hanya mengenakan pakaian dalam laki-laki, tanpa baju dan celana, sehingga tampak close-up.

Seluruh tubuhnya berbalutkan sampah-sampah. Ada yang berupa botol plastik, kertas, kantong plastik, kain usang, dan ragam jenis sampah lainnya. Ia memperagakan semacam fashion show di depan penonton yang duduk di atas guntingan karung biru.

Gumaman timbul dari penonton ketika Yamazaki muncul dan berlenggak-lenggok di sepanjang garis lurus di tengah-tengah ruang pertunjukan di gedung tua nan kusam Studio PFN Jakarta Timur, Jumat (13/3) lalu.

Beberapa penonton ‘malu-malu’ melihat peragaan tubuh Yamazaki; ‘penampakan’ yang barangkali sama sekali baru dalam kasatmata mereka. Yang lainnya tersenyum-pendam, entah apa yang dikatakan mereka dalam hati.

Yamazaki tidak sendirian. Kesebelas performer yang lain pun melakukan hal serupa. Ada Achmad Chotib, Aseng Komaruddin, Sir Ilham Jambak, dan Holifah Wira dari Indonesia.

Tiga kerabatnya dari Jepang, Ito Saho, Nagai Hideki dan Hiroko Matsuda, dan keempat performer dari Malaysia: Iedil Dzuhrie Alaudin, Thian Siew Kim, Tung Jit Yang, dan Sharifah Amani, pun bersama-sama melenggak-lenggok di sekitaran garis tengah itu.

Suasana kian ramai. Penonton ikut terbawa. Terutama karena aksi para aktor yang begitu ‘lepas-bebas’ dalam memperagakan busana berbahan sampah plastik itu.

Dalam dunia fashion, menggunakan bahan daur ulang dari sampah plastik untuk dijadikan sebuah karya fashion bukanlah hal baru.

Pada gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) tahun lalu, misalnya, ada sekelompok peraga yang menampilkan konsep pakaian dengan bahan dari limbah plastik.

Di beberapa event lain, tidak jarang para desainer merancang busana berbahan dasar sampah plastik untuk dijadikan kain siap pakai. Ada yang dipadukan dengan motif daerah, dan ada juga yang tampil kontemporer.

Achmad Chotib memperagakan fashion show berbalutkan sampah plastik dalam pertunjukan "Beautiful Water" di Studio PFN Jakarta, Jumat (13/3). -Dok. portalteater.com
Achmad Chotib memperagakan fashion show berbalutkan sampah plastik dalam pertunjukan “Beautiful Water” di Studio PFN Jakarta, Jumat (13/3). -Dok. portalteater.com

Membangun Suasana Pertunjukan

Instrumentasi musik yang digawangi Yuta Senda dan Indigo Team turut meramaikan suasana peragaan malam itu ketika para performer seperti berjalan di atas catwalk.

Dengan tambahan artistik lampu yang gemerlap dari dapur Tamotsu Iwaki, Deray Setiadi dan Mamed, ruang pertunjukan seperti disulap menjadi sebuah klub malam.

Kegemerlapan lampu sejatinya sudah terbangun ketika penonton memasuki ruang pertunjukan didesain menyerupai kotak hitam persegi berdindingkan kain putih.

Dengan sepenuhnya berwarna biru, maka meski belum dipentaskan, tapi mampu membangun imajinasi penonton dalam alam lain, sebagaimana setting pertunjukan ini, yaitu menyerupai sebuah dasar laut, tempat segala biota laut hidup dan berkembang.

Selain kontainer besar berwarna kuning, di ruang pertunjukan juga ada aquarium kecil, lemari es, layar proyektor yang ditancapkan pada keempat sudur ruangan, serta ratusan kursi tanpa pegangan yang dijejerkan secara asimetris di seluruh sisi ruang.

Tanpa melakukan penafsiran, penonton dengan mudah menebak makna pertunjukan seperti apa, hanya dari ruangan yang sedang mereka masuki, meski kontainer yang terletak di tengah-tengah ruangan seolah membagi lebih kecil lagi ruangan pertunjukan.

Yang mana di dalam dan melalui kontainer itu, para aktor bermain multiperan. Di sana mereka mengajak para penonton untuk turut memainkan peran mereka sebagai biota laut. Ada yang bertindak sebagai hiu, cumi-cumi, gurita, dan masih banyak lagi.

