Melihat Kinerja Penyutradaraan pada Festival Teater Pelajar 2019

Portal Teater – Festival Teater Pelajar 2019 telah berjalan sukses dan meriah. Melibatkan 15 grup teater tingkat pelajar se-DKI Jakarta, FTP perdana tingkat provinsi ini dimenangkan secara bersama-sama oleh lima grup teater.

Tidak hanya kesuksesan dan kemeriahan seperti yang tergambar pada wajah-wajah muda pelajar, terutama para nominator dan grup pemenang. FTP 2019 pun menyisakan beberapa catatan penting yang perlu diperbaiki, dikembangkan dan diperluas.

Poin-poin tersebut telah dirangkum dan dielaborasi dalam program evaluasi FTP 2019 yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Senin (7/10), beberapa waktu sebelum malam penganugerahan.

Dalam evaluasi itu, setidaknya ada beberapa poin kunci yang menjadi bangunan dasar kerja teater pelajar di tahun-tahun mendatang. Salah satunya adalah menyoal kerja penyutradaraan dan pilihan naskah pentas.

Kerja Penyutradaraan

Seniman senior dalam dunia teater, Jose Rizal Manua, salah satu juri FTP 2019, melihat ada satu benang kusut yang terjalin kasatmata di beberapa event teater pelajar di Indonesia. Termasuk di dalamnya FTP DKI Jakarta tahun ini.

Sebagai seniman teater yang concern di bidang teater anak melalui Teater Tanah Air, ia menilai potensi keaktoran di kalangan remaja atau pelajar sangat mumpuni.

Namun yang yang menjadi persoalan adalah kerja penyutradaraan yang dianggap belum cukup mampu menangkap aspirasi dari kalangan remaja.

Karena itu, ia meminta agar di event-event mendatang, sutradara harus mampu memilih naskah yang tepat dan relevan dengan persoalan-persoalan di sekolah masing-masing.

“Karena setiap sekolah punya persoalan sendiri-sendiri, punya kekuatan dan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Sehingga ketika dipanggungkan, anak-anak atau remaja itu bisa hidup di panggung,” katanya di Gedung Kesenian Jakarta, Senin (7/10).

Dominasi dan obsesi sutradara dalam setiap pementasan selama FTP sangat tampak. Sehingga bukan lagi para aktor memerankan tokoh sesuai karakter mereka, tapi seolah dipaksa sutradara untuk memerankannya sedemikian.

“Jadi, bagaimana mampu menghidupkan potensi dirinya, sehingga dia mampu mempresentasikan diri, mampu mengekspresikan, mampu memainkan tokoh-tokoh yang dia mainkan di atas panggung,” paparnya.

Jose Rizal memandang, pemilihan naskah pada FTP kali ini terlalu berat dan masih jauh dari jangkauan pelajar. Karenanya belum ada pemeranan yang sungguh-sungguh mengeksplorasi potensi dan kekayaan para pelajar.

“Meski itu peran-peran raja atau fantasi, peran-peran itu menjadi hidup di atas panggung. Tapi kalau dia tidak tahu, maka kedengaran tampak seperti hafalan,” ungkapnya.

Sementara itu, Madin Tyasawan, juri FTP 2019 lainnya, pun melihat celah yang sama. Ada potensi dalam diri siswa yang belum tereksplor oleh para sutradara.

Belum ada sutradara yang memiliki kemampuan mentransfer pengetahuan dan ketrampilannya secara maksimal kepada para remaja. Implikasinya, transformasi pemeranan tidak tercapai dan tidak mendorong pelajar termotivasi untuk mengerahkan seluruh potensinya.

Termasuk misalnya pilihan naskah. Sebab naskah yang berat dan absurd sulit dipahami para aktor remaja, apalagi mereka menghidupkan dan mengunyah teks itu menjadi sesuatu yang menjadi miliknya di atas panggung.

“Saya di dalam evaluasi katakan, bagaimana tema yang diangkat harus dekat dengan persoalan-persoalan pelajar. Ketimbang memilih naskah yang meski struktur dramatiknya bagus, tapi terkait persoalan yang jauh dari jangkauan keremajaan. Apalagi naskah-naskah yang absurd,” tuturnya.

Menggali Potensi Remaja

Sebagai seniman yang malang melintang di dunia teater, Jose Rizal menimbang perlunya pelatihan atau workshop yang mesti dilakukan oleh sekolah dan sutradara untuk menggali potensi-potensi yang ada dalam diri remaja.

Misalnya emosi-emosi seperti marah, menangis, atau tertawa, atau hal lainnya. Sebab bilamana potensi itu dikeluarkan maka para pelajar akan memainkan emosi dari tokoh siapa saja di atas panggung.

Teater Tanah Air, di bawah tangan dingin Jose Rizal bahkan sudah pentas beberapa di luar negeri. Waktu yang dibutuhkan sebagai persiapan pementasan bisa memakan hingga tujuh bulan.

“Jadi kita butuh waktu yang panjang,” katanya.