Baik di antara performer maupun penonton, terjadi suatu transformasi subjek, di mana pada satu sisi mereka bertindak sebagai biota laut, tapi di adegan lainnya, bertindak sebagai manusia yang aktual.

Seorang aktor dari Malaysia, Iedil Alaudin, memulai interaksi itu ketika ia keluar dari kontainer. Ia mengenakan pakaian penyelam berwarnna cerah dan mengajak penonton mengikuti gerakan yang dilakukannya.

Gerakan-gerakan itu merupakan model gerakan seorang penyelam ketika memasuki dunia laut. Ada beberapa kode atau bahasa penyelam yang dapat digunakan ketika seseorang terserang hewan laut, atau ingin meminta pertolongan, misalnya.

Kemudian para performer lain, yang sejak semula berdiam di dalam kontainer, satu per satu keluar dan mulai berinteraksi dengan penonton. Mereka menjumpai dan berdialog dengan penonton, sehingga terjadi simulasi tubuh.

Beberapa penonton, mayoritas merupakan penonton milenial, ada yang tertawa geli dan bertanya-tanya harus berbuat atau meresponnya seperti apa ketika performer mendatangi mereka.

Sembari melakukan gerakan-gerakan penyelam dan meniru gerakan biota laut, performer dan penonton terlebur jadi satu ketika sama-sama mengitari kontainer karat.

Beberapa performer, dengan teknik koreografi tertentu, menyelinap di antara penonton, atau melakukan gerakan tiruan biota laut ini sendiri-sendiri.

Pada puncaknya sampah-sampah plastik dihamburkan dari dalam kontainer, entah dari mana sampah-sampah itu didapatkan. Sampah berupa celana dikenakan oleh beberapa performer. Begitu pula dengan sampah plastik, payung, botol, dan lain-lain.

Para aktor bertindak sebagai pemulung yang memungut sampah-sampah itu di TPA, lalu sebagiannya dipakai atau dijual ke sindikat sampah, bahkan ada yang diekspor.

Namun sebagai penghuni bumi, yang sadar akan bahaya pemanasan global dan pencemaran laut karena sampah plastik, mereka frustrasi dan mengumpulkan kembali sampah-sampah itu ke dalam kantong plastik besar.

Penonton dan performer sama-sama mengitari kontainer kuning karat di tengah-tengah ruang pertunjukan. -Dok. portalteater.com
Penonton dan performer sama-sama mengitari kontainer kuning karat di tengah-tengah ruang pertunjukan. -Dok. portalteater.com

Dampak Konsumerisme

Tiga sutradara pertunjukan dari tiga negara berbeda: Bambang Prihadi (Indonesia), Junnosuke Tada (Jepang) dan Jo Kukathas (Malaysia), membangun setting dan artistik serta multimedia ini untuk membentuk citra publik akan dampak global dari konsumerisme terhadap air (laut) melalui sampah plastik.

Konsumerisme merupakan anak kandung dari modernisme, yang merujuk pada praktik kapitalisme dan industrialisasi yang dimulai pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Sutradara Bambang Prihadi mengungkapkan, kerja kolaborasi yang dimulai sejak tahun 2017 ini berniat meneruskan pesan moral dan ekologis akan bahaya yang makin nyata dari kerusakan alam yang tak terbendung oleh ulah manusia modern.

“Hasrat pemilik modal semakin tak terbendung untuk menguasai seluruh aspek kehidupan manusia,” katanya.

Karena itu, pendiri Lab Teater Ciputat itu menggarisbawahi, pementasan lintas budaya ini berupaya untuk menyuarakan krisis lingkungan dan perubahan iklim dari sudut pandang dunia air (laut). Di mana air dapat menjadi berkat sekaligus bencana bagi manusia jika tidak dimanfaatkan secara baik.

Dalam pertunjukan ini, bahaya air itu direpresentasikan melalui bencana lumpur Lapindo Brantas yang melanda warga di puluhan desa di Sidoarjo, Jawa Timur, tahun 2006 dan tsunami di Jepang tahun 2011.