Selain itu, ia memandang perlunya kerjasama antara sutradara dan penulis naskah agar para aktor mampu berbicara dalam bahasa mereka sendiri, meski naskah itu sendiri berasal dari naskah umum.

Dalam pementasan-pementasannya, Teater Tanah Air misalnya senantiasa mementaskan naskah-naskah legenda tanah air, yang barangkali cocok dengan teater umum, tapi sebagai sutradara, Jose Rizal selalu meminta Remi Silado untuk menulis ulang untuk bahasa anak-anak.

“Bahkan di luar negeri sendiri, ada naskah Shakespeare yang hanya cocok untuk pemeranan orang dewasa. Tapi naskah itu ditulis ulang untuk bahasa anak-anak. Kalau di luar negeri itu biasa. Kita di sini belum ada ahlinya,” terangnya.

Karena itu, seperti dalam evaluasi dan rekomendasi tim juri, naskah pentas akan ditentukan oleh calon juri atau tim ahli yang dipilih oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta melalui forum atau ruang khusus.

Ada Perkembangan Meski Belum Signifikan

DKI Jakarta sebagai satu-satunya kota yang rutin menggelar teater pelajar, seperti halnya Festival Teater Jakarta (FTJ), memiliki narasi perteateran yang kaya dan menarik.

Dari tahun ke tahun, selalu ada perkembangan yang mencolok, baik secara kuantitas maupun kualitas. Secara kuantitas ada kemunculan grup teater baru, sementara secara kualitas ada sekolah-sekolah yang secara konsisten mempertahankan habitus perteateran di sekolahnya.

Sebagai Dosen Kajian Drama dan Teater, Madin Tyasawan sangat mengapresiasi perkembangan perteateran di kalangan remaja di kota Jakarta.

Termasuk misalnya karena teater kemudian hadir di sekolah-sekolah menjadi bagian dari kegiatan ekstrakurikuler maupun kegiatan intrakurikuler.

Ia melihat, keterjagaan itu biasanya dilakukan oleh guru pembina teater, atau pengajar teater yang didatangkan sekolah dari luar. Sehingga fluktuasi kualitas keaktoran antar generasi tidak berubah secara signifikan.

“Itu menggembirakan khususnya di DKI Jakarta. Di beberapa sekolah, dia menjaga kinerja teater karena sudah memiliki sistem yang baik, atau manajemen perteateran yang baik,” katanya.

Selama gelaran FTP, mantan Ketua Komite Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) itu melihat ada potensi pada beberapa sekolah yang memiliki habitus perteateran yang baik dan terjaga dan dengan sistem pelatihan terjaga pula. Hal itu terlihat dan terbaca pada tiap pertunjukan.

Ke depan, ia berharap agar FTP lebih progresif dan berkualitas dengan catatan-catatan yang diberikan para juri. Program-program latihan di sekolah pun ditingkatkan. Karena proses tidak mengkhianati hasil.

“Jadi bukan sekedar ikut lomba lalu setelahnya berhenti,” tutupnya.

*Daniel Deha

Baca Juga

4 Hari Berturut-turut, WNI di Luar Negeri Nihil Kematian

Portal Teater - Jumlah warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri terus bertambah. Meski demikian, sejak 26 Mei lalu, tidak ada konfirmasi pasien WNI...

Update Corona 28 Mei: 6.240 Sembuh, 1.496 Meninggal, Total 24.538 Positif

Portal Teater - Kasus baru pada hari ini bertambah tipis menjadi 687 kasus, naik satu angka dari sebelumnya 686 kasus. Terkonfirmasinya 687 kasus baru ini...

Update Corona 27 Mei: Bertambah 686 Kasus Baru, Ini Sebarannya!

Portal Teater - Setelah menurun tiga hari berturut-turut sejak Minggu (24/5), kasus harian positif virus corona kembali naik pada Rabu (27/5) setelah menemukan 686...

Terkini

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

“Dini Ditu” Teater Kalangan: Menjahit Publik di Ruang Digital

Portal Teater - Kehadiran pandemi virus corona barangkali tak pernah dipikirkan atau diramalkan, meski ada teori konspirasi yang menyeruak belakangan bahwa Bill Gates telah...

Teater di Ruang Digital

Portal Teater - Bencana bukan alam sedang menghinggapi sebagian besar negara di dunia dan Indonesia termasuk kebagian. Wabah yang disebut Covid-19 sedang bergentayangan dan belum...

Rencana Reaktivasi Pembelajaran Ditolak

Portal Teater - Dunia pendidikan menjadi salah sektor yang ikut terpukul oleh pandemi virus corona. Di Indonesia, seluruh kegiatan pembelajaran dihentikan dan dilakukan secara...

Update Corona 29 Mei: Kasus Baru Turun Tipis, Total 25.216 Positif

Portal Teater - Kasus baru virus corona turun tipis pada Jumat (29/5) sebanyak 678 kasus dari sebelumnya 687 kasus. Dengan demikian, menurut juru bicara Achmad...