Begitu pula dengan insinden nahas pesawat MH370 yang hilang tanpa jejak pada tahun 2014 dalam penerbangan dari Kuala Lumpur, Malaysia, ke Beijing, China. Insiden itu merenggut nyawa 239 penumpang dan diyakini hilang di lautan.

Aktor Sir Ilham Jambak dan Holifah Wira memainkan drama pendek berkisah tentang Marsinah, seorang buruh perempuan yang diculik dan dibunuh pada 1993 ketika bekerja pada PT Catur Putra Surya oleh seorang satpam bernama Suwono. Pasca kematian Marsinah bencana berdatangan di wilayah penggalian Lapindo Brantas, Sidoarjo. -Dok. portalteater.com
Aktor Sir Ilham Jambak dan Holifah Wira memainkan drama pendek berkisah tentang Marsinah, seorang buruh perempuan yang diculik dan dibunuh pada 1993 ketika bekerja pada PT Catur Putra Surya oleh seorang satpam bernama Suwono. Pasca kematian Marsinah bencana berdatangan di wilayah penggalian Lapindo Brantas, Sidoarjo. -Dok. portalteater.com

Sutradara Jo Kukathas pun mengatakan bahwa air adalah hal yang menghubungkan dan memisahkan manusia; ia adalah matriks hidup dan mati.

Bertajuk “Beautiful Water”, karya ini terinspirasi dari tragedi ketiga negara (Indonesia, Malaysia, Jepang), di mana terjadi kehancuran ekologis, dan konsumerisme yang berlebihan telah membentuk lungsin yang merajut kehidupan manusia.

“Kita semua bekerja untuk menciptakan sepotong teater yang menyajikan sekaligus keindahan dan kehancuran manusia,” katanya.

Ancaman polusi yang timbul oleh air laut yang tercemar oleh sampah mulai dirasakan masyarakat dunia saat ini, di mana bumi terus mengalami peningkatan suhu.

Melansir mongabay.com, data The National Oceanic and Atmospheric Administration tahun 2019 mencatat, suhu bumi mencapai 2,07 derajat Farenheit atau mengalami kenaikan 1,15 derajat Celcius, terpanas sejak pertama kali terjadi pada 2015 lalu.

Hal ini menunjukkan kondisi bumi memasuki masa kritis karena kenaikan suhu bumi mencapai 2 derajat Celcius akan menyebabkan kekeringan ekstrem dan kenaikan permukaan laut.

Kekeringan ekstrem akan menyebabkan petani subsisten dan peladang tradisional yang akan mengalami penderitaan terlebih dahulu. Kenaikan permukaan laut pun menyebabkan nelayan dan masyarakat pesisir terancam kehidupannya.

Kerusakan ekosistem akan dipercepat dengan laju pertumbuhan ekonomi dan kebijakan yang memudahkan kepentingan ekonomi politik untuk merambah dan melakukan eksploitasi alam secara semena-mena.

Di tengah laju konsumerisme yang makin tak terkendali, maka bumi pada akhirnya hanya merupakan muara bagi lautan sampah (plastik) yang sulit untuk diurai.

Virus Corona yang kini melanda dunia barangkali merupakan amukan lingkungan karena perilaku konsumtif tanpa batas manusia modern. Persis, karya ini dipentaskan di tengah pandemi corona sehingga penonton yang hadir tidak banyak karena takut terinfeksi.

Beberapa jenis cleaning, sanitizer dan desinfektan yang sekarang banyak dicari orang sejak merebaknya wabah Corona. -Dok. @kellysikkema
Beberapa jenis cleaning, sanitizer dan desinfektan yang sekarang banyak dicari orang sejak merebaknya wabah Corona. -Dok. @kellysikkema

Energi yang Besar

Greenpeace melaporkan, energi yang digunakan untuk sebuah kegiatan produksi, terutama pembuatan busana (fashion) sangat besar. Gaya hidup masyarakat ikut andil dalam peningkatan energi tersebut.

Pembelian dan penggunaan pakaian menyumbang sekitar 3% dari produksi emisi karbondioksida (CO2) global atau lebih dari 850 juta ton CO2 per tahun, dari manufaktur, logistik, dan penggunaan seperti mencuci, mengeringkan dan menyetrika.

Selain itu, diperkirakan sebanyak 95 persen pakaian dibuang bersama limbah rumah tangga dan sebenarnya dapat digunakan kembali tergantung pada kondisi tekstil. Tambahan pula penggunaan plastik sekali pakai sebagai kemasannya.

Menurut penelitian Jenna R. Jambeck dari Universitas Georgia tahun 2010, ada sekitar 275 juta ton sampah plastik di seluruh dunia. Setiap satu menit, sampah plastik yang dibuang ke laut setara dengan satu truk penuh.

Representasi Isu

Properti dan artistik dalam pertunjukan cukup tepat menggambarkan kondisi kekinian dari isu yang mau disoroti. Sebongkah kontainer merupakan representasi satu truk yang menampung pembuangan sampah ke laut tiap menitnya.

Demikian halnya dengan setting dan struktur yang diciptakan cukup membantu penonton dan performer membentuk imajinasi terhadap wacana yang dihadirkan.

Tentu ini merupakan sebuah karya pertunjukan berbasis riset yang matang dan ditunjang data-data yang lengkap dari masing-masing negara. Dan diketahui, karya ini digarap sejak 2017 lalu dan pernah dipentaskan di Jepang pada 2018.

Selama proses penggarapan, para produser dan sutradara melakukan sejumlah lokakarya mengenai masing-masing gagasan. Tahun 2017 dan awal 2018 mereka bertemu di Tokyo, Singapura, Kuala Lumpur dan Jakarta untuk diskusi tema ini.

Selanjutnya pada Oktober 2018, para sutradata, ditambah dengan 12 pemain/kolaborator, berkumpul di Jepang untuk saling melemparkan gagasan penciptaan karya. Akhirnya mereka memilih isu lingkungan.

Pemilihan isu bersama ini memperlihatkan bagaimana kerja kolaborasi ini dapat melumerkan tantangan budaya, terutama bahasa, dari masing-masing pekerja.

Hal itu misalnya sangat nampak dalam pertunjukan ini. Para aktor dari Jepang dan Malaysia bercakap-cakap dengan penonton menggunakan Bahasa Indonesia, selain bahasa internasional, yaitu Bahasa Inggris.

Gunungan tantangan dapat mereka lintasi bersama untuk menemukan satu wacana bersama sebagai isu global saat ini, yaitu krisis ekologis. Di Jakarta, karya ini dipentaskan selama tiga hari, 13-15 Maret 2020.

Pada akhir pertunjukan ini, para sutradara mencoba mengemas konsep pertunjukan dengan melibatkan penonton untuk bergotong membuang sampah pada sebuah jaring besar di tengah-tengan arena permainan.

Seorang perempuan cantik, muncul dari dalam kontainer dan berdiri di sudut tertinggi dari simpul jaring itu, tampak seperti dewi air, untuk menunjukkan bahwa manusia perlu menyucikan dirinya agar bumi segera pulih dan bencana akan berlalu.

Menariknya, baik penonton maupun performer, sama-sama tidak berada pada satu titik waktu yang sama bagaimana harus mengakhiri pertunjukan ini. Roda permainan seolah terus berputar.

Satu per satu penonton pamit pulang, tanpa mengetahui apakah pertunjukan di dalam gedung kusam milik negara itu sudah selesai atau belum.*

Baca Juga

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

Corona Meluas, Teater Katak Tunda Pementasan “Zeus and The Olympian God”

Portal Teater - Mencermati transmisi virus corona (Covid-19) yang makin luas di Indonesia, Teater Katak mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas produksi pertunjukan "Zeus and The...

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...

Terkini

Linimasa Kasus Corona Indonesia Selama Maret 2020

Portal Teater - Sebulan penuh Indonesia telah bergumul dengan ancaman virus Corona (Covid-19). Sejak pertama teridentifikasi melalui dua pasien Corona di Depok, Jawa Barat,...

Industri Seni Indonesia Menderita

Portal Teater - Di tengah pandemi global virus Corona (Covid-19), industri seni Indonesia ikut menderita. Jika beberapa negara terpapar corona sudah menggelontorkan dana untuk menopang...

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

ATAP Manfaatkan Media Daring Gelar Parade Monolog

Portal Teater - Kreativitas senantiasa mengalir tanpa muara. Kalaupun ada, maka itu adalah awal bagi gagasan baru untuk terus berproses kreatif. Dalam situasi krisis...

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...